ALONE IN THE WORLD

ALONE IN THE WORLD
KAWAN BARU



BAB 39


Hari semakin gelap. Malam kian merambat. Seravina memandangi pemuda yang tidur dengan santai di atas sebuah batu yang datar. Ia membayangkan seandainya dirinya adalah manusia yang hidup sendiri seperti pemuda di hadapannya itu. Hidup di hutan sendirian, tanpa teman dan sanak keluarga.


"Apakah tadi aku berkata terlalu kasar padanya? Mungkin dia kesepian di sini. Bahkan, ia tinggal di rumah gua tanpa keluarga?"


Seravina menghembuskan nafas pelan.


"Jadi, siapa namamu?"


Meski sejak tadi ia tidak tidur, Egon tidak menoleh ataupun menjawab pertanyaan itu. Maka, Seravina mengulangi pertanyaannya sekali lagi.


"Siapa namamu? Aku boleh tahu, kan?"


Egon tetap tidak bergeming.


"Hey,, aku bicara padamu. Apa kau tidak dengar?" Seravina sedikit kesal.


Egon menoleh lalu bangkit pergi duduk di tengah pintu masuk gua, "Apa gunanya kau ingin mengetahui namaku. Seandainya aku memberitahumu pun, kau tetap akan membawa penduduk desa untuk menangkapku."


"Tidak. Tidak begitu. Jika kau ingin aku tidak melapor pada penduduk desa, maukah kau memberitahu namamu padaku?"


Egon diam. Kemudian ia menoleh pada Seravina, "Egon. Panggil aku Egon."


"Egon?"


Seravina berpikir bahwa nama itu bagus. Ia memperhatikan dari belakang, punggung pemuda yang ia pikir lumayan tegap. Ia menyesal pada dirinya sendiri. Mengapa ia tadi menjerit ketakutan padahal Egon tidak melakukan hal buruk sama sekali kepadanya?


"Aku minta maaf. Karena sempat takut kepadamu."


"Tidak apa. Semua makhluk yang bertemu denganku memang selalu ketakutan sepertimu. Jadi tidak masalah."


"Makhluk?" Seravina jadi merinding.


"Asal kau tahu saja. Aku sendiri juga seorang manusia setengah makhluk. Jika kau takut dan merasa aku akan memangsamu, maka pergilah sekarang sebelum aku berubah pikiran," Egon berjalan mendekati Seravina dan melepas ikatan di tangan gadis itu.


Begitu terlepas, Seravina langsung berlari ke arah pintu gua. Tapi ia berhenti dan membalikkan badan memperhatikan Egon. Pemuda itu ternyata kembali merebahkan diri di atas batuan datar.


"Kau benar-benar melepasku?"


"Sejak awal aku juga tidak bermaksud menangkapmu."


Seravina mendekat dan duduk kembali ke tempatnya semula, "Aku pasti membuatmu takut dan cemas?"


Egon tidak menjawab. Ia hanya fokus memainkan bandul sisik pemberian Serena. Tiba-tiba saja ia bangun.


"Apapun itu, pulanglah. Hari semakin gelap. Orang tuamu pasti cemas mencari keberadaanmu."


Seravina menggelengkan kepala, "Tidak. Aku akan tidur di sini malam ini."


"Apa kau gila? Orang tuamu dan penduduk desa bisa saja datang mencarimu kemari!" Egon tampak khawatir.


"Lalu, apa aku harus berjalan sendirian di tengah malam seperti itu?"


Seravina menoleh pada luar gua yang sudah gelap. Sebab malam sudah datang dan ia tidak berani berada sendirian di kegelapan.


"Baiklah. Aku akan mengantarmu pulang. Tapi rahasiakan semua tentangku dari siapapun."


"Hmm. Aku mengerti," Seravina merasa senang bahwa Egon akan mengantarnya pulang.


...----------------...


Egon menggendong Seravina di punggungnya dan berlari cepat sambil sesekali melompat dari batu satu ke batu yang lain. Bahkan saat menuruni tebing curam ia langsung melompat ke bawah. Seravina merasa takjub saat merasakan sensasi terjun dari jarak jauh.


Mulutnya terus saja mengucapkan "Waow" di saat Egon melompat dari ketinggian. Dalam gendongan Egon, ia terus saja berpikir. Makhluk apa sebenarnya Egon? Drakula? Vampir? Atau manusia serigala?


Ah. Semua itu hanya cerita kuno yang ia dengar dari dalam buku karangan milik seseorang. Apakah itu mungkin terjadi?


Sesampainya di perbatasan desa, Egon berhenti. Ia sengaja menurunkan Seravina di tempat itu.


"Pergilah. Aku akan kembali."


"Tunggu."


"Ada apa lagi?"


"Besok, aku masih boleh berkunjung ke hutan, bukan?"


Egon berdiri kemudian menoleh, "Ya. Asal jangan membawa semua penduduk ke sana."


"Baiklah," Seravina tersenyum.


Setelah memberikan jawaban pada gadis itu, Egon berlari kencang menjauh, melompat dan menghilang di kegelapan malam.


Esok harinya, saat semua penduduk sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Seravina datang membawa roti dan selai kacang.


"Egon! Apa kau ada di dalam?" panggil Seravina di depan gua tempatnya kemarin dibawa.


"Kau datang lagi?"


"Hmm.. Bukankah semalam aku sudah bilang?"


"Ya. Tapi,,, "


"Mari makan roti bersamaku," ajak Seravina.


Egon keluar menghampiri Seravina dan ikut makan roti selai kacang bersama. Mereka telah berbaikan dan kemungkinan akan berkawan kembali.


"Apa aku boleh tahu, kenapa kau tinggal sendirian di sini?" tanya Seravina tiba-tiba.


"Aku?"


"Ya."


Setelah berpikir sejenak, Egon pun bersedia menceritakan kisah hidupnya.


"Aku lahir dan dibesarkan di hutan ini oleh orang tua serigalaku. Bersama lima saudara yang juga serigala, aku hidup damai di tempat ini."


"S Serigala?"


"Ya. Sejak bayi aku dibesarkan oleh Eva. Ibu serigalaku. Dan Amaury, ayah serigala. Kami hidup tanpa gangguan, hingga suatu ketika saat aku berumur 10 tahun, penduduk desa beramai-ramai datang membakar hutan ini untuk melenyapkan kami."


"Jadi, kapan terjadi kebakaran hutan itu? Mengapa tidak ada jejak yang aku lihat? "


"Entahlah. Mungkin 50 tahun yang lalu."


"Apa? 50 tahun yang lalu?" seru Seravina tidak percaya. Bagaimana bisa itu menjadi 50 tahun? Jika begitu, seharusnya Egon sudah tua, bukan?


"Ya. Ada apa?"


"Jika itu lima puluh tahun yang lalu, ditambah usiamu yang saat itu 10 tahun, seharusnya usiamu sudah 60 tahun, bukan? Lalu mengapa kau tampak seperti pria muda yang baru berusia 17 tahun?"


Egon tertawa. Jika dipikir, memang lucu. Ia bertambah usia dari tahun ke tahun. Tapi tidak sekalipun tubuhnya beranjak menua.


"Kau takut?"


Seravina menggelengkan kepala, "Aku hanya merasa takjub."


"Aku tidak yakin, apa kau akan percaya jika aku mengatakan bahwa sebenarnya aku ini manusia Lycan yang mengerikan."


"Hahaha. Apa kau bercanda?" Seravina tertawa terpingkal-pingkal. Tapi beberapa detik kemudian tawanya mereda digantikan rasa takut.


Egon tetap santai menyantap roti selainya, meski ia tahu Seravina mendadak diam berkeringat.


"A Apa kau serius?"


"Hmm," Egon mengangguk santai.


DEG!


Gadis itu berpikir bahwa ia datang kembali ke kandang serigala dengan sukarela.


"Apa sekarang kau takut?" tanya Egon.


GLEK!


Seravina tidak mampu berkata apapun. Karena suasana menjadi berselimut mendung, Egon mencairkannya dengan suara tawanya.


"Ahaha. Kau percaya dengan ceritaku?"


"Hehe. Jadi, kau sedang bercanda, ya?"


Egon meletakkan rotinya kembali, "Tidak. Aku tidak bercanda. Itu semua benar adanya."


Tanpa basa-basi lagi Egon menunjukkan pada Seravina bagaimana saat ia mengeluarkan kukunya. Dari dalam jari-jarinya, perlahan keluar kuku yang semakin memanjang dan runcing.


"Oowh!!" Seravina menutup mulutnya karena terkejut. Matanya melotot karena takut dan takjub.


Untuk meyakinkan gadis itu, Egon berlari, melompat dan berpijak pada setiap batang pohon lalu memotong sebuah dahan pohon dengan kukunya.


"Setelah hutan ini terbakar, aku juga kehilangan orang tua serigalaku. Maka dari itu, aku pergi mengembara. Dan di dalam perjalanannya, aku bertemu beberapa kawan yang bernasib sama sepertiku," Egon bercerita.


"Di mana pun aku berada, aku bertarung seperti ini untuk mempertahankan diri bersama kawan-kawanku. Tapi satu persatu, mereka tewas dan pergi meninggalkanku. Itulah sebabnya, aku kembali di sini dan tetap sendiri."


"Aku mengerti sekarang."


Egon menoleh.


"Aku tahu bagaimana perasaanmu. Selama ini, kau pasti sangat kesepian, bukan? Tapi, sekarang. Kau tidak boleh merasa kesepian lagi. Karena aku ada di sini untuk menjadi temanmu."


Bersambung........