Aldan

Aldan
Part 8



Ira berjalan bersana Monic menuju kelas barunya. MOS telah selesai dan dia memulai pelajaran hari ini. Monica Falenciana adalah teman barunya saat ia masuk ke SMA ini. Ira menemukan Monic saat pembagian kelas, kebetulan mereka satu kelompok dan juga sebangku, atau mungkin Tuhan memang telah mengatur semuanya. Ira dan Monic memiliki beberapa kesamaan, mereka berdua sama-sama menyukai k-pop, music, dan pastinya Aldan.


Wait, tidak untuk Ira. Gue gak suka sama Aldan! Camkan itu!


"Lo beneran pacaran sama Kak Aldan, Ra?" ucap Monic.


Pertanyaan itu terus saja dipertanyakan oleh Moinc sejak tadi pagi, Ira bahkan sudah muak untuk mendengarkannya. Monic menyukai Aldan, Ira tahu itu. Namun Ira juga tahu bahwa Monic hanya menyukai, tidak berniat untuk menjadikannya pacar. Terlebih lagi Monic bukan tipe orang yang suka dengan kakak kelas. Monic lebih menyukai mereka yang satu usia atau adik kelas, biar muda katanya.


"Gue gak pacaran."


"Terus kok Kak Aldan bisa deket banget sama lo?"


"Ya mungkin dia nge fans sama gue."


"Siapa yang nge fans sama kamu?"


Ira terdiam, begitu pula dengan Monic, suara bass milik Aldan terdengar tepat di belakang Ira. Keduanya dapat merasakan sinyal bahaya saat ini.


"Eumm, Ra gue duluan yak! Gue lupa ngerjain tugas Bahasa Inggris."


Monic pamit tanpa ucap lagi, ia berlari menuju kelasnya dan meninggalkan Ira sendirian bersama Aldan.


"Eh dasar! Kita aja baru mulai pelajaran mony--ehh Kakak," ucap Ira saat Aldan berada di sampingnya.


Ira terdiam, senyumnya yang tadi mengembang seketika menguap entah kemana. Aldan diam tanpa ekspresi. Ira benci keadaan seperti ini, ia merindukan sedikit tawa dan senyum Aldan.


"Siapa tadi yang kamu bilang fans?"


"Engg ... Gak ada kak, kakak salah denger mungkin," ucap Ira gugup.


Aldan menarik tangan Ira dan memepetnya hingga menempel tembok. Ira hanya bisa terpojokkan.


"Tapi tadi aku denger kamu bilang kalau aku nge fans sama kamu, bener?"


"Salah denger kak," ucap Ira semakin gugup.


Aldan merapatkan jaraknya dengan Ira, digandengnya tangan Ira dengan erat. Aldan membawa Ira berjalan kembali, lebih tepatnya Aldan memaksa Ira berjalan di sebelahnya.


"Tadi aku denger jelas kok, telinga aku masih fungsi."


"Perasaan tadi aku nggak ada ngomong fans."


Aldan terdiam, lalu ia berhenti di persimpangan koridor, ia menatap kedua mata Ira.


"Kamu masih nggak mau orang-orang tahu hubungan kita? Tangan ini kurang jelas nandain hubungan kita apa?"


Beberapa siswa yang berada di sekitarnya seketika berhenti beraktifitas. Mereka semua memperhatikan dua insan yang saat ini sedang berada di persimpangan koridor, saling bertatapan dan sangat berdekatan.


"Kakak mending balik ke kelas, terus belajar buat UN. Bentar lagi UN kan? Jangan pacaran terus!" ucap Ira langsung berlari meninggalkan Aldan.


"Sialan," desis Aldan.


Ira terus berlari tanpa memperdulikan sekitarnya. Yang jelas ia harus kabur dari Aldan. Ira masuk ke dalam kelas tanpa permisi, langkahnya terhenti saat ia masuk dan mendapati wali kelasnya sedang berada di depan kelas.


Ira mengecek jam tangan warna pink miliknya. Dengan reflek ia menepuk dahinya.


Belom jam 8 dan dia udah masuk? Gila! protes Ira.


Sekolah Ira masuk pukul 08.00 berbeda dengan sekolah lainnya. Kebijakan ini berlaku belum lama ini, kira-kira sekitar tiga tahun yang lalu. Itu semua karena sekolah ini mulai masuk ke dalam jajaran sekolah yang sudah memiliki banyak keunggulan dan prestasi. Hal itu membuat sekolah ini mulai mengurangi jam belajar, dan hasilnya juga memuaskan. Para siswa mulai dapat menyesuaikan jam belajarnya dan tidak terlalu lelah untuk urusan belajar.


"Permisi, Pak," ucap Ira sambil hormat dan memberikan senyum 4 jarinya kepada Bapak Handoko.


"Kamu tahu? Kamu telat berapa lama?" ucap Pak Handoko.


Ira menggeleng. Gue gak telat woy! Masih ada 15 menit lagi botak! Ira masih berdiri di depan pintu dengan tangan masih dalam posisi hormat dan senyum yang mengembang cerah.


"Kamu udah telat 30 menit dalam waktu bimbingan bapak!" ucap Pak Handoko meninggi.


"Tapi ini belom jam delapan, Pak."


"Tapi di jam saya sudah pukul setengah sembilan!"


"Tapi kan belom ada bel, Pak!" protes Ira tak mau mengalah dengan Pak Handoko.


"Guru selalu benar di peraturan kelas saya."


Skak.


"Ya sudah sana duduk. Lain kali kalau kamu telat, kamu saya hukum lari lapangan 10 kali."


"Lapangan sekolah Pak?" ucap Ira.


"Lapangan bola yang di samping sekolah. Milik Kampung Rambutan."


Ira mendengus kesal. Pasalnya, lapangan bola di sebelah sekolah termasuk lapangan yang sangat besar. Berlari satu putaran saja sudah membuat nafas Ira ngos-ngosan. Apalagi berlari sepuluh putaran. Ira langsung diam dan duduk di bangkunya bersama Monic.


Sekali gue telat, gue bakal masuk UGD!


...[]...