
# Hari ini adalah hari keberangkatan Adelio ke Amerika. Seluruh keluarga termasuk Zanitha dan Yudha pun turut mengantar ke Bandara. Begitu juga Alina #
Adelio dan Alina duduk sejajar sambil mengobrol.
" Alina, saat aku tidak ada kamu harus menjaga diri kamu dengan baik. Jangan biarkan tubuhmu terlalu lelah. Kamu harus merindukan aku, memikirkan aku dan memimpikan aku saat kamu tidur. Ingat, aku akan kembali. Kamu harus sabar untuk menungguku. Lima tahun akan berlalu dengan cepat. " Ucap Adelio pada Alina.
" Kenapa banyak sekali peraturan yang harus aku patuhi? " Balas Alina dengan sedikit mengerucutkan bibirnya.
" Ya, tentu saja kamu harus patuh. Kamu tidak boleh mengkhawatirkan aku. Aku akan selalu menjaga diriku dengan baik hanya untuk kamu. Aku akan kembali demi diri kamu. " Adelio terus meyakinkan Alina. Alina mendengarkannya sambil senyam senyum sendiri karena ia merasa Adelio seperti anak kecil. Alina merasa lucu dan sangat tersentuh akan perhatian yang diberikan oleh Adelio pada dirinya.
" Kamu tenang saja. Aku bukan anak kecil lagi. Aku pasti bisa menjaga diriku sendiri. "
Jawab Alina meyakinkan Adelio.
" Selain itu, kamu juga harus menjaga hati kamu. Ingat, jangan sembarangan membuka hati kamu untuk orang lain. Karena aku sudah ada di dalamnya. Tidak ada yang bisa mengusirku. Tempat itu hanya akan menjadi milik ku. Jadi kamu jangan coba coba melirik pria lain. Kalau itu terjadi, aku akan menghukum kamu. " Tegas Adelio. Alina yang mendengarnya merasa semakin lucu, ia pun tersenyum.
" Apa yang sedang kamu tertawakan? " Tanya Adelio sambil mengerutkan keningnya.
" Tidak ada. Aku hanya merasa hari ini kamu sangat banyak berbicara, dari pada biasanya. Sangat menarik. "
Jawab Alina sambil tersenyum lebar menghadap Adelio.
" Kamu membuat aku gemas. Jangan sampai aku mencium kamu di sini. " Ancam Adelio. Alina seketika langsung menghilangkan senyum di wajahnya.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Zanitha terus memperhatikan mereka berdua. Zanitha merasa sangat kesal karena melihat mereka sangat akrab dan terus terusan tertawa. Bagi Zanitha, ini adalah sebuah pemandangan yang bisa merusak kedua matanya. Akhirnya ia pun tidak sabar dan segera menghampiri mereka berdua.
" Adelio, sebelum kamu pergi apakah kamu tidak ingin memelukku terlebih dulu? Butuh waktu yang lumayan lama untuk kita bisa berkumpul lagi bukan? " Ucap Zanitha sambil menatap Adelio penuh harap. Sedangkan Adelio menoleh pada Alina. Ia seakan bertanya pada Alina apakah ia mengizinkannya memeluk Zanitha.
Alina pelan pelan menganggukkan kepalanya sambil menoleh ke arah Adelio. Setelah mendapat persetujuan Alina, ia pun berdiri menatap Zanitha.
" Baiklah, sebentar saja ya. " Ucap Adelio. Zanitha pun tersenyum merekah dan langsung mendekap Adelio.
" Adelio, aku pasti akan sangat merindukan kamu. Aku harap kamu juga begitu. Dan jangan pernah lupa, kalau aku selalu menunggu kepulangan kamu. " Ucap Zanitha sambil memeluk Adelio. Alina hanya
menunduk diam. Adelio yang melihat reaksi Alina kemudian melepas pelukan Zanitha.
" Tentu saja. Aku pasti akan merindukan kalian semua. Kalian harus menjaga diri baik baik. " Ucap Adelio sambil memandang Alina. Zanitha yang melihat langsung Adelio yang berbicara padanya tapi matanya menatap orang lain tentu saja merasa kesal dan geram.
" Aku ada di sini Adelio. " Ucap Zanitha kesal, sambil menarik wajah Adelio agar menghadap ke arahnya.
" Ya, aku tahu Zanitha. " Jawab Adelio sambil menoleh sekilas pada Zanitha kemudian kembali menatap Alina dengan tatapan penuh perhatian dan cinta. Zanitha merasa dirinya seperti sebuah patung yang tidak di anggap sama sekali.
Alina merasa tersipu dengan tatapan Adelio. Ia terus menundukkan kepalanya. Hal tersebut membuat Zanitha semakin jengkel bukan main.
Tak lama, pengumuman untuk penumpang pesawat bertujuan Amerika pun di umumkan. Adelio segera bersiap siap.
***
Pesawat yang di tumpangi Adelio pun perlahan lahan terbang semakin tinggi. Alina kembali merasa hampa. Ia memandangi pesawat itu hingga tidak lagi dapat dilihat oleh matanya.
***
Setelah kembali ke rumah, Alina dengan lesu ingin membuka pintu kamarnya. Namun secara tiba tiba Zanitha menarik tangan Alina kemudian menampar Alina dengan sangat keras hingga membuat Alina terjatuh karena kaget dan tanpa persiapan.
" Zanitha, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memukulku? Apa aku melakukan kesalahan yang telah menyinggung kamu? " Tanya Alina sambil berusaha untuk berdiri kembali dan memegang pipi yang kena tamparan itu. Ia merasa kesakitan, hingga air mata berada di pelupuk matanya.
" Hhhhh, dasar perempuan tidak tahu malu. Kamu sungguh sangat murahan. Berani beraninya kamu merebut Adelio dariku. Selama ini kamu sengaja mencari perhatian darinya agar dia peduli padamu dan mengacuhkan aku. Kamu memang tidak tahu diri. " Cibir Zanitha dengan tatapan menghina.
" Apa maksud kamu? Aku tidak pernah sengaja mencari perhatian dari Adelio. Aku juga tidak pernah berniat untuk merebutnya dari kamu. " Elak Alina tidak mau kalah.
" Gadis busuk, kamu di sini hanya menumpang. Apa kamu tidak pernah menyadari status kamu seperti apa? Sekarang kamu malah bermimpi ingin memiliki Adelio. Kamu jangan keterlaluan. Jangan pernah berharap mimpi kamu itu bisa jadi kenyataan. Kalian sama sekali tidak pantas. Kamu hanya pantas menjadi pelayan di rumah ini. " Ujar Zanitha meremehkan.
" Aku ingin bermimpi apa, itu sama sekali bukan urusan kamu. Menjadi kenyataan atau tidak, juga bukan kamu yang menentukan. " Bantah Alina dengan tegas.
" Kauu... " Zanitha mengangkat tangannya bermaksud untuk menampar kembali Alina, namun kali ini Alina langsung menangkap tangannya.
" Aku tidak akan pernah membiarkan kamu menyentuhku lagi. " Alina menghempaskan dengan kasar tangan Zanitha kemudian segera masuk ke dalam kamarnya. Zanitha semakin kesal dibuatnya. Ia tidak menyangka ia akan di lawan.
***
" Bibi, Adelio baru saja pergi. Tapi aku merasa sudah sangat merindukannya. " Ucap Zanitha sambil mengaitkan tangannya pada lengan Kyra dengan manja dan malu malu.
" Ya, kamu benar. Bibi juga merindukannya. Tapi dia pergi demi masa depannya. Kita harus memberikan dukungan padanya. Kamu yang sabar yaa, suatu hari Adelio akan kembali bersama kita lagi. Kita akan berkumpul seperti dulu lagi. " Ucap Kyra sambil tersenyum dan mengusap kepala Zanitha dengan penuh rasa kasih sayang.
" Bibi, apa aku boleh menanyakan satu hal padamu? " Zanitha berkata dengan ragu.
" Tentu saja nak. Apa yang ingin kamu tanyakan? " Jawab Kyra ramah.
" Hmm ini tentang Alina. Kira kira sampai kapan dia akan tinggal di rumah ini? " Zanitha memberanikan diri bertanya. Kyra berpikir sejenak.
" Secepatnya aku akan membuat dia keluar dari rumah ini. Sebenarnya aku juga tidak menyukai keberadaannya di antara keluarga kami. Hanya aku tidak memiliki kuasa penuh atas rumah ini. Paman kamu yang ingin dia tinggal di sini, jadi aku tidak bisa melawannya. Aku sendiri juga tidak tahu sampai kapan gadis sial itu akan tinggal di sini. Aku benar benar muak melihat wajahnya yang terlihat sok polos itu. " Ucap Kyra dengan tatapan mata penuh kebencian.
" Bibi, kau harus bersabar. Jangan biarkan dia terus mempengaruhi paman sehingga dia bisa menguasai rumah ini. Juka aku lihat paman Sandy sangat perhatian padanya. Membuat dia semakin melunjak dan merajalela. Selain itu, aku juga merasa Adelio telah berhasil dipengaruhi olehnya. Adelio bahkan sangat menunduk ketika ada di hadapannya. Adelio selalu mendengarkan dan patuh pada gadis itu. Aku tidak habis pikir, Adelio bisa begitu tunduk padanya. " Ucap Zanitha seraya menghasut Kyra.
" Ya, kamu benar. Bibi juga sependapat dengan kamu. Tapi kamu tenang saja. Kamu jangan takut, Hal ini tidak akan berlangsung lama. Aku harus bisa membuat gadis sial itu segera meninggalkan rumah ini. " Ucap Kyra sambil tersenyum dan mengusap punggung Zanitha dengan lembut.
***
Di kamar, Alina sedang membaca buku di meja belajarnya. Tidak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu kamarnya. Alina terkejut kemudian bangkit berdiri ke arah pintu dan membukanya.
" Kamu belum tidur? " Tanya Sandy setelah Alina membuka pintu kamarnya.
" Belum paman. Aku belum bisa tidur makanya sekarang aku sedang membaca buku cerita " Jawab Alina.
" Tidak apa apa. Tapi jangan menunggu hingga larut malam baru tidur. Anak seusia kamu tidak boleh kurang istirahat. " Ucap Sandy menasehati.
" Iya paman, aku mengerti. " Jawab Alina.
" Paman hanya ingin mengatakan bahwa segala urusan kepindahan sekolah kamu sudah selesai di urus. Kita hanya tinggal menunggu panggilan dari sekolah. " Sandy menyampaikan hal hal yang bersangkutan dengan sekolah Alina..
" Terima kasih paman. Selama ini aku selalu merepotkan mu. Aku banyak sekali berhutang pada paman. Entah bagaimana aku baru bisa membayarnya kelak. " Ucap Alina sambil menunduk.
" Anak bodoh !!! Siapa yang memintamu untuk membayar apa yang telah aku lakukan. Hal yang menyangkut dirimu, sudah menjadi tanggung jawab ku. Kamu hanya perlu belajar yang serius untuk menggapai cita citamu. Tidak perlu banyak berpikir. Kamu harus menjaga kesehatanmu dengan baik. " Ucap Sandy sambil tersenyum dan membelai rambut Alina. Dan Alina hanya menganggukkan kepalanya.
" Bagaimana pun, aku harus berterima kasih banyak pada paman. Aku akan berusaha membuat paman bangga padaku. Aku tidak akan mengecewakan paman. " Balas Alina sambil tersenyum.
" Kalau begitu sekarang, istirahatlah. Besok kamu masih harus bangun pagi. " Ucap Sandy yang kemudian pergi meninggalkan Alina. Alina pun menutup kembali pintu kamarnya.
# Keesokan Harinya #
Alina berkunjung ke rumah Hanna. Mereka berdua asyik mengobrol di dalam kamar Hanna.
" Jadi sekarang Adelio sudah pergi? " Tanya Hanna.
" Ya Hanna. Dia sudah pergi. Dia baru akan kembali sekitar empat samapi lima tahun kedepan. " Jawab Alina lesu. Hanna merasa simpatik.
" Apa kamu merasa kesepian? Kamu pasti merindukan dia kan? " Tanya Hanna dengan gaya menggoda dan tersenyum tipis.
" Sebenarnya iya, aku mulai merindukannya. Bahkan, ketika aku melihat pesawat yang is tumpangi semakin menjauh. Rasanya dia sudah pergi sejak lama dan aku ingin dia segera kembali, tapi itu tidak mungkin. Karena kenyataannya, dia baru saja pergi. Dan butuh waktu yang lama agar dia kembali. " Jawab Alina dengan ekspresi tersipu malu.
" Alina, apa kamu mulai suka padanya? " Tanya Hanna penasaran.
" Bukan hanya aku yang menyukai dia. Tapi dia juga mengatakan bahwa dia suka padaku. Dia bahkan meminta aku untuk menunggu dia kembali karena dia mengatakan akan menikahi ku. Itu yang dia katakan padaku. " Ucap Alina bersemangat.
" Wahhhh kamu beruntung sekali bisa bertemu dengan seorang pria tampan seperti Adelio. Kemudian kalian bisa saling menyukai. Tapi,, apa kamu yakin kalau dia bisa di percaya dan tidak akan mengkhianati kamu? " Tanya Hanna ragu ragu.
" Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu. Tapi aku akan berusaha untuk percaya padanya. Aku merasa yakin bahwa dia tidak mungkin akan membohongi aku. " Ucap Alina dengan tegas.
" Sebagai sahabat kamu, aku akan selalu memberikan dukungan padamu. Semoga kamu bahagia Alina. " Ucap Hanna sambil tersenyum.
" Terima kasih Hanna. Kamu memang sahabatku yang paling baik. Aku bahagia dan sangat bersyukur Tuhan telah memberikan aku seorang teman seperti kamu. " Ucap Alina kemudian menarik Hanna dan memeluknya. Hanna pun membalas pelukan Alina.
Memang sejak kecil, Alina dan Hanna sudah saling mengenal. Mereka pun dengan penuh ketulusan berteman baik hingga sekarang. Mereka selalu saling mendukung, dan selalu saling berbagi baik dalam keadaan senang maupun sedih, dan belum pernah saling mengkhianati.