Alina

Alina
BAB 12 Pertengkaran



Jam pelajaran telah selesai. Sudah waktunya seluruh siswa dan siswi untuk pulang ke rumah masing masing.


Di saat siswa siswi lain telah berhamburan ke luar kelas, Alina masih merapikan alat tulis yang ada di atas mejanya. Hanna terus memperhatikan gerak gerik Alina dengan prihatin tapi tidak mampu mengucapkan apa pun.


Di sisi lain, Darren sedang menunggu Alina dan Hanna di sisi pintu untuk pulang bersama seperti biasanya.


" Hanna, sepertinya hari ini aku tidak bisa pulang bersama kalian. Masih ada hal yang harus aku kerjakan. Jadi, kalian pulang duluan saja yaa. " Ucap Alina sambil menatap Hanna. Sedangkan Hanna malah memalingkan wajahnya ke arah Darren. Darren pun akhirnya menghampiri mereka.


" Apa mereka melukai kamu? " Darren bertanya dengan tegas dan emosional.


" Tidak ada. Sudah aku katakan kalau aku baik baik saja. Dan kamu juga bisa melihatnya sendiri. " Jawab Alina tidak kalah tegas.


" Baiklah, aku percaya padamu. Maka biarkan kami menunggu sampai kamu selesai, dan kita akan pulang bersama sama. " Ucap Darren memutuskan sepihak.


" Tidak perlu. Kalian jangan membuang waktu. Lagi pula nanti aku bisa pulang sendiri. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku. " Alina berkata sambil tersenyum untuk meyakinkan kedua temannya itu.


" Alina, kenapa kamu terus menyembunyikan perasaan kamu? Kami adalah teman kamu. Kami percaya padamu. Kamu juga harus percaya pada kami. Ku mohon ceritakan pada kami apa yang sebenarnya telah terjadi? " Hanna bertanya dengan sedih sambil menatap mata Alina. Ia tidak ingin temannya itu merasa sendirian karena ia sangat peduli padanya.


Mendengar ucapan Hanna, Alina tidak kuasa menahan air matanya. Ia pun langsung memeluk Hanna dan menangis di pelukan sang teman. Darren yang melihatnya merasa terharu. Hanna pun memeluk tubuh Alina dengan erat sambil mengusap punggungnya dengan lembut.


" Menangislah. Menangislah sampai kamu merasa lega. Kami akan selalu menemani kamu. Jangan takut, kamu tidak sendiri. Ada kami yang akan selalu mendukung kamu. " Ucap Hanna dengan sedih dan penuh perhatian.


Alina kemudian melepaskan pelukannya terhadap Hanna. Hanna menatap Alina sambil mengusap air mata yang ada di pipinya.


" Terima kasih karena kalian selalu menemani aku. " Ucap Alina sendu.


" Tidak perlu berterima kasih. Kita sudah seperti saudara. Kamu tidak boleh sungkan. " Ucap Hanna dengan raut wajah sedih.


" Alina, apa mereka sering menyakiti kamu? Atau melukai kamu? " Tanya Darren dengan sangat khawatir.


" Tidak Darren. Mereka hanya tidak terlalu menyukai keberadaanku di dalam rumah itu. Lagi pula, kemarin aku memang bersalah. Aku pulang telat tanpa memberi kabar terlebih dulu. Mungkin karena itu juga mereka jadi mengkhawatirkan aku. " Ucap Alina berusaha untuk tetap membela mereka yang telah menyakiti dirinya. Namun dalam hati Darren, dia sama sekali tidak percaya dengan alasan yang di jelaskan oleh Alina.


" Aku hanya berharap semoga apa yang kamu katakan adalah benar . " Singgung Darren dengan sinis, membuat Alina menundukkan kepalanya.


" Kalau begitu, ayo kita segera pulang. " Ajak Hanna sambil menganggukkan kepalanya menatap Alina. Alina pun menganggukkan kepalanya pertanda ia menyetujui ajakan Hanna.


Darren kemudian keluar kelas lebih dulu sambil membanting pintunya, ia merasa kesal karena Alina masih tidak mau menceritakan yang sebenarnya. Hanna dan Alina kemudian menyusul berjalan di belakangnya.


***


Sesampainya di rumah, Alina berpapasan dengan Sandy yang juga baru sampai. Dari jauh, Sandy sudah tersenyum pada Alina. Begitu pula Alina. Darren dan Hanna yang dengan sengaja ingin mengantar Alina sampai di rumah, saling menatap.


" Paman . " Sapa Alina sambil menyunggingkan senyumnya.


" Ya. Kamu baru pulang? Kenapa kamu tidak mengajak teman teman kamu untuk masuk? Ayo, ajak mereka masuk. " Tegur Sandy yang tangannya seolah mengajak mereka semua masuk ke dalam rumah.


" Tidak perlu paman, terima kasih. Kami juga harus segera pulang. " Ucap Darren dengan senyumnya.


" Begitu ya! Baiklah, tapi lain kali kalian harus main di sini menemani Alina. " Tawar Sandy.


" Baik paman. Kami permisi dulu. Alina, kami pulang dulu ya. Sampai ketemu besok. " Ucap Hanna kemudian sambil melambaikan tangannya ke arah Alina.


" Baiklah, terima kasih sudah mengantar aku pulang. Kalian hati hati yaa.. " Balas Alina yang juga sambil melambaikan tangannya ke arah mereka.


Darren dan Hanna pun kembali ke rumah mereka masing masing. Sedangkan Sandy merangkul bahu Alina sambil berjalan masuk.


" Mulai besok, Paman akan menyiapkan satu mobil lagi untuk kamu. Jadi kamu tidak perlu merepotkan teman teman kamu setiap hari. Rasanya tidak enak juga. " Ucap Sandy merasa bersalah karena tidak bisa memberi Alina fasilitas yang memadai.


" Tidak perlu Paman. Lagi pula arah rumah Darren searah dengan kita. Jadi dia bisa sekalian mengantar aku. " Alina menjelaskan.


" Begitu ya? Alina, Paman minta maaf yaa gara gara Zanitha menggunakan mobilnya, kamu jadi harus menumpang pada orang lain. " Sandy berkata sambil menatap Alina dengan perasaan bersalah.


" Tidak Paman, kau tidak perlu meminta maaf. Aku tidak masalah. Lagi pula Zanitha lebih membutuhkannya. Letak sekolahnya kan lebih jauh. Paman tidak perlu mengkhawatirkan aku. Mereka adalah teman temanku. Kami memang sudah terbiasa saling membantu. " Jawab Alina sembari tersenyum.


" Baik, pergilah. " Sandy menganggukkan kepalanya.


" Kamu sudah pulang? " Ucap Kyra yang tiba tiba keluar dari kamarnya.


" Ya " Jawab Sandy singkat.


" Ada yang perlu ku bicarakan denganmu. " Ucap Sandy menatap sekilas istrinya. Kyra kemudian duduk di sebelah Sandy sambil memijat mijat bahu Sandy.


" Apa ada masalah di perusahaan? " Tanya Kyra dengan santai.


" Bukan! Aku hanya ingin kamu mengatur mobil yang di pakai Zanitha agar juga bisa di pakai Alina. Mobil itu dari awal sudah dipakai Adelio dan Alina. Mengapa tiba tiba sekarang mobil itu seolah menjadi milik Zanitha? " Sandy berkata dengan tegas, Kyra langsung menghentikan gerakan tangannya. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.


" Alina lagi, Alina lagi. Alina, Alina, Alina. Setiap saat dalam otak kamu hanya ada nama gadis sial itu. Apa dia begitu penting bagi mu? " Kyra mengatakannya dengan berteriak kesal.


" Apa gadis itu sangat istimewa di dalam hati kamu? Katakan, sebenarnya ada hubungan apa di antara kalian? Kenapa kamu begitu peduli padanya tanpa mempedulikan bagaimana perasaanku. Sandy, ayo jawab aku dengan jujur. " Kyra berkata penuh dengan rasa cemburu. Tapi Sandy tidak menghiraukannya malah melirik sebentar kemudian bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya.


Melihat Sandy beranjak, Kyra pun dengan segera menyusul langkah Sandy. Sampai keduanya sama sama masuk ke kamar.


" Aku tidak tahu apa yang membuat kamu begitu peduli pada gadis yatim piatu itu. Sepertinya dia begitu spesial bagi mu. Siapa dia sebenarnya? Apakah dia adalah putri dari Elvina, kekasih gelap mu dulu? Hah?? " Kyra mencecar jawaban dari Sandy.


" Tutup mulut kamu. Elvina bukan kekasih gelap ku. " Jawab Sandy dengan tegas. Ia berniat ingin keluar dan berusaha menghindari pertanyaan istrinya. Namun Kyra tidak melepaskan dia begitu saja.


" Aku mengerti sekarang. Jadi selama ini kalian masih berhubungan di belakang ku? Kalian berselingkuh sampai dia mati. Dan kamu, kamu bahkan membohongi ku sampai dia mati. Pantas saja sikap mu berubah selama beberapa tahun terakhir ini. Aku yang bodoh karena tidak bisa menyadarinya. Hhhhh... Bahkan setelah dia mati pun, kamu masih tidak bisa melupakannya? Makanya kamu sangat peduli pada anaknya? Atau kamu telah menganggap anaknya sebagai pengganti dirinya? " Tanya Kyra dengan sinis.


" Hentikan omong kosong mu itu!!! " Bentak Sandy.


" Hhhhh, berani sekali kamu membawa gadis sial itu untuk tinggal di rumah ini. Sekarang juga, aku akan mengusirnya. Aku tidak sudi rumahku di tinggali seorang yang memiliki masa lalu dengan kamu. Dia harus pergi sekarang juga. " Kyra berteriak sambil membuka pintu kamar dan hendak keluar. Namun gerakan Sandy lebih cepat. Dia dengan gesit menangkap tangan Kyra kemudian mendorongnya ke tempat tidur. Kyra pun menangis sejadi jadinya.


" Jangan pernah kamu mencoba untuk menyentuh dia. " Ancam Sandy sambil menunjukkan jarinya di depan wajah Kyra.


" Ternyata benar, kamu masih belum bisa melupakan wanita ****** itu. Itu artinya selama ini kamu selalu mengingat dia. Selama ini kamu masih berhubungan dengan dia. Selama ini, diam diam kamu telah mengkhianati ku. Kamu sekarang bahkan berani membawa anak haram kalian untuk tinggal bersama ku. Aku tidak rela. Aku tidak akan pernah menerima dia. Aku akan segera mengusir dia. Percaya atau tidak, aku akan segera menyeret dia keluar dari rumah ku. " Kyra melampiaskan rasa sakit hatinya sambil berteriak dan menangis.


Dia kemudian bangkit dan berusaha untuk keluar dari kamarnya. Lagi lagi Sandy menangkapnya dengan gesit dan kembali melempar tubuhnya ke tempat tidur. Kyra tidak mampu melawan tenaga dari suaminya itu. Ia hanya bisa menangis.


" Asal kamu tahu, Alina bukan putri ku. Dia bukan anak kami. Jadi kamu jangan asal bicara. Jangan sembarangan membuat fitnah! " Tegas Sandy dengan sedikit mengancam.


" Aku tidak peduli. Siapa pun dia, aku tetap akan membencinya. Karena dia berhubungan dengan masa lalu mu. Seumur hidup ku, aku akan membencinya. Aku membenci ibunya, aku juga harus membenci anaknya, cucunya. Dan siapa pun yang ada hubungannya dengan wanita ****** itu. " Ucap Kyra dengan geram sambil memelototkan matanya pada Sandy.


" Plaakkkk " Suara tamparan yang begitu nyaring. Kyra terkejut menerima sebuah tamparan dari suaminya itu.


" Kamu memukul ku? Kamu memukulku demi seorang wanita ****** yang sudah mati? " Tanya Kyra lirih sambil memegang pipi yang baru di tampar. Sandy bahkan tidak melihatnya, dia mengalihkan pandangannya di tempat lain.


" Dia bukan wanita ******. Dia mencintai aku dengan tulus. Kamu pun tahu bahwa aku juga sangat mencintainya. Tapi kamu bersikeras untuk memisahkan kami dengan menghalalkan segala macam cara. Demi kebaikannya, aku terpaksa meninggalkannya. Dalam hatiku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Karena kamu, aku jadi seorang pengkhianat. Jadi siapa yang ******, kamu seharusnya tahu lebih jelas. " Sambil mengenang kejadian masa lalu dalam benaknya, Sandy mengungkapkan penyesalannya pada wanita yang dengan terpaksa telah ia nikahi.


" Kau !! " Kyra kehabisan kata kata.


Sandy benar benar tidak bisa berkata apa apa lagi untuk membujuk istrinya itu. Karena dia tahu betul bagaimana rasa benci Kyra terhadap Elvina yang pernah menjadi kekasihnya dahulu. Ia hanya ingin melindungi Alina, satu satunya orang yang di tinggalkan Elvina. Ia ingin menebus dosanya terhadap Elvina di masa lampau.


Sandy membuang nafasnya dengan kasar lalu keluar dari kamar itu dan membanting pintunya. Kyra hanya diam menyaksikan kepergian laki laki itu. Di dalam dadanya terasa sangat sesak, dia sekali lagi mendapati suami yang sangat di cintainya itu masih tidak bisa melupakan cinta pertamanya. Dia bahkan membawa seorang anak yang merupakan bagian dari cinta lamanya untuk tinggal bersama keluarganya. Ia merasakan sakit yang teramat sangat.


Ia terus membiarkan air matanya mengalir menangisi laki laki yang hampir selama dua puluh tahun menghabiskan waktu bersamanya. Namun ia tetap tidak mendapatkan ruang di dalam hatinya. Meski mereka telah di karuniai seorang anak laki laki, ia tetap tidak bisa memiliki Sandy secara utuh sebagai suaminya. Bagaimana ia harus menerima begitu saja perlakuan dari laki laki yang sangat di cintainya itu? Tentu tidak semudah itu ia bisa menerima kenyataan pahit dalam hidupnya ini.


" Aku tidak akan memaafkan mu. Aku tidak akan pernah memaafkan kalian. " Teriak Kyra sambil menangis di dalam kamarnya.


Sandy yang sudah keluar dari kamar sejak tadi, ternyata masih berada di depan pintu. Dia mendengarkan tangisan, cacian dan makian dari istrinya yang masih berada di dalam. Dalam hatinya, dia tentu merasa bersalah. Tapi di sisi lain, sebelum kejadian hari ini ada hal yang lebih menyakitkan yang membuat ia tidak bisa berhenti untuk menyesal dan tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


Hal yang paling ia sesali adalah tidak bisa mempertahankan cinta nya dan tidak bisa melindungi wanita yang sangat ia cintai di masa lalu. Jika di masa lalu, ia tidak melakukan kesalahan maka ia pasti sudah hidup bahagia tanpa harus menyakiti banyak orang, terutama Kyra yang telah menjadi istrinya selama hampir dua puluh tahun.


Setelah Sandy tidak lagi mendengar suara dari dalam kamar, ia segera melangkahkan kakinya keluar. Ia keluar ingin mencari ketenangan setelah pertengkaran yang baru saja ia alami.