Alina

Alina
BAB 2 Mulai Akrab



 


Keesokan harinya, Alina sudah bangun dan sudah selesai mandi. Ia lalu bergegas turun untuk membantu pelayan menyiapkan sarapan. Sesampainya di dapur, pelayan rumah yang bernama Rina menyapa Alina.


" Selamat Pagi Nona Alina. "


" Selamat Pagi Kak Rina. Apa yang bisa aku bantu? " Sapa Alina dengan sopan.


" Biar aku yang menyiapkannya Kak ". Ucap Alina seraya mengambil piring makanan, namun Rina mencegahnya.


" Tidak perlu Non. Tuan besar melarang kami membiarkan Nona turut membantu pekerjaan kami. " Rina menjelaskan pada Alina.


" Kenapa begitu? Lagi pula sebelumnya aku sudah terbiasa menyiapkan sarapan untuk ibu dan diri ku sendiri. Aku senang bisa melakukannya. Paman juga sudah setuju untuk itu. " Alina merasa bersalah karena tidak diizinkan membantu.


" Tidak Non, sungguh Tuan besar tidak akan membiarkan kamu melakukannya. Kami tidak ingin melanggar perintah beliau. " Rina menjelaskan kembali. Alina lalu menyerah dan mematuhi ucapan Rina.


" Baiklah, kalau begitu aku ganti baju dulu ". Alina berkata tak berdaya.


" Baiklah, Nona Alina. " Jawab Rina dengan senyum yang ramah.


Alina akhirnya kembali ke kamarnya dan mengganti pakaian nya menjadi pakaian seragam sekolah. Setelah selesai berganti pakaian, Alina pun keluar kamar. Namun pada saat membuka pintu, Alina melihat Adelio yang akan mengetuk pintu kamarnya. Keduanya pun tersenyum.


" Kamu sudah siap? " Tanya Adelio. Alina hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Adelio.


 


" Alina, hmmm... mengenai kejadian semalam aku ingin minta maaf pada mu. Aku harap kamu tidak marah pada ibuku. " Adelio berkata dengan perasaan tidak enak karena perlakuan ibunya semalam.


" Tentu saja tidak. Lagi pula, memang aku yang salah. Tidak seharusnya aku mengajak kamu ngobrol hingga larut malam. Sebagai orang tua, ibumu sudah sepantasnya merasa khawatir. " Alina menjawab tanpa menyalahkan ibunya. Adelio pun tersenyum mendengar perkataan Alina.


" Sebenarnya tidak ada yang salah. Semalam itu, aku juga ingin mengobrol dengan kamu. Selama ini, aku tidak punya saudara ataupun teman ngobrol dirumah. Hanya saja, ibuku yang terlalu khawatir hingga berlebihan seperti itu. Baiklah, kalau begitu ayo kita sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Aku akan mengantar kamu terlebih dulu. " Adelio berusaha membuat Alina nyaman dan tidak merasa bersalah.


" Tapi... " Alina tiba - tiba mengingat perintah Kyra agar dirinya menjaga jarak dengan Adelio.


" Ada apa? " Tanya Adelio heran.


" Kamu tidak perlu mengantar aku. Aku bisa berangkat sendiri. " Jelas Alina.


" Memangnya kenapa? Bukankah sekolah kita searah? Tenang saja, aku tidak akan menculik kamu. " Papar Adelio pada Alina lantaran penasaran.


" Tidak apa - apa. Aku hanya tidak ingin merepotkan kamu. Apa lagi kalau sampai kamu terlambat ke sekolah kamu. " Jelas Alina.


Adelio tertawa mendengar alasan Alina.


" Hahahahaa... mana mungkin aku repot? Supir yang akan mengantar kita ke sekolah. Dan aku tidak akan terlambat. Lagi pula ini masih awal. " Adelio memperjelas.


" Ohh,, begitu yaa? " Jawab Alina singkat karena ia tidak tahu harus berkata apa lagi.


" Sudahlah, jangan banyak berpikir. Yang ada nanti, kita malah jadi benar - benar terlambat. Ayo.. " Adelio menarik tangan Alina untuk segera pergi ke ruang makan. Alina pun kehabisan kata - kata, dan ia hanya bisa mengikuti Adelio turun ke ruang makan untuk sarapan.


***


Setibanya mereka di ruang makan, Sandy yang sudah duduk menghadap meja makan memberikan senyum pada Alina. Begitu pula sebaliknya.


" Selamat Pagi Paman. Selamat Pagi Nyonya '' Sapa Alina pada pasangan suami istri pemilik rumah itu dengan sopan. Alina mengucap salam disertai tatapan yang menandakan rasa takut terhadap Kyra. Namun Kyra tidak menanggapi Alina. Hanya Sandy yang membalas salam dari Alina.


" Selamat Pagi Alina. Duduklah. Mulai hari ini supir akan mengantar kamu dan Adelio ke sekolah. Kamu bisa memulai menjalankan harimu seperti biasanya. Ingat, jika kamu perlu sesuatu, kamu harus mengatakannya pada paman. " Ucap Sandy.


" Tapi paman, aku bisa berangkat sekolah sendiri. Aku tidak ingin terlalu banyak merepotkan kalian di sini. " Alina menolak dengan halus.


" Tidak ada yang merasa direpotkan oleh kamu di sini. Kamu hanya perlu mendengar dan menuruti kata paman. Lagi pula jarak dari sini ke sekolah kamu lebih dekat dibanding ke rumah kamu yang dulu. " Sandy menegaskan pada Alina. Alina sedikit melirik sekilas ke arah Kyra yang sedari tadi sibuk mengunyah makanan seolah tidak perduli tentang pembicaraan Sandy dengan Alina.


" Baiklah kalau begitu. Terima kasih, paman. " Alina menjawab dengan nada pasrah.


***


Beberapa saat kemudian, Alina dan Adelio berada dalam satu mobil. Mereka sama - sama duduk di kursi penumpang barisan belakang. Adelio sesekali melirik ke arah Alina sambil tersenyum - senyum sendiri. Sedangkan Alina hanya menunduk tidak memperhatikan apapun. Sebenarnya Alina merasa canggung. Tentu saja, karena dia merasa dirinya bukanlah siapa - siapa. Sedangkan Adelio adalah seorang Tuan Muda kelas atas. Alina sama sekali tidak pernah berpikir akan duduk di dalam sebuah mobil mewah bersama seorang Tuan Muda.


" Hei, Apa yang sedang kamu pikirkan? " Tanya Adelio pada Alina sehingga Alina membuyarkan lamunannya.


" Tidak ada. " Jawab Alina singkat.


" Benarkah? Hmmm, pulang sekolah nanti, aku akan menjemput kamu. Kamu harus menungguku yaa. " Ucap Adelio. Alina hanya menganggukkan kepala. Karena dia merasa tidak mungkin lagi menolak tawaran Adelio.


Sesaat kemudian, Alina turun dari mobil. Adelio melanjutkan perjalanannya.


Saat Alina turun dari mobil, ada seseorang yang memperhatikannya dari jarak yang tidak terlalu jauh. Kemudian orang itu memanggil Alina dengan antusias. Dia adalah Hanna, sahabat terbaik bagi Alina.


'' Alina!!! " Teriak Hanna.


Alina pun berjalan ke arah Hanna sambil tersenyum.


" Alina, apa kamu benar - benar telah tinggal di rumah seorang paman yang pernah kau ceritakan itu? " Tanya Hanna penasaran.


" Iya Hanna. Paman Sandy berkali - kali mengatakan bahwa beliau sangat mengkhawatirkan aku. Aku sebenarnya tidak ingin menyusahkannya lagi, membiarkan dia setiap hari datang ke rumah ku hanya untuk melihat keadaanku. Jadi aku terpaksa menuruti keinginannya. Semalam, aku sudah mulai tinggal dirumahnya. " Alina menjawab dengan nada pasrah.


" Wow.. Kamu sangat beruntung. Di saat, orang tua kamu tidak lagi ada di sisi kamu, kamu masih punya orang lain yang sangat perduli padamu. Aku turut bersyukur. " Hanna berkata dengan kagum.


" Kamu benar Hanna. Paman Sandy sangat baik padaku. Dia bahkan sudah menganggap aku sebagai anaknya sendiri. Dia juga ingin aku menganggap dia sebagai orang tua aku. " Alina pun menjelaskan dengan semangat.


" Apakah dia hanya sendirian? Maksudku, apakah dia tidak punya anak? " Tanya Hanna.


" Benarkah? Waahhh, Apakah dia tampan? " Tanya Hanna kembali dengan rasa penasaran yang tinggi sambil senyam senyum menunggu jawaban Alina.


" Kamu ini. " Alina menjawab dengan malu - malu membuat Hanna malah semakin penasaran.


" Kenapa? Apakah dia sangat tampan? Ya Tuhan... Alina, kamu benar - benar beruntung. Siapa tahu kalian berjodoh. " Ucap Hanna antusias.


" Sssttttt... kita ini masih kecil, belum waktunya bicara soal jodoh. Lagi pula aku mana cocok dengan dia? Dia itu adalah seorang Tuan Muda kelas atas. Sedangkan aku? Aku bukan siapa - siapa. Jadi, aku tidak akan bermimpi terlalu tinggi. Lagipula, aku harus menyelesaikan sekolahku dulu. " Alina menjawab dengan tegas agar Hanna tidak berpikir berlebihan.


Di saat mereka sedang asyik ngobrol, muncul seorang pria di hadapan mereka. Dia adalah Darren, sahabat bagi Alina dan Hanna. Kedatangannya membuat Alina dan Hanna sedikit terkejut.


" Hai !!!. Apa yang sedang kalian bicarakan? Kenapa tampaknya kalian begitu bersemangat di pagi hari ini ? " Tanya Darren penasaran.


" Ini urusan anak perempuan. Anak laki - laki tidak boleh ikut campur. " Hanna menjawab Darren dengan tingkah yang sedikit jutek.


"Kalian sungguh tidak adil. Kenapa harus pakai rahasia segala? Kita ini kan teman. Kalian mulai tidak setia kawan. " Ucap Darren dengan nada kecewanya. Sedangkan Alina tersenyum mendengar perdebatan dari kedua sahabatnya itu.


"Sudah.. sudah.. Darren, kami tidak punya rahasia apapun. Kami hanya mengobrol biasa, kami hanya sedang membicarakan keadaanku saja. " Jelas Alina untuk meyakinkan Darren.


" Apa sesuatu telah terjadi padamu? " Tanya Darren seraya mengkhawatirkan Alina.


 " Tidak ada hal buruk yang terjadi padaku. Kamu jangan khawatir. " Jawab Alina yakin.


" Kamu tidak bohong kan? " Kata Darren memastikan.


" Untuk apa aku berbohong? Sudahlah, ayo kita masuk kelas. " Alina menjawab kemudian


ia memimpin jalan di depan, diikuti Hanna dan Darren.


" Kamu suka sekali ikut campur. Dasar kepo. " Gerutu Hanna pada Darren. Darren hanya mengangkat kedua bahunya sambil mengikuti langkah Alina ke kelas mereka.


***Sementara itu, di dalam mobil Adelio***...


Pak Ruslan, sang supir mengajak ngobrol Adelio.


" Tuan Muda, apa menurut kamu Nona Alina itu cantik? " Pak Ruslan memberanikan diri bertanya kepada Tuan Mudanya itu.


Adelio yang di tanya, alih alih menjawab malah tersenyum sendiri. Melihat Tuan Mudanya tersenyum, sang supir yang sudah berumur, tentu mengerti apa yang sedang dipikirkan anak muda itu.


# **Jam pulang sekolah pun tiba. Pak Ruslan menunggu Alina di depan pintu gerbang sekolah. Sedangkan Adelio menunggu di dalam mobil** #


Saat Alina berjalan bersama Hanna, Alina melihat Pak Ruslan sudah berdiri di depan sekolah.


" Hanna, supir Paman Sandy sudah datang menjemputku. Maaf, aku tidak bisa pulang bersama denganmu kali ini. " Ucap Alina dengan sedikit perasaan merasa bersalah pada sahabatnya itu.


" Apakah dia? " Hanna bertanya pada Alina sambil menunjuk ke arah Pak Ruslan. Alina menganggukkan kepalanya.


" Baiklah, kalau begitu, kamu pulang lah duluan. Tidak enak membiarkan orang menunggu. " Perintah Hanna sambil tersenyum ramah.


" Sebenarnya aku ingin sekali mengajak kamu untuk pulang bersamaku. Tapi aku tidak berani, karena aku sendiri juga menumpang. Aku harap kamu tidak marah padaku yaa. " Ucap Alina lesu.


" Dasar bodoh. Aku tentu mengerti. Aku tidak akan marah pada sahabatku sendiri. Baiklah, jangan biarkan mereka menunggu kamu. Jangan khawatir padaku, oke? " Hanna menjawab dengan senyum sambil menganggukkan kepalanya.


" Kalau begitu, sampai ketemu besok ya. Dadaahhhh. " Alina tersenyum puas pada sahabatnya itu. Kemudian dia melambaikan tangannya dan bergegas ke arah Pak Ruslan.


" Nona Alina, Tuan Muda menunggu kamu di dalam mobil. Mari masuk. " Pak Ruslan berkata dengan sopan. Alina pun mengikuti Pak Ruslan masuk ke dalam mobil.


" Apa kamu lelah? " Tanya Adelio setelah Alina masuk dan duduk.


" Tidak juga. " Jawab Alina.


" Kalau begitu, bagaimana kalau sebelum pulang aku ingin membawa kamu ke suatu tempat? Apa kmu bersedia? " Tanya Adelio.


'' Kita mau kemana? " Alina balik bertanya.


'' Nanti kamu juga akan tahu. Kamu hanya perlu duduk diam, dan Pak Ruslan yang akan membawa kita pergi ke suatu tempat. Ayo jalan Pak. " Perintah Adelio.


" Baik Tuan Muda. " Jawab Pak Ruslan.


***


Sesampainya mereka di suatu tempat, tempat itu adalah sebuah danau dengan pemandangan yang indah serta keadaan lingkungan yang bersih dan asri. Angin sepoi sepoi pun bertiup sehingga membuat keadaan menjadi sejuk. Adelio mengajak Alina turun dan berdiri di tepi danau. Mereka merentangkan kedua tangan mereka sambil menengadahkan kepala dan memejamkan mata mereka untuk menghirup udara segar di sana.


" Bagaimana, apa kamu suka? " Tanya Adelio.


" Udara di sini sangat sejuk, aku suka. " Jawab Alina sambil tersenyum lebar.


" Kalau begitu, ayo duduk. " Adelio mendudukkan tubuhnya kemudian menarik tangan Alina hingga ia pun terduduk di sampingnya.


 


" Apa kamu sering ke sini? " Tanya Alina.


" Saat aku sedang suntuk, aku akan kemari untuk membebaskan pikiranku. " Ucap Adelio.


Alina dan Adelio terdiam karena mereka fokus untuk menikmati suasana bebas di tepi danau itu. Alina merasa sangat nyaman, seketika ia pun bisa melupakan berbagai beban yang ada dalam pikirannya.


Karena sejak kepergian sang ibu, Alina terus larut dalam kesedihan dan jarang sekali bisa tertawa. Kali ini dia merasa lega, seperti bisa menghirup udara segar yang baru. Bersama Adelio membuat dia melupakan segala kesedihannya.