
BAB 38
Saat Egon mundur selangkah, Seravina tertawa karena ia merasa agak memaksa.
"Ah. Haha. Baiklah. Coba pakai sendiri pakaian yang ku berikan untukmu."
Gadis itu mengulurkan pakaian yang ada di tangannya. Seravina menyadari. Seharusnya ia tidak memaksakan diri untuk memerintah pemuda yang baru saja ia temui itu. Tapi, yang ada di dalam pikirannya hanyalah merasa senang. Senang. Senang. Dan senang.
Seravina merasa pemuda itu bisa menjadi teman dekatnya.
"Ayolah, ganti sekarang pakaianmu itu. Kalau tidak aku akan memakaikannya untukmu, " Seravina berkarakter lembut dan ceria.
Egon mengangguk dan berbalik memunggungi Seravina. Ia melepas pakaiannya dan meraih pakaian barunya. Seravina yang melihat punggung Egon dipenuhi bekas luka segera mendekat dan mengusapnya perlahan.
"Apa ini bekas luka sayatan?" tanyanya pelan.
Egon terkejut dan berbalik. Lagi-lagi Seravina menemukan bekas luka yang sama di bagian dada dan perut Egon.
"Di bagian depan juga ada?" tanyanya terkejut sambil memegangi tubuh Egon.
Egon tidak bisa berkata-kata.
"Apa kau lari ke hutan karena dianiaya keluargamu? "
Egon menggelengkan kepala.
"Lalu, apakah tuanmu?"
Egon menggelengkan kepala lagi.
"Siapa? Apa kau pernah mencuri sesuatu dan dihajar penduduk desa?"
Seravina menyentuh wajah Egon karena merasa iba. Ia benar-benar iba padanya.
"Apa-apaan. Pencuri?? Akh. Gadis ini berpikir seenaknya saja tentangku. Dia tidak tahu akulah pemilik hutan ini."
Egon menggeleng pelan.
Karena Egon terus menggeleng, Seravina menyerah dan membantu Egon mengenakan pakaiannya. Kemudian ia seperti teringat sesuatu dan buru-buru pergi.
"Oh, ya Tuhan, aku lupa. Em. Aku pergi dulu, ya. Besok aku akan ke sini lagi. Sampai jumpa," Serena berlari sambil melambaikan tangan.
Keesokan harinya, Seravina benar-benar datang. Seharian, ia mengajak Egon bermain dari berkejaran menangkap kupu-kupu. Kemudian, hari berikutnya, ia juga datang membawa bekal makanan roti lapis daging dan keju.
Satu minggu telah berlalu. Seravina semakin senang berkawan dengan Egon. Ia selalu datang membawa kejutan. Seperti hari itu, ia membawa beberapa buku dongeng. Kemudian ada juga buah-buahan.
Esoknya lagi, ia membawa busur dan anak panah untuk berlatih memanah. Mereka berlatih bersama-sama sampai tangan mereka kapalan. Kemudian di akhir waktu, mereka tertawa bersama sambil menikmati madu yang diambil langsung dari sarangnya.
Begitulah waktu berlalu selama beberapa minggu. Seravina merasa senang bertemu dengan Egon sehingga meluangkan waktu setiap harinya untuk bertemu dengannya. Meski Egon masih belum bicara, tetapi Seravina menyukainya.
Dan pada minggu ke dua belas, Seravina datang sambil berlari-lari karena ia dikejar oleh seekor babi hutan besar. Gadis itu berlari ketakutan tanpa melihat tanah yang ia pijak sehingga ia tidak menyadari sedang berlari di area tebing curam.
Begitu ia terpeleset, menggelinding dan hampir jatuh ke dalam jurang, seseorang menangkapnya dengan cepat dan membawanya melompat ke setiap pohon dan mendarat dengan tenang di suatu tempat.
SRATS
Egon merebahkan tubuh Seravina yang pingsan di atas tanah. Dengan sangat pelan, ia memanggil namanya.
"Seravina!"
Seravina pingsan lumayan lama. Begitu matanya terbuka, Egon segera memberinya pertanyaan, "Apa kau baik-baik saja, Seravina?"
Gadis yang namanya dipanggil itu mengerjapkan matanya beberapakali menatap Egon.
"Kau bisa bicara?"
Egon mengedip pelan dan meneguk ludahnya. Ia menunduk sambil menjawab, "Ya. Aku bisa bicara."
Seravina tidak percaya bahwa dia telah dibohongi pemuda itu selama beberapa pertemuan yang terjadi di antara mereka.
"J Jadi, kau yang telah menyelamatkanku barusan?" tanya Seravina menjadi gugup. Sebab, suara berat Egon membuatnya merasa aneh.
"Hmm."
"Jadi begitu, ya. Tapi.. Bagaimana bisa manusia melompat seperti itu di atas jurang?" Seravina gemetaran. "S Siapa kau sebenarnya?"
"Apa kau merasa takut?"
"Aku..... "
"Maaf karena aku membuatmu takut," Egon berdiri dan berbalik pergi meninggalkan Seravina.
"Namaku? Kau tidak perlu tahu. Kembalilah ke desa dan jangan berkeliaran di dalam hutan seperti ini. Jangan pula membawa manusia lain karena mereka akan membuat kecemasan untukku."
Seravina kesulitan meneguk ludahnya. Ia benar-benar terkejut karena pemuda yang beberapa minggu cukup dekat dengannya dan bersikap begitu manis itu menjadi berbeda dalam sekejap.
"Siapa dia sebenarnya?" gumamnya lirih.
Karena pemuda itu meninggalkannya, Seravina tidak punya pilihan lain selain pulang ke rumahnya dengan rasa penasaran yang besar.
...----------------...
Dua hari kemudian, Seravina datang kembali dan mencari-cari pemuda yang sempat berteman dengannya itu di sekitaran pohon murbei. Kemudian karena tidak muncul, ia bergegas pergi ke sungai di bawah kaki air terjun. Tapi di sana ia juga tidak menemukannya.
"Sebenarnya di mana dia?"
Seravina terus mencari-cari Egon di sekitar tempat mereka pernah bermain-nain. Pemuda yang ia cari rupanya sedang tidur nyenyak di dalam gua.
Saat bangun, Egon merasa lapar. Ia pun meraih kantung minumannya dan seutas tali yang ia kumpulkan dari rumbai tanaman. Siang ini, ia berencana untuk berburu.
Setelah berjalan dan memanjat pohon untuk mengintai mangsa, Egon melihat seekor babi hutan besar. Babi hutan itulah yang mengejar Seravina beberapa hari yang lalu.
Dengan cepat ia melompat dari satu pohon ke pohon lain. Kemudian saat babi itu sedang tenang, ia melompat dengan tangan dan kakinya untuk menyergap sang babi hutan. Karena terkejut ada musuh yang datang menyergap, babi itu meronta sekuat tenaga.
Egon memeluknya dari belakang dan mencekik lehernya kuat-kuat. Rupanya babi hutan itu tidak mau menyerah. Ia terus melawan kekuatan dari Egon dan menggigit lengan kanannya.
"Aaarrgghh!!! "
Egon menggeram dan melolong.
Merasa waktunya terbuang, Egon balik menggigit dan menghajar babi hutan itu. Kemudian ia mengeluarkan cakarnya dan menyayat leher sang babi hingga tewas.
Tanpa disadari, Seravina berdiri mematung menyaksikan pergumulan yang terjadi antara Egon dengan sang babi hutan, dibalik semak-semak. Gadis itu juga melihat bagaimana Egon mengeluarkan cakar dan menghajar binatang itu dengan brutal.
Karena terkejut dengan apa yang dilihatnya, Seravina menutup mulutnya yang mendesis ketakutan. Seketika tubuhnya gemetaran dengan keringat dingin yang mengalir deras. Pada waktu ia hendak melarikan diri, Egon menoleh dan melihatnya.
Tanpa pikir panjang, ia mengejar Seravina dan menangkapnya. Lalu ia juga menutup mata gadis itu dengan kain selendang yang kebetulan dipakainya.
Meski gadis itu menjerit-jerit ketakutan, Egon tetap menggendongnya di atas pundak. Sambil menyeret babi hutan di tangan kanannya, ia berjalan pelan menuju gua tempatnya tinggal.
Tak.. Tak... Tak...
Suara batu yang saling dibenturkan. Rupanya Egon sedang berusaha membuat api unggun untuk membakar daging buruannya.
Di sudut ruangan, Seravina meringkuk dengan tangan diikat serta mata yang tertutup selendang. Ia merasa sangat takut. Badannya pun terus gemetaran.
Sebenarnya Egon tidak ingin melakukan itu pada gadis yang akhir-akhir ini dekat dengannya, tetapi ia juga tidak bisa membiarkan Seravina pergi begitu saja setelah melihat sisi brutal dalam dirinya.
Beberapa menit kemudian, bau daging bakar tercium di dalam gua. Aromanya membangkitkan rasa lapar di dalam diri Seravina. Perutnya berbunyi.
KRUYUKK KRUYUUKK
Egon mendengar suara perut Seravina dan tersenyum geli. Namun ia tetap melanjutkan makan hingga kenyang. Setelah menyelesaikan makan siangnya, Egon berdiri membersihkan darah yang mengotori wajah dan tangannya.
Kemudian, ia menghampiri Seravina dengan perlahan. Dibukanya ikatan selendang pada mata Seravina.
"Makanlah... " Egon mengulurkan daging bakar beraroma lezat di depan hidung gadis itu.
Seravina diam karena takut.
"Kau takut padaku?"
Seravina tidak menjawab. Tapi ia terlihat meneguk ludahnya dan menatap Egon takut-takut.
"Itulah diriku yang sebenarnya. Oleh sebab itu pula aku tinggal di dalam hutan ini."
"Kau bukan manusia?"
Seravina melontarkan pertanyaan yang langsung pada intinya sehingga Egon menoleh dan menatapnya tajam.
"Jika aku bukan manusia, apa kau akan memberitahu semua penduduk bahwa ada makhluk mengerikan sepertiku yang tinggal di hutan?"
"Ya. Setidaknya aku harus memperingatkan mereka agar tidak mendekati hutan untuk mencari jamur dan rumput liar."
Egon membenci jawaban yang jujur dari mulut gadis itu. Karena kesal, ia pun berdiri dan melempar daging bakar yang sudah matang itu ke pangkuan Seravina.
"Makanlah. Simpan tenagamu untuk kembali ke desa dan mengatakan semua yang kau inginkan pada penduduk."
Egon menyingkir dari hadapan Seravina dan berbaring di atas batu tempat ia tidur. Sambil mengangkat kedua tangannya di belakang kepala, Egon mencoba memejamkan matanya. Ia harus berpikir. Apa yang akan ia lakukan jika gadis itu benar-benar melapor pada penduduk desa?
Bersambung.......