
" Drrtttt drrtttt drrtttt " Benda pipih yang berada di atas meja samping tempat tidur itu terus bergetar. Kyra melirik sekilas, terlihat nama Adelio di dalam layar tersebut. Ia pun segera meraih dan mengangkatnya.
" Hallo ! Bu, apa kamu sedang sibuk? " Tanya Adelio dengan semangat.
" Tidak, Ibu hanya sedang beristirahat. " Jawab Kyra dengan lesu.
" Bu, Kenapa kau begitu tidak bersemangat? Apa ibu sedang sakit? " Adelio merasa cemas saat mendengar suara sendu dari sang ibu.
" Aku tidak apa apa, hanya sedikit lelah. Kamu sendiri, bagaimana keadaan kamu di sana? " Kyra mulai bertanya.
" Aku baik baik saja. Kuliah ku berjalan dengan lancar. Ibu tenang saja, aku tetap akan menjadi anak yang layak untuk kau banggakan. " Jawab Adelio dengan penuh keyakinan.
" Aku percaya pada mu. Kamu adalah anakku satu-satunya. Ibu tahu kamu tidak mungkin membuat ibu kecewa. " Balas Kyra sambil tersenyum meskipun dia tahu anaknya tidak dapat melihat senyumnya.
" Bu, bisakah aku meminta bantuan mu? " Adelio bertanya dengan ragu.
" Sayang, aku adalah ibu mu. Apa pun yang kamu inginkan, aku akan berusaha untuk memenuhinya. Kamu katakan saja. " Kyra menjawab dengan penuh kasih sayang.
" Hmmm, aku ingin bicara dengan Alina Bu. Aku sangat merindukan dia. Aku ingin mendengar suaranya. " Jawab Adelio dengan gugup. Kyra memejamkan matanya dan menarik nafas dalam dalam, berusaha untuk menahan emosinya.
" Adelio, saat ini ibu sedang lelah. Bisakah nanti saja kamu baru bicara dengannya? Saat dia turun nanti, ibu akan menghubungi kamu lagi. Sekarang, biarkan ibu istirahat dulu. " Kyra berusaha membujuk Adelio.
" Baiklah kalau begitu. Ibu istirahat saja. Nanti aku telepon lagi. " Adelio dengan sabar menanggapi sang ibu kemudian dia menutup teleponnya dengan kecewa.
" Alina, aku sangat merindukan kamu. Sulit sekali ingin bicara dengan kamu. Apakah kamu baik baik saja disana? " Adelio bergumam dan mengeluh. Ia lalu mengambil dompet dan membukanya. Ia mengeluarkan photo Alina dan mencium photo itu seperti orang bodoh.
" Apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu tahu aku ingin sekali memeluk kamu. " Adelio sambil tersenyum menatap photo itu.
***
" Lucu sekali. Tuhan mempermainkan hidup ku dengan sangat lucu. Elvina, kamu sudah mati tapi tetap tidak bisa pergi dari hati dan pikiran suami ku. Kamu terus mengganggu hidupnya. Kamu berhasil membuat dia selalu peduli pada mu. Kamu sama sekali tidak bisa lepas dari ingatannya. Kamu benar benar hebat. Sandy yang telah menikahi ku dan melewati hari bersama dengan ku dan juga anak kami, tetap tidak bisa melepaskan kamu. Kini anak kamu juga berusaha untuk mendekati anak ku. Anak ku sedikit demi sedikit mulai peduli padanya. Dia seperti telah terkena sihir darinya. Kalian ibu dan anak sama saja. Kalian sama sama tidak tahu malu. Aku tidak akan pernah membiarkan anak ku terjerat oleh anak mu. Apa pun akan aku lakukan untuk memisahkan mereka. Seperti aku memisahkan kalian dulu. Baik dirimu atau pun anak mu, tidak berhak untuk bahagia. "
Kyra bergumam di depan cermin dengan tatapan mata penuh kebencian.
# Beberapa Hari Kemudian #
Saat Alina baru sampai di rumah sepulang sekolah, ia berpapasan dengan Yudha. Yudha memandangnya dengan penuh gairah hingga membuat Alina merasa jijik dan takut. Tubuhnya gemetar dan ia pun mempercepat langkahnya menuju kamarnya. Tidak di sangka, Yudha pelan pelan mengikuti langkahnya. Meskipun pelan, tapi langkah kaki Yudha lebih jauh di banding dengan langkah kecil dari kaki Alina.
" Kenapa kamu mengikuti aku? " Tanya Alina seraya membalikkan badannya dengan tiba tiba dan meneruskan langkahnya dengan cara mundur. Yudha malah tersenyum menyeringai dengan mengerikan sambil terus melangkah maju mendekati Alina.
" Berhenti! Tuan Yudha, aku mohon pergilah. Jangan menggangguku. Jika tidak aku akan berteriak. " Ucap Alina sambil menggertakkan giginya. Yudha hanya tersenyum menanggapinya.
Tanpa sadar tubuh Alina telah bersentuhan dengan dinding yang berarti dia tidak bisa lagi menghindari diri dari Yudha. Yudha semakin tersenyum puas.
" Gadis cantik. Kamu memang sangat cantik. " Ucap Yudha sambil mengarahkan tangannya ke wajah Alina, namun Alina dengan cepat menepisnya.
" Jangan sentuh aku! Pergi! " Ucap Alina sambil menahan air mata di pelupuk matanya.
" Kenapa kamu harus takut? Aku bisa memberi kamu dua keuntungan. Yang pertama, aku akan memberikan kamu uang dan kemewahan. Yang ke dua, kamu akan merasa seperti berada di surga. Menurutlah padaku. " Bujuk Yudha sambil menyeringai melihat tubuh Alina yang bergetar karena takut.
Yudha kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Alina dengan menahan kedua bahunya ke dinding. Tapi belum sempat mendekat, tiba tiba seseorang menariknya dari belakang dan memberikannya sebuah tinju. Alina pun sontak terkaget namun ia merasa lega.
Yudha yang tiba tiba di serang merasa marah dan segera melihat ke arah orang tersebut. Dia adalah Sandy, si Tuan rumah. Yudha lalu mengusap sudut bibirnya yang ia rasakan telah mengeluarkan cairan. Ya, setelah di lihat cairan itu berupa darah. Ia seakan ingin membalas Sandy tapi di urungkannya sementara niatannya itu.
" Apa yang sedang kamu lakukan di sini? " Tanya Sandy dengan menatap tajam ke arah Yudha.
" Sandy kamu, kamu telah salah paham. Semua tidak seperti yang kamu lihat. Gadis ini sedang berusaha untuk merayu ku. Aku terbawa suasana. Hah,, sial!!! " Umpat Yudha pada Alina kemudian meninggalkan mereka.
Sandy kemudian menghampiri Alina dan memeluknya dengan kasih sayang.
" Alina, kamu tidak apa apa kan? " Tanya Sandy khawatir.
" Aku tidak apa apa paman. Terima kasih telah menolong ku. Aku takut sekali. " Alina menjawab sambil menangis di dalam pelukan Sandy. Sandy mengusap punggung Alina untuk membuatnya tenang.
Setelah beberapa menit, Sandy melepaskan pelukannya dan mengusap pipi Alina yang di banjiri air matanya itu.
" Jangan menangis lagi. Ada Paman di sini. Kamu jangan takut, Paman akan selalu menjaga kamu. " Sandy berkata dan menatap sepasang mata yang baru berhenti menangis. Alina menjawab dengan menganggukkan kepalanya kemudian menunduk.
" Masuklah ke kamar kamu. Istirahatlah. Paman masih ada urusan. " Perintah Sandy setelah melihat Alina sudah agak tenang. Alina menganggukkan kepalanya lagi kemudian berjalan pelan menuju ke kamarnya.
Sandy dengan tidak sabar dan tidak mempedulikan di sekitarnya langsung mencengkeram kerah baju Yudha. Dia menariknya hingga Yudha berdiri. Kyra seketika terkejut melihatnya.
" Jika aku sampai melihat mu berniat buruk pada Alina lagi, kamu akan merasakan akibatnya. Aku tidak akan segan untuk menghajar kamu. " Sandy menatap Yudha dengan dingin kemudian melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Yudha pun terduduk kembali di kursi dengan kencang. Sandy kemudian hendak melangkah keluar.
" Sandy, tunggu! Ada apa ini? Ada apa dengan kalian berdua? " Tanya Kyra dengan bingung. Sandy kemudian menghentikan langkahnya.
" Kamu tanyakan saja sendiri pada teman mu itu. " Jawab Sandy tanpa menoleh lagi ke arah mana pun. Lalu ia melanjutkan langkahnya ke luar dan pergi dengan mobilnya.
Setelah melihat Sandy pergi begitu saja, Kyra merasa ada yang aneh. Ia kemudian menatap Yudha penuh tanya. Yudha hanya menunduk, tidak berani menatap Kyra.
" Yudha, ada apa dengan kalian? Apa yang terjadi? Kenapa Sandy bisa begitu marah terhadap mu? " Desak Kyra penuh dengan rasa penasaran.
" Tidak ada yang serius. Ini hanya masalah kecil. Kamu jangan khawatir. Sandy tidak akan lama lama marah padaku. Ini hanya salah paham kecil. " Jawab Yudha dengan asal. Kyra mengerutkan keningnya.
" Aku sungguh tidak mengerti. Kalian para lelaki jika sampai berkelahi, pasti ada hubungannya dengan wanita. Lalu kalian berkelahi, ada hubungannya dengan siapa? " Tanya Kyra sambil berpikir.
" Sudahlah, lupakan saja. Tidak ada apa apa antara aku dan suami kesayangan mu itu. Jadi jangan kamu ungkit lagi masalah ini. Terima kasih telah memberi ku obat. " Yudha menjawab kemudian dia meninggalkan Kyra sendirian di ruang tamu itu. Kyra hanya duduk diam sambil menggelengkan kepalanya.
***
Di dalam kamar, Alina berbaring di tempat tidur dengan menggunakan selimutnya. Ia menatap kosong ke langit langit kamarnya seolah sedang memikirkan sesuatu.
" Ibu, aku sangat merindukan mu. Mengapa ibu tega meninggalkan aku sendirian? " Gumam Alina sambil meneteskan air matanya.
" Kenapa tiba tiba Tuan Yudha berbuat demikian? Apa sebenarnya yang dia pikirkan? Ibu, aku takut. Aku sangat takut. Tapi Paman Sandy datang di waktu yang tepat untuk menolong ku. Kalau tidak, aku tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padaku. Adelio, aku merindukan kamu. Mengapa kamu sama sekali tidak memberi ku kabar? " Tangis Alina makin menjadi.
Tiba tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Alina terkejut dan tidak berani membuka pintu. Ia hanya menghapus air matanya sambil mendengarkan suara dari luar.
" Alina, ini Paman. Apa kamu sudah tidur? " Sandy kembali mengetuk pintu kamar itu berusaha untuk melihat keadaan Alina.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Alina hanya berdiri diam di samping pintu, tidak mengucapkan apa pun. Sandy tersenyum pada Alina.
" Apa Paman telah mengganggu tidur mu? " Tanya Sandy.
" Tidak, Paman. Aku belum tidur. " Jawab Alina sambil menggelengkan kepalanya.
" Paman hanya ingin melihat keadaan kamu. Apa kamu baik baik saja? " Tanya Sandy memperhatikan raut wajah Alina.
" Aku baik baik saja, Paman. " Alina menjawab seperlunya dengan menunduk.
" Rina mengatakan bahwa kamu belum makan malam ini. Kenapa? " Sandy kembali bertanya dengan tenang.
" Aku tidak lapar, paman. " Alina berbohong. Sebenarnya ia bukan tidak lapar. Tapi ia takut untuk keluar dari kamarnya. Ia takut akan bertemu lagi dengan Yudha. Maka ia lebih memilih untuk menahan lapar dan berdiam diri di dalam kamarnya.
" Tidak baik jika kamu telat makan. Ini sudah malam. Sebelum kamu tidur, kamu harus makan dulu. Paman akan meminta Rina agar mengantarkan makan malam untuk kamu. Kamu harus memakannya. Mengerti? "
Yudha memahami apa yang di pikirkan Alina. Jadi ia memutuskan untuk lebih melayani Alina. Alina kemudian menganggukkan kepalanya.
" Dan untuk seterusnya, Rina akan mengantar sarapan, makan siang dan makan malam mu ke dalam kamar. Kamu tidak perlu turun lagi setelah pulang sekolah atau pun sebelum berangkat ke sekolah. Dan jangan lupa untuk selalu mengunci pintunya dari dalam. " Sandy membuat keputusan baru untuk Alina.
Alina terkejut mendengar apa yang baru di katakan Sandy. Ia jadi merasa bersalah dan pastinya juga merasa tidak enak.
" Tidak perlu Paman. Aku hanya menumpang di sini. Tidak baik jika Paman terus menerus memperlakukan aku seperti itu. Aku akan merasa canggung. Itu tidak pantas. " Alina merasa serba salah.
" Tidak masalah. Tidak perlu canggung. Paman akan selalu berdiri di samping mu untuk menjaga dan melindungi mu. Aku menyayangi mu seperti anakku sendiri. Aku tidak akan membiarkan siapapun untuk menyakiti kamu. " Sandy berkata sambil tersenyum.
Di sisi lain, tidak ada yang menyadari bahwa Kyra sedang memperhatikan dan mendengar percakapan mereka. Kemudian Kyra berjalan ke arah mereka sambil menepuk kedua telapak tangannya dengan santai. Alina dan Sandy pun menoleh bersamaan karena terkejut.
" Bagus sekali. Drama yang sedang kalian mainkan sangat bagus. Tapi sayang, aku sama sekali tidak menyukainya. Aku malah merasa muak dan jijik. " Ucap Kyra dengan sinis.
" Apa yang sedang kamu bicarakan? " Tanya Sandy dengan marah.
" Apa? Aku hanya sedang mengawasi suami ku sendiri. Aku hanya ingin menyelidiki hal apa yang membuat kamu sampai begitu marah terhadap Yudha. Sekarang aku sudah menemukan jawabannya. " Ucap Kyra sambil melirik murka terhadap Alina. Alina kemudian menunduk.
" Jadi gadis kecil ini sudah berani membuat ulah? Sehingga menyebabkan perselisihan antara kamu dan Yudha? Sungguh sangat hebat. Aku sendiri tidak habis pikir. Suami ku yang sebelumnya tidak pernah berkelahi dengan orang lain demi membela aku sebagai istrinya, tapi dia sekarang malah rela berkelahi dan mengancam orang lain demi seorang gadis kecil. Tentu saja aku jadi penasaran dibuatnya. " Kyra terus berkata sambil menatap sinis ke arah Alina.
Mendengar Kyra mencemooh Alina, Sandy merasa geram dalam hatinya. Hanya saja, dia tidak ingin bertengkar dengan istrinya itu di hadapan orang lain. Jadi dia masih berusaha untuk menahan emosinya.