Alina

Alina
BAB 5 Sama Sama Belajar



# Beberapa Hari Kemudian #


Di sekolah Alina, Alina dan Hanna sedang melihat papan pengumuman kelulusan. Mereka mencari nama mereka masing masing di dalam daftar nama siswa siswi yang lulus.


Alina tersenyum lebar ketika dia menemukan namanya tercantum di sana.


" Hanna, ternyata aku lulus. Yeeee,,, hahaha. " Alina melompat lompat girang seketika. Sedangkan Hanna masih mencari cari namanya di papan itu. Alina kemudian membantu Hanna.


" Hanna, coba lihat. Ini nama kamu. Kita sama sama lulus. " Hanna melihat tulisan yang di tunjuk Alina. Keduanya pun bersorak bahagia kemudian berpelukan.


Darren yang melihat mereka pun menghampiri mereka dengan raut wajah yang tidak kalah bahagia.


" Hai, kenapa kalian masih di sini? Ayo kita ke kantin. Aku sudah menunggu kalian sejak tadi. Aku akan mentraktir kalian. Kalian boleh memesan makanan apa pun yang kalian suka dan kalian boleh makan sampai puas. Hari ini aku akan mentraktir kalian. " Darren berkata pada Alina dan Hanna karena sebelumnya dia sudah melihat papan pengumuman. Dia sudah tahu bahwa mereka bertiga sama sama lulus.


" Benarkah? Hhmmm, ternyata kamu baik juga yaa.. " Jawab Hanna yang seolah olah Darren tidak pernah berbuat baik. Padahal pada kenyataannya Darren sangat sering mentraktir Alina dan Hanna makan bersama di Kantin sekolah.


" Dasar kamu ini. Memangnya selama ini aku tidak baik terhadap kalian? " Balas Darren dengan wajah yang agak cemberut. Hanna tersenyum karena pada dasarnya dia suka menggoda Darren.


" Hahaha,, kalian memang serasi. Setiap kali selalu saja bertengkar. Sama sekali tidak ada yang mau mengalah. " Alina tertawa melihat reaksi mereka. Tapi dalam hati Darren sebenarnya tidak menyukai perkataan Alina.


" Jadi kalian sekarang masih mau makan atau tidak? " Tanya Darren dengan ketus karena dia merasa kesal. Tapi bagaimana pun Darren merasa kesal pada Alina, Darren tidak pernah mampu mengacuhkan Alina.


" Tentu saja mau. Mana boleh kamu menarik kembali kata kata yang sudah kamu ucapkan? Alina, kebetulan aku lapar sekali. Ayo kita ikuti Darren ke kantin. " Ucap Hanna lagi lagi sambil menggoda Darren.


" Boleh, aku juga sudah lapar. " Alina menimpali kemudian keduanya memimpin jalan di depan Darren sambil bergandengan tangan. Sedangkan Darren yang berjalan di belakang mereka menggaruk garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


# Sesampainya Di Kantin #


" Alina, bagaimana selama ini, apa kamu betah tinggal bersama mereka? " Tanya Darren pada Alina.


" Yahhh, lumayanlah. " Jawab Alina sambil tersenyum.


" Apa kamu dan Adelio berteman dekat? " Tanya Hanna penasaran. Alina kemudian menatap Hanna sambil mengerutkan keningnya.


" Bagaimana pun kami kan tinggal serumah. Lagi pula Adelio sangat baik padaku. Dia juga bukan termasuk orang kaya yang sombong. " Jawab Alina dengan nada penuh kagum. Membuat Darren yang mendengarnya merasa badmood.


" Apakah dia akan menyukaimu kemudian kalian menjadi pasangan kekasih? Woww, aku rasa kalian adalah pasangan yang cocok dan juga sangat serasi. " Ucap Hanna sambil dengan semangat membayangkan apa yang di ucapkannya. Alina belum sempat menjawab Hanna, Seketika Darren langsung meletakkan alat makannya dengan kasar. Alina dan Hanna pun menoleh menatap Darren dengan bingung.


" Aku tiba tiba sakit perut. Aku harus ke toilet dulu. Kalian lanjutkan saja makannya. Aku segera kembali. " Jelas Darren kemudian bergegas pergi ke arah toilet. Hanna dan Alina pun saling menatap. Hanna mengangkat kedua bahunya dan melanjutkan menyantap makanan yang ada di hadapannya.


# Sesaat setelah mereka bertiga selesai makan. Sudah waktunya untuk pulang. #


" Darren, terima kasih untuk makan siangnya yaa. Aku sampai merasa kenyaaangg sekali. Kamu memang sahabat terbaik dan bijaksana. " Ucap Hanna sambil tersenyum ceria pada Darren.


" Sejak kapan kamu merasa begitu sungkan padaku? " Jawab Darren dengan senang hati.


" Aku juga ingin berterima kasih sama kamu Darren. Terima kasih untuk makan siangnya. Terima kasih sudah menjadi sahabat kami. "


Alina dengan sungguh sungguh mengucapkan terima kasih pada Darren.


" Kamu juga tidak perlu sungkan Alina. Aku senang bisa menjadi sahabat kamu. Hal ini membuat aku bahagia. Kamu adalah sahabatku yang baik. " Jawab Darren tidak kalah tulus. Tapi Hanna malah mengerucutkan bibirnya.


" Maksud kamu, aku tidak baik? " Hanna bertanya sambil melirik pada Darren.


" Tentu saja baik. Kalian berdua sama baiknya. Aku menyayangi kalian berdua. " Jawab Darren tegas. Ketiganya pun tersenyum bahagia.


Tidak lama kemudian, tampaklah Pak Ruslan yang sedang menjemput Alina pulang.


" Alina, jemputan kamu sudah datang. " Ucap Hanna sambil menunjuk arah Pak Ruslan dengan dagunya. Alina dan Darren pun menoleh ke arah Pak Ruslan.


" Kalau begitu, aku harus pulang sekarang. "


Alina menjawab sambil bersiap siap membawa tasnya. Darren tiba tiba menahan lengan Alina. Alina pun menghentikan gerakan tangannya.


" Alina, hati hati. " Ucap Darren sambil menatap mata Alina dengan tatapan yang dalam. Alina menganggukkan kepala dan melambaikan tangannya pada Darren dan Hanna. Hanna membalas lambaian tangan Alina. Alina pun bergegas menghampiri Pak Ruslan.


" Nona Alina, Tuan muda sudah menunggu di mobil. Silahkan masuk. " Ujar Pak Ruslan pada Alina kemudian langsung membuka pintu mobil untuk Alina.


" Terima kasih Pak Ruslan. " Alina menjawab dan kemudian naik ke dalam mobil, duduk bersama Adelio.


" Bagaimana hasilnya? " Adelio bertanya pada Alina.


" Aku lulus. Kami bertiga sama sama lulus. " Alina menjawab sambil tersenyum karena dia memang merasa bahagia. Adelio pun tersenyum.


" Kalau begitu, selamat yaa. " Adelio mengucapkan selamat sembari mengulurkan telapak tangannya. Alina pun menyambutnya. Mereka bersalaman dan tersenyum.


" Tuan muda, sekarang kita langsung pulang atau mau ke mana? " Tanya Pak Ruslan dengan sopan.


" Bagaimana kalau kita pergi makan dulu? " Adelio bertanya pada Alina.


" Makan? Aku baru saja habis makan. Untuk merayakan kelulusan kami, tadi Darren mentraktir kami makan di kantin sekolah. Jadi aku masih kenyang. " Alina dengan perasaan sedikit tidak nyaman menjelaskan pada Adelio.


" Darren mentraktir kalian makan? " Adelio mengulang pertanyaannya. Alina pun menganggukkan kepalanya.


" Baiklah, kalau begitu sepertinya kita harus pergi ke tempat biasa dulu. Bagaimana menurut kamu? " Tanya Adelio sambil menatap Alina dan meminta pendapatnya.


" Terserah kamu saja. Tapi, bukankah kamu ingin makan? " Alina kembali bertanya dengan canggung.


" Tidak, aku belum terlalu lapar. Jadi masih bisa bertahan hingga sore nanti. " Jawab Adelio sambil tersenyum.


" Baiklah kalau begitu kita pergi ke tempat biasa Pak Ruslan. " Perintah Adelio.


" Baik Tuan Muda. " Jawab Pak Ruslan sambil menganggukkan kepalanya.


# Sesampainya Di Danau #


Seperti biasa, Alina dan Adelio duduk di tepi danau sambil menghirup udara segar. Alina sangat menikmati suasana di danau saat ini hingga ia tidak menyadari kalau Adelio sedang menatapnya.


Adelio dalam diam menatap Alina dengan kagum. Ia tersenyum melihat Alina yang begitu menikmati suasana yang sejuk itu. Adelio akhirnya meraih dan menggenggam tangan Alina dan menautkan jari jari tangan mereka. Alina terkejut dibuatnya lalu menatap Adelio penuh tanya.


" Alina, awal bulan depan sudah waktunya untuk aku berangkat ke Amerika. Kamu harus menjaga diri kamu baik baik. " Ucap Adelio. Alina hanya menjawab dengan anggukkan kepala.


Adelio menarik satu sisi bahu Alina kemudian mengecup keningnya. Gerakan Adelio sangat tiba tiba hingga membuat Alina terkejut dan tanpa sadar menutup kedua matanya.


" Dalam beberapa hari ini, apa kamu sudah mempertimbangkan perkataanku waktu itu? " Tanya Adelio penasaran.


" Akuuu... ". Alina menjawab dengan ragu ragu, kemudian hanya menundukkan kepala. Tingkah Alina membuat Adelio mengerutkan keningnya. Tapi Alina tetap menunduk dan tidak berani menatap Adelio.


Karena tidak sabar, Adelio meraih dagu Alina dan mengangkatnya hingga tatapan mata mereka bertemu. Alina demi menghindari tatapan mata Adelio, dia mengedipkan matanya dan memainkan bola matanya. Adelio merasa kesal dibuatnya.


" Alina, tatap aku!!! " Ucap Adelio dengan tegas, dan ada sedikit nada marah dalam ucapannya. Alina pun dengan ragu akhirnya menatap mata Adelio. Ada sebuah perasaan aneh dalam hatinya yang ia sendiri pun tidak mengerti.


" Aku menyukaimu. Aku tidak sedang bercanda. Apa kamu sudah memikirkannya? Aku ingin jawaban kamu sebelum aku pergi. "


Adelio dengan tegas mengatakan pada Alina. Matanya menatap tajam mata Alina. Alina kemudian menundukkan kepalanya.


" Apa kamu yakin? Apa kamu tidak sedang melakukan kesalahan? Bagaimana mungkin kamu bisa menyukai aku? " Alina balik bertanya sambil terus menunduk. Dia sama sekali tidak berani menatap Adelio.


" Aku juga tidak tahu. Aku hanya merasa nyaman dan bahagia saat aku berada sama kamu. Banyak teman wanita yang selalu mendekat padaku, terutama Zanitha. Tapi aku merasa risih dan selalu ingin menghindar. Aku tidak bisa duduk berdua dengan salah satu di antara mereka seperti ini. Aku hanya merasa nyaman dan bisa duduk dengan tenang hanya dengan kamu seperti saat ini. " Adelio menjelaskan panjang lebar pada Alina.


" Aku berharap kamu juga begitu. Aku ingin kamu menjawabku sebelum aku benar benar pergi. Alina, kamu jangan berpikir macam macam. Aku tidak sedang main main. Aku serius. Setelah aku pulang nanti, aku ingin kita menikah. Aku mohon pikirkanlah baik baik! " Adelio kembali menjelaskan dengan nada lebih rendah.


" Sebenarnya, aku juga menyukai kamu. Tapi aku takut. " Adelio sangat terkejut mendengar kata Alina. Senyum pun tersungging di bibirnya. Dia kembali menatap Alina dan meraih kedua bahu Alina.


" Apa kamu bilang? Aku tidak salah dengar kan? Lalu,, lalu apa yang membuat kamu takut? " Adelio mengerutkan keningnya.


" Adelio, antara kamu dan aku ada banyak perbedaan yang sangat mencolok. Tidak mungkin kamu tidak menyadarinya. Aku ini cuma seorang yatim piatu yang menumpang pada keluarga kamu. Sedangkan kamu adalah seorang Tuan Muda yang terhormat. Mana mungkin aku,,.. ". Adelio menempelkan jari telunjuknya pada bibir Alina. Alina pun terdiam.


" Sssttttt.. Aku tidak peduli pada status. Aku hanya peduli pada perasaan aku sendiri. Alina, dengarkan aku baik baik. Kalau kita saling menyukai, kita harus berusaha untuk diri kita sendiri, jadi jangan pedulikan hal yang lain. Apa kamu mengerti? " Alina menganggukkan kepalanya. Adelio menarik tubuh Alina ke dalam pelukannya.


" Jangan takut dan jangan khawatir. Kita akan selalu bersama. Kamu harus percaya padaku. Aku akan melindungi kamu. " Ucap Adelio untuk meyakinkan Alina sambil mengusap kepalanya dan memeluknya dengan erat.


Alina berusaha melepaskan diri dari dekapan Adelio. Adelio akhirnya melepaskan dekapannya terhadap Alina dan menatap matanya dalam dalam. Adelio kemudian membawa bibirnya mendekati bibir Alina bertujuan untuk menciumnya. Alina yang melihatnya secara reflek menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


" Kenapa? Kamu belum pernah melakukannya? " Adelio bertanya dengan suaranya yang sedikit bergetar dan nafas yang berat. Alina tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya sambil menunduk malu dan juga posisi tangannya yang masih menutupi mulutnya.


" Aku juga belum pernah melakukannya. Kita akan coba sekarang. " Adelio berbisik di telinga Alina membuat wajah Alina memerah karena malu dan pastinya deg degan. Adelio kemudian dengan perlahan menarik tangan Alina yang menutup mulutnya dan menempelkan bibirnya pelan pelan di bibir Alina. Alina hanya memejamkan matanya.


Setelah bibir mereka menempel, ada perasaan berdesir di hati masing masing. Adelio kemudian mengecup bibir Alina, semakin menempel semakin membuat Adelio merasakan panas yang membara di hatinya. Adelio merasa tidak cukup jika hanya mengecup bibir Alina. Dia pun menjilati dan menjulurkan lidahnya memasuki mulut Alina seolah sedang menghitung gigi yang tersusun rapi itu.


Alina mengalungkan tangannya di leher Adelio secara tidak sadar. Adelio melumati dengan lembut bibir Alina hingga beberapa menit dan akhirnya dia pun melepaskannya disaat dia merasa Alina kesulitan bernafas. Wajah Alina semakin merah dan ia hanya menunduk saat Adelio melepas ciumannya. Adelio kemudian mengecup kening Alina dan tersenyum.


" Mulai hari ini kamu adalah milik ku. Aku adalah milik kamu. Kita akan bersama, dan hidup dengan bahagia. " Ucap Adelio kemudian menarik Alina dan memeluknya kembali dengan erat.


" Apa kamu yakin saat di Amerika, kamu tidak akan tertarik pada gadis gadis bule? Bukankan mereka lebih cantik? " Tanya Alina dengan nada polosnya.


" Dasar bodoh. Kamu harus percaya padaku. " Tukasnya sambil mengusap bibir Alina yang memerah akibat perbuatannya tadi.