
" Bagaimana perasaan kamu sekarang? " Tanya Adelio sambil memiringkan kepalanya untuk menatap wajah Alina.
" Aku merasa jauh lebih tenang. Tidak ku sangka, aku bisa merasa lega. " Jawab Alina sambil tersenyum. Adelio pun tersenyum puas lalu meraih tangan Alina dan menggenggamnya. Alina merasa terkejut dengan perlakuan Adelio. Adelio yang melihat reaksi Alina, langsung menjelaskan.
" Kelak jangan menangis lagi yaa. Jika ada masalah, aku siap berbagi dengan kamu. " Alina mengerutkan keningnya, dia merasa tidak mengerti dengan pernyataan Adelio. Adelio menatap Alina dan tersenyum.
" Maaf, semalam aku sempat mengintip kamu dan ibuku. Aku merasa ibu sudah sangat keterlaluan. Saat ia pergi meninggalkan kamu, aku melihat kamu menangis. Dan aku tahu kau menangis sampai lelah hingga kamu tertidur. " Adelio menjelaskan karena ia merasa iba pada Alina.
Alina merasa tidak enak saat mendengar semua penjelasan dari Adelio. Ia pun hanya menundukkan kepalanya sambil menggigit bibirnya. Adelio yang melihatnya, menepuk nepuk bahu Alina. Alina menatap Adelio.
" Aku mewakili ibuku meminta maaf padamu. " Adelio berkata.
" Aku tidak apa - apa, tidak perlu minta maaf. Terima kasih telah membawaku kemari. Ini lebih dari cukup. " Ucap Alina sambil tersenyum.
" Jangan sungkan. " Jawab Adelio juga sambil memberikan senyumnya.
" Sudah hampir sore, ayo kita pulang. Suatu hari kita akan datang ke sini lagi. Aku akan menemani kamu. " Ucap Adelio. Alina menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka pun pulang bersama ke kediaman Adelio.
# Sesampainya di rumah, mereka masuk ke kamar masing masing untuk mandi dan berganti pakaian #
Tok..tok..tok.. Sandy mengetuk pintu kamar Adelio. Adelio membuka pintu, Sandy pun masuk.
" Adelio, tidak lama lagi kamu akan segera menghadapi ujian. Kamu harus persiapkan dirimu karena ayah sudah mendaftarkan kamu di Universitas xxx.. di Amerika sesuai dengan keinginan kamu. " Ucap Sandy pada anak semata wayangnya itu.
" Ayah tenang saja. Aku tidak mungkin lupa. Aku akan mendapatkan nilai terbaikku. Aku tidak akan membuat ayah kecewa. Setelah selesai ujian, aku akan mempersiapkan semuanya. Terima kasih karena ayah selalu mendukungku. " Jawab Adelio dengan yakin dan pasti tanpa ada keraguan sedikitpun di dalam nada bicaranya. Ia adalah anak yang bisa dipercaya dan di andalkan oleh orang tuanya.
" Baguslah. Ayah selalu percaya padamu. Kamu adalah kebanggaan ayah dan akan selalu menjadi kebanggaan ayah. " Jawab Sandy sambil menepuk nepuk bahu Adelio, lalu keluar dari kamarnya.
# **Di Taman Belakang Rumah Adelio** #
Alina duduk di ayunan yang di ayunkan pelan olehnya. Adelio yang melihatnya segera menghampiri Alina. Alina tersenyum melihat Adelio.
" Ternyata kamu ada di sini. Aku mencari kamu. " Ucap Adelio.
" Ada apa? " Tanya Alina heran.
" Tidak ada apa apa. Aku hanya ingin ngobrol denganmu saja. " Jawab Adelio sambil membantu Alina mendorong ayunan yang di dudukinya.
" Jangan terlalu kencang. " Pinta Alina.
" Apa kamu merasa takut? " Tanya Adelio penasaran.
" Bukan begitu. Aku hanya tidak sedang menguji nyali. " Alina menjelaskan.
" Hahahaha... " Adelio tertawa mendengar jawaban Alina kemudian ia semakin kuat mendorong rantai ayunan hingga membuat wajah Alina merah ketakutan.
" Aarrgggghhhh " Alina berteriak.
Adelio semakin senang dan semakin kuat mendorong rantai ayunan tersebut.
" Hahahaha... " Tawa Adelio.
" Adelio, aku mohon hentikan. " Teriak Alina memohon pada Adelio.
" Bukankah kamu tidak takut? " Ledek Adelio.
" Ya, aku takut. Aku menyerah, tolong hentikan. " Jawab Alina sambil memejamkan matanya. Adelio pun menahan rantai ayunan tersebut hingga berhenti.
" Kenapa kamu begitu jahat? " Tanya Alina sambil cemberut.
" Aku tidak tahu kalau kamu benar benar takut. Maaf yaa. " Jawab Adelio dengan merasa bersalah. Alina kemudian turun dari ayunannya.
" Dasar penakut. " Ucap Adelio sambil membelai rambut Alina.
" Sebenarnya tidak terlalu takut juga. Aku hanya sedikit kaget saat tiba tiba kamu mendorong ayunannya sampai sekencang itu. Aku kan hanya ingin santai. " Ucap Alina sambil cemberut.
" Jadi kamu mempermainkan aku yaa? " Tanya Adelio.
" Hahaha... maaf. Aku memang sengaja. " Jawab Alina sambil tertawa.
" Apa? Ternyata kamu.. " Adelio ingin meraih Alina, namun Alina menghindar dan berlari. Adelio pun mengejar Alina.
" Hei.. Kemari Kau! Jangan lari. Aku akan menangkap kamu. Berani sekali kamu mempermainkan ku!!! " Teriak Adelio.
" Hahaha... Tidak! ". Alina menggelengkan kepalanya sambil tertawa dan terus berusaha menghindar dari kejaran Adelio.
Mereka berkejar kejaran sambil tertawa. Hingga akhirnya Adelio berhasil menangkap lengan Alina.
" Kena kau! " Ucap Adelio semangat.
" Hahaha... Jangan! ... Aarrrggghhhh.. " Teriak Alina yang tubuhnya sedikit lagi akan menyentuh tanah karena Adelio menangkap tangannya. Akhirnya Adelio berhasil menahan dan mendekap tubuh Alina agar tidak benar-benar terjatuh.
" Adelio, lepaskan aku. " Bisik Alina karena ia merasa risih dengan perlakuan Adelio.
" Tidak! Kamu berani sekali mempermainkan aku. Heh??? " Adelio menatap mata Alina sambil mendekap tubuh Alina, sedangkan Alina berusaha mendorong tubuh Adelio dan menghindari tatapan matanya yang tajam. Adelio malah semakin mempererat dekapannya hingga Alina berhenti meronta. Saat keduanya benar benar saling menatap, Adelio mengecup kening Alina lalu melepaskan tubuh Alina.
" Adelio? " Alina memanggil pelan nama Adelio karena terkejut dengan ciuman di kening yang dilakukan Adelio. Matanya menatap penuh heran.
" Itu hukuman untuk kamu karena telah berani mempermainkan aku. " Jawab Adelio sambil tersenyum. Sedangkan Alina hanya diam terpaku.
Tanpa mereka sadari di sudut lain ada sepasang mata yang sedang memperhatikan gerak gerik mereka dengan tatapan penuh kebencian. Orang itu tak lain adalah ibu dari Adelio, Kyra. Dari kejauhan Kyra menatap tajam dengan kejam ke arah mereka.
" Anak ini, berani sekali dia menentangku. Dia bahkan berani merayu anakku. Dia pikir dia itu siapa? Secara terang terangan menentang aturan yang sudah ku buat. Aku harus melakukan sesuatu. Adelio tidak boleh masuk ke dalam perangkap gadis sial ini!!! " Gumam Kyra dengan geram. Kemudian ia meninggalkan tempat dimana ia melihat sepasang remaja itu bermain dengan asyik.
# **Keesokan harinya, di sekolah Alina** #
" Alina, bagaimana rasanya tinggal di rumah orang kaya? Apa kamu betah di sana? " Tanya Hanna penasaran.
" Kalau boleh jujur, sebenarnya aku merasa tidak terlalu nyaman. Tapi jika aku menolak, aku lebih tidak enak lagi terhadap paman Sandy. Jadi aku tidak punya pilihan lain. " Jawab Alina.
" Asalkan mereka bersikap baik padamu, aku rasa tidak akan ada masalah bukan? " Ucap Hanna yakin.
" Iya Hanna, kau benar. Ohya, ngomong ngomong apa kamu sudah siap ujian minggu depan? " Tanya Alina untuk mengalihkan pembicaraan.
" Siap tidak siap, tetap saja kita harus siap. Memangnya bisa bagaimana lagi? " Jawab Hanna dengan pasrah.
" Bagaimana jika kita belajar bersama di rumahku? " Ucap Darren yang tiba tiba muncul di hadapan mereka.
" Benar, Alina. Bagaimana menurutmu ? Kita juga sudah lama tidak belajar bersama kan? " Ucap Hanna seraya setuju dengan ajakan Darren.
" Kalau begitu, aku harus minta izin dulu pada paman Sandy. " Jawab Alina.
" Siapa Paman Sandy? Setahuku kau tidak memiliki paman. " Tanya Darren penasaran.
" Paman Sandy adalah sahabat ibu Alina yang selama ini telah merawat Alina. Alina sekarang tinggal bersama Paman Sandy itu. " Jawab Hanna menjelaskan pada Darren.
" Jadi begitu? " Ucap Darren.
# Setelah pulang sekolah, di kediaman keluarga Sandy #
Saat Adelio keluar dari kamarnya, dia melihat Alina bergegas turun. Lalu ia mengejar Alina.
" Alina. " Adelio memanggil lalu Alina berhenti dan menoleh pada Adelio.
" Kamu mau ke mana? Kenapa begitu terburu buru? " Tanya Adelio.
" Aku ingin pergi untuk belajar bersama di rumah teman ku. Tadi aku sudah meminta izin pada Paman Sandy. " Ucap Alina jelas.
" Ohh begitu. Apa aku boleh ikut? Aku tidak ada kegiatan, jadi aku merasa bosan di rumah. Kamu tidak keberatan kan? " Pinta Adelio.
" Tapi aku dan teman temanku akan belajar bersama. Kalau kamu ikut,... ". Alina menjawab kemudian terputus.
" Apakah kamu takut aku akan mengganggu? " Tanya Adelio dengan nada kecewanya.
" Bukan begitu maksudku. Baiklah, kalau kamu memang mau ikut. Ayo kita pergi sekarang. Mereka pasti sedang menungguku. " Ajak Alina dengan semangat.
# Di Rumah Darren #
Hanna melihat Alina datang dengan seorang pria. Hanna lalu membantu membuka pintu dan mengajak Alina masuk.
" Akhirnya kamu datang juga. Tadi kami sempat berpikir bahwa kamu tidak di izinkan keluar rumah. " Ucap Hanna.
" Tidak mungkin, jika sudah janji aku pasti akan datang. Maaf yaa, kalau aku terlambat. " Jelas Alina.
" Tidak apa apa. Eh ngomong ngomong, kamu membawa siapa? " Tanya Hanna sambil menyikut pelan tangan Alina.
" Oh iya, kenalkan. Dia Adelio, anaknya Paman Sandy. " Jawab Alina sambil memperkenalkan.
" Wow, tampan sekali. " Puji Hanna tanpa rasa malu karena merasa takjub melihat wajah Adelio yang tampan. Alina kembali menyikut lengan Hanna dan berbisik pelan.
" Jangan membuat aku malu. "
Adelio tersenyum pada Hanna dan mengulurkan tangannya.
" Hallo, aku Adelio. " Adelio memperkenalkan diri.
" Hmmm, Aku Hanna. " Jawab Hanna seraya menyambut tangan Adelio. Kemudian Darren keluar dengan membawa 3 gelas minuman. Darren merasa aneh melihat kehadiran Adelio, orang yang tidak dia kenal.
" Alina, kamu sudah datang? " Tanya Darren.
" Ya, Darren. " Jawab Alina. Darren menatap Adelio seolah bertanya siapa dirinya.
" Hmm, Darren maaf aku membawa temanku ikut datang ke sini. Dia adalah Adelio. Adelio, ini temanku Darren. " Alina kembali memperkenalkan Adelio pada Darren.
" Tidak apa apa Alina. Senang bertemu denganmu, Adelio. " Jawab Darren kemudian menyapa Adelio dan tersenyum.
" Senang juga bisa mengenal kamu, Darren. " Adelio dan Darren berjabat tangan.
Mereka berempat berkumpul belajar bersama. Setelahnya mereka ngobrol sambil bercanda, hingga waktunya pulang. Darren mengantar ketiga orang itu hingga di depan pintu. Alina, Hanna dan Adelio kemudian menaiki mobil yang di bawa Adelio.
# Di Dalam Mobil #
" Alina, maaf ya aku jadi harus merepotkan kalian. " Ucap Hanna.
" Kenapa kamu jadi begitu sungkan? Bukankah kita adalah teman? " Jawab Alina. Kemudian mereka berdua tersenyum. Adelio pun ikut tersenyum karena dia juga merasa senang bisa berteman dengan teman teman Alina.
***
Sesampainya di depan rumah Hanna, Hanna kemudian turun dari mobil.
" Alina, Adelio, terima kasih yaa tumpangannya. Kalian hati hati yaa. Sampai jumpa, bye bye... " Hanna dan Alina melambaikan tangannya.
Setelah Hanna turun, Adelio menatap Alina.
" Apakah ada sesuatu di wajahku? " Tanya Alina sambil meraba raba wajahnya.
" Tidak ada. Aku hanya ingin mengatakan jika kamu merasa ada kesulitan dalam pelajaran sekolah kamu, aku bisa membantu kamu. Kamu tidak perlu sampai keluar rumah hanya untuk belajar. " Jelas Adelio.
" Tapi kami sudah terbiasa melakukan kegiatan seperti tadi. Bukankah itu sangat menyenangkan? " Bantah Alina.
" Mulai sekarang, tidak perlu lagi. " Ucap Adelio lebih tegas. Alina terbengong dan tidak mengerti maksud dari perkataan Adelio. Tapi, dia hanya diam saja dan tidak banyak bertanya.
" Darren sepertinya tidak menganggap kamu hanya sebagai teman. Aku bisa melihat tatapan matanya saat menatap kamu. Dan dia menunjukkan rasa ketidak sukaannya padaku. " Gumam Adelio dalam hati. Ia pun menyapukan wajahnya dengan kasar membuat Alina menoleh karena terkejut.
" Adelio, kamu kenapa? " Tanya Alina ragu dan penuh heran.
" Tidak ada. " Jawab Adelio singkat. Alina pun tidak berani bertanya lagi karena dia merasa sepertinya suasana hati Adelio sedang tidak baik. Sedangkan Adelio entah memikirkan apa, tapi dalam hatinya merasa tidak terlalu tenang. Dia sendiri bingung dengan perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Alina kemudian hanya menundukkan kepalanya dan tidak berani menoleh ke arah Adelio. Sedangkan Adelio terus memandang ke luar jendela untuk menenangkan pikirannya.