Alina

Alina
BAB 18 Orang Gila



Zanitha sedang duduk seorang diri di sebuah kafe. Ia menikmati hidangan makan malamnya dengan anggun.


Di sisi lain, ada seorang pria tampan yang memperhatikan gerak geriknya dengan seksama. Zanitha pun merasa ada sesuatu yang aneh, ia menolehkan kepalanya ke arah pria itu.


Mendapati tatapan Zanitha, pria itu mengacungkan gelasnya ke atas sambil tersenyum. Zanitha kemudian mengacuhkan dia dan melanjutkan memakan makanannya. Pria itu tetap menatapnya dari jarak yang tidak terlalu jauh. Kemudian ia memutuskan untuk menghampirinya.


" Sepertinya tempat duduk ini kosong. Bolehkah aku duduk si sini? " Sapa pria itu dengan sopan namun sedikit arogan. Zanitha sempat terkejut dibuatnya kemudian dengan tajam menatapnya.


" Sayang sekali Tuan. Meskipun kosong, tapi aku sedang ingin sendiri. Jadi ku mohon, kembalilah ke tempat kamu dan jangan ganggu aku. " Jawab Zanitha dengan sikap yang angkuh.


" Benarkah? Tapi aku tidak suka dengan penolakan. Oleh sebab itu, aku akan tetap pada keputusan ku untuk menemani kamu duduk di sini. " Ucap pria itu sedikit memaksa. Kemudian ia menarik kursi, dan duduk berhadapan dengannya.


" Apa kamu tahu, kamu sudah merusak selera makan ku. " Ucap Zanitha dengan ketus.


" Kalau begitu, aku akan membantu kamu untuk memesan beberapa menu yang bisa membangkitkan selera kamu kembali. " Ucap pria itu dengan datar.


" Terima kasih, tapi maaf aku tidak tertarik. " Ucap Zanitha dengan kesal sambil berdiri dan hendak meninggalkan tempat itu. Pria itu lalu dengan cepat meraih pergelangan tangannya.


" Lepaskan tangan ku atau aku akan teriak. " Zanitha mengancam sambil melotot ke arahnya.


" Jangan terburu buru Nona. Aku tidak punya maksud jahat. Aku hanya ingin berteman dengan kamu. Ku harap kita bisa ngobrol sebentar. Duduklah dulu, dan tenangkan dirimu. " Pria itu berkata dengan lembut seperti mengandung sihir yang mampu membuat Zanitha menurutinya.


Pria itu pun tersenyum melihat Zanitha telah kembali duduk di tempatnya.


" Katakan, apa yang kamu inginkan! " Ucap Zanitha dengan ketus. Namun hal itu membuat pria tersebut semakin melebarkan senyumannya.


" Sepertinya aku harus menstabilkan emosi kamu terlebih dulu. " Ucapnya dengan santai. Zanitha semakin membulatkan matanya.


" Ku mohon jangan bermain main dengan ku. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni kamu " Balas Zanitha dengan geram.


" Saat marah, kamu terlihat begitu manis. " Ucap pria itu dengan pandangan penuh rasa kagum, hingga Zanitha merasa semakin sebal dibuatnya.


" Hentikan omong kosong mu! Aku harus segera pergi, permisi.. " Ucap Zanitha kemudian bangkit berdiri dari tempat duduknya. Lagi lagi pria itu dengan gesit meraih pergelangan tangannya.


" Tunggu sebentar. Kamu belum memberi tahuku siapa nama kamu. " Ucapnya sambil menatap Zanitha, ia menghempaskan tangannya dengan kasar, kemudian menatapnya dengan tajam.


" Aku rasa kamu tidak perlu tahu siapa namaku. Itu tidak penting. " Ucap Zanitha dengan tegas. Pria itu pun tersenyum.


" Bagaimana aku memanggil kamu jika aku tidak tahu siapa nama kamu? Ayolah Nona, hanya sebuah nama. Kenapa kamu begitu pelit? Hmmm, perkenalkan namaku Farrel. Kamu bisa memanggilku Farrel. Jadi, siapa nama kamu? " Ucap pria itu sambil menyodorkan telapak tangannya berharap Zanitha akan menyambutnya.


" Nama ku Zanitha. " Ucapnya tanpa sudi menjabat tangan Farrel. Farrel pun kemudian menarik kembali tangannya sambil tersenyum kecil.


" Nama yang cantik, sangat cocok dengan wajah kamu yang manis. " Ucap Farrel sambil mengusap lembut pipi Zanitha, namun Zanitha menghindari sentuhannya.


" Jangan sentuh aku! " Farrel kemudian menarik kembali tangannya dan tersenyum.


" Kamu sudah tahu apa yang ingin kamu tahu. Sekarang, biarkan aku pergi! " Zanitha berkata sambil memelototkan matanya.


" Baiklah. Semoga suatu hari bisa bertemu kembali denganmu. " Farrel kemudian memberi jalan untuk Zanitha. Lalu dia segera pergi meninggalkannya dengan kesal.


Farrel yang melihatnya semakin menjauh, tetap memasang senyum di wajahnya.


***


Zanitha yang baru sampai di rumahnya segera masuk ke dalam kamarnya kemudian merebahkan dirinya di atas kasur.


" Benar benar sial! Kenapa aku bisa bertemu dengan orang gila? Menyebalkan!!! Untung saja aku bisa segera pergi dari sana. " Ia menggerutu sendiri.


***


Darren sampai di rumah bersamaan dengan kakaknya, Farrel. Ia mendengar Farrel sedang bersenandung pelan.


" Sepertinya suasana hati kamu sedang bagus. " Ucap Darren.


" Ya, kamu benar adikku. Apa kamu tahu kenapa? " Farrel berkata dengan semangat.


" Kenapa? " Tanya Darren dengan mengerutkan keningnya.


" Karena sebentar lagi, aku akan membawa kakak ipar kamu pulang ke rumah ini. " Ucapnya sambil tersenyum gembira. Kemudian ia berjalan menuju kamarnya sambil terus bersenandung. Darren hanya melongo dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kakaknya itu.


Setelah masuk ke kamar, Farrel langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang.


" Zanitha... Seorang gadis cantik yang angkuh. Aku akan segera mendapatkan kamu. Kamu tidak akan bisa lepas dariku. " Gumamnya sambil menyilangkan kedua tangannya di belakang kepalanya dengan tatapan mata yang penuh keyakinan.


# Keesokan Harinya #


Zanitha sedang membongkar isi lemarinya. Dia mengeluarkan dan melemparkan semua pakaian dari dalam lemarinya.


" Kenapa semua pakaian ku jelek begini? " Gerutunya pelan.


" Tok tok tok ". Suara ketukan pintu terdengar dari dalam kamarnya.


" Masuk saja " Ucap Zanitha tanpa menoleh.


Yudha pun masuk dan terbengong mendapati kamar anaknya sangat berantakan dengan pakaian pakaian yang telah di bongkar habis dari dalam lemari.


" Apa yang sedang kamu lakukan? " Tanyanya sambil mengerutkan keningnya.


" Seperti yang ayah telah lihat. Aku baru saja mengeluarkan seluruh isi lemari ku, tapi aku tidak menemukan satu pun pakaian yang bagus yang bisa aku pakai. " Jawabnya penuh keluhan.


" Apanya yang tidak bagus? Pakaian ini kamu beli dengan harga yang tidak murah. Kamu pun hanya memakainya sekali atau dua kali saja. " Ucap Yudha sambil menggelengkan kepalanya.


" Ayah, apa kau bisa memberi ku uang? Aku ingin membeli beberapa pakaian lagi. Semua ini sudah tidak bisa aku pakai lagi. " Pintanya sambil mengangkat kedua bahunya.


" Tapi semua ini sudah sangat kuno dan aku tidak menyukainya. Lagi pula, sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya Muda dari keluarga Sandy Santoso. Aku harus menjaga image ku. Aku tidak boleh tampil lusuh di hadapan semua orang. Mereka akan mentertawakan aku. Ayolah ayah, sekali ini saja. Suatu hari nanti aku akan mengganti semua uangmu. Ayah tentu tidak ingin aku terlihat kampungan bukan? " Rayunya sambil merangkul lengan Yudha dengan manja. Yudha hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" Baiklah, ayah akan mentransfer ke rekening kamu. Tapi ingat, kamu juga harus mengontrol pengeluaran kamu. " Jawab Yudha pasrah. Zanitha pun tersenyum gembira setelahnya.


" Terima kasih ayah, kau memang ayah yang paling baik di dunia ini. Aku sayang ayah. " Ucap Zanitha kemudian mencium pipi ayahnya.


" Aku akan pergi ke Mall untuk membeli beberapa keperluan ku. Malam ini, ayah makan sendiri di rumah yaa. Aku akan pulang telat. Bye ayah.... " Ucap Zanitha penuh manja.


" Jangan pulang sampai larut ". Yudha berkata dengan tegas.


" Aku tahu ".


*** Di Mall ***


Zanitha berjalan menyusuri mall dengan asyiknya sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Ia memasuki beberapa toko dan membeli beberapa barang hingga tangannya dipenuhi oleh paper bag.


Ia merasa lelah dan lapar. Kemudian ia melihat salah satu restoran Jepang yang ada di dalam Mall tersebut. Ia pun masuk ke dalamnya sambil membawa semua belanjaan yang ada di tangannya.


Ia lalu meletakkan belanjaan itu di samping kursinya, dan di atas meja sebagian. Kemudian memesan makanan. Setelah memesan makanan, ia pergi ke toilet karena ia merasa ingin buang air kecil.


Saat ia keluar dari toilet, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang hendak masuk ke dalam toilet juga. Ia pun segera melihat orang itu dan seketika terkejut saat ia tahu siapa yang telah di tabraknya.


" Tidak ku sangka, kita bisa bertemu kembali secepat ini. Apa kabarmu nona? " Ucap Farrel sambil tersenyum bahagia seperti orang yang baru dapat undian. Sedangkan Zanitha merasa risih.


Zanitha menatapnya sekilas kemudian hendak pergi dari sana.


" Tunggu sebentar, Zanitha. " Ia pun menghentikan langkahnya.


" Kamu duduk di sebelah mana? " Tanya Farrel dengan ramah.


" Aku tidak makan di sini. " Ia langsung pergi meninggalkannya tanpa basa basi lagi. Farrel hanya tersenyum sekilas kemudian ia melanjutkan niatnya untuk ke toilet.


Setelah sampai di mejanya, wajah Zanitha terlihat sangat jelek karena ia tampak sedang merengut.


" Kenapa aku bisa bertemu dengan orang gila itu lagi? Sangat menyebalkan. Bagaimana ini? Aku sudah terlanjur memesan makanan. Lagi pula, kaki ku capek sekali. Ingin istirahat sebentar, malah bertemu dia lagi! Dasar sial! " Gerutu Zanitha dalam hati.


" Apa kamu sudah memesan makanan? " Tanya Farrel mengejutkan Zanitha. Ia langsung duduk berhadapan dengannya.


" Bisa tidak kamu duduk di meja yang lain? Di sini sudah sangat sempit. Aku rasa kamu juga bisa melihatnya " Zanitha berkata dengan sikap juteknya. Farrel hanya tersenyum tipis menanggapinya.


" Tidak masalah. Aku tidak memesan banyak makanan. Jadi tidak akan sempit lagi, dan aku pastikan kamu tidak akan terganggu. " Ucapnya membuat Zanitha seolah tidak tahu bagaimana cara untuk mengusirnya lagi.


Makanan yang dipesan pun telah datang. Zanitha langsung menyantapnya tanpa banyak basa basi. Ia tidak menghiraukan Farrel yang duduk di depannya. Ia seolah menganggap seperti tidak ada seorang pun di hadapannya. Ia telah bersikap acuh. Sedangkan Farrel sambil makan sambil meliriknya diam diam.


" Apa semua ini milik mu? " Farrel menunjuk ke arah beberapa paper bag yang ada di meja.


Zanitha hanya menganggukkan kepala sambil terus mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


" Kamu membeli banyak sekali barang. Bagaimana kamu membawanya? " Farrel terus berusaha untuk mencari topik. Zanitha malah menatapnya dengan tajam.


" Tentu saja menggunakan tanganku. Dasar bodoh! " Jawabnya tetap dengan nada ketus.


Setelah beberapa menit, Zanitha telah menghabiskan makanannya. Ia kemudian mengambil tissu dan mengelap mulutnya. Farrel terus memperhatikan gerak geriknya sehingga membuatnya semakin merasa risih.


" Boleh aku minta nomor ponsel kamu? " Pintanya dengan sedikit ragu.


" Aku tidak terbiasa berhubungan dengan orang asing. " Jawab Zanitha sekenanya.


" Hallo,, kita sudah dua kali bertemu. Kamu bisa menganggap aku sebagai teman. Jadi tidak akan ada kata asing lagi di antara kita. "


Ia berusaha meyakinkan lawan bicaranya sambil menyeringai.


" Dan aku tidak berharap akan ada pertemuan yang ke tiga. " Ucap Zanitha dengan santai sambil menatap dia dengan senyum tipis.


" Apa kamu tidak merasa keterlaluan dengan perkataan mu itu? Kamu bisa menyinggung orang, Nona. " Tegurnya dengan sedikit nada tegas.


" Aku tidak peduli. Justru aku memang berniat untuk membuat kamu agar tidak lagi mengusikku! " Ujar Zanitha tidak mau kalah. Farrel hanya menyunggingkan senyumnya.


" Gadis seperti kamu lah yang paling aku sukai. " Katanya sambil menatap tajam kedua mata Zanitha hingga membuatnya merinding.


Di tatap seperti itu, Zanitha segera memalingkan matanya ke arah lain. Ia mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan kemudian diletakkannya di atas meja.


Ia lalu segera membereskan barang barangnya untuk bersiap meninggalkan tempat tersebut. Farrel hanya jadi penonton.


" Apa kamu sudah mau pulang! Bolehkah aku mengantar mu? " Farrel menawarkan dirinya.


" Tidak perlu, terima kasih. Aku akan naik taxi. Itu akan lebih aman. " Jawabnya dengan tegas, membuat Farrel tersenyum mendengarnya.


" Aku pastikan, aku akan mengantar kamu sampai di tujuan dengan selamat. Dan kamu akan aman bersama ku. " Ucapnya memberi kepastian sambil menunggu jawaban yang ia harapkan.


Zanitha menatapnya sambil berpikir.


" Baiklah. Tapi kamu juga harus membantuku untuk membawakan semua barang belanjaan milikku. " Zanitha menantangnya.


" Siapa takut? " Jawabnya dengan semangat dan langsung meraih semua barang yang ada di atas meja dan di sebelah kursi. Ia membawa semuanya. Sedangkan Zanitha berjalan lebih dulu layaknya seorang Nona besar.


" Ini adalah awal yang bagus. Akhirnya aku akan tahu dimana rumahmu. " Gumam Farrel dalam hati.


Ia pun akhirnya merasa senang karena telah mendapatkan kesempatan untuk mendekati Zanitha. Bahkan saat ini dia akan mengantarkan dia pulang kerumahnya.


Ia tersenyum lebar berjalan di belakang Zanitha meski tangannya penuh dengan kantong belanjaan.