Alina

Alina
BAB 7 Menegaskan Hubungan



" Bu, aku menyukai Alina. Bukan Zanitha. Ibu telah salah paham ". Jawab Adelio sambil menatap ibunya dengan tegas. Kyra kemudian menampar Adelio dengan keras. Adelio pun terkejut dengan tamparan dari ibunya.


" Apa ibu tidak salah dengar? Bisa bisanya kamu mengatakan kamu menyukai gadis sialan itu. Atas dasar apa kamu bisa menyukai dia? Apa yang telah dia lakukan untukmu? Mata kamu buta, Adelio!!!


Ibu bahkan tidak habis pikir kamu bisa berpikir serendah itu. " Teriak Kyra dengan sangat marah hingga tubuhnya gemetar. Dia pun duduk kembali di tempat duduknya. Kyra menggelengkan kepalanya seakan dia tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh anaknya sendiri.


" Bu, aku mohon jangan panggil Alina dengan sebutan seperti itu. Dia adalah gadis yang baik. Mataku tidak buta. Aku bisa melihat kasih sayang dan ketulusan di matanya. Cobalah ibu mengenalnya lebih dekat lagi. Ibu akan tahu bahwa aku tidak bodoh. " Ucap Adelio pelan pelan sambil berlutut di hadapan ibunya. Sedangkan Kyra malah membuang muka seolah tidak sudi melihat anaknya membela Alina gadis pujaannya.


" Bu, aku telah berjanji padanya bahwa aku akan menikahinya setelah aku kembali dari Amerika. " Adelio melanjutkan kata katanya.


" Apa apaan ini? Apa kamu sudah gila!!!. Kamu bahkan tidak pernah mengatakan hal penting seperti ini pada ibumu sendiri. Dimana jalan pikiran kamu? Aku tidak akan pernah merestui kalian. Sampai kapan pun, aku tidak akan merestui kalian. Aku tidak sudi punya menantu seperti dia. Dan kamu!? Apakah demi gadis itu kamu rela menentang ibumu sendiri? " Cecar Kyra kesal hingga ia bicara sambil menggigit giginya.


" Bu, aku tidak ingin menentang ibu. Aku hanya ingin ibu merestui hubungan kami. Aku yakin dengan pilihanku sendiri. Asal ibu percaya padaku, ibu tidak akan menyesal. Aku belum memberi tahukan hal ini pada ibu maupun ayah karena aku berencana untuk mengatakan pada kalian setelah aku kembali dari Amerika. Membahas hal ini sekarang, masih terlalu cepat bagiku. " Adelio menjawab dengan tegas.


" Adelio, dia dibawa ke sini oleh ayah kamu. Dan ayah kamu tidak pernah menceritakan asal usul gadis itu. Ibu merasa orang tuanya bukanlah orang baik baik apalagi dari kalangan terhormat. Penampilannya saja sangat kampungan dan memalukan. Sangat jauh berbeda dengan Zanitha yang terlihat anggun, ramah, juga ceria. Dia juga anak yang pintar. Kita semua sudah saling mengenal sejak lama. Tapi Alina? Dia hanya orang yang tidak tahu malu menumpang hidup di rumah orang. Ibu hanya tidak ingin kamu dibutakan oleh gadis itu. Dia bukan gadis yang cocok untuk kamu. Kamu harus sadar Adelio. Jangan gegabah. " Kyra berkata dengan tegas, tidak ingin anaknya sampai salah mengambil keputusan.


" Bu, selama ini aku memang berteman dekat dengan Zanitha. Tapi aku tidak menyukai dia. Sejauh ini, aku hanya menganggap dia sebagai teman atau sebagai adikku sendiri. Jadi aku mohon pada ibu, beri aku kesempatan. Aku janji, aku tidak akan membuat ibu kecewa. " Adelio menggenggam kedua tangan ibunya sambil mencoba untuk meyakinkannya.


" Kamu, keluarlah. Ibu ingin sendiri. " Kyra mengucapkan dengan lemah. Adelio pun bangkit berdiri tapi tidak keluar. Dia berdiri di hadapan Kyra sambil menunduk.


" Bu, ini menyangkut masa depanku. Bolehkah aku memohon berikan aku kebebasan untuk memilih? Aku tidak pernah bermaksud untuk menentang ibu. Aku sangat menghormati ibu. Tapi mengenai hal ini bukankah lebih baik jika aku yang memilih sendiri? Bu, sejak pertama kali aku bertemu dengan Alina, aku tidak pernah bisa tidur nyenyak. Aku selalu membayangkan wajahnya sebelum aku tertidur. Aku benar benar merasa nyaman padanya. " Adelio berusaha membujuk ibu yang dihormatinya itu.


" Cukup Adelio, jangan kamu lanjutkan lagi. Ibu hanya ingin sendiri sekarang. Bisakah kamu meninggalkan ibu? " Pinta Kyra dengan lemah seolah tak berdaya.


" Baiklah ibu. Aku akan keluar. " Ucap Adelio sambil mencium kening ibunya kemudian beranjak keluar dari kamar itu.


***


# Di Kamar, Adelio berbaring tak berdaya. Dia memejamkan matanya sambil memikirkan perdebatan yang terjadi dengan ibunya tadi #


" Kenapa tiba tiba ibu ingin menjodohkan aku dengan Zanitha? Kenapa malah jadi seperti ini? Ini di luar dugaan. Ibu begitu yakin bahwa aku menyukai Zanitha. Bagaimana mungkin ibu bisa berpikir seperti itu? " Adelio berbicara sendiri sambil sesekali menarik nafasnya dalam dalam.


" Kenapa ibu seperti membenci Alina? Setahuku, Alina tidak pernah membuat ulah. Ya Tuhan, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku memang menyukainya. Kenapa sekarang aku jadi ingin sekali memeluknya? Sedang apa dia di kamarnya? " Adelio masih berbicara pada dirinya sendiri, seketika ia pun bangkit dari tempat tidurnya.


Adelio kemudian keluar dari kamarnya menuju kamar Alina. Dia mengetuk pintu kamarnya. Seketika, Alina pun membuka pintu kamarnya dan menyapa Adelio.


" Adelio? Ada apa kamu kemari? " Tanya Alina bingung.


" Aku merindukan kamu Alina. " Adelio berbisik di samping telinga Alina, Alina hanya menunduk tersipu saat mendengar kata Adelio. Kemudian Adelio memberi kecupan singkat di sisi bibir Alina. Alina pun terkaget dan menatap Adelio.


"Apa yang kamu lakukan? Bagaimana kalau ada yang lihat? " Alina berkata dengan suara yang sangat pelan.


" Aku merindukanmu dan ingin mencium kamu. Cuma sebentar, tidak akan ada yang melihatnya. " Jawab Adelio sambil tersenyum lebar. Wajah Alina seketika memerah.


" Bagaimana kalau kita pergi ke tempat biasa? Apa kamu punya waktu? " Tanya Adelio.


" Baiklah, tunggu sebentar. Aku matikan lampunya dulu. "


Saat Alina dan Adelio hendak keluar rumah, Sandy melihatnya tapi tidak menghentikan mereka. Melainkan hanya menatap dari kejauhan dan menyunggingkan senyum di bibirnya.


" Elvina, putrimu sama cantiknya seperti dirimu dulu. Aku lihat sepertinya putraku menyukainya. Aku akan bahagia seandainya mereka bisa bersama. Mungkin mereka yang akan melanjutkan kisah kita dulu. Apa kamu juga akan merasakan hal yang sama seperti aku? " Sandy bergumam dan tersenyum dalam diam.


# Setibanya Di Danau #


Adelio menggenggam tangan Alina berjalan di tepi danau. Mereka sangat menikmati suasana danau di sore hari. Hingga akhirnya mereka duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon yang rindang. Adelio merangkul tubuh Alina sambil sama sama menikmati pemandangan di hadapan mereka. Alina kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Adelio.


" Alina, ingatlah untuk menungguku kembali. Kamu harus percaya padaku. " Ucap Adelio sambil membelai rambut Alina.


" Aku akan menunggu kamu kembali. Tapi kamu tidak boleh membohongi ku. " Jawab Alina dengan keraguannya.


" Tidak akan, aku tidak akan membohongi kamu. " Adelio mencium kepala Alina dan tersenyum puas.


# Keesokan Harinya #


Sandy menemui Adelio di kamarnya. Adelio yang sedang mengemas pakaian ke dalam kopernya pun menghentikan gerakannya.


" Apa kamu sudah membereskan semua barang keperluan kamu? " Sandy bertanya seketika memandang beberapa koper yang sudah di susun rapi.


" Masih ada beberapa yang belum ku siapkan. Ada apa ayah? " Jawab Adelio kemudian ikut duduk di samping ayahnya.


" Saat kamu berada di sana, kamu harus bisa menjaga diri kamu baik baik. Jangan membuat ulah. " Sandy berkata sambil menepuk nepuk punggung Adelio.


" Itu pasti ayah. Ayah tidak perlu khawatir. Aku selamanya akan menjadi anak yang kau banggakan. " Jawab Adelio dengan tegas meyakinkan ayahnya agar ayahnya tidak terlalu khawatir.


" Bolehkah ayah bertanya satu hal padamu? " Tanya Sandy dengan ragu.


" Tentu saja ayah. " Adelio memastikan.


" Apa kamu menyukai Alina? " Adelio terkejut mendengar pertanyaan ayahnya. Dalam hatinya merasa takut dan khawatir jika ayahnya akan bersikap sama seperti ibunya. Jadi dia belum berani memberikan jawaban pada ayahnya.


" Kemarin sore ayah tidak sengaja melihat kalian keluar bersama. Dan dari raut wajah kamu, kamu terlihat senang. Ayah juga tahu bagaimana saat kamu dan Zanitha bermain bersama. Kamu selalu terlihat seperti terpaksa. Tidak pernah ada senyum di wajah kamu. " Sandy menjelaskan isi hatinya.


" Ayah, Apa ayah juga akan seperti ibu yang memarahi aku jika aku mengatakan yang sebenarnya? " Ucap Adelio ragu ragu.


" Kenapa ayah harus marah? Kamu sudah besar. Saat ayah masih seusia kamu, ayah juga pernah merasakan hal yang sama. Jatuh cinta pada seorang gadis yang sangat sederhana. " Tanpa sadar Sandy mengatakan kenangan masa lalunya.


" Apa gadis itu adalah cinta pertama ayah? "


Adelio penasaran.


" Yaa ". Sandy menjawab singkat.


" Apa ayah masih belum bisa melupakan dia? " Adelio melanjutkan pertanyaannya. Sandy kemudian menatap Adelio.


" Sebenarnya iyaa, ayah tidak bisa melupakan gadis itu. Tapi sudahlah, bukan ini yang menjadi inti pembicaraan kita tadi. Kamu masih belum menjawab pertanyaan ayah. "


Sandy kembali menagih jawaban dari Adelio.


" Ayah, aku..aku..hmm.. Iya ayah, Aku menyukai Alina. Apakah ayah akan marah karena meeasa kecewa dengan ku? " Adelio berkata dengan tegas.


" Akhirnya kamu mengakuinya. Kenapa harus berbelit belit? Ayah tidak akan marah seperti yang kamu takutkan. Ayah bahkan akan mendukung kalian. Alina adalah anak yang baik. Kehidupannya sangat sederhana dan tidak ugal ugalan. Dia adalah gadis yang lugu. Ayah pasti akan mendoakan kalian. " Ucap Sandy sambil menepuk pundak Adelio.


" Benarkah? Terima kasih ayah. Ayah adalah orang yang selalu mendukung keputusanku. Aku bangga pada ayah. " Adelio tersenyum lebar merasa bahagia.


" Lalu kenapa kamu bisa berpikir bahwa ayah akan memarahi kamu? " Sandy bertanya dengan heran.


" Ayah, kemarin tiba tiba ibu mengutarakan keinginannya padaku. Ibu ingin aku bertunangan dengan Zanitha sebelum aku pergi. Sedangkan gadis yang aku sukai adalah Alina, bukan Zanitha. Bagaimana mungkin aku akan menyetujui keinginan ibu? Ini menyangkut masa depanku. Aku tahu aku harus memilih siapa. Dan aku sudah berjanji pada Alina. Setelah aku kembali, aku ingin menikah dengannya. Ayah, apakah ayah akan setuju dengan pemikiran ku? " Sandy terkejut mendengar penjelasan anaknya.


" Apa kamu sudah seyakin itu? Kamu begitu mudah mengucapkan janji pada Alina. Apa kamu tidak takut kalau kamu akan ingkar padanya? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaannya kalau kamu tidak bisa menepati janji kamu? Apa kamu tidak takut kamu akan membuat dia kecewa? " Sandy mengajukan begitu banyak pertanyaan pada Adelio karena dia takut Adelio akan melakukan kesalahan yang sama seperti dirinya dulu.


" Aku tidak pernah punya niat untuk mengingkari janji atau pun membuatnya kecewa. Aku sudah yakin pada keputusanku. Apalagi ada ayah yang selalu mendukungku. Benar bukan? " Adelio berkata dengan sangat yakin. Sandy yang mendengarnya pun merasa puas dan menganggukkan kepalanya.


" Ya, ayah pasti akan selalu mendukung kamu. Apapun itu, ayah ada di pihak kamu. "


Sandy dan Adelio sama sama tersenyum.


" Aku berniat serius dengan Alina. Rintangan apapun yang akan menghalangi kami, aku akan tetap mempertahankannya. Aku akan selalu bersamanya, menemaninya, melindunginya dan mencintainya agar dia merasa tetap nyaman saat bersamaku. " Sandy merasa bangga dengan ucapan Adelio. Ia tidak habis pikir bahwa ternyata Adelio bisa seberani itu menghadapi kisah cintanya. Ia sedikit merasa menyesal dengan kejadian puluhan tahun yang lalu saat ia masih seusia putranya. Tapi ia merasa lega ternyata putranya tidak memiliki sifat pengecut seperti dirinya.


" Ayah, selama aku pergi bisakah aku menitipkan Alinaku pada ayah? Aku tidak ingin ada orang yang menyakitinya. Ayah harus melindunginya untukku. " Sandy tertawa mendengar permintaan anaknya.


" Hahaha... tentu saja. Tanpa kamu minta pun, aku pasti akan melindungi calon menantuku sendiri. " Adelio dan Sandy tertawa bersama. Hubungan antara ayah dan anak di antara mereka memang tidak pernah terjadi konflik. Mereka selalu sependapat, Adelio pun selalu menghormati ayahnya.


***


Di dalam kamar, Kyra sedang merenung seorang diri. Ada banyak hal yang ada dalam pikirannya.


" Aku harus bersabar menghadapi Adelio. Jangan sampai dia jadi membenciku, ibunya sendiri. Aku hanya perlu memikirkan cara agar dapat memisahkan mereka sebelum Adelio kembali. Aku masih punya banyak waktu. Zanitha tentu bisa membantuku. Aku yakin Zanitha pasti akan bersedia dijodohkan dengan Adelio. Zanitha sayang, bibi akan melakukan yang terbaik untuk kalian anakku. " Kyra bergumam sambil tersenyum tipis.