
Sesampainya di tempat parkir, Farrel meletakkan semua barang di kursi bagian belakang. Kemudian ia membuka pintu mobil bagian depan di sisi penumpang untuk mempersilahkan Zanitha masuk.
Zanitha pun masuk ke dalam mobil dengan anggun. Ia tidak merasa sungkan karena ternyata mobil yang dibawa Farrel, termasuk ke dalam salah satu jenis mobil mewah. Farrel segera menutup pintu dan berputar untuk masuk dari sisi sebelahnya. Ia merasa bahagia dapat membawa Zanitha dengan mobilnya.
***
" Jadi kamu tinggal disini? " Tanya Farrel.
" Ya, dan kamu hanya boleh datang ke sini untuk satu kali ini saja. Selanjutnya kamu harus melupakan alamat ini, dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku. " Perintah Zanitha dengan sangat tegas.
" Kenapa harus seperti itu? Bukankah kita bisa berteman? Mempunyai teman bukan termasuk hal yang salah bukan? " Tanya Farrel heran.
" Karena aku tidak ingin kamu mengganggu ku lagi di kemudian hari. Jadi, hari ini sudah cukup. Aku tidak berharap akan bertemu lagi dengan kamu. Ohya, bagaimana pun aku tetap berterima kasih karena kamu telah mengantarkan aku pulang. Selamat tinggal. " Jawabnya dengan santai. Farrel hanya mengetuk ngetukkan tangannya pada setir mobil sambil menganggukkan kepalanya.
" Apa kamu yakin? " Dengan teliti dia kembali bertanya padanya.
" Sangat yakin. " Sambil menatapnya dengan tajam, Zanitha menjawab dengan tegas.
" Baiklah, bagaimana pun aku tetap tidak akan lupa untuk berterima kasih padamu atas tumpangan darimu hari ini. Aku permisi. " Zanitha mengulangi perkataannya, kemudian turun dari mobil dan tidak lupa juga ia mengeluarkan barang barangnya terlebih dulu. Farrel hanya diam memperhatikan, tanpa berniat untuk membantunya lagi.
Setelah Zanitha selesai mengeluarkan barang barangnya, Farrel segera keluar dari mobil dan mengeluarkan selembar kartu dari dompetnya.
" Ini kartu namaku. Kalau kamu belum mau memberikan kontak mu, kamu bisa simpan kontak ku. Kamu bisa menghubungiku kapan saja. Aku selalu siap untukmu. " Ucapnya sambil menyodorkan kartu nama yang ia pegang.
" Aku rasa aku tidak akan membutuhkannya. " Tolak Zanitha secara langsung, setelah ia menatap sekilas kartu nama itu. Farrel pun hanya bisa tersenyum tipis.
" Tidak masalah. Kamu bisa membuangnya jika kamu sama sekali tidak memerlukannya suatu hari nanti. Sekarang, kamu bisa menyimpannya untuk sementara. "Farrel berusaha membujuk Zanitha.
Akhirnya Zanitha pun dengan enggan mengambil kartu nama yang diberikan Farrel dan ia segera masuk ke dalam rumahnya. Farrel pun tersenyum senang kemudian kembali masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya untuk segera pergi meninggalkan tempat itu sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah masuk ke dalam rumah, Zanitha mendapati ayahnya yang sedang menatapnya dengan tajam.
" Ayah, kau belum tidur? " Tanyanya santai.
" Siapa yang mengantar kamu pulang barusan? " Bukannya menjawab, Yudha malah melontarkan pertanyaan dengan sinis.
" Diaa,,, hmmm sebenarnya aku juga tidak terlalu mengenalnya dengan baik. Tapi dia dengan baik hati bersedia membantu ku, jadi kenapa aku tidak memanfaatkannya? " Jawab Zanitha dengan terbata bata.
" Pria atau wanita? "
" Pria "
" Kamu jangan melakukan hal yang bisa merugikan diri kamu sendiri. Ingat, Adelio akan segera kembali. Kalau dia sampai melihat kamu bersama pria lain, dia tidak akan sudi untuk mempedulikan kamu lagi. Apa kamu ingin hal itu terjadi? " Tegas Yudha.
" Aku tahu ayah. Dia tidak akan melihatnya. Lagi pula aku juga tidak tertarik padanya. Tadi aku terlalu lelah, dan dia menawarkan bantuan padaku. Makanya aku terima saja. Hal ini tidak akan terulang, aku janji. Jadi, ayah tidak perlu khawatir. Lain kali aku akan lebih hati-hati. " Rayunya dengan manja sambil bersandar di bahu sang ayah.
" Ayah hanya mengingatkan kamu. Ayah tidak ingin kamu bertindak ceroboh yang bisa merugikan diri kamu sendiri. " Balasnya sambil mengusap bahu anaknya dengan kasih sayang.
" Aku tahu. Baiklah, ini sudah malam. Aku sudah sangat lelah, dan ingin istirahat. Aku masuk ke kamarku dulu. Ayah, kau istirahatlah. " Ucapnya memohon izin, Yudha kemudian menganggukkan kepala.
" Selamat Malam Ayah ". Kemudian Zanitha pamit dan mencium pipi sang ayah. Ia pun berlalu meninggalkan ayahnya dan masuk ke kamarnya dengan membawa semua barang belanjaannya.
***
Darren lagi lagi memergoki Farrel yang baru pulang.
" Sepertinya belakangan ini kamu sibuk sekali. Apa kamu sedang mempersiapkan perkenalan kakak ipar dengan ayah? " Sambut Darren ketika Farrel memasuki rumah.
" Ya, mungkin saja bisa dibilang begitu. " Jawabnya asal.
" Apanya yang mungkin saja? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan akan segera membawa kakak ipar? " Sambung Darren dengan rasa penasaran.
" Tentu tidak bisa secepat itu. Aku perlu melakukan beberapa hal agar bisa memperkenalkan dia sebagai calon menantu di rumah ini. " Bantahnya dengan raut kesal.
" Apa maksudmu? Apa dia menolak? Atau keluarganya yang tidak merestui kalian? Atau dia belum siap untuk bertemu dengan kami? " Darren berusaha untuk menebak.
" Tidak tidak tidak, yang kamu katakan semua itu tidak benar. Aku hanya,, sebenarnya aku hanya butuh waktu untuk bisa menaklukannya. Itu saja. Setelah aku berhasil, aku pasti akan secepatnya membawa dia kemari. " Jelas Farrel seraya sedang berpikir. Darren seketika mengerutkan keningnya karena ia tidak mengerti maksud dari perkataan kakaknya.
" Apa maksud kamu? " Tanyanya ingin tahu.
" Begini, aku baru bertemu dengannya sebanyak dua kali. Dia itu sangat sulit untuk didekati. Temperamennya yang membuat aku tertarik padanya. Dia gadis yang cantik, energik, dan sangat arogan. Entah kenapa bisa membuat aku jatuh cinta padanya. " Farrel menjelaskan sambil membayangkan apa yang dipikirnya.
" Hahahaha,, kakak.. kamu benar benar lucu. " Ucap Darren sambil menggelengkan kepalanya dan tertawa dengan geli. Farrel kemudian memelototkan matanya.
" Hei hei hei cukup! Apanya yang lucu? Bagiku, dia sangat menarik. Hari ini dia bahkan memberiku kesempatan untuk mengantarnya pulang. Aku yakin, suatu hari nanti dia akan menyerah padaku. Dan dia akan menjadi milikku. " Lagi lagi Farrel menjelaskan dengan senyumnya yang sumringah.
Meski merasa lucu, Darren tetap menjadi pendengarnya yang setia. Dia tidak mengatakan apapun, karena ia merasa menarik dengan cerita sang kakak. Dia pun hanya bisa menahan tawanya dalam hati.
" Aku suka gadis yang seperti ini. Meski dia sedikit kasar, tapi aku bisa merasakan hatinya yang lembut. Gayanya, omelannya membuatku semakin penasaran pada dirinya. " Ceritanya dengan penuh rasa kagum.
" Wow! Aku doakan semoga apa yang kamu harapkan segera terwujud. Mulanya aku pikir, kamu memang sudah punya kekasih, ternyata dia masih menjadi targetmu. Ada ada saja. " Doa tulus dari Darren sambil menepuk tangannya untuk memberi semangat.
" Terima kasih adikku. Semoga kamu juga bernasib baik, mendapatkan gadis yang kamu impikan. " Balas Farrel sambil menepuk pelan di bagian pundak Darren kemudian menatapnya penuh tanya.
" Kamu sendiri, kemana saja seharian ini? " Tanyanya penuh selidik.
" Aku hanya pergi bersama temanku untuk menjenguk ibu dari temannya yang sedang sakit. " Darren menjawab seadanya.
" Teman kamu? Atau kekasih kamu? " Tanya Farrel lagi.
***
# Keesokan Harinya Di Asrama #
" Alina, sepertinya sudah lama kita tidak keluar untuk makan bersama. Bagaimana kalau siang ini kita makan diluar saja? " Usul Hana pada Alina.
" Ide kamu boleh juga. Aku juga sedang merasa suntuk akhir akhir ini. Baiklah, kalau begitu nanti siang kita keluar sama sama. " Ucap Alina dengan bersemangat.
" Apa Darren juga akan ikut? " Tanya Hanna.
" Oh ya, tadi pagi Darren mengirim pesan padaku. Katanya dia tidak bisa datang hari ini. " Ucap Alina.
" Memangnya kenapa? Apa dia ada urusan? "
Tanya Hanna merasa penasaran.
" Aku juga tidak tahu. Dia tidak memberi tahukan padaku alasannya. " Jelas Alina sambil mengangkat sedikit kedua bahunya.
" Ohh.. " Ucap Hanna singkat. Dalam hatinya, ia merasa kecewa. Tapi Alina dalam diam terus menatapnya.
" Hanna, bolehkah aku menanyakan satu hal padamu? " Secara hati hati Alina mencoba bertanya pada Hanna.
" Tentu saja. " Hanna kemudian menganggukkan kepala dan menjawabnya.
" Apa kamu menyukai Darren? " Alina secara perlahan mengatakannya, membuat Hanna terkejut dan langsung menatapnya.
" Aku tidak akan memaksa kamu untuk menjawabnya jika kamu merasa keberatan. " Ucap Alina kemudian.
" Tidak Alina, aku tidak keberatan. Aku tentu akan memberi tahu kamu. " Hanna menatap Alina dengan serius, dan berpikir sejenak.
" Sebenarnya, tebakan kamu benar Alina. Aku memang menyukai Darren. Dan itu sudah aku rasakan sejak lama. Tapi sayang, Darren bahkan tidak pernah menyadarinya. " Lirih Hanna sambil menunduk.
" Alina, berjanjilah padaku. Jangan pernah memberitahukan hal ini padanya. Aku tidak ingin dia tahu bagaimana perasaan ku. Aku hanya ingin memendamnya. Aku tidak ingin merasa kecewa. " Hanna kemudian memohon pada Alina dengan menatap matanya sambil menggenggam kedua tangan sahabatnya itu. Alina pun menganggukkan kepalanya.
" Terima kasih Alina. " Ucapnya kemudian sambil melepas tangan Alina perlahan.
***
# Di Sebuah Cafe #
Alina bersama dengan Hanna sedang menunggu makanan yang telah mereka pesan sambil mengobrol.
" Jadi bagaimana dengan keputusan kamu? " Tanya Hanna.
" Aku sendiri juga tidak tahu. Jujur saja, aku sangat bingung. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. " Jelas Alina dengan bimbang.
" Aku mengerti bagaimana perasaan kamu. Kalau aku jadi kamu, aku juga akan merasakan hal yang sama. Pasti akan sangat tidak nyaman jika kita harus tinggal serumah dengan orang yang tidak menyukai kita. Tapi bagaimana pun kamu juga harus menghargai Paman Sandy yang selalu peduli padamu bukan? " Hanna mengulangi kegalauan Alina dengan rasa iba.
" Kita lihat saja nanti. " Ucap Alina pasrah.
" Woowww.. Alinaa? Aku benar benar tidak menyangka bisa bertemu dengan kamu lagi di sini. " Seru Zanitha yang tiba tiba saja muncul di hadapan mereka, sehingga membuat mereka seketika mengangkat kepala untuk melihatnya.
" Setelah sekian tahun, tidak ada yang berubah pada dirimu. Kamu tetap terlihat seperti gadis kampungan. " Zanitha berkata dengan mencibir. Hanna menatapnya tidak mengerti.
" Aku pikir, selamanya tidak akan bertemu lagi dengan kamu. Haahhhh, anggap saja hari ini aku sedang sial. " Gerutu Zanitha dengan gayanya yang arogan.
" Kalau kamu menganggap diri kamu sial karena bertemu dengan ku, maka kamu bisa segera pergi dari sini. Karena aku juga sama sekali tidak tertarik dengan orang yang sedang sial. Hari ini aku sedang sangat bahagia. " Sindir Alina sambil tersenyum tipis menatap Zanitha.
" Kamu pikir, aku suka berada disini? Aku juga tidak ingin berlama lama di sini. Permisi. " Ucap Zanitha yang kemudian meninggalkan mereka berdua secara tidak senang.
" Alina, apa kamu mengenal dia? Sepertinya aku tidak pernah melihatnya. Siapa dia sebenarnya? " Tanya Hanna dengan rasa penasaran.
" Namanya Zanitha. Dia adalah anak dari Tuan Yudha yang merupakan sahabat Bibi Kyra. " Jawab Alina.
" Mengapa sikapnya seperti itu? Sama sekali tidak cocok dengan wajahnya yang lumayan cantik. Oh tidak tidak. Jika dilihat dengan teliti, tentu saja kamu lebih cantik dari dia. " Hanna mencibir, Alina malah tersenyum.
" Hhhhhh, Begitulah orang kaya, mereka suka memanjakan anak anak mereka secara berlebihan. " Ucap Alina dengan santai.
" Yahh memang. Tapi wanita tadi sepertinya juga sangat tidak menyukai kamu. Memangnya ada masalah apa di antara kalian? " Tanya Hanna penasaran.
" Aku tidak pernah merasa punya masalah dengannya. Dialah yang selalu bermasalah denganku. Aku tidak tahu apakah aku harus menceritakannya atau tidak. Tapi sepertinya dia menyukai Adelio. Karena yang aku tahu, dia selalu berusaha untuk mencari perhatian darinya. " Jelas Alina sambil mengerucutkan bibirnya.
" Lalu bagaimana dengan Adelio sendiri? Alina, apa kamu juga masuk ke dalam cinta segitiga? " Tanya Hanna dengan nada khawatir. Alina hanya terdiam, dan mengangkat kedua bahunya.
" Alina, kamu sampai sekarang bukankah masih menunggu Adelio? Apa kamu merasa bahwa Adelio layak? " Sambung Hanna tetap dengan rasa khawatirnya.
" Layak atau tidak, aku juga masih belum tahu. Aku hanya merasa bahwa hatiku memintaku untuk tetap menunggunya. Masalah Zanitha, sejauh ini yang aku tahu Adelio tidak pernah menghiraukannya. Dianya saja yang terus menempel, dan selalu mencari perhatian. " Jawab Alina.
" Kalau begitu, kamu harus menunggu sampai Adelio pulang. Aku harap kamu dan Adelio bisa bersama dan hidup bahagia tanpa ada yang mengganggu. " Doa tulus dari Hanna. Alina pun tersenyum.
" Entahlah Hanna, tapi bibi Kyra sangat menyayanginya. Dia bahkan begitu memanjakannya. Mereka berdua seperti sepasang ibu mertua dan menantu yang selalu rukun. Aku kadang merasa iri saat melihat mereka bisa begitu akrab. Aku jadi teringat pada ibuku. " Ratap Alina dengan raut wajah yang sendu.
" Sudahlah, jangan bersedih lagi. Ibuku selalu siap untuk memelukmu kapanpun kamu mau. " Hibur Hanna sambil menangkup kedua telapak tangan Alina.
" Aku tahu. Terimakasih. " Alina pun tersenyum.