Aldan

Aldan
Part 28



Ira melangkahkan kakinya menuju kelas Aldan. Hari ini Aldan tidak menghubunginya lagi setelah beberapa hari semenjak Aldan datang ke rumahnya waktu itu. Pagi tadi juga Aldan tidak menjemput Ira, membuat Ira berfikiran kalau terjadi sesuatu dengan Aldan.


"Kak, Kak Aldan kemana?" ucap Ira


Aldo menggeleng sambil memasukkan buku pelajaran yang tadi lalu berjalan keluar kelas. Ira mengikutinya lalu memegang pundak Aldo. "Kak, Kak Aldan kemana sih?" tanya Ira.


"Nggak tahu, dia nggak bilang ke gue. Mungkin dia sakit, soalnya tadi tanpa keterangan." Aldo berjalan meninggalkan Ira yang masih terdiam di depan kelas Aldan.


"Misi gue mau lewat," ucap seseorang dari belakang Ira.


"Iya kak maaf," ucap Ira sambil menggeser posisinya agar tidak mengganggu jalan.


Ira menatap laki-laki yang keluar dari kelas itu, Pakaian berantakan, persis seperti tokoh bad boy yang sering ia baca di *******.


"Gue kira nggak ada bad boy di dunia nyata kayak gini," ucapnya lalu berbalik badan dan melangkahkan kakinya.


"Apa lo bilang tadi?" ucap laki-laki itu tadi.


Ira berhenti berjalan. "Kakak denger?" ucapnya ragu.


"Iya lah gue denger, lo bilang apa? Bad boy? Maaf, tapi gue bukan bad boy!" ucap laki-laki itu tadi.


Tanpa Ira sadari, laki-laki itu sudah berada tepat di belakang Ira lalu memegang kedua pundaknya. Bukan memegang, ini semacam remasan pada bahu Ira.


"Kenalkan, gue Gilbran," ucap laki-laki yang mengaku namanya Gilbran itu.


"I ... Iya kak, maaf," ucap Ira lalu berusaha melepaskan bahunya dari tangan Gilbran.


"Kenapa gitu? Takut? Gue nggak gigit, gue cuman mau kenalan. Kata orang, tak kenal maka tak sayang. Makanya gue ngajak kenalan, siapa tahu kalau udah kenal, bisa saling sayang," ucap Gilbran lalu membalikkan tubuh Ira hingga mereka berdua saling bertatapan.


Ira membisa lalu menundukkan kepalanya. "Maaf kak, nama saya Ira," ucap Ira gugup.


Gilbran melepaskan tangannya dari bahu Ira lalu menyilangkan di depan dadanya.


"Udah tau kok, itu di dada lo udah ada name tag nya, jadi nggak usah di kasih tau."


Ira langsung menutupi kedua dadanya dari jangkauan mata Gilbran yang nakal.


"Gue nggak nafsu sama yang tepos gitu, Aldan ngasih lo apaan coba, sampai masih tepos gitu. Coba lo sama gue, nggak bakal tepos itu dada." Gilbran menyisir rambutnya dengan tangannya lalu merapikan kembali bajunya yang agak terlipat.


"Gue cabut," ucap Gilbran lalu meninggalkan Ira.


Ira bernafas lega. Akhirnya dia pergi juga! Ira kembali melangkahkan kakinya menjauhi kelas Aldan untuk mengambil tasnya di kelas.


"Lo mau kemana?" ucap Monic saat Ira masuk ke dalam kelas secara terburu-buru lalu berjalan mengambil tasnya.


"Gue mau skip, mau jengukin Aldan. Dia sakit," ucap Ira.


"Kalau gitu gue ikut ya, gue bawa mobil kok."


Ira menggeleng. "Jangan, gue jaik gojek aja. Lo belajar di sini. Besok gue pinjem catetan lo. Ijinin sama Pak Handoko ya," ucap Ira lalu berlari keluar dari kelas.


Setelah itu ia keluar sekolah dan berlari menuju halte bus di dekat sekolahnya. Tak berapa lama gojek yang ia pesan akhirnya datang, ia langsung naik dan menuju ke rumah Aldan.


^^^Alnira^^^


^^^Kak, kakak dimana? ^^^


Tak ada jawaban dari Aldan. Ira menggenggam ponselnya erat. Ia hanya dapat berdoa agar semuanya baik-baik saja. Namun tetap saja, hatinya tidak dapat biasa saja.


Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.


^^^Alnira^^^


^^^Kak! Jawab napa! Aku kangen! ^^^


Alnira menatap layar ponselnya yang memperlihatkan chatnya dengan Aldan yang sama sekali tidak di jawab. Ira berhenti di depan sebuah rumah besar dengan pagar menjulang tinggi. Setelah turun dan membayar kepada gojek, ia menuju gerbang lalu masuk ke dalam halaman rumah itu.


"Cari siapa neng?" ucap seorang satpam yang ada di sana.


"Mau ketemu sama Kak Aldan, Pak. Tadi udah janji mau ketemu di rumahnya. Saya pacarnya," ucap Ira sedikit berbohong.


Pacar den Aldan? Terus yang tadi itu siapa? ucap seorang satpam di sebelahnya kepada satpam tadi sambil berbisik.


Udah biarin aja, bukan urusan kita. Satpam satunya hanya dapat membalas dengan bisikan. Tapi Ira masih dapat mendengarnya.


"Eumm, neng masuk saja, di dalam ada Bi Inem, minta tolong Bibi aja buat nganter neng ke kamar den Aldan."


Ira mengangguk lalu mengucapkan terimakasih lalu menuju ke sebuah pintu putih yang menjulang tinggi. Ia membuka pintu itu yang tidak terkunci. Kemudian ia masuk ke dalam rumah itu lalu menuju ke ruang tamu.


"Harmonis, ya," ucap Ira pelan sambil mengembalikan kembali bingkai foto yang ia ambil dari nakas.


"Cari siapa neng?" ucap seorang perempuan.


"Ehh, bibi. Cari Kak Aldan, bi," ucap Ira pelan sambil berbalik badan dan mendekati Bi Inem. Bi Inem tersenyum hangat lalu menggenggam tangan Ira.


"Duduk sini dulu, neng."


Bi Inem mengajak Ira duduk di sofa lalu ia mengelus tangan Ira. "Neng siapanya den Aldan?" tanya Bi Inem. Ira menghangat, belum pernah ia mendapatkan perlakuan seperti ini selain dari kedua orang tuanya dan juga Regha.


"Pa ... Pacarnya, bi," ucap Ira sambil berusaha menutupi rona merah di pipinya.


"Ohh pacarnya den Aldan. Cantik ya neng, bibi jadi bahagia lihat den Aldan bisa dapet wanita sepeti eneng. Ehh kalau boleh bibi tahu, nama eneng siapa?" ucap Bi Inem.


"Ira, bi," ucap Ira.


Bi Inem mengangguk. "Yasudah, bibi mau buatkan eneng minum dulu. Eneng ke kamar den Aldan saja. Tinggal naik tangga terus pintu nomor 2 sebelah kiri itu kamar den Aldan. Tapi pelan-pelan ya neng, den Aldan lagi sakit."


Ira mengangguk. "Iya Bi, jangan repot-repot."


Bi Inem tersenyum lalu berdiri meninggalkan Ira. Sedangkan Ira berdiri dan melangkahkan kakinya pelan menuju tangga. Ia menaiki tangga tersebut dengan perasaan ragu, seperti ada perasaan untuk tidak melanjutkan langkahnya dan berbalik untuk pulang.


Namun hati Ira memantapkan hatinya untuk tetap melanjutkan langkahnya. Ira sudah berada di lantai atas. Ada 3 pintu di saja. Pintu kedua terbuka sedikit. Ira mendekati pintu itu lalu menatap ke gantungan yang terdapat di sana sebelum mengintip ke dalam.


It's my room. Aldan!


Ira tersenyum saat ia sudah menenukan kamar milik Aldan. Kemudian ia mencoba melihat ke arah dalam kamar leeat celah pintu yang sudah terbuka sedikit.


Deg.


Jantung Ira memacu lebih cepat. Mata Ira membulat sempurnya. Mulutnya menganga melihat Aldan.


Lo, sama aja kak sama cowok lainnya!


Air mata Ira menetes di pipinya. Kedua tangannya sudah menggenggem ujung baju sekolah yang ia kenakan dengan kuat. Kuku Ira sudah mulai berganti warna menjadi putih akibat genggaman yang terlalu kuat.


"Aku masih sayang sama kamu," ucap seorang wanita dari dalam kamar Aldan.


Ira masih dapat mendegar percakapan itu. Ia masih setia di depan pintu sambil melihat Aldan bersama wanita lain dan juga mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


"Tapi lo dulu pergi ninggalin gue, Xer!" ucap Aldan.


Ira kembali menangis.


"Aku bisa kok balik kayak dulu lagi," ucap Xerly.


Mata Ira kembali membulat, siluet orang sedang berciuman terpampang nyata di depannya. Ira kira, Aldan tidak akan membalas ciuman Xerly. Namun, nyatanya, Aldan malah membalasnya dan juga menindih Xerly.


Ira menyudahi kegelisahannya. Ia memberanikan diri memegang knop pintu lalu menutup pintu Aldan dari luar dengan keras. Ia menangis lalu berlari menuruni tangga, sedangkan Aldan langsung keluar dari kamar dan mengejar Ira.


"Ira tunggu!" ucap Aldan sambil mengejar Ira.


Aldan berhasil menarik lengan Ira dan membuat Ira berhenti berlari.


"Aku bisa jelasin," ucap Aldan.


"Apa lagi kak yang kau lo jelasin ke gue? Apalagi yang lo perlukan buat jelasin semuanya ke gue? Semuanya itu udah jelas kak. Udah jelas semuanya tadi, saat lo cium Xerly."


Aldan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya keras. Brengsek!


"Yang aku lakuin ke Xer—"


"Apa? Mau alesan lagi? Udah kak, gue udah capek sekarang. Hari ini, gue mau kita putus," ucap Ira lalu mendorong Aldan kemudian berlari meninggalkannya.


Sedangkan Aldan hanya dapat terduduk di lantai sambil mengacak rambutnya frustasi. Andai gue bisa lebih jaga hati gue. Sorry gue belum bisa lepasin Xerly, tapi gue beneran sayang sama lo, Ira.


"Dan," ucap Xerly sambil memegang pundak Aldan.


Aldan menepis tangan Xerly dengan kasar. "Pergi!" bentak Aldan.


Xerly terhentak. Kemudian ia berdiri dengan pelan lalu perlahan ia keluar dari rumah Aldan dan meninggalkannya.


"Aaakhhhh!" teriak Aldan membuat banyak orang terdiam di tempat, tak terkecuali Bi Inem yang melihat semuanya dari dapur.


...***...