
BAB 28
Egon beristirahat dengan merebahkan badannya di serambi sebuah rumah. Bersama Zola, ia tidur berdampingan.
"Apa kau mengantuk?" tanya Zola.
"Ah, sedikit," jawab Egon. "Oh ya, apa kau pernah melihat dua ekor anjing besar?" lanjutnya.
"Anjing yang besar dan seperti serigala?"
Egon bersemangat mendengar pengakuan Zola, "Benar. Mereka seperti serigala dan berukuran besar. Apa kau pernah bertemu dengan mereka?"
"Ya. Pada hari itu, mereka sampai di kota ini. Dan mereka bertemu denganku persis sepertimu. Mereka kuceritakan soal mahkluk mengerikan yang gemar menyantap orang lewat mimpi itu," terang Zola mengingat-ingat.
"Lalu?"
"Mereka tidak percaya padaku. Sebab kata mereka, mereka tidak bisa mencium bau makhluk itu di tempat ini," jelas Zola.
"Aah, mengapa mereka ceroboh seperti itu?"
"Kenapa? Apa mereka temanmu?"
"Ya. Mereka temanku. Aku di sini untuk mencari mereka," jawab Egon khawatir.
Egon berpikir cukup lama. Ia harus menyelamatkan Carli dan Capi sesegera mungkin. Jika tidak, mereka akan tewas disantap makhluk mimpi.
"Aku tahu dimana mereka. Tapi sepertinya, mereka juga sudah menjadi mayat hidup."
"Apa? Benarkah kau tahu dimana mereka? Kalau begitu, bawa aku ke sana, oke?" Egon berdiri dan mengajak Zola menemui Carli dan Capi.
"Tapi,,,,,"
"Ayo !"
Mereka berdua berjalan menyelinap di antara manusia-manusia yang hidup namun sudah mati itu. Tidak ada satupun yang hidup sebagaimana mestinya.
"Kita belok ke sini. Di depan ada sebuah jembatan tua, kita akan menemukan mereka di sana," pekik Zola.
"Hmm. Baiklah."
Keduanya sampai juga di sebuah jembatan tua dari batu. Semula, apa yang di bawah jembatan itu adalah air dari sungai. Namun sekarang, air yang semula ada di sana berganti dengan cairan hijau yang berasap.
"Air hijau itu berasal dari mana?"
"Aku tidak tahu. Tapi jangan sampai kau terjatuh ke dalamnya, nanti kulitmu bisa terbakar hangus."
Glek !
Egon mengajak Zola melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya di sebuah tempat bekas rumah pemotongan daging, mereka menemukan Carli dan Capi yang tengah tergeletak di lantainya.
"Carli, Capi !"
Panggil Egon pada kedua sahabatnya. Namun keduanya tetap diam seperti sudah mati. Dengan cemas ia menggoyangkan tubuh Carli maupun Capi.
"Apa mereka sudah lama berada dalam kondisi seperti ini?"
"Hmm, seingatku mereka seperti itu sudah 2 mingguan," jawab Zola.
"Itu tidak bisa dibiarkan. Apa kau tahu cara agar aku bisa meyelamatkan mereka?"
"Cara?" Zola berpikir.
"Apa aku harus masuk ke dunia mimpi juga?" tanya Egon cepat.
"Ah ! Benar sekali." pekik Zola. "Tapi itu sangat beresiko," lanjutnya jadi khawatir.
"Kalau begitu, aku akan tidur di sini. Tugasmu adalah mengawasiku. Jika aku bertingkah seperti sedang dalam bahaya, segera bangunkan aku. Dengan begitu aku masih bisa selamat," perintah Egon pada Zola.
"Tapi, kalau kau tertangkap makhluk itu, bagaimana?"
"Bangunkan aku. Lakukan apapun agar aku sadar kembali."
Dengan cepat Egon memposisikan dirinya di dekat Carli dan Capi. Ia duduk bersandar di sebuah dinding dan mulai memejamkan mata. Cukup lama baginya merasakan kantuk. Hingga akhirnya ia merasa lelah, dan mulai memasuki alam mimpinya.
Pertama-tama, Egon merasa di tempat awal mula ia hidup sebagai Egon kecil. Yaitu hutan Marseille. Dimana ia diasuh oleh Evarist, ibunya. Dan Amaury, ayahnya. Bahkan ia seolah bertemu mereka kembali.
"Kau ada di sini, putraku?" tanya Amaury.
"Apa kau kemari karena merindukan kami?" Evarist juga ada di sana.
"Ayah, ibu? Kalian masih hidup?" tanya Egon.
"Apa yang kamu bicarakan, kami selalu ada di sini."
Tiba-tiba saja muncul Swift. Serigala paling kecil itu datang menyongsong Egon dengan sangat bahagia.
"Kau sedang apa, bung? Ayo bermain petak umpet denganku."
Egon memperhatikan Swift yang berlari berkeliling di sekitarnya. Kemudian ia merasakan kejanggalan saat ia melihat belang di dekat mata Swift berpindah ke sebelah lain.
Kemudian, ia juga menemukan kejanggalan lain seperti cara Amaury tidur. Bahkan jika ayahnya itu sedang tidur pun, kedua telinganya selalu berdiri tegak. Namun, di dalam alam mimpinya itu, Amaury tidur dengan nyenyak dengan telinga yang terkulai.
DEG !
"Ini pasti sebuah permainan yang dijalankan makhluk itu," pikir Egon.
Kemudian ia berjalan meninggalkan keluarganya yang sangat ia rindukan itu. Namun apalah daya. Mereka bukan kenyataan. Ia yakin, bahkan kehadiran keluarganya adalah sebuah bentuk halusinasi ciptaan makhluk yang menculik jiwa-jiwa manusia itu.
Begitu Egon meninggalkan tempat itu, seketika juga suasana berganti dengan ingatan Egon yang lain. Yaitu pertemuannya dengan tuan Alexander, Bradon, paman Cristoffer dan Gustafo. Kemudian beberapa detik kemudian, Mariane muncul, begitupun nona Diana.
"Hai Kawan, kapan kau datang? Ayo makan. Kami baru memanggang daging," seru Bradon.
Lalu Alpha, Carli, Capi dan Ciko pun datang. Namun ia menemukan kembali kejanggalan. Mereka mengaku empat sekawan. Namun, bukankah Fawn juga salah satu dari kawanan mereka? Kenapa anjing betina itu tidak muncul?
Bahkan, paman Cristoff bersikap tenang-tenang saja. Bukankah dia juga vampir yang bisa saja menghampirinya dengan cepat? Atau seperti biasanya akan menanyakan kabar dan memberi nasehat padanya.
Tanpa ragu, Egon kembali meninggalkan mereka semua. Ia melangkah lebih jauh dan sampai di sebuah lorong yang panjang seperti usus besar. Di dasarnya terdapat cairan hijau seperti yang ia lihat pada dasar jembatan.
Benar apa yang dikatakan Zola. Cairan itu membakar kakinya. Karena Egon merasa berbahaya jika menginjak cairan itu, akhirnya ia mengeluarkan cakarnya dan menancapkannya di dinding bergelambir yang ada di kanan kirinya.
Ia merayap di dinding bergelambir tersebut hingga keluar dari tempat yang persis seperti rongga usus itu.
GYUUTT,
Di sebuah tempat yang gelap dan berkabut, samar-samar ia mendengar lolongan menyedihkan. Lambat laun suaranya terdengar seperti kumpulan orang yang sedang minta tolong.
"Toloooooooongg,,,,,,"
Kini suaranya terdengar dengan jelas.
SRET !
Egon maju selangkah. Namun langkahnya terhenti di pinggir tebing. Tepat di depan matanya, terbentang sungai cairan hijau yang mampu membakar apapun. Asap panasnya mengepul dan membumbung ke atas. Rupanya, di atas sungai itu tergantung beberapa kurungan raksasa berisi manusia.
Dan asap panas yang membumbung ke atas itu seolah sedang mengukus manusia-manusia yang tertangkap di dalam kurungan itu. Di tengah sungai, terdapat beberapa tonjolan batu yang tidak terkena cairan hijau. Jadi, Egon berpikir. Mungkin saja dirinya bisa menginjak batu tersebut.
"Tolong. Selamatkan kamiiii,,,," teriak jiwa-jiwa manusia yang terkurung.
Dari kejauhan, Egon melihat Carli dan Capi di dalam salah satu kurungan. Mereka berdua juga melihat Egon datang.
"Egon??? Cepat pergi !"
Carli berteriak agar Ego bangun. Sebab, di tempat itu terlalu berbahaya untuknya. Baru saja Carli meneriakkan hal itu, tiba-tiba saja tubuh Egon terpental jauh seperti ada sesuatu yang menghantamnya dengan keras.
KRASAAAKKK !!
Egon tersungkur di sebuah tumpukan tengkorak manusia. Kemudian ia mencoba berdiri kembali. Namun sekali lagi, sesuatu menghantamnya kembali tanpa ampun.
Apakah itu?
...----------------...