Alina

Alina
BAB 17 Penuh Harap



Hanna bersama Alina sedang merapikan buku buku di dalam ruang kerja.


" Bagaimana keadaan Bibi Renata sekarang? Apa sudah lebih baik? " Tanya Alina.


" Ya, keadaan ibu ku sudah jauh lebih baik. " Jawab Hanna sambil tersenyum.


" Syukurlah, nanti setelah selesai aku akan ke rumah kamu untuk menjenguknya. Aku juga sudah rindu padanya. " Ucap Alina dengan senyum manisnya.


" Ngomong ngomong, sudah jam berapa ini? Kenapa dia masih belum datang yaa? " Gumam Hanna heran. Alina meliriknya sekilas.


" Mungkin dia ada urusan mendadak, sehingga dia harus datang terlambat. Atau mungkin tidak akan datang. " Ucap Alina menebak.


" Tapi seharusnya dia memberi kabar pada kita. " Ucap Hanna seraya merasa sedikit kesal.


" Mungkin dia lupa atau mungkin juga tidak sempat. Atau jangan jangan kamu sedang mengkhawatirkan dia ya? " Tanya Alina seraya menggoda Hanna. Hanna langsung mengerucutkan mulutnya.


" Tidak juga. Kamu jangan sok tahu ya. " Jawab Hanna sambil menunduk karena ia tidak berani menatap mata Alina. Alina hanya mengangkat kedua bahunya.


" Apa kalian sedang membicarakan aku? " Tanya Darren yang tiba tiba saja sudah berada di hadapan mereka. Alina dan Hanna langsung melihat ke arahnya.


" Sejak kapan kamu ada di sana? Siapa juga yang sudah memberikan kamu izin untuk menguping pembicaraan kami? " Celetuk Hanna dengan jutek.


" Aku tidak menguping. Aku baru sampai. Alina, maaf aku terlambat. Kakakku baru kembali dari Kanada. Tadi aku mengantar ia dulu sebelum kemari. " Ucap Darren pada Alina.


" Tidak masalah. Kamu tidak perlu merasa sungkan seperti itu. " Jawab Alina dengan ramah dan tersenyum.


Hanna yang memperhatikan mereka merasa risih dan berusaha memalingkan matanya. Alina pun menyadari gerak gerik Hanna.


" Darren, bolehkah aku minta tolong? " Tanya Alina dengan nada memelas.


" Tentu saja. Apa yang bisa ku lakukan? " Dengan sigap Darren merespon Alina.


" Hmm begini, karena masih ada hal yang harus aku kerjakan, jadi aku ingin kamu membantu Hanna untuk menyelesaikan pekerjaan di sini. Nanti kamu bisa bertanya padanya akan diletakkan dimana buku buku tersebut. Apa kamu bersedia? " Ucap Alina membuat Hanna melongo.


" Tentu saja, tidak masalah. Kamu bisa percayakan pada kami. Kamu bisa dengan tenang mengurus pekerjaan kamu. " Ucap Darren dengan yakin sambil tersenyum.


" Baiklah, kalau begitu aku tinggal dulu yaa. " Pamit Alina diikuti anggukkan kepala Hanna dan Darren. Lalu Alina pun meninggalkan mereka di ruangan itu.


Setelah keluar, Alina melihat Jovian sedang berlari ke arahnya.


" Kak Alina, suster kepala sedang mencari kamu. " Ucap Jovian tergesa gesa.


" Baiklah, aku akan segera ke ruangannya. Terimakasih telah memberi tahuku. " Ucap Alina tersenyum.


***


Alina mengetuk pintu dari sebuah ruangan. Kemudian ia masuk setelah mendengar suara dari dalam.


" Alina " Sapa seorang wanita yang merupakan suster kepala dengan ramah.


" Suster kepala, ada apa mencariku? " Tanya Alina sambil duduk berhadapan di depan meja.


" Alina, barusan Tuan Sandy datang menemuiku. Ia meminta agar aku memberikan izin untuk kamu bisa kembali ke rumah beliau. Beliau sangat berharap kamu pulang. " Ucap suster itu dengan santai.


" Kenapa Paman tidak menemuiku? " Tanya Alina heran.


" Sebenarnya tadi kami ingin memanggil kamu. Tapi dia mendapat telepon penting dan harus segera pergi. Makanya dia berpesan agar aku menyampaikannya pada mu. " Jelas suster itu. Alina kemudian menatapnya.


" Aku tahu kamu lebih suka berada di sini. Tapi Alina, Tuan Sandy sudah seperti ayah kamu sendiri. Dia seperti sangat merindukan putrinya. Aku rasa kamu juga tahu kalau dia begitu menyayangi kamu. Apa kamu tega mengabaikan kepeduliannya terhadap dirimu? " Suster itu berkata seakan membujuk Alina. Alina membuang nafasnya pelan.


" Suster, aku juga bukan bermaksud untuk tidak menghargai Paman Sandy. Aku bahkan sangat menghormati beliau. Tapi apa kamu tahu, bahwa istrinya sama sekali tidak menyukai aku. Bukan cuma itu, sepertinya dia juga sangat membenci ku. Aku sendiri juga tidak pernah tahu apa alasannya. Tapi dia benar benar sangat membenci ku. Dan aku yakin dia juga tidak pernah berharap aku akan kembali ke rumah itu. " Alina mengungkapkan isi hatinya dengan menatap kedua mata suster itu.


" Jika memang benar seperti itu, aku juga tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Saranku, kamu tetap harus mempertimbangkannya lagi, Alina. Jika aku perhatikan sorot matanya saat membicarakan kamu, dia seperti benar benar berharap, atau mungkin sangat berharap kamu kembali ke rumahnya. Dia seperti merasa kesepian. Kesedihan selalu terpancar di raut wajahnya. "


Suster itu berusaha menasehati Alina. Alina pun seketika berpikir.


" Tentu saja, Alina. Kamu bebas menentukan keputusan mu kapan pun itu. " Ucap suster itu dengan tersenyum. Alina pun ikut tersenyum.


***


# Di Rumah Yudha #


Zanitha baru saja selesai merias wajah dan dirinya di depan cermin meja rias yang ada di dalam kamarnya. Ia kemudian melihat dari pantulan kaca bahwa ayahnya Yudha sedang menghampirinya. Ia pun berbalik badan.


" Ayah coba kau lihat, apa aku sudah terlihat lebih cantik? " Tanya Zanitha sambil berputar di hadapan sang ayah. Yudha pun tersenyum melihat putrinya yang manja ini.


" Tentu saja. Kamu adalah gadis yang paling cantik di dunia ini. Kamu putriku satu satunya, akan menjadi yang paling unggul. " Ucap Yudha sambil membelai rambut Zanitha dengan tatapan penuh kekaguman. Zanitha pun tersenyum bahagia.


" Ayah, tidak lama lagi Adelio akan kembali. Aku sangat merindukan dia. Jadi aku harus tampil cantik saat bertemu lagi dengannya setelah beberapa tahun ini. Aku ingin dia terpikat dengan kecantikan ku. Aku yakin dia akan kembali memperhatikan aku seperti dulu. " Ucap Zanitha sambil tersenyum manja membayangkan pertemuannya kembali dengan Adelio.


" Itu pasti. Adelio tidak akan sanggup untuk melepaskan mu. Dia akan terus menempel dengan mu. Karena jika tidak, ia akan menjadi pria bodoh yang mengalami kerugian besar. " Ucap Yudha dengan yakin. Sedangkan Zanitha merasa lebih percaya diri setelah mendengar kata kata dari ayahnya.


" Terima kasih ayah, selama ini kau lah yang selalu mendukung ku. " Ucap Zanitha sambil tersenyum dan memeluk ayahnya.


" Setelah Adelio menjadi milikku sepenuhnya, maka kita akan benar benar jadi orang kaya. Ayah, kamu bisa membangun bisnis mu kembali. Kita akan menjadi konglomerat. Semua orang akan menghormati kita. Dan kita bisa melakukan apa saja. " Zanitha dengan gembira mengatakan mimpi mereka selama ini.


" Yaa, oleh sebab itu kita tidak boleh melakukan kesalahan sebelum kamu benar benar menikah dengan Adelio. " Ucap Yudha dengan tegas sambil menatap kedua mata Zanitha.


" Aku mengerti, ayah. " Jawab Zanitha sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar. Yudha kembali mengelus kepala Zanitha dengan lembut.


***


" Pokoknya aku tidak setuju. " Teriak Kyra pada Sandy.


" Aku sudah memutuskan. Siapa pun tidak ada yang bisa merubahnya, termasuk kamu. " Bantah Sandy tidak kalah tegas.


" Kamu selalu saja ingin menghancurkan aku dengan segala niat gila mu itu. Kamu tidak pernah menghargai aku sebagai istrimu. Kamu egois, sangat egois. Aku tidak mengerti mengapa aku bisa begitu mencintai kamu. " Bentak Kyra dengan marah.


" Itulah kesalahan yang tidak pernah kamu sadari selama hidup mu ini. Kamu hanya ingin memaksakan kehendak kamu sendiri tanpa mau peduli bagaimana perasaan orang lain. " Jawab Sandy dengan nada menyindir.


" Apa? Jadi kamu bermaksud untuk membalaskan dendam kekasih kamu melalui anak sial itu? Kamu sungguh ingin membuat aku hancur? Benarkah begitu? " Lirih Kyra dengan mengerutkan keningnya.


" Asal kamu tahu, aku tidak pernah berpikir untuk membalas dendam terhadap siapa pun. Aku juga bukan ingin terus menerus hidup di dalam masa lalu. Aku ikhlas dan aku telah menerima kamu sebagai istri ku. Aku tidak ingin lagi menyesali kehidupan yang telah berlalu. Aku hanya ingin menebus dosa ku. Dan aku hanya berharap kamu mau menerimanya dengan ikhlas. Dia adalah seorang yatim piatu, jadi apa salahnya kalau kita memberikan kasih sayang orang tua terhadap dirinya? " Ucap Sandy sedikit membujuk istrinya yang keras kepala itu.


" Aku tidak bisa. Kamu tahu kenapa? Karena wanita itu, kamu sama sekali tidak pernah menghiraukan aku. Kamu selalu acuh. Kamu adalah suami ku, tapi kamu tidak pernah bersikap layaknya seorang suami padaku. Hati mu tidak pernah memberikan ruang untukku, bahkan sampai hari ini. " Ratap Kyra.


" Maafkan aku, Tapi itu sama sekali bukan kesalahannya. Aku juga tidak mengerti kenapa hati ku tidak pernah bisa menerima kamu. Aku sudah berusaha. Yang paling penting, aku selalu bersikap baik dan selalu menuruti apapun keinginan kamu. Dan aku hanya ada satu permohonan padamu. Aku harap kamu menyetujui ku. " Pinta Sandy dengan lembut.


" Terserah kamu saja. Tapi jangan pernah salahkan aku kalau aku tidak bisa bersikap baik padanya. Karena aku sudah bersumpah, tidak peduli siapa pun itu yang berhubungan dengan wanita ****** itu. Aku akan membencinya seumur hidupku. " Ucap Kyra dengan geram sambil merapatkan giginya. Sandy pun tidak banyak bicara lagi. Ia pergi meninggalkan Kyra begitu saja.


Lagi lagi suaminya pergi meninggalkan dia seorang diri. Kini yang bisa ia lakukan hanya memijat keningnya sendiri.


Selang beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh Zanitha yang telah berada di hadapannya.


" Bibi, aku sudah datang. " Sapa Zanitha yang membuat Kyra mengangkat kepala untuk melihatnya.


" Zanitha? Kamu cantik sekali hari ini. Bibi hampir saja tidak bisa mengenali kamu. " Ucap Kyra dengan tersenyum sambil memperhatikan penampilan Zanitha yang memang berbeda dari biasanya. Ia sangat kagum dibuatnya.


" Terima kasih Bibi Kyra. Katakan, apakah bibi menyukainya? " Tanya Zanitha dengan senyumnya yang sumringah.


" Bagaimana mungkin aku bisa tidak menyukainya? Kamu cantik sekali nak. Benar benar cantik. Adelio pasti akan kagum jika dia melihat kamu. " Jawab Kyra penuh dengan rasa kagumnya terhadap penampilan baru Zanitha yang lebih feminine.


" Kalau Bibi menyukai ku, aku yakin Adelio pasti akan lebih menyukai ku. Aku begini, demi Adelio Bi. Aku ingin dia kagum padaku. Aku ingin dia tidak bisa mengedipkan matanya saat memandangku. " Ucap Zanitha sambil meringis karena menyadari keinginannya yang terlalu berlebihan. Tapi apa daya, dalam hatinya pun ia berharap seperti apa yang di ucapkannya.


" Bisa saja kamu ini. Tapi percayalah, Adelio tidak akan bisa berpaling dari mu. " Jawab Kyra sambil mengusap lembut kepala Zanitha.


Dalam hatinya, ia merasa sangat bahagia dan bangga terhadap gadis yang ada di hadapannya ini. Di matanya, Zanitha adalah gadis yang tepat untuk putra semata wayangnya. Apalagi Kyra sangat kenal dekat dengan Yudha, membuat dia lebih percaya dan menyayangi Zanitha.


Zanitha pada dasarnya memang seorang gadis yang cantik dan juga pintar. Dia menjadi berlebihan karena telah dipengaruhi terus menerus oleh sang ayah yang sangat ingin menguasai kekayaan keluarga Sandy.