Alina

Alina
BAB 14 Merencanakan Pindah



" Jadi gadis kecil ini sudah berani membuat ulah? Sehingga menyebabkan perselisihan antara kamu dan Yudha? Sungguh sangat hebat. Aku sendiri tidak habis pikir. Suami ku yang sebelumnya tidak pernah berkelahi dengan orang lain demi membela aku sebagai istrinya, dia sekarang malah rela berkelahi dan mengancam orang lain hanya demi seorang gadis kecil. Tentu saja aku jadi penasaran dibuatnya ". Kyra terus berkata sambil menatap sinis ke arah Alina.


Mendengar Kyra mencemooh Alina, Sandy merasa geram dalam hatinya. Hanya saja, dia tidak ingin bertengkar dengan istrinya itu di hadapan orang lain. Jadi dia masih berusaha untuk menahan emosinya.


" Apa sebenarnya rencana kamu pelacur kecil? " Bentak Kyra dihadapan Alina.


" Aku hanya membela orang yang memang layak. Jika kamu tidak suka, aku tidak akan memaksa kamu. Harap kamu beri tahukan pada teman kamu untuk tidak membuat onar di dalam rumah ku. Aku bisa saja mengusirnya kapanpun aku mau. " Sandy berkata dengan sangat tegas menatap Kyra.


" Kamu tidak punya hak untuk mengusirnya. Jika kamu mengusirnya, maka dia juga harus pergi dari rumah ini. Dia lah yang menjadi penyebab terjadinya pertengkaran dan perkelahian di rumah ini. Gadis pembawa sial. Kalian ibu dan anak sama saja. Kalian sama sama pembawa sial. " Umpat Kyra dengan kesal.


" Kyra, aku mohon. Aku sedang tidak ingin berdebat dengan kamu. Jadi lebih baik kamu hentikan omong kosong mu itu. " Sandy berupaya menyudahi pembicaraan kali ini karena ia tidak ingin Alina merasa bersalah.


" Alina, kembalilah ke kamar mu. Sebentar lagi Rina akan segera mengantarkan makan malam kamu. Jangan lupa untuk memakannya. " Ucap Sandy kemudian ia melangkah ke dapur untuk memerintah pelayan agar mengantarkan makanan untuk Alina.


Alina pun kembali ke kamarnya dan menutup pintu. Kyra semakin kesal dibuatnya.


# Beberapa Hari Kemudian #


Alina mengetuk ruang kerja Sandy. Setelah ia mendengar jawaban dari dalam, ia pun membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu.


" Alina? Apa ada masalah? " Tanya Sandy dengan santai.


" Paman, ada hal yang harus ku bicarakan dengan mu. Apa aku telah mengganggu paman? " Kata Alina memberanikan diri.


" Aku sedang tidak terlalu sibuk. Katakan saja. " Ucap Sandy ramah.


" Aku ingin tinggal di asrama sekolah. " Kata Alina kemudian menundukkan kepalanya. Sandy mengerutkan keningnya.


" Tinggal di asrama sekolah? Kenapa begitu mendadak? " Tanya Sandy dengan heran.


" Tidak mendadak. Sebenarnya aku sudah merencanakan ini sejak lama. Hanya baru sekarang aku memberi tahukannya pada mu ". Ucap Alina menatap mata Sandy dengan yakin.


" Kenapa kamu ingin pindah? Apa kamu tidak betah lagi tinggal di sini? Apa Yudha masih mengganggu kamu? Atau kah Kyra yang mencari masalah dengan kamu? " Tanya Sandy dengan detail.


" Tidak Paman. Keputusan ku sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka. Ini adalah murni keinginan ku sendiri. Aku berharap Paman akan mengizinkan aku. " Ucap Alina memohon. Sandy menatapnya sambil berpikir.


Menatap mata Alina membuat dada Sandy terasa sesak. Sorot matanya sangat mirip dengan sorot mata Elvina ketika ia sedang bersedih. Sorot mata itu, Sandy sudah sangat memahaminya. Ia tidak bisa berbuat apa apa. Ia tidak mungkin memaksa Alina untuk tetap tinggal. Alina memiliki haknya sendiri untuk mengambil keputusan.


Saat ia membawa Alina untuk tinggal, ia merasa hidupnya memiliki sedikit cahaya. Ia seolah melihat Elvina hidup kembali. Tapi sekarang, ia mengatakan bahwa ia ingin pergi. Dan setelah Alina pergi nanti, ia pasti akan kehilangan sosok itu lagi. Hidupnya akan kembali kosong. Tapi dia harus rela melepaskan, melepaskan lagi.


Namun dia sekarang berpikir, meski dia akan pergi, dia masih bisa menjenguknya. Karena dalam hatinya, ia telah menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Dan ia akan memberinya kebebasan.


" Baiklah. Paman akan mengurus kepindahan mu. Ohya, Paman baru saja membelikan hp untuk kamu pakai. Karena Adelio ingin sekali bicara dengan kamu, tapi waktunya selalu tidak pas. Ambillah, di dalamnya sudah terisi kontak Adelio dan kontak Paman. Ingat untuk selalu memberi kabar pada ku setelah kamu pergi nanti. Dan jika ada waktu, kamu harus pulang untuk menjenguk ku. Kamu adalah putriku di rumah ini. " Ucap Sandy sambil menahan air matanya. Ia tidak ingin terlihat cengeng di hadapan gadis kecil ini. Meski tidak rela, ia pun tidak ingin bersikap egois.


" Terima kasih Paman. Kamu sangat baik padaku. Aku tidak akan melupakan segala kebaikan paman. Suatu hari, aku akan membalasnya. " Ucap Alina dengan perasaan lega. Alina kemudian menghampiri Sandy dan memeluknya layaknya seorang anak yang memeluk ayahnya sendiri. Sandy mengusap punggung Alina dengan lembut dan penuh kasih sayang.


***


Alina di dalam kamarnya, sedang memegang HP nya. Dia melihat kontak Adelio, tapi tidak melakukan panggilan atau pun mengirim pesan. Ia merasa ragu meski ia sebenarnya sangat merindukan dia.


Setelah ia memutuskan untuk meletakkan kembali HP nya di atas meja, tiba tiba HP nya malah berdering. Dan ia melihat nama Adelio muncul di layarnya. Dengan ragu ia akhirnya menekan tombol jawab.


" Alina, kamu kah itu? " Sapa Adelio dengan antusias dan tidak sabar.


" Adelio ". Jawab Alina hanya dengan memanggil namanya.


" Hei, kenapa belakangan ini kamu begitu sering tidur awal? Apa tugas sekolah kamu membuat kamu menjadi begitu lelah? Aku sampai sempat bosan untuk menghubungi kamu. Aku merasa putus asa. " Adelio dengan semangat terus melontarkan pertanyaan.


Alina berpikir, kapan dia tidur awal? Yang ada setiap malam ia baru bisa tidur saat hari sudah sangat larut. Namun akhirnya ia mengerti. Mereka memang tidak ingin Adelio bertemu dengannya meski hanya melalui telepon.


" Iya, kamu benar. Akhir akhir ini sekolah selalu memberi setumpuk tugas hingga membuat ku lelah, dan akhirnya tertidur lebih awal. Alina sengaja berbohong untuk menutupi kebohongan orang lain.


" Benarkah? Lalu apa kamu pernah merasa rindu pada ku? " Adelio kemudian bertanya dengan lembut membuat pipi Alina memerah. Tapi sayang, ia tidak dapat melihatnya.


" Ya, tentu saja. Aku sangat merindukan kamu. Bagaimana kabar kamu di Amerika? " Alina kembali bertanya.


" Tidak terasa bukan, waktu sudah berlalu selama hampir satu tahun. Aku bahkan tidak bisa melupakan wajah kamu. Aku selalu ingat senyuman mu yang membuat hati ku terasa hangat. " Adelio mulai menggombal lagi. Alina hanya tersipu malu dibuatnya.


***


Setelah selesai mengobrol dengan Alina di telepon, terlihat wajah Adelio jadi lebih bersemangat. Ia merasa lega akhirnya dapat melepas rasa rindunya walaupun hanya melalui telepon.


***


# Di Kantin Sekolah Alina #


Alina dan Hanna duduk bersama sambil menyantap makanan mereka.


" Jadi, kamu benar-benar sudah yakin akan pindah ke asrama sekolah? " Tanya Hanna.


" Iya, aku akan segera pindah dalam waktu dekat ini. Paman Sandy sedang mengurus segalanya untukku. " Jelas Alina.


" Aku ingin mencari kesibukan lain. Setelah sekolah selesai, aku bisa membantu kepala sekolah untuk menemani adik adik yang lain bermain bersama. Di rumah, tidak ada yang bisa aku kerjakan. Paman Sandy melarang ku membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi aku merasa bosan. " Alina kembali mengatakan beberapa hal agar Hanna bisa mengerti keadaannya.


" Apa Paman Sandy dengan mudah memberikan izin untuk mu? " Tanya Hanna ingin tahu.


" Tentu saja. Aku hanya ingin melakukan hal yang positif, kenapa dia harus tidak mengizinkan ku? " Jawab Alina.


" Kenapa aku merasa seperti ada sesuatu yang kamu sembunyikan? " Hanna merasa penasaran dengan keputusan Alina yang dia anggap mendadak itu.


" Sembunyikan apa? Sudah jelas jelas aku menceritakan niatan ku ini. Kamu malah mengatakan aku menyembunyikan sesuatu hal. Lalu aku harus bagaimana, agar kamu tidak curiga padaku? " Ucap Alina dengan cemberut. Hanna hanya menatapnya sambil mengangkat kedua bahunya.


Mereka kemudian melanjutkan kembali memakan makanan mereka. Tidak ada yang berkata apa apa lagi. Mereka makan dengan tenang sampai habis.


***


Sepulang sekolah, Alina melihat Zanitha berdiri di samping pintu. Ia tidak ingin menghiraukan Zanitha dengan terus berjalan tanpa menolehkan kepalanya.


Tapi bukan Zanitha namanya jika ia tidak ingin mengganggu Alina saat ada kesempatan. Ia menarik tangan Alina saat Alina melewati dirinya tanpa menghiraukan keberadaannya. Alina sontak terkejut.


" Apa yang ingin kamu lakukan? " Alina menepis dengan kasar tangan Zanitha yang mengait di lengannya.


" Aku dengar kamu akan segera keluar dari rumah ini dalam waktu dekat. Apa itu benar? " Zanitha mencoba mencari tahu kabar yang dia dengar dari Kyra sebelumnya.


" Bukan urusan mu! " Jawab Alina singkat.


" Tentu saja menjadi urusan ku. Karena selama kamu berada di sini, perhatian semua orang beralih kepada mu. Kamu semakin besar kepala saat mendapat perhatian lebih dari Paman Sandy dan juga Adelio. Kamu tidak sadar ya kalau kamu sangat tidak pantas? " Ucap Zanitha sinis.


" Kamu menunggu ku di sini apakah hanya untuk mengatakan ini? Apa kamu tidak ada pekerjaan lain? " Sindir Alina.


" Kamu sudah mengatakannya dan aku sudah mendengarnya. Jadi biarkan aku pergi. Aku tidak tertarik bicara omong kosong dengan mu. " Alina melanjutkan sindirannya. Kemudian ingin melangkah pergi.


" Tunggu! Aku tidak mengizinkan mu untuk pergi. Apa kamu tidak pernah belajar sopan santun? Di saat orang masih bicara dengan mu, kamu malah ingin pergi. Dasar tidak tahu malu. " Umpat Zanitha. Alina menghentikan langkahnya dan kembali menghampiri Zanitha.


" Zanitha, sejak kita bertemu aku merasa tidak pernah membuat masalah dengan mu baik sengaja atau pun yang tidak disengaja. Aku tidak tahu alasan apa yang membuat kamu begitu membenci ku. Kalau itu karena Adelio, lebih baik kamu bicarakan baik baik dengannya. Jangan mempersulit ku. Aku tidak pernah berniat untuk bermusuhan dengan siapa pun dan dengan alasan apa pun. " Alina sekarang benar benar lelah dan tidak ingin bertengkar. Ia hanya bisa secara terang terangan mengatakan isi hatinya selama ini. Alina kemudian pergi meninggalkan Zanitha yang diam terpaku di tempatnya.


" Aku tidak peduli. Selama Adelio belum menjadi milik ku, maka selama itu juga aku akan membenci kamu. Aku tidak akan dengan mudah melepaskan kamu begitu saja. Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia sedangkan aku harus meratapi nasib ku. Kalau kamu ingin aku melepaskan kamu, kamu harus pergi sejauh mungkin. Pergi ke tempat dimana Adelio tidak akan bisa menemukan kamu. " Gumam Zanitha sambil menahan amarahnya. Tiba tiba ia dikagetkan dengan sebuah tangan yang menepuk bahunya. Ia pun menoleh.


" Aku akan membantu kamu mengirimnya ke tempat itu. Aku akan selalu mendukung mu bersama Adelio. Aku tidak akan membiarkan gadis sial itu mendapatkan apa yang dia inginkan. " Ucap Kyra dengan lembut namun penuh amarah yang membuat Zanitha membelalakkan matanya.


" Bibi " Ucap Zanitha gugup. Kyra segera tersenyum untuk menenangkan Zanitha.


" Bibi tahu kalau kamu menyukai Adelio. Bibi akan merasa sangat senang kalau Adelio bisa bersama dengan kamu. Kalian pasti akan hidup bahagia. Aku akan menyingkirkan gadis sial itu, agar dia tidak bisa mengganggu hubungan kalian lagi. Dan kalian bisa hidup dengan tenang. Aku juga akan merasa lebih tenang. " Kyra berkata dengan lembut dan penuh kasih sayang.


" Bibi, kamu memang ibu yang baik. Kamu selalu tahu apa yang dibutuhkan anak kamu. Aku beruntung sekali bisa mengenal keluarga ini. Aku janji akan membuat Adelio bahagia bersama ku. Aku tidak akan pernah mengecewakan bibi. " Zanitha berkata dengan manja. Kyra pun tersenyum dan memeluknya.


" Kamu memang anak yang baik. " Kyra mengusap lembut kepala Zanitha dan tersenyum ramah padanya.


" Sepertinya Bibi Kyra benar-benar tidak menyukai Alina. Ini hal yang sangat bagus. Jadi aku tidak perlu terlalu repot menyingkirkan gadis itu. Bibi Kyra selalu banyak akal. Aku yakin, dia punya rencana nya sendiri terhadap Alina. " Gumam Zanitha dalam hati.