
# Beberapa Hari Kemudian #
Alina telah berpindah tempat tinggal sesuai dengan keinginannya yaitu tinggal di asrama sekolah. Saat memiliki waktu luang, ia dengan senang hati akan menemani anak anak di bawah usianya untuk bermain bersama. Ia pun membantu untuk mengajari mereka sedikit demi sedikit. Kepala asrama sangat senang dan bangga dengan sikap ramah tamah Alina yang selalu di tujukan pada setiap orang tanpa membedakan sesama.
Alina pun mendapat dukungan dari kepala asrama dan seluruh penghuni asrama untuk setiap kegiatan yang ia lakukan. Oleh karena itu, Ia menjalani kehidupan dengan sangat baik di dalam asrama. Semua orang menyukainya dan juga menyayanginya. Itu karena ia juga memiliki sifat penyayang terhadap siapa pun. Alina pun tumbuh menjadi seorang gadis dewasa yang sangat cantik. Itulah yang membuat seluruh penghuni asrama sangat dekat dengannya. Alina tidak pernah berselisih dengan siapa pun, ia selalu mengalah jika ada perbedaan pendapat dengan orang lain.
Tanpa terasa, Alina sudah menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk hidup di dalam asrama. Ia menjalani hidupnya dengan sangat bahagia. Sahabat terbaiknya, Hanna dan Darren pun turut bahagia bersama Alina. Mereka kadang kumpul bersama di asrama untuk menemani Alina dan yang lainnya. Mereka berbagi suka maupun duka.
Mereka juga selalu membantu Alina dalam menyelesaikan tugasnya. Mereka membuktikan bahwa mereka selalu mendukung Alina dalam hal apapun. Mereka tumbuh dewasa bersama sama.
Hanna tetap diam diam memendam perasaannya terhadap Darren, Darren pun diam diam memendam perasaannya terhadap Alina. Sedangkan Alina masih menunggu Adelio untuk menepati janjinya.
***
Di Negara lain, Adelio tetap giat belajar. Ia ingin mempersingkat waktu kuliahnya agar ia bisa lebih cepat kembali ke negara asalnya. Ia pun sudah tidak sabar untuk bertemu dengan gadis pujiannya.
Adelio selalu di temani Anthony. Dan selama beberapa tahun ini mereka memiliki teman baru bernama Natalia. Natalia adalah gadis yang cantik dan juga cerdas. Ia selalu berusaha untuk mendapatkan perhatian Adelio. Namun sayangnya, Adelio malah mengacuhkannya dan hanya menganggap dia sebagai teman.
***
# Di Kediaman Keluarga Sandy #
Semenjak Alina pindah ke asrama sekolah, Yudha merasa tidak enak hati kalau ia masih berlama lama tinggal di rumah itu. Akhirnya ia membawa Zanitha pindah ke rumah mereka. Karena permintaan Kyra, Zanitha menjadi lebih sering datang untuk menemaninya.
Kyra yang sedang duduk menonton TV sambil meminum kopi, dikejutkan dengan kedatangan Zanitha.
" Hallo Bibi. " Sapa Zanitha langsung memeluk Kyra dari samping.
" Anak nakal, kamu membuat ku kaget. " Kyra tersenyum sambil mengelus tangan Zanitha yang melingkar di pinggangnya.
" Aku merindukan mu. Maaf selama seminggu ini aku tidak sempat datang. Aku benar benar sibuk. Tapi sekarang aku merasa lega karena semua urusan ku sudah selesai. " Zanitha menjelaskan dengan bahagia. Kyra pun turut merasa senang mendengarnya.
Saat sedang asyik ngobrol, mereka melihat Sandy keluar dari kamarnya. Sepertinya ia hendak pergi keluar.
" Kamu mau ke mana? " Tanya Kyra.
" Aku ada urusan, nanti malam makanlah lebih dulu. Tidak perlu menunggu ku. " Jawab Sandy sekenanya. Kyra berdiri menghampiri suaminya itu.
" Apa kamu keluar untuk menemuinya lagi? " Desak Kyra.
" Itu bukan urusan kamu. Aku keluar tentu untuk mengurus sesuatu yang penting. " Jawab Sandy dengan lembut. Namun membuat Kyra merasa emosi.
" Sampai kapan kamu baru bisa berhenti untuk menemuinya? Apa sehari saja tidak bertemu dengannya bisa membuat mu mati? Hhmmm?? " Kyra berupaya mendapat jawaban yang tepat. Ia bernafas dengan kasar.
" Aku hanya ingin memastikan keadaannya saja. Apa itu membuat mu rugi? " Jawab Sandy ketus. Kyra masih berusaha untuk tetap sabar. Dia melupakan rasa malunya karena ada orang lain di sekitar mereka. Dia memeluk Sandy dengan erat.
" Aku adalah istri mu. Aku telah menemani kamu lebih dari dua puluh tahun. Aku juga membutuhkan perhatian darimu. Aku juga menginginkan kasih sayang mu. Tapi kenapa kamu sama sekali tidak pernah mempedulikan aku? Apa bagi mu aku ini sangat menyebalkan? " Kyra berkata dengan lirih membuat Sandy sedikit tidak tega. Ia lalu membalas pelukan wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.
" Aku hanya pergi untuk bekerja dan akan segera kembali. Kamu tidak perlu seperti anak kecil. " Ucap Sandy kemudian sambil melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Kyra bersama Zanitha.
" Bibi Kyra. " Ucap Zanitha seraya mengusap punggung wanita itu untuk memberinya ketenangan.
" Aku tidak apa apa. Ayo kita duduk. " Balas Kyra dengan senyum.
***
Di asrama, Sandy duduk ngobrol berdua dengan Alina di halaman depan.
" Alina, kamu sudah lulus. Kapan kamu berencana akan pulang? " Tanya Sandy mendadak membuat Alina tidak bisa menjawab. Karena ia tidak pernah berencana untuk pulang ke rumah keluarga Sandy. Ia sudah merasa sangat nyaman tinggal di asrama.
" Atau jangan-jangan kamu berencana tidak ingin pulang lagi? " Tanya Sandy kemudian karena ia tidak mendapat jawaban dari Alina.
" Bukan begitu, paman. Aku hanya merasa sangat nyaman tinggal di sini. Paman bahkan tahu kalau aku punya lebih banyak teman di sini. Aku tidak rela jika harus meninggalkan mereka. Mereka juga sangat membutuhkan aku. " Jawab Alina dengan penuh senyum.
" Apa kamu tidak ingin melanjutkan kuliah? " Sandy merasa penasaran.
" Tidak Paman. Aku lebih suka hidup seperti ini. Aku ingin menghabiskan sisa waktu ku untuk mengajari anak anak dan bermain bersama mereka. Hidup seperti itu membuat ku merasa senang dan bahagia. Aku merasa lebih tenang. " Alina berkata sambil tersenyum puas dengan apa yang ia harapkan.
Sandy hanya menganggukkan kepalanya. Di dalam hatinya merasa senang bisa melihat Alina yang tersenyum dengan begitu ceria. Ia turut merasa puas.
" Baiklah, asal kamu bahagia Paman juga ikut bahagia. Satu hal yang perlu kamu ketahui, pintu rumah kami, selalu terbuka untuk kamu. Kamu boleh pulang kapan saja kamu mau. " Jelas Sandy memberi semangat. Alina tersenyum lega.
Selang beberapa menit, muncul Hanna dari sudut lain yang sedang menuju ke arah mereka.
" Alina " Teriak Hanna sambil berlari.
" Paman, maaf aku mengganggu kalian. " Sesampainya Hanna di hadapan Alina dan Sandy. Sandy hanya menganggukkan kepala.
" Ada apa Hanna? " Tanya Alina panik.
" Alina, Jovian dan Reza bertengkar. Entah apa yang menyebabkan mereka saling baku hantam. Sekarang Darren sedang berusaha untuk memisahkan mereka. " Hanna menjelaskan dengan kepanikan.
" Baiklah, besok aku akan datang lagi. Kamu hati hati, dan jaga dirimu baik-baik. " Sandy mengusap lembut kepala Alina, kemudian kedua gadis itu berlari menuju ke tempat yang Hanna maksud.
Sesampainya di sebuah ruangan, Alina menghampiri kedua anak kecil yang berusia sekitar sepuluh tahun yang sedang menunduk takut di hadapan Darren. Keadaan mereka sangat acak acakkan disebabkan mereka baru saja selesai berkelahi.
" Ada apa ? " Alina menatap kedua anak itu.
" Kakak, ini bukan salah ku. Dia yang memulai duluan." Ucap Jovian sambil menunjukkan jari telunjuknya di hadapan Reza. Membuat amarah Reza kembali bangkit.
" Kamu sembarangan menuduh orang. Kalau bukan kamu yang memulai, aku tidak akan membalas kamu. " Ucap Reza lantang, tangannya berusaha mencengkeram Jovian kembali. Tapi Darren segera menangkapnya dengan gesit.
" Sudahlah, apa pun alasan kalian, berkelahi itu tetap tidak bisa dibenarkan. Apa lagi kalian adalah anak laki laki. Kalian harus bisa meninggalkan sifat kekanakkan kalian. Lihatlah bagaimana keadaan kalian sekarang. Jika kalian seperti ini kalian mirip seorang pecundang. Jelek sekali. " Darren mencibir. Kedua anak itu kembali menunduk.
" Apa pun masalahnya, lebih baik kalian bicarakan baik baik. Jangan seperti ini lagi ya. Kalian membuat ku kecewa. " Alina berkata dengan lirih sambil menatap kedua bocah itu.
" Kak Alina, aku minta maaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari. " Jovian berkata sambil menunduk.
" Aku juga minta maaf Kak. Kami tidak akan berkelahi lagi. Kami berjanji. " Balas Reza sambil menatap Alina. Alina kemudian memeluk kedua anak itu.
" Baiklah, kakak tidak marah lagi. Karena kalian sudah berjanji, kakak juga sudah memaafkan kalian. Sekarang kalian bersihkan diri kalian. Dan segera bersiap untuk makan malam. Hhmmm? " Alina tersenyum menatap kedua anak itu. Mereka pun mengangguk lalu meninggalkan Alina.
" Apa Paman Sandy sudah pulang? " Tanya Darren.
" Yaa, dia langsung pulang ketika Hanna memberi tahu ku tadi mengenai insiden ini. " Jawab Alina.
" Alina, sepertinya aku tidak bisa ikut makan malam bersama kalian. Ibuku sedang tidak enak badan. Aku harus menemaninya pergi ke dokter. " Hanna berucap dengan lirih.
" Bibi Renata tidak enak badan? " Tanya Alina. Dan Hanna menganggukkan kepalanya.
" Baiklah Hanna, kamu temani Bibi saja. Besok aku akan menjenguknya. Darren, bisakah kamu mengantar Hanna? " Tanya Alina kepada Darren.
" Hm? Tentu saja, aku bisa. " Jawab Darren.
" Tidak perlu. Aku dan ibuku bisa naik taxi. Kamu di sini saja temani Alina. Kalau begitu, aku pamit dulu yaaa. " Hanna segera bersiap.
" Baiklah, kamu harus hati hati. Sampaikan salam ku pada Bibi Renata. Semoga cepat sembuh yaa. " Alina berpesan.
" Baiklah, akan ku sampaikan. Terima kasih, Bye bye.." Hanna kemudian pergi meninggalkan mereka.
" Ayo kita lihat anak anak. " Ajak Alina sambil tersenyum.
" Ayo " Jawab Darren singkat. Kemudian mereka pun beranjak ke ruangan lain untuk mengawasi anak anak yang sama sama tinggal di asrama itu.
***
# Sesampainya mereka di sebuah ruangan tempat anak anak sedang makan malam bersama dengan ditemani dua orang suster #
Alina tersenyum memperhatikan mereka semua makan dengan gembira. Darren pun merasa bahagia melihat Alina bisa tersenyum ceria. Karena merasa ada yang memperhatikan, Alina pun menoleh. Darren pun segera mengalihkan pandangannya.
" Apa kamu sudah lapar dan ingin makan? " Tanya Alina.
" Tentu saja. Aku sedang menunggu kamu mengatakannya sejak tadi. Apa kamu tidak tahu kalau aku sudah menahan lapar begitu lama? " Jawab Darren dengan antusias.
" Begitu yaa? Hahaha... kalau begitu maaf yaa. Aku tidak bermaksud untuk membuat kamu menahan lapar. " Alina berkata sambil tertawa karena merasa lucu.
" Kalau begitu, ayo. Jika kamu tidak cepat, anak anak akan segera menghabiskan lauknya. Dan kamu tidak akan kebagian makanan lagi. " Canda Alina.
Akhirnya mereka pun mengambil makanan dan menuju sebuah meja untuk menyantap makanan mereka bersama sama. Melihat itu, Jovian dengan semangat segera menghampiri mereka.
" Kakak, kenapa kalian baru makan? " Tanyanya dengan sopan.
" Karena kami baru ingin makan sekarang. Apa kamu sudah selesai? " Alina balik bertanya. Jovian hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Alina pun tersenyum.
" Kak, bolehkah aku ngobrol dengan kalian di sini? " Tanya Jovian dengan harapan yang besar.
" Tentu saja sayang. " Jawab Alina ramah. Tapi raut wajah Darren berubah tidak baik karena dia merasa terganggu dengan kehadiran anak kecil itu.
" Kak, aku ingin sekali memiliki orang tua seperti kalian yang tampan dan juga cantik. Kalian juga sangat baik. Menurut aku, kalian adalah pasangan yang serasi. " Celetuk Jovian hingga membuat Darren tersedak. Alina kemudian menatap Darren, tapi Darren tidak berani menatapnya kembali.
" Anak pintar. Kedua orang tua kamu juga adalah orang yang baik. Mereka juga sangat menyayangi kamu, benar kan? " Jelas Alina.
" Tapi mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Mereka juga selalu mengabaikan aku. Mereka tidak pernah memberikan perhatian mereka untukku. " Keluh Jovian sambil menundukkan kepalanya. Alina kemudian mengangkat kepala dan menatap mata anak itu.
" Kamu salah. Justru karena mereka sangat menyayangi kamu, makanya mereka sibuk untuk memenuhi segala kebutuhan kamu. Hanya saja, mereka selalu lupa bahwa kamu membutuhkan penghiburan juga dari mereka. Tapi percayalah, mereka tidak bermaksud untuk mengabaikan kamu. Mereka pasti sangat menyayangimu. " Alina berkata sambil mengusap lembut rambut Jovian. Darren terus memperhatikan dengan seksama.
" Apakah karena itu juga makanya aku bisa tinggal di sini? " Tanyanya kemudian.
" Mungkin juga. Mereka tidak ingin kamu kesepian. Di sini, kamu bisa memiliki banyak teman dan kamu bisa bermain bersama mereka sehingga kamu tidak akan merasa bosan. " Alina memberi penjelasan dengan sangat sabar dan tenang.
" Kak, kenapa Kak Alina tidak pacaran saja dengan Kak Darren? " Celetuk Jovian, hingga membuat suasana menjadi agak canggung. Alina pun kebingungan ingin menjawab apa. Sedangkan Darren sangat menunggu dan mengharapkan jawaban yang positif dari Alina. Ia diam diam melirik Alina sambil memakan makanannya. Detak jantungnya pun mendadak berdetak lebih cepat.