ALONE IN THE WORLD

ALONE IN THE WORLD
JADI ORANG TUA ASUH



BAB 41


Setelah mengembalikan para tawanan wanita ke rumah masing-masing, Egon dan Seravina sibuk mengurus bayi-bayi yang terlanjur lahir ke dunia. Beberapa wanita yang sedang hamil besar memilih untuk tetap tinggal. Mereka tidak bisa kembali kepada keluarga, dengan anak serigala berada di dalam rahim mereka.


Maka dari itu, tiga wanita yang sedang mengandung itu menjadi ibu sementara bagi para bayi hingga mereka melahirkan bayi yang ada di dalam perut mereka.


Beberapa bulan selama waktu pengasuhan, Egon dan Seravina selalu datang membawa makanan atau sekedar menemani untuk mengobrol. Hingga akhirnya mereka melahirkan bayi-bayi yang berbulu.


Hari itu Seravina sangat sibuk. Ia membantu proses melahirkan tiga ibu sekaligus. Egon tidak banyak membantu karena Seravina melarangnya masuk ke dalam. Ia masih merasa malu jika ada seorang pria yang melihat wanita telanjang. Meski pria itu murni setengah binatang.


Oek Oek Oek!


Suara bayi terdengar satu jam kemudian. Egon masuk setelah Seravina mempersilahkan dirinya melihat bayi-bayi yang baru lahir.


"Bagaimana dengan ibu dan para bayi? Apakah baik-baik saja?" tanya Egon begitu melihat Seravina keluar.


"Ya. Mereka semua selamat."


"Tanyakan pada mereka. Apa mereka bersedia menyusui bayinya sebelum pergi."


"Ya. Baiklah. Selagi aku menanyai mereka, kau boleh masuk melihat bayi-bayi itu secara langsung."


Seravina masuk disusul Egon di belakangnya. Di atas tumpukan jerami, terbaringlah delapan bayi manusia yang berbulu coklat. Mereka semua adalah bayi dengan darah kental Thomas.


Lima bayi yang lahir delapan bulan lebih awal dan tiga bayi yang baru saja dilahirkan. Egon menatap mereka dan menemukan fakta bahwa kesemua bayi itu berjenis kelamin laki-laki.


Seravina yang sedang duduk bersama para wanita itu memanggil Egon. Ia mengatakan bahwa para wanita mempunyai sebuah permintaan.


"Apa permintaan kalian?" tanya Egon.


"Tuan, bisakah kami tidak melihat bayi-bayi itu lagi?" tanya salah seorang wanita.


"Apa??"


"Kami tidak bisa melihat wajah bayi yang lahir dari darah makhluk itu. Jika tuan memaksa kami untuk melihat atau menyusuinya, lebih baik bunuh kami sekarang," jawab yang lain.


Egon tertegun. Benar juga,. Meski bayi-bayi itu lahir dari rahim mereka, tetapi untuk menghasilkannya, mereka dipaksa dan diperkosa dengan sangat biadap. Lalu bagaimana bisa ia memaksa para wanita itu untuk menyusui bayi milik pemerkosa mereka?


Ah. Ini sangat rumit. Egon merasa pusing memikirkannya.


"Baiklah. Setelah sehat kembali, kalian boleh pergi. Aku juga tidak akan memaksa kalian untuk menyusui mereka," kata Egon mencoba mengerti.


"Terima kasih tuan. Kau boleh melakukan apa saja yang kau mau pada bayi-bayi yang kami lahirkan itu. Maaf jika kami tetap tidak ingin mengurus mereka."


"Ya. Baiklah. Aku akan mengambil alih masalah ini," jawab Egon lagi.


Beberapa hari kemudian, wanita-wanita itu pergi pulang kembali ke desa. Mereka pun kembali hidup dengan tenang bersama keluarga dan penduduk desa lainnya.


...----------------...


Dua tahun kemudian,,


Egon memandangi anak-anak Thomas yang kini ia asuh di guanya. Seravina memberi mereka pakaian sehingga tidak menampakkan jelas bulu-bulu mereka.


Meski selama ini Egon tidak menyusui mereka, namun Seravina membawakan susu sapi segar setiap harinya untuk para bayi.


Hanya butuh beberapa minggu saja, bayi-bayi itu dapat merangkak ke sana kemari. Kemudian setelah satu tahun, mereka dapat berjalan dan berlari. Bahkan memanjat pohon serta melompat dari tebing. Kini, kehidupan Egon pun berubah 180°. Ia benar-benar sibuk seperti seorang ayah yang mengurus ke delapan putranya.


Pada saat ia kelelahan dan berbaring, anak-anak itu mengikuti apa yang dilakukan Egon. Mereka cukup manis dan menurut.


Pada saat seperti itu, Seravina datang membawa buah-buahan. Ia benar-benar seperti ibu bagi mereka. Bagaimana tidak? Kehadirannya sangat ditunggu-tunggu oleh ke delapan anak itu. Secara sadar, Egon pun tersenyum melihat kedekatan Seravina dengan anak-anak itu.


Begitu datang, mereka menghamburkan diri ke dalam pangkuan Seravina. Saling berebut dengan kecepatan agar duduk dekat dengannya. Egon melihat Seravina sampai kuwalahan menghadapi sikap manja mereka.


"Hey! Bersikap baiklah di depan nona Seravina!" perintah Egon sambil berjalan keluar.


Anak-anak itu segera mendengarkan ucapan pemuda yang sudah mereka anggap sebagai ayah mereka. Mereka duduk berjejer dan membuka mulut mereka menunggu Seravina menyuapkan buah-buahan ke dalam mulut mereka masing-masing.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan. Anak pintar, anak pintar. Kalian mau lagi?" suara Seravina yang menyuapi ke delapan bayi itu.


Karena mereka menginginkan lagi, maka Seravina menyuapi mereka sekali lagi. Sekali lagi dan akhirnya sampai mereka kenyang.


"Baiklah, anak-anak. Yang ini kita sisakan untuk ayah kalian. Jadi karena kalian sudah kenyang, sebaiknya tidurlah. Aku akan mengobrol dengan ayah kalian di depan."


SRET!


"Mereka lucu, ya?"


Egon menoleh pada Seravina yang sedang tersenyum. Tanpa menjawab dengan kata, ia mengangguk pelan.


"Bagaimana kabarmu? Apa kau masih bisa bertahan mengurus mereka?"


"Hmm. Sepertinya begitu."


"Ini, makanlah," Seravina menyodorkan buah pir di tangannya.


Egon menerima buah tersebut dan langsung menyantapnya, "Kau sendiri. Bagaimana keadaanmu di desa? Apa ada yang mencurigai aktifitasmu?"


"Tidak. Selama ini, wanita-wanita itu membantuku membawa susu dan makanan untuk bayi-bayi itu. Aku rasa, meski wanita-wanita itu tidak ingin melihat anak-anak yang lahir dari rahim mereka, tapi sepertinya mereka merasa kasihan pada kita."


"Benar. Sebenarnya aku merasa kasihan pada mereka. Kau tahu? Urusan ini begitu pelik. Aku tidak bisa memaksa mereka mengurus bayi yang lahir dari kasus perkosaan. Lebih-lebih, di dalam tubuh anak-anak itu mengalir darah makhluk buas sepertiku."


Seravina menoleh dan memperhatikan Egon. Ia merasa Egon adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Terlepas dari naluri binatangnya, Egon adalah pemuda yang bertanggung jawab. Ia memiliki hati nurani yang tulus. Selama ini, ia melihat Egon hanya memikirkan perasaan orang lain tanpa memikirkan diri sendiri.


Entah sejak kapan, Seravina merasakan bahwa ia telah jatuh hati padanya. Setiap waktu, ia melihat wajah Egon melintas di pikirannya. Semakin memikirkannya, ia semakin tersipu malu.


Sebab itu pulalah ia rela melakukan semuanya, pulang pergi keluar masuk hutan untuk membantu Egon mengurus anak-anak Thomas.


"Lalu, apa kau tidak berniat mencarikan mereka ibu?" tanya Seravina tiba-tiba.


"Ibu? Maksudmu?"


"Jika mereka memilikimu sebagai ayah, maka mereka juga membutuhkan seorang ibu."


"Tapi, bukankah selama ini mereka memilikimu? Nona Seravina. Jadi untuk apa seorang ibu baru jika mereka memiliki wanita yang mengorbankan seluruh waktunya mengurus dan memperhatikan mereka lebih dari seorang ibu yang melahirkan mereka?"


Seravina diam. Sebenarnya bukan itu maksud yang ingin ia katakan. Karena mungkin saja Egon tidak tahu, maka ia berinisiatif memberitahunya lebih dahulu.


"Apa kau sendiri tidak menginginkan seorang istri?" tanya Seravina.


Uhuk! Uhuk!


Egon tersedak saat sedang mengunyah buah pir. Wajahnya memerah karena pir yang ia kunyah nyasar ke saluran hidungnya. Ia begitu terkejut dengan pertanyaan yang keluar dari mulut gadis yang duduk di sampingnya.


"Istri?"


"Hmm. Apa selama ini kau tidak merasa kesepian? Tidakkah kau menginginkan seorang wanita dalam hidupmu?"


Egon diam terpaku pada pertanyaan Seravina. Selama ini ia memang merasa kesepian. Tapi untuk mencari seorang istri, wanita mana yang mau hidup bersamanya?


Membayangkan bagaimana reaksi ketakutan para wanita itu saja membuat Egon tidak percaya diri. Ya. Wanita yang menjadi tawanan itu berteriak ketakutan saat melihat dirinya berubah wujud. Bagaimana jadinya jika ia punya istri?


Ah. Membayangkannya saja sudah suram.


"Hey.. Apa kau melamun?" Seravina mengagetkan Egon.


"Eh,,,??"


Seravina menunggu jawaban dari mulut Egon. Tapi tak kunjung ia dengar.


"Jadi, bagaimana? Apa kau punya pandangan?" Seravina berharap.


"Pandangan?" Egon tidak pernah memikirkan masa depannya. Jadi ia tidak tahu, harus memandang siapa.


Karena Egon tak sadar-sadar juga, Seravina sedikit kesal. Akhirnya ia mengatakan akan pulang ke rumah dan kembali esok hari.


"Jika bicara soal pasangan hidup, menurutku cara berpikirmu sangat lambat. Aku tidak tahu, akan sampai kapan kau hidup sendiri seperti ini. Jika mencintai wanita saja tidak bisa, sebaiknya kau hidup sendiri saja selamanya."


Seravina pergi tanpa menoleh lagi pada Egon. Ia benar-benar kecewa karena Egon tidak bisa melihat perasaan yang ia simpan untuknya. Sebenarnya, Seravina hanya sedikit kurang sabar. Ia tidak tahu, bahwa beberapa waktu belakangan, Egon memperhatikannya secara istimewa.


...----------------...


Bersambung.......