
"Siapa sih yang selalu kirim gue hadiah nggak jelas kayak gini?!"
Ira sudah mulai muak dengan beberapa Paket tanpa alamat pengirim yang sampai di depan rumahnya. Sena dan juga Regha tidak tahu juga siapa yang mengirimkan.
"Mungkin lo punya secret admirer kali." Regha mengambil sebuah kotak dari tangan Ira lalu membukanya.
Mau berapa kali kamu lari
Aku tetep akan ketemu sama kamu
Kamu nggak akan bisa lepas dariku
Kamu yang membuatku terikat denganmu
Kamu ingat, pertemuan kita pertama kali?
-G
"Jaman 2018 masih aja ada yang Pake surat-suratan segala. Itu manusia hidup di kota, apa di goa?" sindir Regha.
"Nggak tahu bang! Gue udah muak dapet gituan. Nggak mikir apa, neror kok gak guna," balas Ira.
"Yaudah abang buang ya? Lagian lo punya temen yang dendam gitu nggak sih yang inisialnya G?" tanya Regha sambil memasukka kotak itu ke dalam tempat sampah di kamar Ira.
Ira memikirkan perkataan Regha sejenak. "Siapa ya? Gina? Gema? Ghani? Galak? Gean? Gandhi? Ahhh mereka semua nggak ada masalah sama gue, bang."
Regha menggelengkan kepalanya. "Mungkin kakak kelas lo."
Kemudian Regha membawa tempat sampah itu lalu keluar kamar Ira dan melangkahkan kakinya keluar.
Ting...
Ira membuyarkan lamunannya saat sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya.
Monyet dingin
Sayang
Ira menaikkan sebelah alisnya. Tumben dia chat, biasanya langsung nelpon.
Monyet Dingin! Calling....
Ira langsung melemparkan ponselnya menjauh, ia kaget saat tiba-tiba nama Monyet Dingin menjadi caller id nya. Tak lama kemudian Ira mengambil kembali ponselnya lalu menjawab panggilan Aldan.
"Kenapa kak?" tanya Ira.
"Kenapa lama banget jawab wa aku?"
Ira berdiri kemudian memikirkan alasan apa untuknya membodohi Aldan.
"Tadi ke kamar mandi."
"Terus sekarang?" Aldan langsung menyahut ucapan Ira.
"Udah enggak, kak."
"Yaudah lihat ke bawah. Nggak kasihan aku di luar kedinginan?"
Ira langsung berlari ke arah jendela lalu meligat ke arah halaman rumahnya. Dan ternyata Aldan sudah berada di sana. Aldan menatap ke atas sambil masih menempelkan ponselnya di telinganya. Sedang tangan kirinya membawa bungus plastik putih.
"Buruan turun, dingin."
"Kakak ngapain ke sini?" ucap Ira masih tetap di tempatnya sambil menatap Aldan.
"Mau ketemu calon mertua. Sama mau hamilin anaknya."
"Anak bunda? Kakak mau hamilin bang Regha?"
Mereka sama-sama masih mempertahankan panggilan itu. "Buruan turun. Aku mau ketemu bang Regha."
Ira semakin cemberut. Aldan dapat melihatnya dari bawah.
"Masuk aja sendiri, yang dicari kan bang Regha."
Aldan melihat Ira hendak mematikan panggilan itu. Namun, Aldan langsung menghentikannya. "Jangan di matiin dulu, aku mau ketemu abang itu soalnya aku mau izin ke dia, mau izin buat nikahin kamu."
Ira terdiam. "Buat apa izin, toh kamu juga bakal pergi."
Ira langsung mematikan panggilan itu. Sedangkan Sena yang daritadi melihat Aldan dari kaca, langsung keluar dan mendekati Aldan.
"Eh ada nak Aldan, ayo masuk dulu," ucap Sena sambil memegang tangan Aldan.
Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam rumah. Sena mempersilahkan Aldan duduk.
"Kata Ira, nak Aldan mau ke Jerman ya?" tanya Sena.
Aldan mengangguk.
"Dapet beasiswa?"
Aldan kembali mengangguk.
"Iranya ada, bun?" tanya Aldan.
"Oh ada, bentar ya, bunda panggilin."
Setelah itu Sena berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah kamar Ira. Setelah Sena membujuk Ira untuk menemui Aldan, akhirnya Ira mau dan menemui Aldan.
"Ngapain nemuin aku? Katanya mau ketemu abang, katanya mau hamilin abang," ucap Ira.
Aldan berdiri dan mendekati Ira. Kemudian ia menarik Ira dalam pelukannya. "Lepasin ish!" ucap Ira.
"Aku nggak bisa apa-apa selain peluk kamu. Bunda sama abang ada di rumah. Aku cuma mau kangen ini bisa cepet pudar kalau ketemu kamu. Aku rindu sama kamu."
Ira berhenti mendorong tubuh Aldan. Perlahan dirinya juga memeluk tubuh Aldan. "Aku juga kangen sama kamu, kak."
"Kamu udah makan?" tanya Aldan.
Ira menggeleng. Aldan langsung mengajak Ira untuk duduk di sofa lalu membuka kotak martabak kesukaan Ira. Aldan mengambilnya lalu menyuapkan martabak itu ke mulut Ira. Setelah Ira mengunyahnya, Ira tersenyum kepada Aldan.
"Itu, kamu makannya berantakan."
Aldan mengambil tissue yang ada di meja, lalu mengarahkan jarinya ke sudut bibir Ira lalu membersihkan noda martabak yang tersisa di sana.
"Kayak anak bayi, tahu?" ucap Aldan.
Kemudian Aldan mengambil martabak lagi lalu memakannya. Tak berapa lama, Ira tertawa terbahak-bahak. Membuat Aldan bingung dengan apa yang Ira perbuat. Ira mengambil tissue lalu membersihkan noda martabak yang ada di sudut bibir Aldan. Sebuah senyum terbentuk di sana. Membuat Ira berhenti membersihkannya dan menatap bibir Aldan lama.
"Kenapa? Pengen?" tanya Aldan.
Ira membuyarkan lamunannya lalu menekan kuat tissue itu di pipi Aldan, membuat Aldan sedikit kesakitan.
"Ngakunya udah gede, udah bisa bikin bocah. Tapi makan masih kayak anak balita."
"Emang sengaja, biar kamu perhatiin aku lebih."
Ira mencubit lengan Aldan. "Ish gombal mulu!"
"Nggak papa asal gombalnya sama kamu aja."
"Basi!"
...***...