Alina

Alina
BAB 11 Kebencian Yang Tak Beralasan



" kriinngggg kriiinnngggg ". Telepon yang ada di ruang keluarga terus berdering. Tapi tidak ada yang mengangkatnya.


Zanitha yang sedang berbaring di dalam kamar merasa sangat terganggu dengan suara telepon itu. Ia yang sudah menutup telinganya masih saja tidak bisa menghindari suara telepon rumah yang terus menerus berdering. Ia akhirnya dengan tidak rela dan bermalas malasan berusaha bangkit dari tempat tidurnya untuk mengangkat telepon tersebut di ruang tamu.


" Kemana sebenarnya penghuni rumah ini? Apa mereka semua sudah tuli? Benar benar mengganggu istirahatku! " Gumam Zanitha dengan kesal sambil membuka pintu kamarnya dan berjalan keluar menuju ruang keluarga.


Sesampainya di sana, telepon itu malah berhenti berdering. Membuat Zanitha semakin kesal saja karena ia merasa dipermainkan.


" Kriinngggg Kriinnngggg ". Saat ia hendak kembali ke kamarnya, telepon tiba tiba berdering lagi. Hingga mau tidak mau ia kembali menuju arah telepon itu.


" Sial..!! " Gerutu Zanitha. Ia pun kemudian mengangkat teleponnya.


" Hallo.. " Ucap Zanitha.


" Hallo. Kamu pasti Zanitha. Apa bisa aku minta tolong panggilkan Alina untukku? " Jawaban dari seberang sana yang tidak lain tidak bukan adalah Adelio.


Zanitha seketika terkejut dan langsung menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Karena ia sama sekali tidak menyangka akan menjawab telepon dari Adelio.


" Hallo,,, Zanitha, apa kamu mendengar aku? " Adelio kembali bertanya karena ia tak kunjung mendapat jawaban.


" Ya. Iya Adelio, tentu saja aku mendengar kamu. " Jawab Zanitha terbata bata.


" Oh, baguslah. Kalau begitu, bisakah kamu panggilkan Alina untukku? Aku sangat merindukan dia. Aku ingin mengobrol dengannya. " Pinta Adelio dengan ramah.


" Alina ya? Hmmm tadi setelah makan malam dia mengatakan kalau dia ingin tidur awal. Sepertinya dia sedang lelah. Iya, begitu. " Zanitha berusaha untuk berbohong.


" Benarkah? Tapi ini masih terlalu awal bukan? Apakah dia sedang sakit? " Adelio bertanya dengan cemas. Ia sedikit gelisah.


" Oh tidak. Alina, dia baik baik saja. Mungkin karena dia lelah saja. Ya, aku rasa begitu. Jadi dia beristirahat lebih awal. " Zanitha masih melanjutkan kebohongannya.


" Begitu ya? Baiklah, kalau begitu aku tutup dulu teleponnya. Besok aku akan menelepon lagi. Tolong sampaikan salam rinduku padanya yaa. " Ucap Adelio dengan nadanya yang kecewa.


" Tunggu! Tunggu sebentar. Hmm, apa kamu hanya merindukan dia? Tujuan kamu telepon apakah hanya untuk bicara dengan dia? " Zanitha bertanya dengan nada yang lembut tapi dalam matanya ada rasa kebencian.


" Ya. Karena aku bisa bicara dengan orang tuaku melalui handphone mereka. Tapi Alina tidak memiliki handphone, makanya aku menelepon ke telepon rumah. Maaf jika aku sudah mengganggu kamu. Aku masih ada hal yang harus di kerjakan. Aku tutup dulu. Bye bye.. " Adelio langsung mematikan hp nya secara sepihak.


" Tut tut tut ". Sambungan telepon terputus begitu saja. Zanitha yang belum sempat mengatakan apa pun, merasa sangat geram menerima perlakuan demikian dari Adelio. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kencang, matanya penuh dengan tatapan kebencian. Ia tidak bisa menerima begitu saja. Ingin rasanya ia mengobrak abrik semua benda yang ada di sekitarnya. Tapi ia tetap berusaha untuk mengendalikan emosinya.


Saat ini, Yudha baru saja pulang. Ketika ia melangkah masuk, ia melihat putri kesayangannya itu dengan tatapan yang aneh. Ia merasa ada yang tidak beres. Ia pun segera menghampiri Zanitha kemudian meraih salah satu bahunya.


" Zanitha, apa yang sedang kamu lakukan di sini? " Tanya Yudha. Zanitha kemudian memberikan tatapan tajam kepada sang ayah.


" Ayah, aku harus memberi pelajaran pada gadis busuk itu. Dengan begitu mudahnya, dia telah merebut milikku. Dia telah berhasil mengalihkan perhatian Adelio. Adelio sekarang sama sekali tidak peduli padaku. Ini semua gara gara gadis brengsek itu. " Tutur Zanitha dengan suaranya yang gemetar akibat menahan emosi yang hampir meledak.


" Katakan, apa yang telah terjadi? Apa lagi yang telah dia perbuat? Kenapa kamu tampak begitu marah? " Yudha merasa penasaran.


" Aku harus menghancurkannya. Pokoknya aku ingin dia mati!!! Adelio sekarang bahkan sudah tidak peduli padaku. Aku merasa dia seperti orang asing. Dia tidak berminat untuk sekedar ngobrok denganku. " Teriak Zanitha sehingga membuat sang ayah kaget tak berdaya. Ia lalu menuntun Zanitha untuk kembali ke dalam kamar.


" Bicarakan pelan pelan. Kamu harus bisa menjaga emosi kamu. " Ucap Yudha sambil mendudukkan Zanitha di tepi tempat tidur. Ia kemudian mengambil gelas berisi air putih di samping tempat tidur dan memberikannya pada Zanitha.


" Minumlah dulu. Tenangkan dirimu. " Zanitha kemudian meminum air itu dalam sekali tegukan.


" Aku membenci gadis busuk itu. Aku membenci Adelio. Dia sama sekali tidak menganggap aku lagi. Alina Alina Alina. Kenapa harus Alina yang selalu dia sebut? Apakah dia melupakan aku? " Zanitha berteriak dengan sangat geram.


" Kamu harus bersabar, dengarkan ayah. Kamu tidak boleh sembarangan bertindak. Jika tidak, kita akan kalah. Kamu harus bisa tenang. Kita harus berpikir secara matang, jangan gegabah. " Saran Yudha sambil mengelus punggung sang anak. Berusaha untuk membuatnya tenang.


***


Setelah sampai di rumahnya, Darren terus memikirkan keadaan Alina. Dalam hatinya, dia pun terus mengkhawatirkan Alina. Apa lagi sejak kejadian tadi. Dia merasa iba dan turut sedih. Tapi ia sangat menyesal karena tidak bisa berbuat apa apa untuk membantu dia.


" Alina, sebenarnya kehidupan seperti apa yang kamu alami di rumah itu selama ini? Kenapa kamu memendamnya sendirian? Kamu pasti sangat tertekan. Aku harus melakukan sesuatu. " Darren bergumam sambil berpikir untuk melepaskan Alina dari segala penderitaannya. Karena dalam hatinya sebenarnya sangat peduli padanya. Hanya ia belum pernah mendapat kesempatan untuk mengutarakan perasaannya.


# Keesokan Harinya #


Di sekolah, saat Alina berjalan menuju kelas ia berpapasan dengan Darren yang memang sengaja sudah menunggu dia sejak awal.


" Alina " Sapa Darren singkat.


" Hai Darren. " Alina balas menyapa dan tersenyum.


" Aku rasa tidak ada yang perlu di bicarakan. Aku baik baik saja. " Alina menatap Darren untuk meyakinkan dia. Kemudian Alina meninggalkan Darren dan langsung memasuki kelas. Darren hanya bisa membiarkannya.


***


" Darren, maafkan aku. Aku hanya tidak ingin melibatkan kamu ke dalam masalahku, karena ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kamu. " Alina bergumam dalam hati. Kemudian mengeluarkan buku dari tasnya dan meletakkannya di meja. Dia membuka perlahan tiap lembarnya untuk mencari kesibukan sendiri.


Selang beberapa menit kemudian, Hanna dengan semangat masuk ke dalam kelas dan duduk di sebelah Alina.


" Selamat pagi Alina. Pagi pagi begini kamu sudah sibuk dengan buku buku itu? " Sapa Hanna seperti biasanya.


" Selamat pagi Hanna. Iya, aku hanya iseng saja. " Jawab Alina asal.


" Oh. Ohya, aku tinggal ke toilet sebentar ya. " Pamit Hanna. Alina hanya menganggukkan kepalanya. Hanna pun berjalan keluar.


Saat Hanna keluar dari kelas, Darren tiba tiba menarik lengan Hanna dan membawa dia ke tempat yang agak sepi. Hanna pun terkejut tapi tetap mengikuti Darren.


***


" Darren,, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu membawaku ke sini? " Tanya Hanna merasa aneh dengan tingkah Darren.


" Sssttt, jangan berisik. " Perintah Darren. Darren dan Hanna kemudian memalingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan mengawasi keadaan di sekitar mereka.


" Hanna, ada hal yang ingin aku beri tahukan padamu. " Ucap Darren berbisik, membuat jantung Hanna berdebar kencang. Tapi Darren tidak menyadari akan hal itu. Dia hanya memberi tahukan pada Hanna mengenai kejadian kemarin sore saat dia mengantar Alina pulang. Hanna pun terkejut tidak percaya mendengar cerita yang di sampaikan Darren padanya.


" Bagaimana mungkin? Selama ini Alina selalu bercerita padaku bahwa mereka sangat baik terhadapnya. Kenapa sekarang malah jadi begini? Apa kamu tidak sedang berbohong? " Tanya Hanna seraya tak mempercayai cerita Darren.


" Untuk apa aku berbohong sama kamu? Aku sendiri juga hampir tidak percaya dengan apa yang aku lihat dan aku dengar kemarin. Mereka sangat merendahkan Alina. Mereka memusuhinya. Alina terlihat sangat tidak berdaya. Dia bahkan hanya bisa menangis. Selama ini dia menutupi semuanya dari kita."


Darren mengulang kembali ceritanya.


" Selama ini aku selalu berpikir kehidupannya telah berubah. Meski orang tuanya telah tiada, tapi masih banyak orang yang menyayanginya seperti keluarga sendiri. Aku sungguh tidak menyangka kalau pada kenyataannya tidak seperti apa yang aku bayangkan selama ini. Tapi kenapa dia tidak mau menceritakan pada kita? ". Hanna mengeluh dan menyesali apa yang di alami Alina.


" Itu karena dia tidak ingin kita semua mengkhawatirkannya. Dia selalu berusaha untuk tegar dalam setiap musibah. Kita saja yang tidak peka. " Ucap Darren dengan nadanya yang pilu.


" Lalu apa rencana kamu? " Tanya Hanna kemudian sambil menatap Darren penuh tanya.


" Aku juga masih belum tahu. Alina pasti tidak ingin kita melakukan apa apa. Aku tidak ingin menyinggungnya. Kita jangan sampai membuat dia semakin tertekan. " Ucap Darren menjelaskan.


" Kamu benar. Alina punya pendirian sendiri. Dia tidak akan suka kalau kita terlalu banyak ikut campur dalam masalahnya. Kita hanya perlu mengawasinya sesekali. Jangan beri mereka kesempatan untuk menyakiti Alina lebih dalam lagi. " Ucap Hanna dengan penuh keyakinan bahwa dia akan selalu mendukung Alina dari jauh. Dia tidak akan membiarkan sahabatnya itu terluka.


" Ya sudah, ayo kita kembali ke kelas. " Ajak Darren.


" Tapi aku mau ke toilet dulu. " Jawab Hanna sambil menatap Darren.


" Baiklah, aku duluan ya. " Darren pun meninggalkan Hanna dan beranjak ke kelasnya.


***


Di dalam kamar, Sandy sedang berdiri di depan cermin sambil merapikan pakaiannya dan bersiap untuk berangkat ke kantor seperti biasanya. Kyra membantunya memasang dasi pada kemejanya.


" Kedatangan Yudha kali ini, untuk berapa lama? Sepertinya aku belum melihat tanda tanda mereka akan segera kembali. " Tanya Sandy sambil menatap istrinya yang sedang membantunya memasang dasi.


" Lalu memangnya kenapa? Aku sendiri juga belum melihat tanda tanda gadis itu akan pergi meninggalkan rumah ini. " Balas Kyra setelah selesai memasang dasi.


" Kenapa kamu menghubungkannya dengan Alina? Alina tinggal di sini karena aku yang membawanya. Dia tidak punya tempat tinggal. Dia tidak punya orang tua. Aku sudah menganggap dia sebagai putriku. Jadi dia akan tinggal sampai dia merasa bosan. Sedangkan Yudha dan Zanitha, mereka datang kemari seperti biasanya, hanya untuk berkunjung. Mereka masih punya rumah sendiri. Apa mereka sedikit pun tidak merasa canggung terus berada di sini? " Ucap Sandy tegas sambil menatap istrinya.


" Lalu menurut kamu, apakah aku harus mengusir mereka? Yudha adalah temanku, kamu juga sudah mengenalnya dengan baik. Mereka adalah orang baik, aku tidak punya alasan untuk mengusir mereka. Lagi pula aku suka dan merasa nyaman dengan keberadaan Zanitha di rumah ini. Dia bisa menemaniku setiap saat. Kau sendiri tahu, Adelio telah pergi. Itu sebabnya aku merasa kesepian. Jika tidak ada Zanitha yang menemaniku, aku tidak tahu harus berbuat apa. " Ucap Kyra membela dan mendukung keberadaan Yudha dan anaknya di rumah mereka. Kyra sengaja mencari alasan agar Sandy tidak mempermasalahkan lagi.


" Kamu seharusnya bisa meminta Alina untuk menemani kamu. Dia sebenarnya adalah anak yang baik. Aku yakin dia tidak akan keberatan. Dia sangat penurut. " Sandy berusaha membujuk Kyra.


" Tapi aku yang keberatan! Aku tidak sudi berada dekat dengannya. Kamu dan Adelio sudah dibuat bodoh oleh gadis itu. Tapi aku, tidak akan bisa dibodohi oleh siapapun. " Kyra membantah dengan tegas.


" Kenapa kamu selalu saja tidak menyukainya? Asal kamu tahu, dia tidak pernah mempengaruhiku atau pun Adelio. Itu karena kami bisa menilai orang dengan benar. Aku tidak mengerti bisa bisanya kamu membenci orang tanpa alasan. " Sandy berkata tetap dengan nada yang lembut sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Tapi Kyra mengacuhkannya.


" Baiklah, aku harus segera pergi. Aku berharap Tuhan segera membukakan mata hati kamu agar kamu bisa terlepas dari rasa benci yang tidak tepat. Berusahalah untuk mengenalnya lebih dekat. Aku yakin kamu pasti akan menyukainya. " Ucap Sandy lalu mengecup kening Kyra sebelum dia melangkah keluar. Kyra hanya diam mematung.


" Aku justru merasa sebaliknya. Tuhan seharusnya memberi kalian petunjuk agar kalian bisa membuka mata kalian dengan benar. Bagaimana bisa kalian menganggap sama seorang gadis yang tidak jelas asal usulnya itu. Kalian begitu mudah dibohongi. Tapi aku, tidak akan semudah itu untuk dia membohongi ku. Aku akan terus berusaha untuk membuktikan bahwa gadis itu memiliki maksud terselubung. Setelah itu, kalian lah yang akan menyesal. " Dengan tatapan tajam, Kyra bergumam dalam hati.