
# Sesampainya Di Rumah Adelio #
Zanitha melihat Adelio senyam senyum sendiri sambi bersiul hendak masuk ke dalam kamarnya kemudian ia bergegas menyusul Adelio sebelum dia menutup pintu kamarnya.
" Adelio, tunggu sebentar. " Zanitha menahan pintu kamar saat Adelio hampir menutupnya.
" Ada apa? " Tanya Adelio dengan heran.
" Boleh aku masuk? " Zanitha kembali bertanya. Sedangkan Adelio melihat Alina yang melewati mereka.
" Kamu ada perlu apa, kita bicara di luar saja. "
Zanitha yang tahu Adelio melihat Alina merasa geram dan jengkel. Adelio menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju balkon diikuti Zanitha di belakangnya. Sedangkan Alina tidak mempedulikan mereka dan langsung masuk ke kamar serta menutup pintunya seolah dia tidak melihat apa pun.
***
" Ada apa? " Adelio kembali bertanya.
" Apa kamu merasa risih saat bersama aku? Kenapa akhir akhir ini sikap kamu sedikit demi sedikit terus berubah? Kamu tidak seperti dulu yang selalu bersikap ramah padaku. Apakah semua ini karena kamu telah dipengaruhi oleh gadis itu? " Zanitha menjawab dengan nada kecewa.
" Maksud kamu Alina? " Adelio menggelengkan kepalanya dan tersenyum menatap Zanitha.
" Dengar, di dunia ini tidak ada seorang pun yang bisa mempengaruhi aku. Aku yang sekarang adalah masih sama seperti diriku yang sebelumnya dan akan menjadi diriku di masa yang akan datang. Sebenarnya kamu ada masalah apa? Katakan saja. Jangan suka sembarangan menuduh orang. " Adelio kembali berbicara menjelaskan pada Zanitha.
" Aku tidak bermaksud untuk sembarangan menuduh orang. Aku cuma melihat akhir akhir ini kamu sama sekali tidak peduli padaku. Aku merasa kamu semakin menjauhi aku. Dan aku melihat kamu sangat dekat dengan gadis itu. Kamu bahkan bisa tertawa bersamanya. Adelio, apa kamu tahu aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku ingin selamanya dekat sama kamu. Kita bahkan sudah berteman sejak kecil. Aku tidak rela kalau harus jauh dari kamu. " Ucap Zanitha dengan wajah memelas, sedangkan Adelio hanya menggelengkan kepalanya.
" Zanitha, kamu jangan seperti anak kecil. Aku berani jamin kamu akan jadi temanku untuk selamanya. Jadi kamu tidak perlu khawatir yaa. " Adelio memperjelas.
" Hmmm apakah tidak bisa lebih? Ma..maksudku, apa kamu tidak memiliki perasaan lebih padaku? " Zanitha memberanikan diri bertanya lebih pada Adelio.
" Tentu saja Zanitha! Selain teman, aku juga sudah menganggap kamu sebagai adikku sendiri. Aku menyayangi kamu seperti saudara. Siapa pun tidak ada yang bisa mengubahnya. Apa kamu sudah puas? " Jawab Adelio sambil mencubit kedua pipi Zanitha layaknya mencubit pipi anak kecil. Zanitha langsung menghempaskan tangan Adelio.
" Jangan perlakukan aku seperti anak kecil. Kamu sungguh membuat aku kecewa. Kamu benar benar sudah berubah, Adelio. Tapi kamu malah tidak mau mengakuinya. " Zanitha memarahi Adelio dan Adelio hanya mengerutkan keningnya.
" Kamu ini sebenarnya kenapa? Kenapa malah memarahi ku? " Tanya Adelio dengan heran sambil menatap Zanitha.
" Kamu bodoh atau pura pura bodoh? Kita sudah saling berhubungan sejak kecil. Kamu malah menganggap aku sebagai teman dan juga sebagai adik mu. Dimana perasaan kamu? Adelio, apa kamu tahu selama ini aku menyukai kamu secara diam diam? Aku memendamnya karena aku tidak ingin kamu memandang rendah padaku. Tapi kamu sama sekali tidak pernah menyadarinya. Aku sangat sedih. Aku merasa diriku tidak berharga. " Zanitha secara panjang lebar menjelaskan pada Adelio dengan raut wajah kecewa yang dibuat buat. Adelio hanya bisa menatapnya bingung.
" Zanitha, maaf kalau aku sudah membuat kamu kecewa. Tapi saat ini aku telah menyukai gadis lain. Dan aku tidak mungkin memaksakan diriku sendiri. Jangan khawatir, suatu hari nanti kamu pasti akan mendapatkan seseorang seperti yang kamu inginkan. " Adelio berkata dengan perasaan merasa bersalah.
" Aku tidak peduli. Kita bisa mencobanya Adelio. Suatu hari, kamu pasti akan suka padaku. Aku akan melakukan apapun agar kamu bisa menyukaiku. " Zanitha sedikit memohon. Kemudian dia memberanikan diri merangkul leher Adelio dan berusaha untuk mencium bibirnya. Namun Adelio segera sadar dan mendorongnya mundur.
" Zanitha, apa yang kamu lakukan? " Teriak Adelio.
Adelio secara terang terangan menolak Zanitha. Ia pun merasa malu lalu pergi dengan kesal sambil menghentakkan kakinya. Adelio malah terbengong sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
# Di Kamar Orang Tua Adelio #
" Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa anak kita sudah sebesar itu. Dia sudah hampir dewasa. Apa kamu tidak pernah memikirkan untuk perjodohannya? " Ucap Kyra membuka percakapan dengan suaminya.
" Yaa, aku tahu dia sudah dewasa. Kalau soal jodoh, aku percaya pada puteraku. Dia pasti punya pemikirannya sendiri. Kita tidak perlu ikut campur dalam hal ini. Biarkan dia sendiri yang memilih. " Jawab Sandy dengan santai.
" Aku berpikir ingin menjodohkan dia dengan Zanitha. Kita sudah mengenal Zanitha sejak dia masih bayi. Zanitha sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang baik. Bukan hanya itu, dia juga pintar, periang dan ceria. Aku rasa Adelio akan cocok dengan Zanitha. Mereka terlihat seperti pasangan yang serasi. " Ucap Kyra sambil tersenyum dan membayangkan apa yang di ucapkannya.
" Kyra, aku rasa kita tidak boleh terlalu terburu buru. Aku tahu kamu menyukai Zanitha. Dia memang gadis yang baik. Tapi biarkan Adelio saja yang menentukan siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya. Sebentar lagi dia akan pergi sekolah untuk mencapai cita citanya. Kita tidak boleh menghancurkannya. " Sandy menimpali dengan tenang.
" Yaa, aku tahu. Aku tidak bermaksud untuk menghancurkan cita citanya. Aku hanya ingin anakku bahagia dengan sempurna. Tapi, kamu sendiri juga tahu kalau Adelio sangat sulit berinteraksi dengan teman wanitanya. Yang aku tahu dia hanya dekat dengan Zanitha. Itu artinya dia hanya bisa membuka hatinya pada Zanitha. Aku rasa tidak ada salahnya kalau kita menjodohkan mereka. Mereka sangat cocok. Aku pikir, Yudha juga tidak akan keberatan dengan hal ini. " Tegas Kyra tidak mau kalah.
" Kalau begitu, kita harus menanyakan dulu pada Adelio. Kita tidak boleh sembarangan dalam mengambil keputusan. Biar bagaimana pun dialah yang berperan dalam hal ini. Ini menyangkut masa depannya. " Saran Sandy kepada istrinya.
" Baiklah. Aku akan membicarakan hal ini dengannya besok. Jika dia setuju, bagaimana kalau kita langsung adakan acara pertunangan saja untuk mereka? Jadi saat Adelio kembali dari Amerika nanti, kita tinggal mengatur hari pernikahan mereka. Aku sungguh tidak sabar menunggu hari itu tiba. Aku ingin sekali segera menimang cucu dari puteraku. " Ucap Kyra sambil tersenyum ceria, karena dia sangat yakin bahwa anaknya akan sependapat dengan dirinya.
" Ini sudah larut. Cepatlah tidur! Kamu terlalu banyak berpikir. " Ucap Sandy sambil menarik selimut dan menyelimuti dirinya. Sedangkan Kyra masih terduduk di samping Sandy sambil tersenyum bahagia.
Kyra memasuki kamar Adelio dan melihat Adelio masih tertidur pulas di atas ranjangnya. Kyra kemudian duduk di sisi tempat tidur anaknya sambil mengusap kepalanya. Adelio yang masih dalam keadaan tidur, menangkap tangan ibunya dan menaruhnya di pipinya sendiri sambil tersenyum manis.
" Alina, jangan menggodaku. Aku tidak bisa tidak menahan diriku kalau kamu merayuku seperti ini. Tunggu aku pulang. Tunggu setelah aku kembali, kamu sudah menjadi seorang gadis dewasa yang sempurna. Aku akan melahapmu. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari sisiku. " Adelio bergumam sambil tersenyum manja. Kyra yang mendengar Adelio bergumam merasa kesal. Dia menghempaskan tangan anaknya dengan kasar.
" Kenapa kamu menyebut nama gadis sial itu? Tidak mungkin. Apa selama ini dia telah merayu anakku? Bagaimana dia bisa punya nyali sebesar itu? Benar benar keterlaluan. Aku tidak akan membiarkan anakku masuk ke dalam perangkap kamu. Kamu tidak boleh merebut anakku. Dasar tidak tahu malu. Kamu sama murahannya dengan ibumu. " Kyra bergumam dengan ekspresi kesal. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa anaknya akan menyebutkan nama anak itu. Anak yang tidak ia ketahui dengan jelas asal usulnya. Anak yang menurut dia sangat kampungan dan tidak sepadan.
Kyra kemudian membuka gorden jendela yang menyebabkan Adelio merasa silau karena pantulan cahaya yang masuk lewat kaca jendela itu. Dia pun akhirnya membuka kedua matanya dan terkejut melihat keberadaan ibunya di sana.
" Ibu? Ibu sedang apa di sini? " Ucap Adelio sambil duduk dan mengucek ngucek matanya.
" Hari sudah siang. Kamu masih mau tidur sampai jam berapa? Cepatlah bangun. Ada hal yang ingin ibu bicarakan dengan kamu. Ini sangat penting. " Perintah Kyra dengan kesal. Adelio mengerutkan keningnya karena dia merasa aneh dengan sikap ibunya hari ini.
" Memangnya ada apa? " Tanya Adelio pelan.
" Bersihkan dulu dirimu. Ibu tidak ingin bicara di sini. Ibu tunggu kamu di kamar ibu. " Ucap Kyra kemudian sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar anaknya itu. Adelio kemudian menguap dan beranjak ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya dengan malas malasan.
Saat keluar dari kamar Adelio, Kyra melihat Alina sedang berjongkok membersihkan sendal di depan kamarnya. Kemudian Kyra menghampirinya. Alina yang melihat Kyra mendekat ke arahnya merasa terkejut kemudian berdiri.
Kyra menatap tajam pada Alina dengan tatapan penuh kebencian, Alina hanya menunduk diam menunggu entah apa yang akan dilakukan Kyra padanya.
" Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu untuk tidak mendekati putraku? Kamu sudah menumpang disini, masih dengan tidak tahu malu melanggar peraturan yang aku berikan. " Tegur Kyra dengan nada ketus.
" Maaf Nyonya. Tapi aku,,, ". Alina hendak menjelaskan.
PLAK... Kyra menampar Alina dengan kasar. Alina segera mengusap pipinya yang terasa perih dan hampir menangis.
" Tutup mulutmu! Aku hanya ingin memberi tahu kamu sekali lagi. Jangan pernah kamu merasa bahwa kamu pantas berteman dengan Adelio. Kalian sama sekali tidak cocok. Jika aku tahu kamu berani menentangku, aku tidak akan segan untuk mengusir kamu dari rumah ini. " Ucap Kyra dengan penuh penekanan kemudian segera meninggalkan Alina tanpa memberi kesempatan Alina untuk berbicara. Alina pun hanya bisa mematung.
# Beberapa Saat Kemudian Adelio Sudah Berada Di Kamar Kyra #
" Ada apa bu? " Ucap Adelio sambil duduk di hadapan ibunya.
" Anakku, kamu sudah tumbuh besar. Kamu segera akan menjadi seorang pria dewasa yang tampan. Ibu serasa bermimpi, melihat kamu sekarang. " Ucap Kyra sambil memegang kedua pipi Adelio. Adelio pun tersenyum mendengarkan ibunya bicara.
" Tapi ibu tidak melihat kamu punya banyak teman wanita. Lebih tepatnya, Ibu tidak pernah melihat kamu berteman dekat dengan teman teman wanitamu. " Adelio sedikit mengerutkan keningnya mendengar ibunya mengatakan tentang teman wanita.
" Itu karena aku tidak tertarik pada mereka. Bukan karena aku tidak tertarik pada wanita. Ibu tidak perlu khawatir. Anakmu ini adalah laki laki normal. " Jawab Adelio meyakinkan ibunya sambil tersenyum. Kyra pun membalas senyum anaknya sambil membelai rambutnya.
" Tentu saja ibu tahu itu. Dan yang ibu tahu hanya ada satu orang yang bisa sedekat itu dengan kamu, benar kan? " Adelio merasa tersipu dengan pertanyaan ibunya.
" Ibu.. Jadi pagi pagi ibu membangunkan aku untuk membuat aku malu? " Rengek Adelio dengan manja. Kyra pun tersenyum melihat kelakuan anaknya.
" Anakku, ibu bukan ingin membuat kamu malu. Tapi ibu ingin membuat kamu menjadi pria yang sempurna. Ibu ingin kamu bahagia. Ibu ingin kelak kamu bisa berdampingan dengan wanita yang cantik dan baik hati. Wanita yang cocok dan sepadan. Bagaimana jika ibu menjodohkan kalian? " Adelio sontak terkaget mendengar ibunya ingin menjodohkannya.
" Bu, apa perlu secepat itu? " Tanya Adelio.
" Kenapa tidak? Hanya tinggal beberapa hari lagi, kamu akan pergi ke Amerika. Jika Kamu tidak mengikatnya terlebih dulu, saat kamu kembali bisa bisa dia sudah menjadi milik orang lain. Apa kamu rela? Apa kamu tidak akan menyesal? " Tanya Kyra meyakinkan Adelio. Adelio merasa bimbang. Dia tidak yakin bahwa Alina akan bersedia bertunangan dengannya secepat ini. Sebelumnya dia mengatakan pada Alina bahwa setelah dia kembali dia akan langsung menikahinya. Alina bahkan sudah menyetujuinya. Dia tidak mau terlalu mengikat Alina. Dia ingin memberikan rasa nyaman pada gadis yang dicintainya itu.
Saat Adelio sedang berpikir, Kyra melanjutkan pembicaraannya.
" Adelio, kamu tidak punya banyak waktu. Jika kamu merasa masih malu, biar ibu yang mewakili kamu untuk bicara pada Yudha. " Adelio terkejut dan segera menatap ibunya.
" Paman Yudha? Ini tidak ada hubungannya dengan dia. Kenapa ibu harus bicara dengannya? " Adelio mengerutkan kening merasa heran.
" Hei!!! Yang akan kamu sunting adalah Zanitha. Bagaimana mungkin tidak ada hubungannya dengan Yudha? " Adelio semakin terkejut mendengar ibunya.
" Tidak bu! Ibu sudah salah paham. Bukan begitu maksudku. " Adelio berusaha menjelaskan kemudian beranjak dari tempat duduknya. Dia mengusap kasar wajahnya. Kyra pun ikut bangkit dari tempat duduknya.
" Apa maksud kamu? " Kyra bertanya dengan serius menatap mata Adelio.
" Bu, aku menyukai Alina. Bukan Zanitha. Ibu telah salah paham. " Jawab Adelio sambil menatap ibunya dengan tegas. Kyra kemudian menampar Adelio dengan keras. Adelio pun terkejut dengan tamparan dari ibunya.