ALONE IN THE WORLD

ALONE IN THE WORLD
PARA WANITA TAWANAN



BAB 40


Pada suatu malam, desa tempat Seravina tinggal digemparkan oleh kemunculan makhluk seperti serigala jadi-jadian. Makhluk itu mencuri para wanita dan menghilang di hutan. Tentu saja itu bukanlah Egon. Tapi entah mengapa, Egon mempunyai firasat buruk tentang peristiwa itu.


Saat Seravina datang memberitahunya kabar mengenai makhluk itu, Egon menjadi berpikir dengan keras. Bagaimana caranya memancing makhluk itu keluar?


"Apakah benar ada serigala lain di hutan ini? Mengapa selama ini aku tidak pernah bertemu dengannya?"


Egon berpikir serius. Ia tidak bisa membiarkan penduduk desa datang ke tempatnya dan memporak porandakan hutan tempat tinggalnya untuk mencari makhluk itu.


"Itu tidak benar. Jika dibiarkan begitu saja, bisa-bisa aku yang terkena dampaknya."


Dan pada pertengahan malam di bulan Februari, Egon duduk di atas atap sebuah rumah demi melihat pelaku yang disebut serigala jadi-jadian tersebut.


Pada menit ke sepuluh pertama, Egon tidak merasakan apapun. Tetapi pada menit ke dua puluh, ia melihat sekelebat bayangan hitam yang berlari menuju rumah Seravina.


Lantas, Egon mengawasinya dengan cermat. Hingga pada akhirnya makhluk itu keluar membawa Seravina, Egon mengejar dan mengajaknya bertarung.


Tentu saja setelah Seravina dilepaskan, Egon menyerang makhluk yang sama seperti dirinya. Mereka berkelahi dan saling mencelakai satu sama lain. Ketika berhasil memojokkan makhluk tersebut, ia mengajaknya bicara.


"Katakan padaku. Kau siapa?" tanya Egon mencekik leher makhluk itu.


"Aku Thomas."


"Kau Lycan yang datang dari mana? Apa ada kelompok lain yang hidup di tempat ini?"


"Lima tahun yang lalu, kami bermigrasi kemari. Tapi karena tidak ada stok makanan di sini, akhirnya kelompok kami kembali mencari tempat yang pantas untuk dihuni."


"Lalu, mengapa kau masih di sini dan tidak pergi?"


"Mereka tidak mau mendengarku. Bahwa di sini akan ada banyak pendatang. Aku memilih berpisah dengan kelompok dan hidup sendiri seperti ini."


"Tapi kau menculik para wanita di desa ini. Kemana kau membawa mereka pergi?"


"Itu bukan urusanmu."


Egon mencekik lebih kencang lagi agar Thomas mau mengaku. Rupanya ia menculik para wanita untuk dijadikan tabungan benihnya. Ya. Ia berencana membuat koloninya sendiri dengan memperkosa wanita-wanita desa dan membuat mereka mengandung bayi Lycan miliknya. Dengan begitu, ia akan menguasai wilayah Marsheille dengan anak-anak manusia itu sebagai anak buahnya.


"Kurang ajar!!" Egon sangat marah. "Katakan padaku di mana kau menyembunyikan mereka!"


Awalnya, Thomas tidak mau mengaku. Tapi karena tangan Egon yang mencekiknya terasa begitu menyakitkan bagi Thomas, maka ia mengatakan di mana persembunyiannya.


"Aku ikut!" kata Seravina.


"Tidak. Sebaiknya kau kembali ke rumah."


"Aku ingin membantu menemukan para wanita yang hilang. Hmm? Boleh, ya?" Seravina memohon. "Aku bisa membantu mengatasi kepanikan mereka."


"Baiklah. Tapi tetap berjalan di sisiku."


"Hmm."


Begitu sampai di gua yang berlawanan tempat dengan gua tempat tinggal Egon, mereka masuk bersama ke dalam. Seravina berada di belakang Egon.


Astaga...


Egon melihat ada lima bayi yang baru lahir, beberapa wanita yang sedang hamil tua dan sisanya masih dalam proses.


Saat Egon masuk, para wanita itu menangis ketakutan. Sebab mereka pikir bahwa manusia serigala itu membawa kawannya untuk ikut memperkosa mereka.


"Ini tidak benar," ucap Egon pada diri sendiri.


Melihat cara Thomas mengumpulkan mereka, terlihat sangat tidak manusiawi. Mereka diikat dengan rantai besi dan ditelanjangi seperti seekor binatang.


Egon merasa prihatin. Meski dirinya bukanlah manusia seutuhnya, tetapi hati nuraninya masih ada. Lain dengan Egon, Seravina yang melihat para wanita itu ditelanjangi merasakan sedih dan malu yang tidak dapat lagi ia bendung.


"Dasar biadap! Hampir saja aku menjadi mangsamu jika Egon tidak ada di sini untuk menangkapmu!" teriak Seravina tiba-tiba.


Karena Thomas tidak menunjukkan rasa menyesal, Egon meminta Seravina untuk membantu melepaskan para sandera. Saat Seravina berjalan melewati Thomas, tiba-tiba saja Thomas melepaskan diri dari cengkeraman Egon dan menyerang Egon hingga jatuh ke dekat rantai besi yang sudah Thomas siapkan untuk Seravina.


Dengan cepat Thomas memasang lingkar perangkap pada pergelangan tangan kiri Egon. Merasa dirinya lengah, Egon menjadi sangat marah. Bagaimana bisa ia jatuh ke perangkap seperti itu di saat situasi mencekam seperti ini?


Thomas menyergap Seravina yang sedang mencoba melepaskan borgol besi di tangan para sandera. Ia meraihnya dengan kasar dan mencoba memperkosanya di depan semua orang.


"Egon!! Tolong aku!!" teriakan histeris Seravina menggema di dalam gua.


Otomatis semua wanita di sana juga berteriak histeris. Egon berusaha keras untuk melepaskan jeratan besi yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia tidak bisa membiarkan Thomas melakukan hal keji itu pada kawannya.


KLANG!


Suara rantai besi yang berhasil dilepaskan Egon. Amarah yang memuncak membuat Egon terpancing dan berubah menjadi setengah Lycan. Cakar di kedua tangannya keluar dan tubuhnya mulai berubah.


Para wanita semakin terkejut. Mereka takut. Sebab, pemuda yang datang untuk menolong mereka ternyata juga benar manusia serigala.


Egon melompat dan meraih punggung Thomas. Kemarahannya tidak dapat diredam lagi saat terdengar jeritan keputus asaan dari mulut Seravina. Thomas yang hampir saja melakukan penetrasi pada Seravina pun akhirnya gagal melakukannya.


Tanpa ampun lagi, Egon mencabik tubuh Thomas di hadapan para tawanan hingga terbagi beberapa bagian.


CRAK CRAK CRAK


Bagian-bagian itu terlempar ke sana sini hingga darahnya pun mengotori dinding dan lantai gua. Setelah menghancurkan Thomas, Egon berjalan mendekati Seravina karena mengkhawatirkannya.


Tapi ternyata, gadis itu sedikit merasa takut kepadanya. Dengan mata kepalanya sendiri, Seravina melihat sesuatu yang buas ada di dalam diri Egon. Bahkan Egon mampu melakukan kebrutalan itu pada makhluk yang berwujud setengah manusia meski makhluk itu pantas mendapatkannya.


Mata Egon terpaku. Sepintas ia menangkap rasa takut dan cemas pada wajah Seravina. Karena tidak ada yang mampu ia katakan, akhirnya Egon terduduk lemas menatap Seravina.


Seravina meneguk ludah. Ia melihat semua yang dilakukan Egon. Meski akal sehatnya tidak bisa menerima pemandangan yang baru saja ia lihat, ia mencoba untuk memahami maksud Egon. Ya. Egon begitu karena ingin menyelamatkannya.


Perlahan, kakinya melangkah dan mendekati Egon.


"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit syok. Tapi aku tidak takut kepadamu," ucapnya sambil mengusap kepala Egon.


"Terima kasih karena kau menyelamatkan masa depanku," lanjutnya.


Karena Seravina tersenyum kepadanya dengan tulus, Egon pun ikut tersenyum. Dengan begitu, lambat laun tubuhnya berangsur kembali normal.


Beberapa menit kemudian, Egon melepaskan ikatan rantai yang menjerat tangan-tangan para wanita. Saat Egon mendekati mereka satu persatu itu, masing-masingnya merasa ketakutan tapi juga berterima kasih.


"Seravina, sebaiknya kau pulang dan mengumpulkan pakaian untuk mereka kenakan. Bawa kemari dan jangan sampai ketahuan orang lain."


"Hmm. Baiklah. Aku akan mengambil beberapa di pabrik," jawab Seravina seraya menghitung jumlah wanita yang ada di sana.


Selesai menghitung, ia berpamitan untuk kembali ke desa. Egon mengantarnya sampai ke depan gua. Meski dari jarak jauh, ia berusaha mengawasi perjalanan Seravina.


"Tuan, bagaimana dengan anak-anak ini? Mereka anak kami, tapi kami tidak bisa membawa mereka begitu saja ke rumah," tanya seorang wanita muda.


Egon menoleh pada lima bayi yang terbaring di atas jerami. Anak-anak itu apakah mereka akan ia pelihara sampai dewasa? Jika ia memelihara mereka, akankah mereka membalas dendam karena orang tua mereka telah dibunuh olehnya?


Ah. Ini masalah yang sangat pelik. Ia harus memikirkan ulang semuanya bagaimana yang harus ia lakukan.


Dalam lintas pikirannya, Egon teringat pada saat ia bayi dulu. Entah siapa sebenarnya orang tuanya? Tapi menurut yang ia dengar dari Eva, ada cerita bahwa kedua orang tuanya tertangkap penduduk dan dibinasakan dengan logam dari perak.


Ya. Menurut legenda seperti itu. Dan mungkin saja memang begitu. Hanya saja, jika manusia serigala atau Lycan berkelahi, maka mereka bisa saling menghabisi satu sama lain tanpa membutuhkan logam dari perak.


...----------------...


Bersambung......