Alina

Alina
BAB 9 Kelas Baru



# Selang Beberapa Hari Kemudian, Alina dan Hanna Mulai Bersekolah di Sekolah SMA yang baru #


Alina dan Hanna sedang berjalan menuju kelas baru mereka. Mereka berjalan sambil mengobrol dan memperhatikan sekitar.


" Akhirnya sekarang kita duduk di bangku SMA. Semua ini terjadi bagai mimpi, waktu begitu cepat berlalu. " Ucap Hanna merasa kagum dengan apa yang ada di sekelilingnya.


" Yah,, kamu benar. Aku juga merasakan hal yang sama. " Jawab Alina sambil tersenyum kagum. Mereka tetap berjalan dengan santai sambil menikmati pemandangan di sekitar sekolah baru mereka, hingga akhirnya mereka sampai di kelas.


" Bolehkah aku kembali duduk bersama kamu lagi? " Tanya Hanna sambil menyeringai.


" Hhhhh... Kenapa aku harus duduk bersama dengan kamu lagi? Apakah kamu tidak akan merasa bosan jika setiap hari harus melihat wajah ku? " Jawab Alina dengan pura pura ketus.


" Tentu saja tidak. Aku malah merasa senang. Tapi kenapa tiba tiba kamu seperti tidak menyukai ku lagi? " Hanna kembali bertanya dengan tatapan sedih. Sedangkan Alina tak kuasa menahan tawanya. Hanna pun terkejut dan mengerutkan sedikit keningnya.


" Apa yang sedang kamu tertawakan? " Tanya Hanna sambil menatap heran.


" Wajah kamu hari ini begitu lucu dan sangat menggemaskan, hihihi... Aku akan selalu mengingatnya. " Jawab Alina sambil cekikikan.


" Dasar kamu jahat. Sekolah baru saja akan di mulai, kamu sudah mempermainkan aku. Aku pikir, kamu benar-benar sudah bosan berteman denganku. Dasar menyebalkan. " Gerutu Hanna sambal melirik sebal dan memanyunkan mulutnya.


" Sudah, jangan marah lagi. Aku kan hanya bercanda. Kenapa kamu jadi begitu serius? Mana mungkin aku bosan berteman denganmu? Kamu adalah temanku satu satunya. Aku sangat menyayangi kamu, percayalah. Jangan marah lagi yaa.. " Alina merajuk seraya membujuk Hanna yang ngambek karena ulahnya.


" Baiklah, aku tidak akan marah lagi. Tapi kamu jangan membuat aku takut lagi yaa. " Jawab Hanna seakan memohon.


" Dasar bodoh. " Tegas Alina. Keduanya pun tersenyum manis.


# Setelah Pulang Sekolah #


Alina, Hanna di tambah Darren jalan bersama menuju ke luar sekolah.


" Apakah kamu akan di jemput seperti biasanya? " Tanya Hanna pada Alina.


" Sepertinya tidak. Karena tadi pagi pun aku berangkat sendiri. " Jawab Alina.


" Kenapa begitu? Apakah keluarga itu sudah tidak mempedulikan kamu lagi? " Tanya Darren dengan nada yang sedikit kesal.


" Bukan begitu. Mobilnya sekarang di pakai untuk mengantar jemput anak dari temannya Bibi Kyra. Aku tidak mungkin berebut dengannya. Lagi pula sejak dulu aku kan sudah terbiasa berangkat dan pulang sendiri. Jadi bagiku sama sekali tidak ada masalah. " Jawab Alina menjelaskan.


" Kalau begitu, biar aku yang mengantar kamu pulang. Lagi pula kita searah. " Ajak Darren pada Alina.


" Tidak perlu. Aku pulang sendiri saja. Kamu jangan khawatir. " Jelas Alina.


" Apa salahnya kalau kita pulang sama sama? Lagi pula kamu temanku. Ikut saja denganku. Mulai hari ini kita bertiga akan pulang bersama. Aku akan mengantar kalian terlebih dulu. " Ucap Darren memutuskan sepihak seolah dia tidak peduli lagi dengan penolakan Alina.


" Apa kami tidak akan membuat kamu repot? Kamu bisa terlambat sampai di rumah. " Ucap Hanna sambil menatap Darren.


" Tidak ada alasan lagi. Semua sudah ku putuskan. Lebih baik kalian menurut saja. Ayo kita pulang. " Jawab Darren dengan sangat tegas.


Akhirnya mereka pun pulang sama sama. Karena rumah Hanna lebih dekat, mereka lebih dulu sampai di rumah Hanna kemudian melanjutkan perjalanan pulang menuju kediaman keluarga Sandy.


Saat mereka sampai di depan rumah Sandy, Alina membuka pintu mobil kemudian turun dari mobil di ikuti Darren.


" Darren, terima kasih banyak. Aku masuk dulu ya. Kamu hati hati di jalan. " Ucap Alina sambil tersenyum.


" Ya, sampai jumpa besok. Bye bye... " Balas Darren sambil melambaikan tangannya. Begitu juga dengan Alina kemudian dia masuk ke dalam rumah. Darren kembali masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan pulang.


Di dalam rumah ternyata ada Zanitha yang sedang memperhatikan mereka sambil tersenyum sinis. Zanitha pun mengambil beberapa foto dari mereka berdua.


Ketika Alina hendak melangkah masuk ke dalam rumah, Zanitha menghadang di hadapannya.


" Kamu benar benar hebat yaa. Ternyata selama ini, aku terlalu meremehkan kamu. " Ujar Zanitha sambil melotot pada Alina, sedangkan Alina malas menyahut karena dia tidak mengerti maksud dari perkataan Zanitha. Alina hanya menatap Zanitha dengan penuh tanya di dalam benaknya.


" Adelio baru pergi selama beberapa hari saja, kamu sudah berani mengkhianati dia. Hhhhh, dasar gadis murahan. Kamu tidak lebih dari sampah yang dipungut oleh Paman Sandy. Aku merasa kasihan pada Adelio. Dia benar-benar tidak layak untukmu. " Ucap Zanitha dengan sangat ketus dan sinis.


" Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud dari ucapan kamu. Kenapa kamu selalu mencari masalah denganku? " Alina pun balik bertanya dengan ketus.


" Sudah tertangkap basah, Kamu masih saja berani berpura pura. Aku akui kamu memang gadis yang cerdas. Setelah berhasil mendekati Adelio, kamu ternyata juga masih berusaha untuk mendekati laki laki lain. Haahhhh... aku tidak habis pikir sama sekali bagaimana mungkin Adelio bisa percaya sama kamu. " Jawab Zanitha dengan nada merendahkan sedangkan Alina hanya tersenyum.


Setelah mengatakannya, Alina pun meninggalkan Zanitha seorang diri dan segera masuk ke kamarnya.


Zanitha pun terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya. Kemudian Kyra muncul di hadapannya tanpa ia sadari.


" Anakku, ada apa? Kenapa aku seperti mendengar ada keributan? " Tanya Kyra sambil menatap heran.


" Gadis busuk itu berani memojokkan aku Bi. Sudah jelas sekali dia ingin mempermainkan dan mengkhianati Adelio. Tapi dia masih saja berpura pura lugu, seolah olah tidak melakukan kesalahan. Aku merasa tidak adil untuk Adelio. Dia telah dibodohi oleh gadis itu. Bagaimana pun, Adelio adalah orang terdekatku. Aku hanya meminta keadilan untuknya. Tapi aku tidak menyangka, dia malah mengancamku. " Zanitha menjelaskan secara panjang lebar sambil memasang wajah kasihan dan penuh rasa simpatik.


" Kamu tenang saja. Adelio tidak akan sebodoh itu. Aku tidak akan membiarkan gadis itu berbuat seenaknya di dalam rumahku. Sepertinya sudah saatnya aku mulai bertindak. " Jawab Kyra sambil mengusap punggung Zanitha dengan sorot mata penuh kebencian terhadap Alina.


***


Hanna sedang duduk di depan meja belajarnya, dia membaca sambil melamun. Tanpa ia sadari, ibunya bernama Renata masuk dan memperhatikan tingkah anaknya tersebut. Renata kemudian menghampiri Hanna.


" Apa yang sedang kamu pikirkan? " Tanya Renata sambil mengelus kepala Hanna sehingga membuat Hanna kaget dan langsung menatap wajah ibunya.


" Ibu.. sejak kapan ibu ada di sini? " Hanna bukannya menjawab malah balik bertanya pada sang ibu.


" Kamu benar benar sedang melamun hingga ibu masuk pun kamu tidak tahu. Beri tahu ibu, apa yang sedang kamu pikirkan. Apa kamu punya masalah? " Renata mendesak.


" Tidak ada bu. Mungkin aku hanya merasa sedikit lelah jadi tidak fokus. " Jawab Hanna sambil menatap wajah sang ibu dan menggelengkan kepalanya.


" Benarkah? " Ucap Renata sambil memegang kedua pipi anak semata wayangnya itu.


" Masa ibu tidak percaya padaku? " Ucap Hanna merengut. Renata pun tersenyum.


" Baiklah, ibu percaya. Ya sudah kalau begitu, ibu keluar dulu. Jika kamu lelah, istirahatlah. Jangan memaksakan diri. Hmm? " Ucap Renata menasehati kemudian melangkahkan kakinya hendak keluar. Di saat ia memegang gagang pintu, Hanna menoleh dan segara memanggil ibunya.


" Ibu, tunggu sebentar " Teriak Hanna, sehingga sang ibu pun menghentikan langkah dan gerakan tangannya. Ia pun menoleh pada Hanna dengan tatapan penuh pertanyaan.


" Bu, bolehkan aku bertanya satu hal padamu? " Tanya Hanna dengan ragu. Renata kemudian kembali menghampiri putri kesayangannya itu.


" Tentu saja. Ibu akan berusaha untuk menjawabnya. Ada apa nak, apa yang ingin kamu tanyakan? " Jelas Renata sambil memegang erat bahu Hanna.


" Hmm,, di antara ayah dan ibu, siapa yang terlebih dulu jatuh cinta? " Tanya Hanna dengan sedikit ragu dan deg degan. Ibunya menatap penuh heran.


" Kenapa kamu bertanya tentang hal itu? Apa kamu sedang jatuh cinta? " Selidik sang ibu sambil tersenyum. Sedangkan Hanna langsung menunduk malu karena dia merasa tebakan ibunya benar.


" Ternyata kamu benar sedang jatuh cinta? Hanna, kamu tidak perlu merasa malu pada ibu. Karena ibu juga pernah mengalaminya dulu. " Jelas Renata sambil tersenyum, dan Hanna masih menunduk malu.


" Kalau ibu boleh tahu, siapa laki laki beruntung yang telah mendapat perhatian dari kamu? " Tanya Renata, Hanna menatap ibunya dengan rasa bimbang dan tidak mengucapkan apapun.


" Apa kamu masih ingin merahasiakannya dari ibu? " Renata yang masih tersenyum melanjutkan pertanyaannya pada Hanna. Namun, wajah murung Hanna malah semakin terlihat jelas.


" Kenapa kamu malah bersedih? Apa dia tidak menyukai kamu? " Melihat putrinya hanya diam saja dan tidak memberikan jawaban apa pun, Renata merasa semakin penasaran dan mencoba untuk memahami situasi.


" Bu, aku merasa kalau perasaanku terhadap dia akan sia sia. Karena aku tahu dia sepertinya telah menyukai gadis lain. Itu sebabnya dia tidak akan pernah tahu kalau aku juga menyukainya. Dia tidak pernah menatapku, dia hanya selalu fokus pada gadis lain. " Ucap Hanna tidak bersemangat.


" Cinta harus diperjuangkan. Kalau kamu merasa dia layak, kamu harus berusaha. Apa dia sudah bersama gadis itu? " Tanya Renata.


Hanna menggelengkan kepalanya.


" Tidak bu. Gadis itu juga sudah memiliki pria lain di dalam hatinya. Dia jelas jelas telah memberi tahu padaku. " Jawab Hanna seraya memastikan.


" Kalau begitu, apa yang kamu takutkan? Itu artinya, kamu masih memiliki peluang. Kamu hanya perlu bersabar. Cinta juga tidak bisa di paksakan. Tapi kamu tidak boleh menyerah semudah itu sebelum kamu berusaha untuk memperjuangkannya. " Nasihat Renata sambil tersenyum memberi semangat pada anak yang paling disayanginya itu.


" Bu, terima kasih atas kasih sayang mu. Aku beruntung memiliki ibu. " Jawab Hanna membalas senyuman dari ibunya.


" Anak bodoh. Kamu tidak perlu berterima kasih. Ibu akan selalu ada untuk mu, dan akan selalu mendukung kamu. Ibu sangat menyayangi kamu. Ya sudah, ini sudah malam, sudah waktunya untuk beristirahat. Jangan terlalu membebani pikiran kamu. " Renata menasehatinya yang kemudian mencium kening Hanna.


" Selamat malam. " Renata kemudian keluar dari kamar Hanna. Hanna bergegas merapikan meja belajarnya kemudian merebahkan tubuh di tempat tidurnya. Tidak lupa mematikan lampu yang ada di samping tempat tidur dan menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya.


" Jika aku mengatakannya langsung, apa dia akan menerimaku? Lalu bagaimana jika dia tidak bisa menerima ku? Apa yang harus aku lakukan? Tidak! Aku tidak boleh mengatakannya. Lebih baik aku memendam saja perasaan ini. Jika dia menolak ku, akan sangat memalukan bagiku. Aku tidak akan sanggup mengahadapi hal itu. " Hanna bergumam sambil menatap langit langit di kamarnya. Lama lama Hanna pun tertidur.