
BAB 30
Egon melanjutkan perjalanan kembali setelah melewati desa tanpa jiwa. Desa tersebut kini telah kembali seperti semula. Manusia-manusia yang hidup di sana kembali hidup sebagaimana mestinya.
Mereka juga tidak merasa takut lagi akan didatangi makhluk mimpi. Sebab seorang pahlawan datang dan menghabisi semua makhluk mimpi itu.
Karena Zola juga kembali pada orang tuanya, Egon harus rela untuk meninggalkannya. Mereka berpisah dan mengucapkan salam perpisahan di perbatasan desa.
"Selamat jalan, Egon !"
"Ya," jawab Egon melambaikan tangan.
Ia berjalan diiringi Carli dan Capi yang juga kembali dari belenggu makhluk mimpi. Karena melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, mereka sedikit lebih lama untuk sampai ke kota.
Dua hari kemudian, tibalah mereka di pusat kota Bavaria. Mereka melihat beragam jenis manusia dan hewan ternak yang bersliweran. Toko-toko berjejeran dan ramai terlihat.
"Ah, senangnya bisa melihat keramaian manusia yang normal," ucap Egon disela-sela tarikan nafasnya.
"Memang benar."
"Lihat, mereka sedang memberi diskon !" pekik Carli.
"Apa itu? Toko daging?" tanya Egon.
"Benar. Itu toko daging dengan harga miring !" seru Capi.
Carli dan Capi berlari lebih dahulu. Mereka berhenti di depan toko daging yang terlihat ramai pembeli. Seseorang keluar dan membawa kapak.
"Ada apa? Apa kau mau membeli daging juga?" tanyanya ketus dan kasar.
"Em, tidak tuan. Aku tidak punya uang untuk membeli daging darimu," jawab Egon.
Mendengar jawaban dari Egon, pria besar yang semula kasar itu berubah jadi baik hati. Entah karena pria itu merasa iba atau karena ada maksud lain yang tersembunyi.
Pria itu mempersilahkan Egon dan dua anjingnya masuk. Kemudian memberi mereka minuman dari sebuah teko yang terbuat dari tanah.
"Kau bukan penduduk sini, ya? Kalau boleh tahu,, asalmu dari mana dan mau ke mana?"
"Aku seorang pengembara dari desa hutan sebelah, tuan. Rencananya aku akan pergi ke utara dan kebetulan sekali lewat tempat ini. Sebelumnya, terima kasih untuk minumannya. Aku akan melanjutkan perjalanan sekarang."
Egon berdiri diikuti Carli dan Capi. Namun penjual daging mencegahnya pergi, "Menginaplah untuk semalam. Kau bisa melanjutkan perjalananmu besok. Sekarang sudah petang, kau bisa tersesat di tengah jalan."
Penjual tersenyum pada Egon. Ia menyembunyikan niat jahat di belakang tamunya. Karena memang sedikit lelah dan tiba-tiba saja merasa mengantuk, Egon menerima tawaran penjual daging. Dan karena Egon setuju untuk menginap, penjual daging mengajak Egon pergi masuk ke dalam rumahnya yang rupanya berada di belakang toko.
Saat melangkah bersama memasuki jalan menuju rumah utama, Egon melihat sebuah kamar yang seperti gudang misterius dengan pintu yang bergembok. Ruangan itu berada di luar halaman dekat kandang hewan. Egon mencium bau darah yang begitu menyengat dari sana.
"Kamar itu....."
Penjual daging gugup, "Ah. Di sana tempatku menjegal dan menyembelih babi. Kadang juga kambing pesanan dari pembeli."
"Oh, begitu ya. Baiklah kalau begitu."
"Silahkan istirahat anak muda. Berusahalah untuk senyaman mungkin. Anggap saja ini rumahmu sendiri," penjual daging menutup pintu mempersilahkan Egon istirahat.
"Ya. Terima kasih, tuan."
Egon duduk di pembaringan kayu. Diusapnya kayu tepiannya. Kemudian ia merebahkan diri di atasnya diikuti Carli. Sedangkan Capi terus saja menatap ke pintu kamar yang tadi ditutup oleh penjual daging. Perasaannya aneh.
Begitu malam tiba, semuanya terlelap. Minuman dari penjual daging benar-benar berfungsi. Mereka semua mengantuk setelah bertahan selama tiga jam. Pada manusia biasa, obat tidur racikan penjual daging akan membuat manusia tidur lima menit setelah meminumnya.
"Aneh sekali. Mereka tidak langsung tidur setelah meminum obat racikakanku. Bisanya mereka akan langsung pingsan dan mengantuk."
Pikir dalam hati sang penjual daging. Pada kesempatan emas itu, penjual daging berjalan mengendap-endap menuju kamar Egon. Ia membawa tali di tangan dan berniat mengambil kedua anjing besar yang datang bersama tamunya.
Begitu sampai di depan kamar mereka, penjual daging dengan perlahan membuka pintunya.
NGIIEEEKKK.....
Terlihat olehnya sangat tamu tidur di atas pembaringan sedangkan dua anjingnya berada di bawah tikar. Dengan pelan, ia menyeret Carli dan Capi keluar dari kamar. Tentu saja karena efek obat tidur, mereka tidak sadar bahwa bahaya sedang mengintai.
Begitu pintu ditutup kembali, sang penjual daging mengikat anjing-anjing itu dan membawa mereka ke kamar misterius yang sempat Egon lihat. Setibanya di dalam ruangan itu pun, kedua anjing itu kembali diikat di atas sebuah meja siap untuk di potong dan diambil dagingnya. Terutama jantung dan hati mereka.
Rupanya, daging yang dijual penjual daging ia dapat dari menyembelih makhluk apa saja yang datang ke perangkapnya. Jika malam ini targetnya Carli dan Capi, maka malam selanjutnya adalah Egon sendiri.
Begitu ia meletakkan dua anjing tangkapannya, penjual daging segera mengasah pisau supaya lebih tajam. Pada saat itu Egon yang sedang berada di kamarnya terbangun. Tidak mendapati kedua kawannya di kamar tersebut, Egon pun mencarinya keluar. Tidak satupun tempat di rumah penjual daging yang didatangi Carli dan Capi.
Karena Egon sama seperti kawannya, yaitu masih keturunan anjing ataupun serigala, maka ia mampu mencium keberadaan mereka. Dan bau yang ia ikuti dari tubuh Carli dan Capi itu berakhir di ruangan yang sempat ia curigai saat pertama masuk tadi.
BRAK !
Egon melihat kedua kawannya diikat dan diletakkan di atas meja. Kemudian, penjual daging pun terlihat akan memotong tubuh Capi. Karena terkejut bahwa pemilik anjing yang ia tangkap itu bangun dan datang ke ruangan itu, penjual daging segera mengambil sebuah pisau lagi sehingga kedua tangannya kini menggenggam dua pisau dan siap menganiayanya.
Merasa ditipu, Egon segera menyerang si penjual daging, "Apa yang kau lakukan pada mereka!"
"Karena kau sudah di sini. Akan aku selesaikan secepat mungkin!" kata si penjual daging.
"Oh. Jadi kau menipu orang-orang dengan menjual daging? Daging anjing? Babi? Apa manusia? Sayang sekali. Aku tidak akan membiarkan kau mengambil keuntungan dari kami," Egon mendekati Carli untuk melepas tali ikatannya.
"Lihat saja. Seberapa mampukah kau menolaknya," penjual daging itu menyerang Egon dengan membabi buta.
Beberapa kali penjual daging mengayunkan pisaunya ke tubuh Egon. Dan satu kali mengenai lengan Egon. Pada saat penjual daging menyerang lagi, beberapa kali pula Egon mengelak dan menyerang balik. Pada waktu bertarung, penjual daging itu berubah wujud menjadi iblis jelek pemakan jantung dan hati manusia.
"Carli!! Capi!! Bangunlah!!" panggilnya dengan keras.
Begitu Egon mengaum, kedua anjing itu membuka mata kembali. Mereka melihat Egon sedang bertarung dengan iblis hitam. Tanpa menunggu lama, mereka berusaha melepas ikatan pada di tangan mereka.
Egon melompat menyerang dan menggigit leher penjual daging yang rupanya jelmaan dari iblis jelek. Karena mendapat perlawanan mengejutkan, iblis itu meronta sampai tubuh mereka menabrak barang-barang yang ada di ruangan itu. Oleng ke sana kemari.
Bersambung......