ALONE IN THE WORLD

ALONE IN THE WORLD
PELINDUNG HUTAN SEBENARNYA



BAB 24


Angin kencang tidak henti-hentinya berhembus, menerbangkan dedaunan kering yang tertinggal di atas pohon. Bahkan angin kencang itu pun berhasil dengan keras menghempaskan tubuh Egon hingga punggungnya membentur sebuah pohon.


Ia mengalami kesakitan dan terduduk lemah sambil meringis. Di sela-sela terpaan angin yang seakan berputar di sekitarannya, sambil memicingkan matanya, lamat-lamat Egon berpikir bahwa ia tengah melihat sesuatu yang sedang mendekat ke arahnya. Sesuatu yang keluar secara perlahan dari dalam kayu di sebuah pohon besar.


KRASAK ! KRAK !



Mata Egon membulat ketika melihat apa yang ada di hadapannya sekarang. Makhluk yang di sebut Dryad sekarang berdiri di depan matanya. Seolah tidak percaya, ia pun menggosok matanya berulang kali. Namun sosok tersebut tidak juga sirna dari penglihatannya.


Merasa sedikit takut, Egon menggeser pantatnya mundur perlahan. Semakin ia berusaha menjauh, makhluk tersebut semakin merangkak mendekatinya.


Peri hijau yang melihat pun hanya terdiam. Ia tidak berani berkata-kata. Bahkan sang peri diam membisu dan bersembunyi di belakang tubuh Egon. Pada saat Dryad benar-benar berada di atas tubuh Egon, mata mereka bertemu.


Saat itu pula Egon merasakan hembusan nafas yang menyesakkan dari makhluk tersebut. Glek ! Dengan tubuh yang sedikit gemetaran, keringat dingin juga mengucur dari dahinya. Ia ingin memejamkan matanya, namun entah mengapa syaraf matanya menolak untuk patuh.


"Siapa kau? Beraninya menginjak wilayah ini tanpa izin dariku?" tanya Dryad lirih seolah berbisik di telinga Egon sambil mengarahkan kuku-kuku tajam ke dekat lehernya.


Mata Egon tak berkedip. Bibirnya bergerak-gerak sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.


Cengkeraman kuku Dryad di lehernya terasa amat menyakitkan. Dengan susah payah ia mencoba menelan ludah. "A aku sungguh tidak tahu kalau ini wilayah kekuasaanmu. Maafkan aku," jawab Egon tergagap.


Dryad yang berwujud sebagai seorang wanita itu menatap tajam ke dalam mata Egon. Ia mencari-cari kejujuran dari ucapan pemuda yang ada di depannya. Tiba-tiba ia tertawa terbahak.


"Ha-ha-ha. Apa kau merasa takut kepadaku?"


"A-ahh....."


"Kau jelas terlihat takut padaku," bisik Dryad.


Egon tidak habis pikir dan tidak mengerti apa yang dimaksud oleh wanita yang nampak seperti akar pohon tersebut. Belum sempat ia menjawab, wanita itu melepaskan cengkeramannya dan kemudian mengusap wajah Egon.


"Jadi, siapa dia?" tanya Dryad tanpa menoleh pada peri hijau.


"Egon. Dia pengembara. Datang kemari bersama para Direwolf."


"Hmm. Jadi begitu? Aku pun tidak merasa bahwa dia akan melakukan kejahatan ataupun pengrusakan terhadap hutanku. Namun..."


Egon masih belum memahami situasi mereka.


"Sebelumnya aku akan memperkenalkan diriku padamu. Aku salah satu Dryad yg bernama Jeneva, sang pelindung hutan. Apa kau masih takut padaku?"


"T takut? Ah, ya. Se sedikit," Egon menunduk dan diam sesaat. "Hmm, jika kau Dryad, oh bukan. Peri atau pelindung hutan, apalah itu, apa benar kau akan menyakiti manusia seperti yang dia ceritakan padaku?"


"Hmm, mungkin saja."


"Jadi benar,,, begitu,,,"


"Tidak. Sebenarnya aku hanya memberi petunjuk jalan yang benar pada mereka."


"Petunjuk jalan yang benar? Apa maksudnya?"


"Aku akan menceritakan semuanya kepadamu. Karna aku tahu, kau juga makhluk istimewa seperti kami."


Dryad yang bernama Jeneva itu menceritakan bahwa ia dikenal sebagai makhluk yang melindungi hutan dari tangan-tangan jahat manusia maupun makhluk jahat lain yang mengganggu ketenangan dan kenyamanan penghuninya.


Bahkan saat kedatangan Lamia, manusia ular pemangsa para bayi dan para pria datang ke gua di dalam hutan tersebut. Jeneva berusaha melindungi hutan dan penduduk sekitarnya.


"Lamia?"


"Ya."


"Apakah dia semacam Medusa?"


"Tidak juga. Sebenarnya, Lamia adalah seorang ratu dari Libya. Dia mempunyai hubungan terlarang dengan Zeus. Hingga Hera mengetahuinya dan mengutuknya menjadi manusia ular karena kemarahannya."


Ketika mereka sedang membicarakan Lamia. Gill, Capi dan Carli mendekat dan menggeram. Mereka melihat sesosok makhluk berwujud wanita seperti akar berada di dekat Egon. Khawatir jika makhluk tersebut nantinya membahayakan mereka, ketiganya bersiap menyerang sewaktu-waktu. Namun, mereka lebih penasaran dengan apa yang baru saja mereka dengar.


"Siapa kau? Dan dimana makhluk bernama Lamia itu berada?"


"Akhirnya kalian bangun juga," ucap Egon. "Kemarilah, kita dengarkan ceritanya bersama."


Melihat Egon begitu tenang di dekat Jeneva, mereka bertiga pun menurunkan kecurigaan namun tetap waspada. Sambil memasang telinga dan mempertajam indra penciuman mereka, Gill, Capi dan Carli duduk melingkar di dekat Egon.


"Siapa dia?" tanya Gill pada Egon.


Egon tersenyum, "Dia salah satu makhluk yang disebut Dryad yang bernama Jeneva. Dialah pelindung hutan ini."


"Apa benar, dia tidak berbahaya?" bisik Carli lirih.


Egon menepuk-nepuk lembut kepala Carli. "Tenang saja," balasnya dengan berbisik.


Jeneva menceritakan panjang lebar soal Lamia pada Egon dan timnya. Ia juga menyarankan agar mereka melanjutkan perjalanan esok hari, supaya mereka tidak tersesat ke hutan yang lebih dalam dimana gua tempat Lamia berada.


Jeneva juga mengatakan bahwa esok, rusa putih akan menunjukkan jalan yang benar padanya. Jeneva juga berpesan bahwa selama dalam perjalanan, Egon maupun yang lain tidak boleh menoleh ke belakang. Jika tidak, mereka akan benar-benar tersesat.


...----------------...


CUIT ! CUIT ! CUIT !


Suara sepasang burung bernyanyi merdu. Bercanda dan menari di atas dahan sebuah pohon. Sesekali mereka mengepakkan sayapnya melepas air yang tersisa saat berendam.


Pagi itu matahari belum menyentuh kedalaman hutan. Egon pun masih terlelap. Ia terkejut karena merasakan sesuatu yang terasa dingin tengah menjilati mukanya.


Ketika ia membuka mata, nampaklah seekor rusa yang berbulu putih dan bersinar. Rusa dengan tanduk bercabang-cabang itu berusaha membuat Egon terjaga. Didorongnya tubuh Egon dengan pelan menggunakan kepalanya sampai benar-benar bangun.


Setelah Egon terbangun, rusa putih itu berjalan menjauh seakan meminta pemuda itu untuk mengikutinya. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Egon membangunkan ketiga kawannya dan mereka pun segera mengikuti jejak yang diarahkan sang rusa.



Ketika jarak mereka terlalu jauh, sang rusa akan berhenti sejenak untuk menunggu. Sebab, cahaya pada tubuhnya hanya akan menyinari sekelilingnya saja. Sang rusa khawatir tugas yang diberikan oleh Jeneva akan gagal jika ia tidak berhasil membawa Egon keluar dari hutan.


Pada saat itu, Egon dan kawan-kawannya berjalan melewati sebuah tempat sisi barat hutan, di empat tersebut banyak sekali kunang-kunang berterbangan sehingga cahayanya yang gemerlapan menyamarkan cahaya terang dari rusa putih.


Tanpa di sadari, Gill terpikat oleh seekor kunang-kunang yang nampak cantik dan berlari mengejarnya. Egon yang melihat itu pun berteriak,


"Gill ! Jangan ! Kau harus fokus pada cahaya rusa putih !"


Namun teriakan Egon tidak didengar oleh Gill. Merasa saudaranya memilih jalan yang salah, Egon berusaha mengejarnya. Carli dan Capi yang merasa khawatir pun berlari mengikuti Egon.


Akhirnya, berakhir sudah perjalanan mereka menemukan jalan yang benar. Mereka semua meninggalkan sang rusa penunjuk jalan karena sebuah halusinasi mata yang dicipatakan oleh Lamia. Makhluk jahat yang menunggu mangsanya.


( Bersambung.......)