
" Kak, kenapa Kak Alina tidak pacaran saja dengan Kak Darren? ". Celetuk Jovian, hingga membuat suasana menjadi agak canggung. Alina pun kebingungan ingin menjawab apa. Sedangkan Darren sangat menunggu dan mengharapkan jawaban yang positif dari Alina. Ia diam diam melirik Alina sambil memakan makanannya. Detak jantungnya pun mendadak berdetak lebih cepat.
" Ehem.. Jo, kamu masih kecil. Belum mengerti urusan orang dewasa. Jadi, kamu tidak boleh bicara sembarangan. Hm? ".Alina tersenyum. Jovian menganggukkan kepalanya.
Darren menghembuskan nafasnya dengan kasar dan tetap menikmati hidangannya.
# Sesaat setelah makan malam selesai #
Alina dan Darren duduk berdua dan ngobrol di teras depan.
" Alina " Darren memanggil dengan lembut namun ada rasa gugup.
" Ya " Jawab Alina seadanya.
" Aku rasa apa yang di ucapkan Jovian,, ". Ucap Darren.
" Kamu tidak perlu menghiraukan dia. Dia masih anak anak, sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh orang dewasa. Jadi, dia hanya bisa asal bicara. " Alina segera memotong kalimat Darren sebelum ia selesai mengucapkannya.
" Ya, kamu benar. " Darren menjawab dengan singkat. Namun dalam hatinya, ia berpikir lain.
" Sudah malam. Bukankah kamu harus istirahat? Pulanglah. Aku juga merasa lelah. " Saran Alina. Darren hanya bisa menganggukkan kepalanya.
" Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Kau juga harus segera beristirahat. " Ucap Darren sambil mendekati wajah Alina hendak mencium keningnya. Tanpa sadar Alina segera menghindar, Darren pun terpaksa memundurkan wajahnya. Alina menundukkan kepalanya.
" Selamat malam, Alina. " Pamit Darren, kemudian ia segera meninggalkan Alina.
" Selamat malam, Darren. " Balas Alina dengan suara yang sangat pelan sambil menatap punggung Darren. Kemudian ia masuk ke dalam.
***
Darren masuk ke dalam mobilnya.
" Alina, kenapa kamu selalu menghindar dariku? " Gumam Darren kemudian ia menyalakan mesin dan melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Alina di dalam kamarnya bersiap untuk tidur. Ia telah selesai menyikat gigi dan mencuci wajahnya. Ia segera menuju ranjangnya, mematikan lampu, berbaring dan menarik selimutnya. Tapi ia masih belum bisa memejamkan matanya.
Entah apa yang ada dalam pikirannya, Alina tidak dapat berbaring dengan tenang. Ia terus membolak balikkan tubuhnya.
" Drrrttttt drrrttttt drrrttttt ". Tidak lama kemudian, hpnya bergetar. Alina pun segera meraihnya dan menjawab telepon itu setelah melihat nama Adelio tertera di layar.
" Kamu belum tidur? " Sebuah pertanyaan di lontarkan dari seberang sana.
" Aku baru saja berencana untuk tidur. Ada apa? " Ucapnya.
" Aku merindukan kamu. Apa kamu tidak merindukan aku? " Tanyanya lagi.
" Tentu saja aku merindukan kamu. " Jawabnya sambil tersenyum.
" Apa kamu ingin segera tidur? " Tanyanya kemudian.
" Tidak, aku tidak bisa tidur. Kalau kamu tidak sibuk, kamu boleh menemani ku sebentar. " Pintanya dengan manja.
" Tentu saja tidak sibuk. Kenapa kamu tidak bisa tidur? Apakah karena sedang memikirkan aku? " Tanya Adelio dengan jahil.
" Dasar,, kamu terlalu GR. Aku belum bisa tidur karena sedang memikirkan anak anak di sini. " Jelas Alina.
" Memangnya ada apa? " Tanya Adelio merasa penasaran.
" Aku ceritakan pun, kamu tidak akan mengerti. " Jawab Alina sembari memanyunkan bibirnya kemudian tersenyum sendiri.
" Ohh, begitu ya? ... Kalau begitu, apa kamu bisa ceritakan padaku apa saja yang telah kamu kerjakan seharian ini? " Adelio terus bertanya.
" Aku? Seperti biasa, aku ditemani Hanna dan juga Darren untuk mengajari anak anak dan menemani mereka bermain hingga lelah. Kemudian mereka membersihkan diri mereka masing masing lalu kami makan malam bersama dengan gembira. Dan mereka sekarang sudah tertidur. Hanya aku yang belum tidur. " Papar Alina dengan semangat.
" Darren selalu menemani kamu? " Adelio bertanya dengan rasa cemburu.
" Tentu saja. Setiap hari kami selalu bersama. Ohya, hari ini Paman Sandy juga datang menemui ku. " Ucap Alina.
" Benarkah? Apa ayah ku mengatakan sesuatu pada mu? " Tanyanya lagi.
" Ya, Paman ingin aku kembali ke rumah. " Jawab Alina ragu.
" Lalu? "
" Adelio, aku sudah berjanji pada anak anak bahwa aku akan selalu menemani mereka. Aku tidak mungkin meninggalkan mereka. Mereka disini sangat membutuhkan aku. " Ucap Alina dengan lirih.
" Bukankah kamu tetap bisa datang ke asrama setiap harinya meskipun kamu kembali ke rumah? Anak anak tidak akan merasa kehilangan kamu. Alina, cepat atau lambat kamu juga harus kembali. Aku tidak mau istriku tinggal di tempat lain. Aku juga tidak mungkin tinggal di asrama bersama kamu. " Ucap Adelio dengan nada tegas.
" Adelio, apa kamu yakin kita akan menikah? " Tanya Alina lirih.
" Apa maksud kamu? Apa selama ini kamu berpikir aku hanya main main? Atau selama ini kamu yang bermain main dengan ku? Jangan jangan kamu sudah punya kekasih lain? " Adelio dengan marah menegur Alina hingga membuat ia merasa tersentak. Tapi Alina hanya membungkam dan melamun.
" Alina, aku sedang bertanya pada mu. Jangan diam saja! Jawab pertanyaan ku. " Adelio sedikit mengeraskan suaranya membuat Alina tersadar dari lamunannya.
" Tidak. Adelio, bukan begitu maksud aku. Aku hanya.. " Alina berusaha menjawab.
" Hanya apa? Kenapa? Alina, apa kamu meragukan aku? " Tanya Adelio dengan geram.
" Bukan. Aku.. " Alina masih terbata bata berusaha ingin menjawab.
" Sudahlah, jangan di lanjutkan lagi. Ini sudah larut, kamu tidurlah. Ada hal yang harus aku kerjakan. Aku tidak ingin kamu banyak berpikir macam macam. Aku tutup dulu teleponnya. Sampai nanti. " Ucap Adelio sambil menahan rasa kesal yang teramat sangat di dalam hatinya. Ia langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu Alina bicara.
Di sisi lain, setelah Adelio memutus sambungan telepon, Alina hanya bisa menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. Kemudian ia pun tertidur.
***
Darren yang baru sampai di rumahnya, langsung masuk kamar. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit kamarnya.
" Alina, apa kamu benar benar ingin menunggu Adelio pulang? Apa kamu yakin dia tetap setia padamu setelah melewati beberapa tahun di Amerika? Mengapa kamu beruntung sekali Adelio? Sudah beberapa tahun berlalu, Alina tetap tidak ingin berpaling dari mu. " Darren mengoceh sendiri tanpa ia sadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya di dalam kamar.
Orang tersebut sambil mengerutkan keningnya menghampiri Darren.
" Siapa yang sedang kamu kutuk? " Tanyanya seketika membuat Darren kaget hingga ia bangkit dari tempat tidur itu.
" Kak Farrel? Sejak kapan kamu pulang? " Ia terkejut melihat kakaknya itu.
" Aku baru sampai siang tadi. Hei, kamu belum menjawab pertanyaan ku. " Ucap Farrel sambil menatap mata adiknya itu.
" Pertanyaan yang mana? " Tanya Darren bingung.
" Kamu sejak masuk kamar sudah mengoceh mengutuki orang lain. Siapa yang sedang kamu kutuk? Apa kamu sedang jatuh cinta dan kamu bersaing dengan orang lain? " Tanya Farrel dengan jahil.
" Tidak ada. Kamu jangan sok tahu. " Dengan cemberut Darren menjawabnya kemudian menjatuhkan kembali tubuhnya di tempat tidur sambil melepas nafas panjang.
" Benarkah? Sudah jelas jelas aku mendengar kamu menyebutkan nama seorang wanita tadi. Kamu tidak bisa mengelak. Aku sudah dengar semuanya. Apa yang bisa kau sembunyikan dariku? " Ucap Farrel dengan sombong.
" Terserah kamu saja. Aku lelah, aku ingin istirahat. Bisakah kamu jangan mengganggu aku? " Pinta Darren.
" Bocah tengik, kamu berani mengusir ku? Aku baru saja pulang setelah sekian lama. Kamu bukannya menyambutku, kamu malah mengatakan bahwa aku telah mengganggu mu. Awas saja kalau kamu minta bantuanku. " Ancam Farrel.
" Tidak akan. Aku bisa menyelesaikan masalah ku sendiri. Jangan takut aku akan menyusahkan kamu. " Balas Darren tidak mau kalah.
" Baiklah. Kalau begitu, aku keluar. " Ucap Farrel sambil menepuk kaki Darren. Kemudian ia pun melangkah keluar meninggalkan adiknya itu.
" Apakah gara gara urusan wanita bisa mengubah orang hingga menjadi seperti orang bodoh? " Gumam Farrel setelah menutup pintu.
***
Farrel duduk berdua di ruang tengah bersama ayahnya, Handy. Mereka menikmati kopi hangat sambil menonton TV.
" Kemana adik kamu? " Tanya sang ayah.
" Sepertinya dia sudah tidur. " Jawab Farrel dengan malas.
" Benarkah? Sepertinya ini masih awal. Sejak kapan anak itu tidur secepat ini? " Handy mengerutkan keningnya.
" Apa ayah tidak tahu kalau anak bungsu mu itu sedang jatuh cinta? " Tanya Farrel seraya menyelidik.
" Jatuh cinta? " Handy termenung sebentar.
" Apa dia sedang jatuh cinta? Kenapa aku sama sekali tidak mengetahuinya? Apa dia telah memberi tahu kamu? " Handy balik bertanya dengan heran.
" Ayah, selama ini kalian tinggal berdua di rumah. Aku baru saja kembali. Aku mana tahu. Dia juga tidak mengatakan apa apa pada ku. " Jelas Farrel.
" Bukankah tadi kamu sendiri yang mengatakan pada ku kalau dia sedang jatuh cinta? Kamu jangan membuat ayah jadi bingung. " Ucap Handy kemudian seraya meneguk kopi yang ada di tangannya.
" Aku hanya menebak. Karena tadi aku sempat mendengar dia menyebutkan nama seorang wanita. Aku pikir apa lagi? Dan anak itu terlihat begitu sedih dan tidak bersemangat. Seharusnya dia memang sedang jatuh cinta bukan? " Farrel menjelaskan sambil berpikir. Sang ayah hanya mendengarkan dengan seksama.
" Kenapa aku bisa tidak mengetahuinya? Anak itu, aku harus tanyakan hal ini padanya. Kalau benar, bukankah itu bagus? Itu artinya aku bisa segera mempunyai cucu. " Ucap Handy kemudian ingin bangkit dari duduknya, namun Farrel menahannya.
" Ayah, ini bukan saat yang tepat. Lagi pula, kita belum mengetahui yang sebenarnya. Tunggu sampai dia mau menceritakannya pada kita. Jika ayah langsung menegurnya, tidak akan berdampak baik pada dirinya. Dia sudah dewasa, dia pasti bisa berpikir dengan baik. Kita harus percaya padanya. " Farrel memberikan saran. Sang ayah hanya menganggukkan kepalanya menandakan ia juga setuju dengan saran dari sang anak.
" Baiklah. Kamu benar. Kalau begitu, istirahatlah. Sejak kembali dari Kanada, kamu belum beristirahat sama sekali. Besok baru kita lanjutkan lagi. Selamat malam. " Ucap Handy sambil melanjutkan niatnya bangkit dari tempat duduk Namun kali ini tujuannya adalah kamarnya sendiri.
" Selamat malam, Ayah. " Balas Farrel sambil tersenyum.
***
" Tok tok tok ". Suara ketukan pintu telah menyadarkan Adelio dari lamunannya.
" Masuk " Ucapnya singkat. Setelah itu, Anthony pun membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya.
" Apa kamu sedang sibuk? " Tanyanya.
" Tidak. Ada apa? " Adelio kembali bertanya.
" Aku merasa bosan dan ingin main keluar. Apa kamu mau ikut bersama ku? " Tanyanya kemudian.
" Aku sedang tidak ingin kemana mana. " Jawab Adelio lesu. Anthony mengerutkan sedikit keningnya dan menatap nya.
" Kamu selalu saja tidak ingin bermain. Ayolah, jangan di kamar terus. Kali ini kita berkumpul bersama. Banyak gadis gadis cantik dan **** juga ikut. Apa kamu tidak ingin bersenang senang? " Tony berusaha merayu Adelio agar dia mau pergi bersama.
" Aku tidak tertarik. " Jawabnya ketus.
" Lalu kamu tertarik pada apa? Jangan katakan pada ku kalau kamu hanya tertarik pada gadis kampung itu. Kamu ini seorang laki laki, wajah kamu tampan, kamu juga punya banyak uang. Kamu ingin wanita seperti apa, kamu pasti bisa mendapatkannya. Menurut ku, Natalia juga tidak buruk. Jika kamu mengingikannya, aku yakin dia akan memberikannya pada mu secara cuma-cuma. " Ucap Anthony seraya memberi saran pada sahabatnya itu.
" Aku tegaskan sekali lagi, kamu jangan asal mengatakan Alina sebagai gadis kampung. Kamu belum pernah bertemu dengannya. Jika kamu sudah bertemu dengannya, aku juga tidak berharap kamu menyukainya. Karena kamu akan berurusan dengan ku. Dan aku ingatkan padamu, aku tidak menyukai wanita wanita murahan itu. " Ucap Adelio dengan sangat tegas dan dingin membuat Anthony bergidik.
" Baiklah Tuan Muda. Kalau kamu tidak mau ikut, aku hanya bisa berdoa agar kamu tidak menyesal. Karena kesempatan ini tidak akan datang berulang kali. Selamat menikmati kesendirian mu. " Sindir Anthony, kemudian ia pergi meninggalkan Adelio. Adelio hanya membuang muka dan tidak mempedulikannya.
Adelio kemudian berbaring di tempat tidurnya dan memejamkan matanya.