
BAB 11
Satu minggu setelah sidang hukuman berjalan, datanglah surat dari Alexander yang isinya meminta grup sirkus untuk berkeliling ke kota-kota lain selain di provinsi Genova.
Sebab, sang ratu tidak mengijinkan siapapun untuk menggelar pertunjukan di wilayah kekuasaannya. Di zaman itu, setiap provinsi mempunyai kerajaan tersendiri. Sehingga masih dengan peraturan-peraturan mereka yang bersifat teritorial.
Karena uang simpanan tim sirkus semakin menipis, akhirnya Kristoffer memutuskan untuk melakukan perintah Alexander. Ia berdiskusi dengan Bet dan anggota sirkus lainnya.
"Jadi, menurut kalian bagaimana. Apakah kita akan tetap di sini dan kehabisan uang? Ataukah kita akan pergi berkeliling Italy dan mencari uang? Mungkin saja jika kita mengumpulkan dan mendapatkan uang banyak, maka kita dapat menebus Alexander agar bebas dari penjara," usul Kristoffer.
"Benar. Kita akan mengumpulkan uang untuk kebebasan Alexander. Bagaimana semuanya?" seru Bet.
"Aku setuju!"
Bradon datang bersama Egon secara tiba-tiba dan langsung memberikan pendapatnya. Ia merasa bahwa usulan paman Kristoffer itu sangat bagus.
Setelah mereka berkumpul dan berdiskusi panjang, akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka ke kota-kota sebelah.
Bet mengirim balasan untuk Alexander sebelum sirkus mereka beranjak pergi. Dengan begitu, Alexander tahu bahwa mereka akan pergi ke jalur utara.
Ketika Bet akan kembali, Alexander menitipkan surat pribadi untuk Bradon. Karena jam besuk bagi para tahanan sudah habis, Bet pulang dan memberi pelukan persahabatan untuk Alexander.
Pagi ini juga, mereka berangkat melanjutkan perjalan mereka. Karavan-karavan sirkus Alexander bergerak maju tanpa halangan.
Sebenarnya, mereka merasa sedih saat meninggalkan Genova dan Alexander. Khususnya Bradon. Anak laki-laki dengan bintik merah di wajahnya itu menyandarkan dagunya di jendela karavan. Ia terus memandangi jalan dimana ayahnya diseret pergi ke penjara.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Egon.
"Hmmm, aku merasa sedih harus meninggalkan ayahku di sana," jawab Bradon murung.
"Sabarlah kawan. Jika kita berhasil membawa uang banyak, kita dapat menebus kebebasan paman Alexander."
"Kau benar, Egon."
Bradon sedikit tersenyum. Ia merasa sedikit terhibur dengan keberadaan kawan baiknya, Egon.
Iringan karavan berjalan melewati jalur utara menuju Torino (Turin). Tempat dimana terdapat tempat-tempat perindustrian dimasa itu. Misalnya seperti penyamakan kulit domba dan pakaian.
Kira-kira lima belas jam lamanya bagi mereka untuk sampai ke kota yang begitu elegan dan anggun dengan jalan lebar dan alun-alun yang dibatasi oleh bangunan-bangunan bertulang yang indah. Ketika rombongan sirkus Alexander melewati gerbang besar yang disebut Porta Palatina, bunyi gemerincing bel dan derap langkah kuda mereka menarik perhatian orang-orang sekitar.
Dan ketika iringan karavan berhenti di tengah alun-alun dimana sekitar mereka adalah bangunan yang serba tinggi, mereka pun bergegas turun untuk memeriksa keadaan dan meminta ijin untuk membuka pertunjukan sirkus.
Orang-orang yang tadi sempat penasaran pun mengerumuni karavan mereka. Bet dan Kristoffer menemui pemimpin kota tersebut. Syukurlah, pemimpin di sana mengijinkan mereka untuk melakukan pertunjukan.
Akhirnya, sirkus Alexander membuka tenda-tenda mereka dan menggelar pertunjukan siang dan malam.
Penonton di sana merasa sangat terhibur dan mengapresiasi apa saja yang mereka tampilkan. Bahkan rata-rata, orang kayalah yang datang menonton dan menyewa barisan depan untuk melihat pertunjukan seru dari sirkus Alexander.
Memang benar, jarang sekali ada pertunjukan semacam itu di kota mereka. Banyak dari mereka yang menjadi pengusaha dan pebisnis, namun jarang sekali ada grup lawakan atau sirkus.
...****************...
Sesekali Kristoff bergerak sangat cepat. Naik dan turun dari atap-atap rumah. Untung saja Egon berdarah Lycan, dengan mudah ia pun menyamai kecepatan Kristoffer.
Ketika akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan rumah yang lumayan sepi, Egon melihat bahwa paman Kristoffer sedang menggigit leher seseorang.
"A apa? D dia benar seorang vampir?" ucap Egon lirih dan tergagap.
"Akhirnya, aku melihat dia yang sebenarnya," ucap Gill.
Baru saja Egon dan Gill hendak pergi, tiba-tiba Egon merasakan bahwa seseorang telah berdiri di belakangnya dengan aura yang begitu dingin.
Tahulah ia siapa yang berdiri di belakangnya sekarang. Sambil menelan ludah, Egon memalingkan muka melihat siapa yang ada di belakangnya. Apakah benar dialah paman Kristoff?
"Sedang apa kau di sini?" tanya Kristoff dengan sinis.
"He-he. P paman? Kapan paman datang kemari?" Egon bersandiwara seolah ia tidak melihat segalanya, ia begitu gugup.
Namun dalam sekejap pandangan mata, Egon dapat melihat sisa darah di bibir paman Kristoff. Dan sekarang, pria itu menjadi berwajah sangat masam dengan kerutan tegas di atas hidung sehingga alisnya yang tampak menyatu.
"Apa saja yang sudah kau lihat?"
"A aku tidak melihat apapun."
"Ha-ha-ha !" Kristoff tertawa. "Tidak perlu bersandiwara di depanku, hai anak muda. Karena sekarang kau sudah melihatku, aku minta kau untuk diam dan tutup mulut. Itupun jika kau tidak mau jati dirimu aku bongkar pada semua orang."
"A apa maksud paman?"
"Aku tahu siapa dirimu. Juga anjing piaraanmu itu. Sejak pertama kalian datang ke perkemahan, aku tahu bahwa kau adalah keturunan Lycan. Lycan kecil yang kehilangan pemimpinnya."
"Dan dia adalah Direwolf. Kini, kau juga tahu siapa diriku, bukan? Yah, walaupun sebenarnya klan kita bermusuhan, tapi aku rasa dalam hal ini kita bisa bekerja sama."
"Bekerja sama untuk apa?"
"Menjaga rahasia."
Egon diam. Ia menundukkan kepala karena sedang berpikir. Namun, belum lagi ia memberi jawaban, tiba-tiba saja Kristoffer menarik dan membawa Egon melompat dengan cepat dari gedung tinggi satu ke gedung tinggi lainnya.
Tentu saja, Gill segera mengikuti mereka berdua. Hingga sampailah mereka di dekat perkemahan sirkus. Sebelum berpisah, Kristoff mengingatkan Egon sekali lagi.
"Aku melakukan itu karena aku butuh makananku. Asal kau tahu, aku tidak membunuh mereka. Aku masih membiarkan mereka hidup dan berkeliaran. Dengan kata lain, aku hanya meminta sedikit vitamin dari mereka. Itu saja. Jadi, simpan rahasia ini. Hanya kau dan aku yang tahu. Jika ada orang lain yang tahu, maka kaulah orang pertama yang akan aku bunuh."
Mendengar ucapan Kristoff, Gill menggeram dan memperlihatkan gigi-gigi tajamnya. Karena Kristoff juga tidak main-main dengan ucapannya, ia pun membalas geraman Gill dengan memperlihatkan gigi taringnya.
"B baiklah," Egon mengangguk paham.
Dengan perlahan Egon kembali ke karavannya. Tampak semua anggotanya sudah tidur dengan lelap sehingga tidak satupun yang menyadari bahwa kedua anggota mereka baru kembali dari suatu tempat yang hanya diketahui oleh mereka.
...****************...
BERSAMBUNG...