Alina

Alina
Bab 4 Pesaing



 


Keesokan harinya adalah hari libur. Pagi pagi sekali, Alina sudah bangun dan sekarang dia sedang menyiram tanaman tanaman bunga di taman belakang kediaman keluarga Sandy.


Setelah selesai menyiram tanaman, Alina yang hendak masuk ke dalam rumah melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah. Lalu sepasang ayah dan anak turun dari mobil itu kemudian mereka masuk ke dalam rumah.


Mereka adalah Yudha, sahabat Kyra. Dan Zanitha, putri semata wayang dari Yudha.


Saat mereka hendak masuk ke dalam rumah, Zanitha berpapasan dengan Alina. Dia pun menghentikan langkahnya dan memandang Alina dengan tatapan yang aneh sehingga membuat Alina merasa risih.


" Sejak kapan Bibi Kyra mempekerjakan pelayan yang masih di bawah umur? " Ucap Zanitha asal. Alina yang mendengar langsung menolehkan kepalanya ke arah yang lain.


" Sudahlah, itu bukan urusan kamu. Ayo cepat masuk . " Jawab Yudha sambil merangkul bahu Zanitha. Zanitha dan Yudha pun memasuki rumah. Alina hanya berdiri bengong di posisinya tanpa bergerak sedikit pun.


Dari dalam rumah, keluar Kyra dan Sandy yang hendak menyambut kedatangan mereka. Raut wajah Kyra terlihat sangat gembira saat melihat Zanitha. Mereka pun berpelukan.


" Ohh Zanitha., akhirnya kalian datang juga. Lama sekali tidak bertemu dengan kamu. Bibi sangat rindu padamu. Bagaimana kabar kamu nak? " Sambut Kyra dengan lembut.


" Aku sangat baik. Aku juga sangat merindukan Bibi. Tapi ayah selalu tidak ada waktu untuk membawa aku kemari. Ada saja alasan yang diberikan. Benar benar membosankan. Bagaimana kabar Bibi? " Tanya Zanitha.


" Seperti yang kamu lihat, Bibi baik baik saja. Apalagi setelah kalian datang sekarang. Bibi jadi bahagia. Selama ini kami kesepian karena tidak ada kalian di sini. " Jawab Kyra sambil tersenyum lebar.


" Hallo Paman, bagaimana kabar Paman? " Tanya Zanitha kepada Sandy.


" Yaa, Paman baik baik saja. Bagaimana kabar kalian? Kenapa lama sekali tidak datang? " Jawab Sandy.


" Aku sibuk dengan pekerjaanku. Jadi sekarang baru sempat membawa dia datang kemari. " Jawab Yudha dengan santai.


" Ohya, kemana Adelio? " Tanya Zanitha setelah dia memperhatikan ruangan. Dia merasa ada sosok yang tidak tampak di sekitarnya.


" Dia masih di kamarnya. Kamu cari saja dia di sana. Dia pasti sangat senang melihat kamu ada disini. " Jawab Kyra.


" Baiklah, kalau begitu aku ingin membuat kejutan untuknya. " Ucap Zanitha sambil dengan semangat melangkah naik menuju kamar Adelio.


" Pergilah. Dia akan sangat senang ketika melihat kamu sudah datang. Dia juga pasti sudah sangat merindukan kamu. " Seru Kyra pada Zanitha dengan senyumannya.


Sesampainya di lantai dua, Zanitha langsung masuk ke kamar Adelio. Adelio yang baru saja selesai mandi dan ganti baju dikagetkan dengan Zanitha yang tiba tiba masuk dan memeluknya dengan erat dari belakang.


" Adelio, akhirnya aku kembali, aku sangat merindukan kamu. Bagaimana kabar kamu selama ini? Kamu juga pasti merindukan aku bukan? " Zanitha dengan antusias mengajukan sederet pertanyaan. Adelio tersentak dan berusaha melepas pelukan Zanitha di tubuhnya.


" Zanitha, kenapa kamu tidak menungguku di bawah saja. Jangan seperti ini. " Adelio merasa risih kemudian menyingkirkan tangan Zanitha yang melingkar di pinggangnya. Zanitha akhirnya melepas Adelio dengan rasa kecewa.


" Kenapa kamu kasar sekali? Apa kamu sama sekali tidak rindu padaku? Dasar kamu menyebalkan! " Ucap Zanitha kesal.


" Bukan begitu maksudku. Kamu terlalu berisik dan membuatku terkejut. Lagi pula tidak seharusnya kamu langsung memelukku seperti itu. " Ucap Adelio tidak kalah kesal.


" Kamu turunlah dulu. Sebentar lagi aku akan menyusul. " Perintah Adelio.


" Ya..ya..ya..baiklah. Dasar cerewet! Dasar jahat! ... Lihat, bagaimana aku akan membuat perhitungan padamu hhhhh. " Cetus Zanitha sambil keluar kamar dengan perasaan kesal. Namun, saat keluar dari kamar Adelio, Zanitha bertemu Alina.


" Hai.. Sebenarnya kamu ini siapa? Kenapa kamu bisa ada di sini? " Tanya Zanitha pada Alina sambil menatap Alina dari atas kepala hingga ujung kakinya.


" Dia adalah temanku. Namanya Alina. " Kebetulan Adelio keluar dari kamarnya lalu menjelaskan pada Zanitha. Zanitha pun menoleh menghadap Adelio dengan pandangan penuh pertanyaan.


" Teman kamu? Teman yang mana ya? Sepertinya aku belum pernah melihat dia? Kenapa dia lebih terlihat seperti seorang pelayan? " Tukas Zanitha dengan pandangan mencibir terhadap Alina.


" Kalau aku bilang teman, ya teman. Kamu jangan sembarangan bicara dan menilai orang lain. " Adelio menegaskan kemudian menarik tangan Alina menuju ke bawah.


" Ayo Alina. " Alina terkejut saat Adelio menarik tangannya. Zanitha pun tidak kalah terkejutnya dan menahan rasa kesal dalam hati.


Kemudian Alina menarik tangannya dari genggaman Adelio. Adelio menatap Alina bingung.


" Aku baru saja selesai menyiram tanaman di halaman belakang dan masih belum mandi. Aku mau mandi dulu. " Ucap Alina menjelaskan pada Adelio yang menatapnya.


" Baiklah, kalau begitu, kamu mandi saja dulu. Tapi jangan lama lama. Kami menunggu kamu di bawah. " Ucap Adelio dengan nada lembut. Alina menganggukkan kepalanya kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Zanitha yang melihat interaksi diantara mereka merasa marah dan kesal. Kemudian Adelio melanjutkan langkahnya untuk pergi turun tanpa mempedulikan Zanitha yang sedari tadi menatapnya dari belakang.


" Hei Adelio!!! Kenapa kamu malah meninggalkan aku? Apa kamu tidak bisa menunggu ku? " Tegur Zanitha, kemudian dia pergi menuju ke bawah dengan kesal karena Adelio sama sekali tidak menoleh padanya.


***


 


Sesaat kemudian, semua orang sudah berada di meja makan untuk sarapan bersama.


Zanitha membuang nafasnya dengan kasar dan cemberut.


" Kenapa suasana di rumah ini berubah menjadi sedikit tidak nyaman? Haruskah dia ikut makan bersama dengan kita semua? " Zanitha berkata dengan nada kecewa.


" Zanitha, jaga bicaramu! " Ucap Yudha sedikit membentak putri kesayangannya itu.


" Alina adalah bagian dari keluarga kami sekarang. Selamanya akan tetap seperti itu. Jadi tidak ada salahnya jika dia duduk bersama kita semua di sini dan makan bersama. " Sandy menegaskan kepada semua orang yang berada di meja makan. Kyra melirik sekilas suaminya itu kemudian melanjutkan kegiatannya di meja makan tanpa menghiraukan siapa pun.


" Sandy, kamu jangan ambil hati ucapan anak ingusan ini. Kamu tahu sendiri, itu karena aku terlalu memanjakan dia. " Yudha merasa tidak enak pada Sandy kemudian menyalahkan putrinya.


" Sudah cukup, jangan bicara lagi. Kita semua sudah lapar. Jangan sampai makanannya menjadi dingin. Zanitha, semua yang ada di meja adalah makanan kesukaan kamu. Bibi dengan sengaja menyiapkan ini untukmu. Ayo dimakan. Jangan hiraukan apapun yang tidak penting. " Pinta Kyra membuat kecanggungan suasana makin terasa.


" Alina ayo, kamu juga harus makan. " Ucap Adelio dengan penuh perhatian.


" Terima kasih. " Alina akhirnya mulai menyantap makanannya. Zanitha diam diam melirik ke arah Alina dengan tatapan kesal.


# Sesaat setelah selesai sarapan, Alina, Adelio dan Zanitha berada di taman belakang rumah #


Zanitha merangkul lengan Adelio dengan manja yang membuat Adelio merasa risih.


" Adelio, saat kamu pergi nanti, aku pasti akan sangat merindukan kamu. Sebenarnya kenapa kamu tidak kuliah di dalam negeri saja? Kamu tahu sendiri kalau aku tidak bisa jauh dari kamu. Aku ingin sekali kuliah bersama denganmu, tapi ayahku sangat menyebalkan. Dia tidak mengizinkan aku. "


Adelio masih merasa risih dengan Zanitha yang menempel padanya. Dia perlahan melepaskan tangan Zanitha yang terkait di lengannya.


" Zanitha, jangan seperti anak kecil. Aku keluar tentunya untuk mengejar apa yang telah menjadi cita citaku selama ini. Di sini kamu bisa bermain dengan Alina. Dia bukan orang yang membosankan. Sebaiknya kalian bisa lebih saling mengenal. " Saran Adelio sambil meninggalkan Zanitha dan berpindah duduk di samping Alina. Adelio tersenyum pada Alina. Dia membenarkan rambut Alina yang menutupi separuh pipinya.


" Adelio !! " Zanitha merasa cemburu. Dia mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke arah Alina.


# Sesaat kemudian #


Di sebuah kamar tamu, Zanitha duduk di sisi tempat tidur dengan raut wajah penuh kekesalan dan kebencian. Yudha yang baru masuk melihat keadaan putrinya yang seperti itu, langsung duduk di sampingnya dan membelai rambut di kepalanya.


" Ada apa? Kenapa kamu terlihat murung dan kesal? Ayah sudah membawa kamu kesini, tapi kamu tetap saja tidak merasa gembira. " Tanya Yudha.


" Aku harus menyingkirkan gadis sialan itu. Aku tidak mau jadi pesaingnya. Dia itu tidak ada apa apanya. Aku tidak akan membiarkan diriku kalah darinya ayah. Ayah, kamu harus membantu ku. " Celoteh Zanitha dengan geram.


" Kamu jangan gegabah. Kamu tahu sendiri kalau Sandy sangat melindunginya. Jadi kita juga harus bersikap baik padanya. Jangan sampai perbuatan kamu merusak rencana kita. Ingat, kamu belum menjadi menantu di keluarga ini. Yang paling penting, kamu harus bisa mendapatkan hati Adelio terlebih dulu. Untuk hal hal yang lainnya, biar ayah yang urus. Kamu tidak perlu khawatir. Cukup fokus pada tugasmu. " Yudha menjelaskan dengan sedikit berbisik.


" Aku tahu ayah. Ayah juga jangan khawatir. Adelio pasti akan luluh padaku. Dia akan menjadi milikku. Aku tidak boleh kalah dari gadis sialan itu. " Zanitha meyakinkan ayah dan dirinya sendiri.


" Bagus. Ayah percaya putriku pasti bisa mewujudkan impian kita. " Yudha dan Zanitha tersenyum puas.


" Tapi ngomong-ngomong, siapa sebenarnya Alina itu? Selama ini kita tidak pernah melihatnya bukan? Sekarang tiba tiba Paman Sandy seperti memiliki puteri baru. Dia juga sangat perhatian padanya. Ayah, ayah harus bantu aku menyelidiki gadis sial itu. Agar aku tahu dimana kelemahannya. " Cetus Zanitha penasaran.


" Kamu tenang saja. " Yudha menepuk bahunya untuk membuatnya yakin.


# Di Balkon Lantai Dua #


Alina dan Adelio sedang duduk bersama dan mengobrol.


" Alina, apa kamu akan melanjutkan SMA di sekolah yang sama dengan teman teman kamu? " Adelio memulai pertanyaan pada Alina.


" Maksudmu, Hanna dan Darren? " Adelio menganggukkan kepalanya.


" Sepertinya iya. Aku dan Hanna adalah sahabat sejak kami masih duduk di bangku SD. Sedangkan Darren, kami mulai berteman dengan dia sejak di SMP. " Alina menjelaskan.


" Apakah hubungan kamu dengan Darren sangat dekat? " Tanya Adelio penasaran.


" Tentu saja. Kami adalah teman baik, sudah pasti hubungan kami sangat dekat. " Jawab Alina dengan polos. Sedangkan Adelio, dalam hatinya tidak bisa menerima.


Alina pun menceritakan seberapa dekatnya hubungan dia bersama teman temannya. Namun Adelio yang mendengarnya, merasa tidak begitu nyaman seperti ada yang mengganjal di dalam hatinya. Ia pun batuk seperti orang yang tersedak, membuat Alina berhenti bercerita.


" Uhuk uhuk... Uhuk uhuk... "


" Kamu kenapa? " Tanya Alina sambil menepuk nepuk punggung Adelio.


" Tidak, aku tidak apa apa. " Jawab Adelio santai.


 


Setelah merasa lega, Adelio mengatur nafasnya dan menatap Alina.


" Alina.. " Tangan Adelio meraih bahu Alina dan membuat Alina berhadapan dengannya.


" Aku menyukaimu. " Ucap Adelio sambil menatap kedua mata Alina dengan tegas.


" A.. aku.. " Alina bingung dan tidak tahu harus menjawab apa.


" Alina,, setelah lulus aku akan ke Amerika untuk kuliah di sana. Mungkin akan membutuhkan waktu sekitar empat sampai lima tahun. Saat aku kembali, kita sama sama sudah dewasa. Aku ingin kamu menungguku. Aku ingin menikahi dirimu. " Ucap Adelio secara antusias. Alina seketika tercengang mendengar pernyataan Adelio. Jantungnya berdetak kencang, dia merasakan sesuatu yang dia sendiri juga tidak mengerti.


" Adelio, aku.. " Alina masih tidak tahu harus menjawab apa.


" Tenang saja. Kamu tidak perlu terburu buru. Aku akan memberimu waktu. Kamu bisa memikirkannya dulu. " Adelio kemudian meraih tubuh Alina dan memeluknya dengan erat. Di sudut lain, ternyata Zanitha menyaksikan percakapan mereka. Dia mengepalkan kedua tangannya hingga kukunya menusuk ke dalam telapak tangannya. Kemudian dia kembali masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu kamar itu.


Di dalam kamar, Zanitha melemparkan seluruh barang yang ada di atas meja riasnya. Dalam hatinya merasa sangat marah.


" Adelio, bisa bisanya kamu menyukai gadis sialan itu. Apa yang istimewa dari dirinya? Dia begitu kampungan. Kenapa kamu begitu mudah melupakan aku? Adelio, kamu akan membayar perbuatan kamu hari ini. Hhhhhh,, Suatu saat, kamu pasti jadi milikku. Aku akan menyingkirkan gadis itu sebelum kamu kembali. Tidak ada seorang pun yang bisa mempermainkan aku. " Gumam Zanitha dengan perasaan marah.


# **Di Balkon** #


Adelio melepaskan pelukannya terhadap Alina. Lalu dia mengecup kening Alina.


" Ini sudah malam, kembalilah ke kamar dan istirahatlah. " Perintah Adelio. Alina hanya menganggukkan kepalanya dan beranjak kembali ke kamarnya meninggalkan Adelio.


Setelah masuk dan menutup pintu kamarnya, Alina bersandar di balik pintu dan memejamkan matanya.


" Adelio, aku juga menyukaimu. Tapi apakah aku pantas? Aku takut. Bisakah aku menunggu kamu kembali? " Alina bergumam sambil memeluk lututnya.