
BAB 31
Leher penjual daging mulai koyak akibat gigitan Egon yang semakin dalam. Ia tidak mengira bahwa tamunya juga seorang manusia jadi-jadian.
Begitu Egon melepas gigitannya, penjual daging merangkak di atas lantai dengan bersimbah darah. Ia berniat kabur namun dihadang dua anjing yang semula ia remehkan. Anjing-anjing itu pun rupanya sama. Bukan anjing biasa. Ukuran mereka dapat berubah menjadi besar.
Karena merasa terpojok, penjual daging yang kini berwujud iblis itu tertawa kalah.
"Oh, baiklah. Baiklah. Aku menyerah. Sebenarnya, siapa kau? Mengapa aku merasa kau juga bukan manusia?" tanyanya pada Egon.
"Kau sendiri siapa sebenarnya? Apa sudah lama kau menjebak manusia dan anjing-anjing mereka untuk kau jadikan makanan dan dagangan?" tanya balik Egon tetap waspada.
"Namaku Orctamis. Aku baru beberapa bulan datang ke desa ini dan menjadi penjual daging. Karena tempat tinggalku di hutan mengalami kebakaran, aku harus mencari cara agar tetap hidup."
"Tapi tidak bisa seperti ini. Kau dan manusia berbeda alam. Tidak bisa begitu saja bercampur dengan kehidupan mereka. Apalagi mengganggu dan Sampai merugikan."
"Ya. Aku mengerti. Tapi sungguh. Aku terpaksa. Sejak kebakaran hutan itu, binatang buruanku semuanya lenyap. Mau tak mau aku harus turun gunung dan mencari makanan di sini. Kebetulan, di desa ini aku mendapat banyak tamu gelandangan yang menumpang beristirahat. Jadi, aku berpikir mengambil makanan dari sana."
"Sekarang. Kau harus pergi kembali ke alam lain. Jangan ganggu kehidupan manusia di sini."
Pada saat Egon lengah saat mengajaknya bicara, penjual daging meraih pisau dan segera meluncur menusukkan pisau tersebut ke perut Egon. Jleb!
"Akhhgg... uhuk uhuk..." Egon terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya tepat saat tikaman itu mendorongnya hingga ke dinding.
"Siapa kau sehingga ikut campur dengan urusanku?" iblis itu tertawa.
Melihat iblis jelek itu menyerang Egon, Carli dan Capi segera menyerangnya. Mereka sangat geram pada kelakuan licik makhluk itu. Sehingga dengan geram mereka menggigit dan mengoyak tubuh si penjual daging tanpa ampun hingga tewas dan akhirnya lenyap terbakar.
Begitu menyelesaiakan urusan dengan si penjual daging, Carli dan Capi segera menghampiri Egon yang duduk bersandar di dinding.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Ya. Aku baik-baik saja."
"Tapi, dia menikam perutmu."
Egon mengambil nafas sebentar kemudian menarik keluar pisau yang menikam perutnya. Ah. Lagi-lagi ia harus mendapat luka di perutnya. Jika saat kemarin luka dibuat oleh makhluk mimpi, sekarang luka itu dibuat oleh penjual daging jadi-jadian.
Tapi seperti biasanya. Untung saja ia juga makhluk campuran. Sehingga mampu meregenerasi ulang tubuhnya yang terluka menjadi sehat kembali. Meski begitu, ia butuh waktu sedikit lama untuk menyembuhkan diri.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan menginap di sini? Setidaknya sampai lukamu sehat kembali," Capi memberi masukan.
"Benar. Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan jika kau terluka seperti itu," jawab Carli.
"Baiklah. Tapi kita harus pergi sebelum pagi datang. Jika kita tetap di sini, penduduk akan merasa curiga," Egon mencoba berdiri dan berjalan keluar dari ruangan yang mengganggu dirinya itu
...----------------...
Esok hari sebelum datang waktu pagi, Egon dan dua anjingnya keluar dari rumah penjual daging itu dengan mengendap-endap. Mereka tidak ingin penduduk desa itu melihat mereka keluar dari rumah si penjual daging.
Dan setelah sampai di batas keluar desa, mereka dapat bernafas lega. Beberapa meter melangkah,, Egon duduk sebentar untuk mengambil nafas. Sebab, lukanya yang belum sembuh betul itu mengeluarkan darah kembali.
"Apa kau mau minum?" tanya Carli.
"Tidak. Aku hanya ingin istirahat sebentar," jawab Egon sambil memeriksa lukanya.
Carli duduk menemani Egon di atas batu. Sedangkan Capi bermain-main dengan seekor kelinci yang keluar masuk lubang. Pada saat sedang santai duduk beristirahat, tiba-tiba terdengar suara mengerikan dan kemudian tampak segerombolan burung gagak yang terbang menjauh dari arah bukit nan jauh di depan mereka.
"Apa yang terjadi?" tanyanya pada Carli dan Capi.
"Entahlah. Seperti ada suara yang membuat buluku merinding."
Egon terus menatap ke arah bukit dan hutan hangus yang ada di arah tujuan mereka. Ada apakah gerangan? Apakah mereka akan menghadapi sesuatu yang mengejutkan lagi?
"Aku juga merasakan aura negatif dari sana," kata Egon saat merasakan aura negatif menyergap tempatnya berada.
"Benar, kan?" Carli terkejut.
"Tidak ada jalan lain. Kita akan melewati tempat itu. Entah apa yang menunggu kita di sana, kuharap kalian berdua bisa lebih waspada."
Carli dan Capi mengangguk tanda mengerti. Mereka berdiri mematung menatap tempat yang sedang menunggu mereka di depan sana.
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, sepasang mata merah mengerikan tengah menatap mereka.
...----------------...
Iringan langkah Egon dan kedua kawannya kembali terlihat di sepanjang jalan yang menuju hutan yang menurut Egon seperti hutan tanpa kehidupan. Semuanya tampak gersang dari kejauhan.
Perjalanan mereka menuju bukit tempat hutan itu berada, angin bertiup dengan arah yang memutar-mutar. Suhu udaranya juga terasa aneh. Panas tepatnya.
Begitu sampai di lokasi hutan, tempat itu dihadang oleh jurang yang dipenuhi kabut putih. Siapapun yang mampu menyeberangi jurang itu, mereka akan dihadapkan pada kabut yang lebih pekat yang mampu memanipulasi pikiran dan lambat laun akan menghisap jiwa makhluk yang berada di sana.
Di depan gerbang masuk hutan tersebut, ada sebuah tulisan dengan bahasa sansekerta. Yang mana bila dibaca akan berbunyi. Hutan Kematian. Keluarlah hidup-hidup kalau kau bisa.
Lagi? Mereka harus memasuki hutan kematian kembali? Ada berapa banyak hutan kematian di bumi ini?
Aah. Sungguh perjalanan yang sangat menantang. Egon dan kawan-kawan mengawasi sekeliling mereka sebelum memasuki hutan gersang dan berkabut tersebut. Setelah menoleh pada kedua temannya, Egon menganggukkan kepala.
Ketiganya melangkah masuk melewati gerbang. Baru beberapa langkah masuk ke dalam, mereka dihadapkan pada sebuah jurang. Hampir saja mereka jatuh ke dalam jurang tersebut jika Egon tidak sengaja menendang batu di depannya.
TRAK TRAK !
Batu itu meluncur ke depan dan kemudian tanpa suara. Egon merasa ada sesuatu di depan mereka. Benar. Saat ia melempar batu, suaranya justru melayang ke bawah sana.
"Ada jurang di depan kita," seru Egon.
"Apa? Jurang?"
"Ya."
Egon melihat sekitarnya dan menemukan akar gantung yang merambat di atas dahan-dahan pohon. Kemudian ia memeriksanya dengan benar apakah akar tersebut mampu membuatnya melayang melewati atas jurang.
"Aku akan menggunakan ini untuk sampai ke seberang. Apakah kalian juga bisa menggunakannya?"
"Ya. Bisa. Tapi kita tidak tahu seberapa luas jurang yang menghadang kita! Ini terlalu bahaya!"
"Benar, apa tidak ada jalan lain tanpa melewati hutan ini? Sebaiknya kita keluar dari sini dan mencari jalan lain selain hutan ini!"
Egon berpikir, "Menurut kalian begitu?"
Egon memutuskan agar mereka kembali dan berbalik keluar dari gerbang yang ada di belakang mereka. Akan tetapi, kejadian aneh menimpa mereka. Gerbang itu lenyap? Dimana gerbang besar yang seharusnya ada di belakang mereka itu?
"Gawat! Kita terjebak dalam ruang tanpa permulaan dan akhir," pekik Capi.
"Benar. Bukankah kita hanya melangkah beberapa meter saja setelah melewati gerbang itu? Tapi mengapa sekarang gerbang itu seakan-akan lenyap begitu saja?"
Setelah lelah berputar-putar dan akhirnya kembali di tempat mereka semula, yaitu bibir jurang, akhirnya Egon memutuskan sesuatu.
"Sepertinya, ada sesuatu yang menginginkan kita untuk melewati jurang ini. Jika tidak, maka kita akan selamanya terjebak di pintu masuk yang hilang," kata Egon memberi tahu kedua temannya.
"Ini benar-benar aneh."
"Baiklah. Apa boleh buat, mari kita coba lewati," jawab Carli menyemangati diri dan kedua kawannya.
πΊ
πΊ
πΊ
πΊ
Bersambung.........