
***
Adelio sedang menatap sebuah foto yang ada di tangannya sambil tersenyum manis di dalam kamarnya.
" Alina. Sedang apa kamu di sana? Apa kamu merindukan aku? Aku di sini sangat merindukan kamu. " Gumam Adelio sambil tersenyum mengusap wajah yang ada dalam foto yang ada di tangannya. Kemudian mencium foto itu.
" Hei, apa yang sedang kamu lakukan? " Tanya Anthony yang secara tiba tiba masuk ke dalam kamar Adelio. Membuat Adelio kaget dan dengan segera menyembunyikan foto itu di bawah bantalnya.
" Apa kamu sudah siap? Ayo kita berangkat. " Ucap Adelio sambil bangkit berdiri.
" Tentu saja. Ayo!!! " Balas Tony sambil merangkul Adelio. Keduanya pun bersama pergi ke kampus tempat mereka kuliah.
***
Saat di rumah, Alina sedang sendirian menyiram pepohonan di halaman belakang rumah keluarga Sandy. Dari jarak jauh ada sepasang mata yang memperhatikan gerak gerik gadis itu. Sorot matanya sangat tajam sehingga tanpa sadar Alina pun merasa bergidik. Dia pun menoleh ke samping kiri, kanan serta ke bagian belakang dari tempat ia berdiri. Tapi ia tidak menemukan jejak apa pun. Selang beberapa menit kemudian, ia pun menghentikan kegiatannya dan merapikan selang air yang baru saja ia gunakan dan meletakkannya ke tempat semula.
Setelah itu, ia pun segera beranjak menuju ke dalam kamarnya. Saat ia telah masuk dan hendak menutup pintunya, tiba tiba ada sepasang tangan yang menahan pintu tersebut agar tidak segera tertutup. Alina sontak terkejut dan secara reflek kakinya bergerak mundur ke belakang.
Karena Alina bergerak mundur, orang itu pun dengan leluasa melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Alina dan dengan segera menutup pintunya serta menguncinya dari dalam. Alina semakin terkejut dan ketakutan melihat apa yang di lakukan Yudha di hadapannya. Ia sangat panik. Ya, orang yang sedari tadi mengamati gerak gerik Alina saat masih di halaman adalah Yudha, ayahnya Zanitha.
" Tuan Yudha, andaa.. a...apa yang sedang anda lakukan di sini? " Alina bertanya dengan tubuh bergetar karena Yudha terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Alina setelah mengunci pintunya. Gerakannya mengikuti gerakan Alina yang terus mundur hingga tubuh Alina mentok ke sebuah dinding, baru Yudha menghentikan langkahnya. Alina dengan penuh ketakutan menatap Yudha, sedangkan Yudha menyeringai mengerikan di hadapan Alina.
" Jika diperhatikan dari jarak dekat, ternyata kamu lumayan cantik juga. Pantas saja Adelio tertarik pada mu. Dia memang pintar. Tapi apakah dia akan seberuntung itu? " Ucap Yudha sambil mengangkat dagu Alina dan menatapnya .
" Lepaskan aku!!! " Alina segera menyingkirkan tangan Yudha dengan kasar.
" Gadis yang cantik tidak boleh kasar. Aku kemari karena aku ingin memberikan penawaran yang bagus padamu. Kau pasti akan tertarik. " Ucap Yudha sembari menyeringai.
" Aku tidak tertarik pada penawaranmu. " Jawab Alina setengah berteriak.
" Pelankan suara kamu. Kamu dengarkan dulu baik baik. Aku tidak percaya kamu tidak akan tertarik setelah mendengarkan aku. Kamu sangat cantik, bahkan lebih cantik dari yang aku kira. Karena aku tidak pernah menatap kamu sedekat ini, gadis kecil. " Ucap Yudha sambil mengusap lembut wajah Alina. Alina pun menepisnya dengan kasar.
" Jangan sentuh aku! " Teriak Alina.
" Hahahaa,, aku paling suka pada gadis yang sok jual mahal. Aku ingatkan, jika kamu ingin uang, aku bisa memberikannya padamu. Seberapa pun yang kamu inginkan. Dan jadilah milikku. Aku akan memanjakan kamu. Bagaimana, kau mulai tertarik bukan? " Seringai Yudha sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Alina. Alina pun berusaha menghindarinya.
" Maaf, aku tidak tertarik pada uangmu. Cepat keluar dari sini. Kalau tidak, aku akan berteriak. " Ancam Alina dengan tegas.
" Hahaha teriak saja kalau kamu mau teriak. Di rumah ini sekarang sedang tidak ada orang. Kamu pikir siapa yang akan menolong kamu? Adelio? Hahahahaha.... Jangan mimpi. Hanya ada aku disini. Aku akan menemani kamu menggantikan Adelio. Kamu pasti kesepian kan? Kemarilah sayang.. " Bujuk Yudha hingga membuat Alina merasa jijik. Yudha kemudian menekan kedua pipi Alina dengan satu tangannya.
" Aku peringatkan kamu gadis cantik yang sombong. Jangan pernah kamu mencoba untuk bersaing dengan puteriku. Lebih baik kamu segera
melupakan Adelio. Dia sama sekali tidak cocok untuk kamu. Jangan coba coba untuk menjadi batu penghalang di rumah ini. Aku tidak akan melepaskan kamu. Aku akan membuat kamu menyerah. " Yudha berkata kemudian melepaskan tangannya dengan kasar dari pipi Alina dan segera keluar dari kamar itu.
Alina pun merasa lega kemudian segera berlari untuk mengunci pintu itu. Setelahnya, dia meletakkan telapak tangan di dadanya. Dia merasa sangat ketakutan.
" Apa aku telah melakukan sebuah kesalahan besar? Kenapa mereka bersikap seperti itu padaku? Mereka membenciku bahkan sangat membenciku. " Gumam Alina sambil meneteskan air matanya.
# Keesokan Harinya di Sekolah Alina #
Alina melamun di dalam kelasnya. Hanna yang duduk di sebelahnya memperhatikan Alina dengan perasaan aneh kemudian melambaikan tangan di depan mata Alina hingga membuat ia tersadar dari lamunannya. Alina pun menatap Hanna penuh tanya.
" Alina. Kamu sedang melamun apa? Apa kamu sedang ada masalah? " Tanya Hanna.
" Tidak ada. Aku tidak apa apa. " Jawab Alina sambil tersenyum.
" Tidak mungkin. Alina, kita sudah sejak lama saling mengenal. Aku tahu persis bagaimana sifat kamu. Kamu pasti sedang ada masalah. Katakan saja padaku, siapa tahu aku bisa membantu kamu. Kamu tidak boleh menanggungnya sendirian. " Bantah Hanna dengan rasa belas kasihan.
" Percayalah padaku, aku tidak apa apa. Aku hanya sedang merindukan ibuku, Hanna. Aku merasa kesepian. Dulu, ibuku selalu menghibur dan menasehatiku. Sekarang, aku hanya sendirian. Aku sangat merindukan nya. " Jawab Alina dengan nada sendu.
" Aku mengerti bagaimana perasaan kamu. Tapi ibumu sekarang sudah tenang dan bahagia berada di surga. Kamu tidak boleh terus menerus merasa bersedih. Jika beliau melihat kamu bersedih seperti ini, maka ia juga akan ikut sedih. Kita sudah bersama bahkan sejak kita masih kecil. Apa kamu tidak percaya padaku? Aku bersedia berbagi denganmu, Alina. " Hibur Hanna sambil memeluk Alina.
" Aku tahu Hanna. Terima kasih selama ini kamu selalu ada di sampingku. " Alina berkata sambil membalas pelukan Hanna.
" Bagaimana kalau pulang sekolah nanti, kamu main sebentar di rumahku. Ibuku pasti sudah merindukan kamu. Kamu juga sudah lama tidak datang kerumahku. " Ajak Hanna penuh harap. Alina kemudian menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
***
Saat pulang sekolah, Alina dan Darren mampir ke rumah Hanna.
" Ibu, Aku pulang. Cepatlah keluar dan lihat siapa yang datang. " Panggil Hanna kepada ibunya sambil masuk ke dalam rumahnya. Kemudian muncul Renata dari dalam ke arah keluar. Ia terkejut dan segera dengan setengah berlari menuju arah Alina.
" Alina sayang, bagaimana kabar kamu? Sudah cukup lama kita tidak bertemu. Bibi sangat rindu padamu nak. Selama ini bibi hanya mendengar berita tentang kamu dari Hanna saja. " Sapa Renata sambil memeluk Alina dengan gembira.
" Aku baik baik saja Bi. Bibi sendiri apa kabar? " Alina balik bertanya.
" Seperti yang kamu lihat, bibi juga baik baik saja. " Jawab Renata sambil tersenyum.
" Baik Bi. " Darren menjawab singkat sambil tersenyum.
" Kalian pasti sudah lapar. Tunggu sebentar ya. Aku akan menyiapkan makanan untuk kalian. Tidak akan lama, tenang saja. " Ucap Renata sambil melangkah ke dapur untuk memasak. Dia sangat senang karena setelah sekian lama akhirnya bertemu lagi dengan Alina. Selain menjadi ibu yang baik dan penyayang, Renata juga selalu bersikap ramah pada setiap orang.
***
Setelah hampir dua jam berlalu, makanan yang di masak Renata pun telah siap di hidangkan di meja makan. Hanna, Alina dan Darren pun menyantap dengan lahap semua makanan tersebut karena mereka memang sudah lapar sejak tadi. Mereka makan sambil mengobrol dan bercanda ria. Suasana di ruang makan pun sangat ceria.
" Masakan ibumu memang sangat enak. Rasanya tidak pernah berubah. Aku sangat menyukainya. " Ucap Darren sambil menyantap lahap makanan yang ada di piringnya.
" Kalau begitu, kamu harus menghabiskannya. " Seru Hanna dengan semangat.
" Tentu saja. Karena aku sendiri juga tidak tahu kapan baru bisa makan di sini lagi. " Darren pun menjawab dengan semangat sambil makan seperti orang yang benar benar kelaparan.
" Kalian bisa datang kapan pun kalian ingin datang. Aku akan masak lebih banyak lagi untuk kalian makan. " Ucap Renata sambil menuangkan air minum untuk mereka bertiga.
" Andai saja ibu masih ada, ia pun pasti akan memasak untukku dan teman temanku. Aku akan merasa sangat bahagia. " Gumam Alina dalam hati sambil memperhatikan sikap Renata terhadap Hanna.
" Alina, kamu tampak lebih kurus. Makanlah lebih banyak. Sering seringlah datang kemari. Aku akan memasak lebih banyak untukmu. " Ucap Renata sambil menatap Alina.
" Terima kasih Bibi Renata ". Jawab Alina sambil tersenyum.
# Beberapa Saat Kemudian #
Alina dan Darren hendak pulang. Hanna dan Renata mengantar mereka sampai di depan pintu.
" Bibi, terima kasih untuk makan siang hari ini. Maaf telah merepotkan kalian. " Ucap Darren malu malu pada Renata.
" Kalian tidak perlu sungkan. Ingatlah untuk sering main kesini, agar Hanna tidak merasa kesepian. " Jawab Renata sambil tersenyum.
" Sampai jumpa Bibi Renata. Sampai jumpa Hanna. " Ucap Darren dan Alina bersamaan sambil membungkukkan tubuh mereka.
Alina dan Darren pun naik ke dalam mobil kemudian mobil itu melaju. Renata dan Hanna pun kembali masuk ke dalam rumah.
***
Sesampainya di depan pintu rumah keluarga Sandy, Darren seperti biasa ikut turun dari mobil mengantar Alina. Belum sempat masuk, Kyra dan Zanitha keluar menuju ke arah mereka. Kyra menepuk kedua tangannya dengan lambat membuat Alina dan Darren menoleh ke arahnya.
" Bagus sekali. Ini sudah yang ke sekian kalinya kamu terlambat sampai di rumah. Sepertinya kamu sudah mulai terbiasa berkeluyuran setelah pulang sekolah. " Tegur Kyra dengan nada yang sinis.
" Nyonya, maaf. Aku tidak berkeluyuran. Aku hanya mampir sebentar untuk makan siang di rumah temanku tadi. Ibunya mengundang kami datang kesana untuk makan bersama. Setelah makan lalu kami mengobrol hingga lupa waktu. Aku minta maaf. " Ucap Alina dengan sedikit takut melihat tatapan mata Kyra.
" Kamu memang pintar beralasan. " Ucap Kyra memelototkan matanya pada Alina.
" Maaf Nyonya. Apa yang di katakan Alina barusan adalah benar. Pulang sekolah, kami mampir ke rumah teman kami. Kami tidak pergi kemana mana lagi setelah itu. " Darren ikut menjelaskan. Kyra pun tersenyum.
" Setelah anakku Adelio pergi, kamu tetap mencari orang yang bisa membela kamu dari luar sana. Tingkat kecerdasan kamu melebihi dari yang aku bayangkan. " Ucap Kyra dengan penuh sindiran.
" Bibi, dia itu sengaja membawa laki laki datang ke rumah ini. Dia ingin kita merasa takut padanya. Karena dia memiliki seorang pembela. " Ucap Zanitha sambil mengaitkan tangannya di lengan Kyra dengan manja.
" Apa maksud kamu? " Tanya Alina karena merasa tidak terima dengan tuduhan yang tidak benar.
" Jangan pura pura bodoh. Kamu memang mirip dengan seorang wanita penggoda. Setelah berhasil merayu Adelio, kamu selalu minta perlindungan darinya. Sekarang Adelio telah pergi. Dan kamu berani sekali meminta perlindungan dari laki laki lain. Tidak aku sangka kamu serendah itu. "
Zanitha berkata dengan mencibir. Darren yang mendengar pun terkejut. Dia sama sekali tidak paham dengan situasi di hadapannya saat ini.
" Apa maksud kamu? Aku membuat kesalahan apa padamu? Kenapa kamu tega memfitnah aku seperti ini? " Ucap Alina seraya mendorong tubuh Zanitha. Ia benar benar tidak tahan lagi dengan penghinaan yang di lontarkan Zanitha terhadap dirinya.
" Plakkkk.. " Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Alina yang di lakukan oleh Kyra. Alina pun tersungkur. Darren segera membantu Alina untuk bangun. Alina tidak kuasa untuk menahan air matanya.
" Berani sekali kamu menyakiti Zanitha di depan mataku. Aku memang tidak pernah salah menilai dirimu selama ini. Dan aku harus membuat Adelio membuka matanya lebar lebar. Dan suamiku juga harus tahu apa yang sudah kamu perbuat. " Teriak Kyra kemudian merangkul Zanitha dan membawanya masuk ke dalam rumah. Alina hanya bisa meneteskan air matanya sambil menunduk.
" Alina, seperti inikah perlakuan mereka terhadap dirimu selama ini? " Tanya Darren sambil memegang salah satu bahu Alina. Alina kemudian mengangkat kepala dan menatapnya.
" Darren, cepatlah pulang. Aku harus segera masuk. " Alina berkata sambil membalikkan badannya hendak masuk ke dalam. Tapi Darren menarik lengan Alina.
" Kamu belum menjawab pertanyaanku. " Desak Darren.
" Darren, ini bukan urusan kamu. Lebih baik kamu cepat pulang. Jangan mempersulitku. Aku mohon. "
Ucap Alina menahan air matanya.
" Baiklah kalau begitu. Aku akan pulang. Jika ada sesuatu, jangan ragu untuk memberi tahuku. " Darren berkata sambil mengusap pelupuk mata Alina yang menahan air matanya. Alina menepis tangan Darren lalu bergegas masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukannya lagi. Darren pun hanya bisa berdiri diam sambil menatap punggung Alina yang semakin menjauh.