Alina

Alina
BAB 1 Hati Yang Pilu



 


Di sebuah pemakaman, seorang gadis yang berusia sekitar 15 tahun, bernama Alina sedang menangis pilu di sebuah batu nisan milik ibunya. Dia ditemani seorang pria dewasa, yang merupakan sahabat terbaik dari mendiang ayah dan ibunya, Sandy.


" Alina, jangan menangis lagi nak. Ibumu akan sedih jika melihatmu terus seperti ini. Biarkan ia beristirahat dengan tenang. " Ucap Sandy sambil membelai rambut gadis itu, dan memeluk bahunya berusaha untuk memberinya ketenangan.


" Paman, sekarang hanya tinggal aku sendiri. Aku sungguh tidak ingin hidup lagi. " Alina menjawab dengan suaranya yang serak.


" Tidak nak, kamu tidak boleh bicara begitu. Ibumu akan sedih jika mendengarnya. Kamu masih punya paman. Paman janji akan menjaga dan melindungi mu. Mulai sekarang kamu bisa menganggap aku sebagai ayahmu sendiri. " Sandy berupaya menghibur Alina, Alina menatap wajah Sandy sekilas dan menyunggingkan sedikit senyum untuk menutupi kesedihannya kemudian menundukkan kepalanya.


***


Beberapa saat kemudian, di luar pagar sebuah rumah tua, Alina memandangi rumah itu dengan tatapan mata yang sendu. Sandy memeluk bahu Alina sambil membantu membawakan tas berisikan pakaian milik Alina.


" Ayo nak, hari sudah semakin gelap. " Ucap Sandy pada Alina. Alina kemudian menganggukkan kepalanya lalu Sandy membukakan pintu mobil untuk Alina, Alina pun naik ke dalam mobil. Kemudian mobil mereka pun melaju.


Sesampainya mereka di depan sebuah rumah mewah, di kota Pangkal Pinang Bangka, Alina dan Sandy turun dari mobil. Sandy merangkul bahu Alina untuk masuk menuju ke dalam rumah.


" Ayo, rumah ini sekarang adalah tempat tinggal barumu. Masuklah. Kau harus menganggap rumah ini sebagai rumahmu sendiri. " Sandy berkata dengan semangat.


" Terimakasih Paman. " Jawab Alina lesu.


" Tidak perlu sungkan. Sudah ku katakan padamu, anggaplah aku sebagai orang tuamu sendiri. Jika ada masalah, kamu bisa langsung mengatakannya padaku, jangan merasa sungkan. " Ucap Sandy menjelaskan. Alina menganggukkan kepalanya menandakan dia mendengar apa yang di katakan Sandy.


Saat mereka hendak masuk ke dalam rumah, mereka di sambut seorang pria yang berusia sekitar 18 tahun bernama Adelio yang merupakan satu - satunya anak laki - laki dari Sandy dan seorang wanita dewasa bernama Kyra yang merupakan istri Sandy.


Adelio pun menghampiri mereka.


" Ayah, kalian sudah sampai. " Sapa Adelio.


" Ya, tentu saja. Alina, perkenalkan ini putra semata wayangku, Adelio. Adelio, ini Alina. Gadis yang pernah ayah ceritakan padamu sebelumnya. " Sandy memperkenalkan Adelio kepada Alina sambil tersenyum senang.


Adelio dan Alina saling menatap kemudian tersenyum sambil berjabat tangan dan memperkenalkan diri mereka masing - masing.


" Hai.. aku Adelio. " Sapa Adelio, memperkenalkan diri.


" Hai, aku Alina. " Alina menjawab, sambil menyambut jabat tangan dari Adelio.


Kyra yang sedari tadi memperhatikan mereka kemudian menghampiri mereka.


" Ehem... Adelio, bukankah kau sedang mengerjakan tugas sekolahmu? Cepat masuk dan lanjutkan pekerjaan mu. " Ucap Kyra kepada Adelio.


" Aku sudah selesai mengerjakannya. Ibu jangan khawatir. " Adelio menjawab dengan yakin kepada ibunya.


" Ehhh, oh ya Alina, kenalkan ini dia istriku, Kyra. Kyra, ini Alina. Gadis yang pernah aku ceritakan padamu waktu itu. " Sandy bermaksud mengenalkan Kyra pada Alina.


" Hallo bibi, apa kabar? Namaku Alina. " Alina mengulurkan tangannya. Kyra menatap malas Alina dan berpura pura tidak melihat uluran tangan Alina yang ditujukan padanya.


Melihat sikap istrinya, Sandy merasa tidak enak kemudian meminta Adelio mengantar Alina ke kamar yang telah mereka siapkan sebelumnya.


" Adelio, tolong kau antarkan Alina ke kamarnya. Dan bantu dia membawa barangnya. " Perintah Sandy pada Adelio.


" Baiklah, ayah. Alina, ayo ikut denganku."


Alina menganggukkan kepalanya. Alina dan Adelio secara bersamaan ingin mengangkat tas milik Alina. Mereka kemudian saling menatap.


" Tidak usah, biar aku saja. Aku bisa membawanya sendiri. " Ucap Alina lugu.


" Kalau begitu, biar aku bantu bawa satu saja ya. " Tawar Adelio.


" Baiklah. " Alina menjawab, keduanya pun tersenyum lalu beranjak ke lantai dua dari rumah tersebut. Sementara Sandy dan Kyra beranjak menuju sofa ruang tamu mereka.


" Besok, anak siapa lagi yang akan kamu undang untuk tinggal di rumah ini?. " Ucap Kyra dengan nada yang sedikit kesal dan menyindir.


" Sudah pernah aku katakan padamu sebelumnya bukan? Orang tua Alina adalah sahabat terbaik ku. Sekarang mereka telah tiada. Aku tidak tega melihat dia harus tinggal sendirian. Itu akan membuat dia terus larut dalam kesedihannya. " Sandy menjawab dengan perasaan yang sedih.


" Kalau begitu, kenapa tidak kamu kirim dia ke panti asuhan saja? Kenapa harus tinggal di rumah ini? Apakah rumah ini akan menjadi tempat tinggal bagi yatim piatu? " Kyra dengan tegas membantah.


" Ini sudah menjadi keputusanku. Siapa pun tidak bisa mengubahnya. " Sandy menjawab dengan


tidak kalah tegas kemudian beranjak dengan malas meninggalkan Kyra di ruangan itu. Terlihat sekali dari raut wajah Kyra, dia sama sekali tidak menyukai kedatangan Alina ke dalam rumahnya.


***


Alina dan Adelio tiba di depan pintu sebuah kamar. Adelio membuka pintu dan mempersilahkan Alina untuk masuk.


" Ini adalah kamarmu. Masuklah. Setelah perjalanan panjang, kamu pasti lelah. Beristirahatlah hingga makan malam nanti. Jika sudah waktunya untuk makan malam, aku akan memanggilmu. " Adelio berkata seolah sudah akrab dengan Alina.


" Terimakasih. Maaf telah merepotkanmu. " Alina menjawab dengan tersenyum.


" Tidak masalah. Jika kamu perlu sesuatu, kamu bisa memanggilku. Kamarku ada di sebelah kamarmu. " Adelio menunjukkan kamarnya pada Alina.


" Ayo, biar ku bawakan masuk tasnya. " Adelio mengangkat kembali tas milik Alina yang sebelumnya ia letakkan di lantai saat ia membuka pintu kamar itu.


" Iya, terimakasih yaaa. " Alina berkata sambil tersenyum. Adelio hanya menanggapi Alina dengan senyumannya.


" Baiklah, aku tinggal dulu ya. Kamu, istirahatlah. "


Alina mengangguk dan tersenyum. Begitu pula Adelio, tersenyum kemudian masuk ke kamarnya. Alina lalu menutup pintu kamarnya. Dia memperhatikan setiap sudut ruangan di kamarnya. Tentu saja kamar itu lebih luas jika dibandingkan dengan kamar yang ada dirumah tua milik orang tuanya, ia pun lalu duduk di tepi tempat tidur.


" Ayah, Ibu, mengapa kalian tega meninggalkan aku begitu awal? Aku sangat merindukan kalian. Aku takut. Aku sungguh takut. Aku merasa Bibi Kyra sepertinya tidak menyukaiku. Aku tidak tahu harus bagaimana? " Gumam Alina lalu ia membuang kasar nafasnya, kemudian merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Karena cukup lelah, Alina akhirnya tertidur.


***


Waktu untuk makan malam pun tiba. Adelio keluar dari kamarnya lalu berjalan ke depan pintu kamar Alina.


" Alina.. Alina.. Sudah waktunya untuk makan malam. " Adelio memanggil Alina sambil mengetuk pintu kamarnya.


Di dalam kamar, Alina baru selesai mandi dan berganti pakaian. Ia kemudian keluar menemui Adelio.


" Kamu sudah siap? Ayo kita turun. Ayah dan Ibu pasti sudah menunggu kita. " Ucap Adelio.


Alina hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka turun bersama menuju ruang makan. Sesampainya di ruang makan, Sandy langsung menyapa Alina.


" Duduklah nak, kamu pasti sudah lapar bukan? Makanlah yang banyak, agar tubuhmu bisa sedikit lebih gemuk. " Sandy berkata sambil tersenyum lebar, sedangkan Kyra melirik kesal.


" Mulai besok, kamu bisa membantu pelayan kami untuk menyiapkan sarapan, makan siang maupun makan malam. Agar kamu bisa lebih nyaman saat makan di rumah ini. " Kyra pun akhirnya turut bicara.


" Apa maksudmu? " Sandy memotong ucapan Kyra dengan kesal.


" Tidak apa - apa paman. Aku sudah terbiasa melakukannya saat di rumah. " Ucap Alina seketika karena dia takut Sandy akan marah pada istrinya.


" Kamu dengar itu? Dia saja tidak merasa keberatan, kenapa kamu harus emosi? " Kyra lagi lagi berkata dengan nada kesal.


" Alina, aku mengajakmu tinggal di sini adalah karena.. " Sandy berniat menjelaskan.


" Paman, kamu sendiri juga sudah tahu bagaimana kebiasaanku bukan? Biarkan aku membantu menyiapkan makanan, itu sama sekali tidak sulit. " Alina menjawab Sandy sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Sandy pun tidak bisa berkata apa - apa, sebab dia sendiri sudah tahu bahwa Alina sangat terbiasa melakukan pekerjaan rumah, terutama memasak. Sementara Adelio hanya memperhatikan perilaku ayah ibunya serta Alina. Dia pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" Sudahlah! Kalau kalian bicara terus, kapan kita akan mulai makan? Aku sudah lapar. "


Perkataan Adelio berhasil memecah suasana yang canggung.


***


Setelah selesai makan malam, Alina berada di balkon dekat kamarnya. Adelio yang melihatnya pun menghampirinya.


" Kamu sedang apa disini? " Pertanyaan Adelio sedikit membuat Alina terkejut.


" Tidak ada. Aku hanya ingin menghirup udara malam hari. " Jawab Alina dengan senyum manisnya yang membuat Adelio suka melihatnya.


" Oh. Apa kamu ingin aku temani? " Tanya Adelio. Alina menatap Adelio, kemudian tersenyum.


" Boleh saja, kalau kamu tidak keberatan. "


Adelio pun tersenyum mendengar jawaban Alina.


" Sebenarnya ada yang ingin ku sampaikan padamu. " Kata Adelio.


" Apa? " Tanya Alina.


" Sikap ibuku. Dia memang memiliki sifat seperti itu, tapi...percayalah padaku. Ibuku adalah orang baik. " Mendengar perkataan Adelio, Alina tersenyum padanya dan menganggukkan kepalanya.


" Tentu saja. Aku tahu Paman dan Bibi adalah orang yang baik. " Sahut Alina sambil menengadahkan kepalanya menghadap langit yang diterangi oleh sinar rembulan.


" Syukurlah kalau begitu. Aku harap kamu betah tinggal di sini. Kalau ada apa - apa, atau jika kamu memerlukan sesuatu, katakan saja padaku. Aku akan membantumu. " Adelio merasa senang karena melihat sikap Alina yang tidak mudah tersinggung.


" Terimakasih. " Jawab Alina singkat.


" Jangan terus - terusan berterima kasih. Aku belum melakukan apa - apa untuk kamu. "


Alina pun tertawa lepas mendengar ucapan Adelio. Ini pertama kalinya Alina bisa tertawa lepas sejak kepergian ibunya. Akhirnya mereka pun berbincang - bincang tentang kehidupan mereka masing - masing. Mereka ngobrol dan bercanda, hingga tanpa mereka sadari waktu sudah sangat larut.


" Jadi begitu? Baiklah, mulai sekarang kita berteman ". Ucap Adelio sambil mengulurkan tangannya. Alina pun menyambut tangan Adelio. Lagi - lagi mereka pun tertawa.


Tanpa mereka sadari, Kyra berdiri di belakang mereka dengan tatapan mata yang tajam dan penuh kebencian.


" Ehem ehem.." Suara Kyra mengejutkan Alina dan Adelio. Mereka pun secara bersamaan menoleh ke belakang.


" Ibu? " Adelio menyapa ibunya.


" Apa yang sedang kalian lakukan di sini, tengah malam begini? " Selidik Kyra dengan nada sedikit membentak.


" Kami hanya mengobrol, Bu ". Jawab Adelio dengan santai.


Kyra menghampiri mereka, lalu berdiri tepatnya di hadapan Alina.


" Apa kamu juga terbiasa melakukan hal seperti ini? ". Tanyanya dengan tegas pada Alina.


" A.. Apa maksud bibi? " Alina kembali bertanya dengan gugup.


" Hhhhhh, apakah kamu sudah terbiasa berduaan dengan seorang pria asing hingga larut malam seperti ini? Apakah ibu kamu tidak pernah menegur kamu? Beginikah gaya hidup gadis kampung seperti kamu? " Kyra terus melontarkan pertanyaan dengan ketusnya hingga membuat Alina sedikit bergetar.


" Bu.. " Adelio berusaha menghentikan ibunya.


" Ibu tidak sedang bicara dengan kamu Adelio. Jadi lebih baik kamu diam. " Bentak Kyra pada Adelio. Adelio pun langsung terdiam saat ibunya menggertaknya. Karena dia memang tidak pernah sekali pun membantah perkataan ibunya. Sedangkan Alina, dia merasa sangat tidak nyaman. Hingga dia sendiri pun tidak tahu harus menjawab apa. Yang dia rasakan saat ini hanyalah ketakutan.


Kyra yang tidak di jawab oleh Alina, merasa geram. Dia pun memerintah Adelio untuk meninggalkan mereka.


" Adelio, sudah waktunya kamu untuk masuk ke dalam kamar kamu dan tidur. Ibu tidak suka melihat kamu melakukan hal - hal yang tidak berguna dengan orang asing. " Kyra memerintah Adelio dengan tegas.


" Tapi bu..." Adelio berusaha ingin membujuk sang ibu yang terlihat sangat marah.


" Sejak kapan kamu berani membantah ibu kamu ini? Apakah dia yang telah mempengaruhi kamu? " Lagi lagi Kyra membentak Adelio.


" Bu, ibu salah paham. " Adelio berusaha ingin menjelaskan.


" Aku bilang, Masuk!!! " Kyra kembali memerintah pada putranya itu.


" Baiklah. " Ia pun menghela nafas panjang kemudian beranjak pergi meninggalkan Alina bersama dengan ibunya. Setelah Adelio pergi, Kyra kembali menatap Alina dengan tatapan mata yang tajam.


" Aku mengizinkan kamu untuk tinggal di dalam rumah ku, bukan berarti aku memberi kamu kebebasan untuk melakukan hal sesuka hatimu. Perlu kamu ketahui, rumah ku memiliki banyak peraturan. " Kyra dengan tegas berkata pada Alina.


" Maafkan aku, Bibi. Aku tidak bermaksud untuk... " Jawab Alina.


" Tunggu!!! Sandy, suamiku mungkin mengenal orang tua kamu. Tapi tidak dengan ku. Jadi, kamu jangan merasa begitu akrab dengan ku. " Kyra merasa lebih kesal ketika mendengar Alina sok akrab dan memanggilnya dengan sebutan Bibi.


" Maafkan aku, Nyonya. " Jawab Alina dengan gugup karena ia merasa sangat terkejut dengan perlakuan Kyra terhadap dirinya.


" Hhhhhhh.... Kamu juga jangan berusaha untuk mendekati putra ku. Dia memiliki banyak teman wanita yang lebih baik dari kamu. Kamu tidak pantas berteman dengannya. Jadi, aku harap kamu bisa mengerti posisi kamu. " Kyra berkata sambil memelototkan matanya.


" Baik, Nyonya ". Jawab Alina pelan.


Kyra kemudian meninggalkan Alina sendiri. Alina tidak kuasa menahan air matanya. Alina kemudian beranjak ke kamarnya. Dia mulai berbaring dan memakai selimutnya sambil berlinang air mata di pipinya. Alina kemudian membayangkan masa - masa bahagia saat orang tuanya masih hidup.


" Aku sungguh merindukan kalian, aku ingin selamanya bersama kalian. Mengapa kalian meninggalkan aku sendirian? " Gumam Alina sambil menangis, ia merasa sangat sedih dengan nasib yang di alaminya saat ini. Ia terus menangis hingga akhirnya ia pun tertidur.