
BAB 21
Sepuluh tahun kemudian,
Seorang pemuda berjalan di tanah Perancis bersama keempat anjingnya melewati pemukiman penduduk. Pada malam itu, bulan bersinar terang menampakkan pemandangan desa yang begitu sunyi dengan pintu-pintu yang tertutup rapat. Sesekali semak dan dedaunan kering menggelinding bersama kencangnya angin.
"Ada apa dengan desa ini, mengapa sepi sekali?" gumam Gill.
PSSSSTTT !!
Egon menarik semua anjingnya untuk bersembunyi. Ia mendengar suara pekikan burung yang terdengar aneh dan mengerikan dari kejauhan.
"Apa kalian dengar itu? Sebaiknya kalian diam sebentar di sini. Aku akan memeriksanya," bisik Egon.
Semua anjing mengangguk perlahan. Mereka diam menuruti perintah. Sambil meningkatkan kewaspadaan, mereka mengawasi Egon yang berjalan mengendap-endap dan sesekali bersembunyi di balik tembok.
Egon merasakan bahwa tempat yang mereka datangi itu sangat mencurigakan. Dimana-mana yang terlihat hanyalah rumah kosong dengan beberapa benda yang berserakan, seolah tempat itu baru saja diterpa badai dan angin topan.
Di beberapa titik ia juga dapat mencium bau mayat yang menyengat. Tak salah jika beberapa burung gagak hitam terbang dan sesekali turun mematuk-matuk sesuatu di jalanan.
Suara burung-burung itu pun terdengar memekakkan telinga. Tiba-tiba Egon merasakan hawa dingin yang berhembus di sekitarnya. Dan sebuah asap hitam muncul lalu hilang terbawa angin.
Seketika Egon teringat pada Gill. Ia pun memutuskan untuk kembali pada persembunyian para anjing. Namun saat tiba di sana ia terkejut, sebab Gill dan yang lainnya tidak ada di tempat persembunyian mereka.
"K kemana mereka?" gumam Egon bingung.
Egon memutar kepalanya dan menyapukan pandangannya ke seluruh bangunan desa. Namun tetap sunyi. Ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan para anjingnya.
Beberapa kali ia berlari ke sana dan kemari sambil sesekali meneriakkan nama mereka. Hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban. Gill, Carli, Capi, Ciko, mereka semua telah menghilang.
"Apa yang terjadi?" Egon mencari ke sana kemari.
Karena cukup lama ia mencari dan tidak ada hasil, Egon menjatuhkan dirinya ke tanah. Ia merasakan sesuatu yang ganjil telah terjadi di depannya. Walaupun ia berusaha keras untuk mengendus bau Gill dan yang lainnya, tetapi kali ini ia tidak dapat melacak bau mereka. Bau anjing-anjing itu berhenti di tempat terakhir persembunyian.
Pada keputus asaannya, samar-samar Egon mencium bau makhluk lain yang berada di dekat bau para anjing. Baunya begitu pekat, namun sedikit sangit.
Dengan alis yang mengeryit, ia berusaha menebak siapa pemilik bau tersebut. Karena belum juga mendapat pencerahan, ia memutuskan untuk melanjutkan pencarian dengan menyusuri jalanan yang ada di hadapannya.
Dalam perjalanannya menyusuri jalan, ia melihat beberapa tikus besar tampak sedang menggerogoti tulang belulang di dekat sumur tua. Entah mengapa, Egon merasa tertarik untuk melihat ke dalam sumur. Ketika ia melihat ke dalamnya, tidak tampak air di sana. Hanya kegelapan yang ada dan bau busuk menusuk hidungnya.
"Astaga. Apakah di dalam sumur ini tempat pembantaian? Bau busuk apa ini?" gumam Egon.
Egon berpaling dari tempat itu dan berjalan menjauh.
...****************...
Jauh di kedalaman sumur, Gill dan yang lainnya tampak terbaring dengan kaki mereka yang terikat. Di depan mereka terdapat sebuah kuali yang berukuran sangat besar dengan cairan hijau di dalamnya yang tampak meletup-letup karena mendidih.
Tempat itu begitu gelap dan hanya tersentuh sedikit cahaya yang tampak remang-remang. Ketika Gill membuka matanya, ia tidak dapat melihat dengan jelas apa saja yang ada di hadapannya.
Meskipun begitu, ia dapat melihat sedikit pergerakan di hadapannya. Tampak di depannya seperti seseorang yang berjubah dengan bau makhluk yang pekat. Orang itu mencelupkan beberapa benda ke dalam kuali kemudian mengaduk dan mencicipinya.
Ketika Gill mencoba mengenali dan memperhatikannya dengan seksama, tiba-tiba saja makhluk itu menoleh kepadanya. Gill begitu terkejut karena dari mata makhluk itu, terpancar cahaya merah mengerikan.
SIINGG !!!
Egon berjalan semakin jauh. Dan tidak sekalipun ia temukan seorang manusia atupun binatang kecuali tikus dan burung gagak. Ketika ia berhenti beristirahat di sebuah tumpukan kayu, ia menyadari bahwa di depan sana ada sebuah kastil tua. Seketika itu ia pun bangun dan berlari menuju kastil tersebut.
Di halaman depan kastil, akar-akar dari akasia yang sudah mati menjalar kemana-mana. Tak jauh berbeda dengan tempat sebelumnya, tempat yang ia datangi sekarang pun tercium bau anyir yang menyengat dan bau busuk dari bangkai dan tulang manusia yang bergeletakan di jalan.
Sebagai manusia setengah Lycan, Egon tentu saja pernah mencium aroma seperti itu saat pertarungan bersama keluarga Amaury. Namun karena mungkin bangkai-bangkai tersebut sudah terlalu lama berada di sana, bau busuk yang menusuk hidung tidak dapat ia tahan. Egon merasa perutnya sangat mual, sehingga akhirnya ia pun muntah.
HOSH ! HOSH !
Egon merasa nafasnya tersengal. Bahkan kepalanya sekarang menjadi pening. Tak terasa, ia pun terjatuh dan pingsan seketika.
***
Egon terbangun karena sinar matahari menyilaukan matanya. Ia segera tersadar bahwa dirinya sekarang berada di depan kastil yang ia lihat semalam. Saat tangannya bergerak, ia mendapati beberapa tikus sedang mengerumuni dan menggigitnya.
Ia pun segera mengibaskan tangannya untuk mengusir semua tikus yang ada di dekatnya. Perlahan ia pun bangkit dan berusaha duduk. Egon menggeser pantatnya mundur menjauh dari tikus yang menatapnya dengan pancaran mata yang merah.
Karena tikus-tikus itu tidak mau pergi, Egon meneriaki mereka.
"Pergi kalian!" teriak Egon.
Egon menendang dan melempar tikus-tikus itu agar menjauh darinya, namun mereka terus saja kembali mendekat. Saat ia mengangkat sebuah batu, ia merasakan lengannya terasa amat perih.
Rupanya terdapat luka di sana akibat dari gigitan tikus-tikus besar itu. Bahkan, walaupun para tikus sudah menggigitinya dari semalam, mereka belum juga puas dan mencoba menyerang Egon sekali lagi.
Mendapati para tikus yang keras kepala, Egon merasa kesal dan menggeram seketika, memperlihatkan gigi-gigi runcingnya. Baru setelah ia melakukan itu, para tikus melarikan diri dan segera bersembunyi ke dalam bangunan rusak dan reruntuhan lainnya.
Sambil mengusap luka di lengannya, Egon berdiri dan berjalan memasuki kastil. Untuk sesaat ia tidak menemukan sesuatu apa. Namun, pada saat ia mulai melangkahkan kaki menuju ruang bawah tanah, ia mendengar suara gaduh dari lantai bawah. Sepertinya sedang ada perkelahian di bawah sana. Pikir Egon. Benar saja. Ketika ia sampai di ruang luas dan gelap, sesuatu mendarat dan menubruk tubuhnya.
"Uhgk !"
Sesuatu menubruk Egon dengan kencang dan membuat dirinya terdorong ke dinding. Ulu hatinya seperti dipukul keras hingga ia terbatuk-batuk karenanya.
Ternyata sesuatu yang menubruknya amat kencang itu adalah Gill. Anjing besar itu tampak terluka dan berdarah. Dalam keremangan cahaya, Egon melihat Carli dan Capi juga ada di hadapannya sedang melawan sesosok makhluk.
"Gill, apa kau baik-baik saja?" Egon merasa cemas.
"Ya. Aku baik-baik saja," jawab Gill. "Tapi, aku rasa sebaiknya kita melarikan diri sekarang, sebelum makhluk itu menemukan kita di sini," ucap Gill lagi.
"Makhluk apa maksudmu?" tanya Egon memangku Gill yang sedang terkapar lemas.
Seketika Egon merasakan ada aura kegelapan yang dingin di hadapannya. Dan pada saat ini, aura gelap itu sedang mendekati dirinya. Meski tidak merasa takut, Egon meneguk ludahnya beberapa kali. Ia juga membuka matanya lebar-lebar. Menunggu untuk melihat makhluk seperti apakah sebenarnya yang menyerang mereka itu.
***
Makhluk apakah yang menyerang Egon dan kawan-kawan? Mari lanjutkan cerita sampai akhir. π
...****************...
BERSAMBUNG....