Aldan

Aldan
Part 15



...[Music of This Story]...


...Virgoun ft. Audy - Selamat (Goodbye)...


...[]...


"Kakak kemana aja?" ucap Ira.


Ira langsung mengoceh saat sambungan mereka terhubung. Aldan menelponnya, membuat Ira terlonjak bahagia dan langsung mengangkatnya. Rasa rindunya sudah terlalu besar hingga membuatnya langsung mengangkat panggilan Aldan.


"Tadi ada urusan."


"Urusan apa?" tanya Ira.


Aldan terdiam.


"Jangan buat aku khawatir, Kak!" ucap Ira.


"Aku di depan rumah kamu."


Ira terlonjat kaget. Ia kemudian berlari ke arah jendela dan melihat ke arah bawah. Hujan sangat deras mengguyur malam ini. Aldan menatap ke arah jendela kamar Ira. Ira langsung memutuskan panggilan dan berlari mengambil payung dan turun ke bawah. Regha dan Sena hanya dapat menatap Ira bingung. Ira langsung membuka pintu dan berlari ke arah Aldan lalu menggeret Aldan untuk masuk ke dalam rumah.


"Kakak kenapa ke sini malam-malam, hujan lagi? Kenapa sih kakak ke sini setiap hujan?" tanya Ira khawatir.


Sena dan Regha menghampiri Ira dan berdiri sambil menatap mereka dari jauh.


"Nih, Dek."


Regha memberikan sebuah handuk kepada Ira lalu ia melilitkan handuk itu di badan Aldan.


"Kakak keringin badan dulu. Terus ganti baju make baju Bang Regha. Baru cerita."


Aldan mengangguk kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi. Ira menyiapkan makanan, sedangkan Sena dan Regha sudah pergi untuk tidur.


"Makan dulu kak," ucap Ira.


Aldan mendekati Ira, sangat dekat. Aldan langsung memeluk tubuh Ira kuat. Ira tidak mengetahui masalah apa yang terjadi. Ia hanya terkejut lalu ia membalas pelukan Aldan.


"Biarin aku tidur di sini, semalam."


Aldan melepaskan pelukannya lalu mengatupkan tangannya di pipi Ira.


"Tapi kenapa?" tanya Ira.


Aldan hanya menggeleng pelan. Ira dapat melihat bagian mata Aldan membesar.


"Kakak nangis?" ucap Ira.


Aldan kembali menggeleng.


"Terus kenapa sih, Kak?" Ira mulai frustasi.


"Aku butuh tempat buat pulang."


"Terus rumah kakak?"


"Asal bukan rumah itu!" ucap Aldan.


"Why?"


Cup.


Aldan mencium bibir Ira sekilas. Membuat Ira terPaku di tempat. Badannya membeku, ia tak dapat berkata apa-apa. Ira memegang bekas ciuman Aldan dengan jarinya.


"Maaf, biar kamu diem. Aku pusing. Semalam aja aku di sini. Kamu tidur sana."


Ira mengangguk pelan. Ia kemudian berjalan ke arah kamar.


"Jangan lupa di makan itu, sama kakak mau tidur di mana?"


Aldan melihat sekeliling. "Sofa mungkin."


Ira langsung berhenti dan berlari menghampiri Aldan lagi.


"Jangan!"


Ira menggenggam tangan Aldan dan membawanya ke kamarnya, sekalian dengan makanan yang tadi disiapkannya untuk Aldan.


"Kakak tidur sana di sini. Nanti aku ke kamar abang."


"Nggak papa?" tanya Aldan.


Ira mengangguk.


"Eumm makasih," ucap Aldan.


Aldan memeluk tubuh Ira kemudian ia mencium pucuk rambut Ira. Kemudian Ira meninggalkan Aldan di kamarnya. Dengan banyak sekali pertanyaan yang tak sempat terucapkan.


...***...


Suara burung membuat Aldan membuka matanya pelan. Ia mengerjapkan matanya sesekali sambil memulihkan penglihatannya. Ditatapnya kamar asing yang menjadi pemandangannya saat ia terbangun ini.


"Gue kayaknya baru tidur bentar, tapi udah pagi aja."


Aldan bangun dari tidurnya. Ia berjalan menuju balkon milik Ira lalu duduk di jendela. Benar jika Aldan baru saja tidur sebentar. Aldan baru bisa tidur sejak pukul 5 tadi. Pikirannya melayang kemana-mana. Ia hanya tidak dapat tidur. Ira membuka pintu kamarnya dan mendekati Aldan.


"Kakak kenapa?" tanyanya pelan.


Aldan hanya menatap ke arah langit tanpa berbicara apapun.


"Kalau kakak kayak gini terus. Gimana aku bisa ngerti kakak lagi ngerasain apa?"


Aldan turun lalu memeluk tubuh Ira.


"Cukup diam. Belum saatnya kamu tahu."


Ira mengangguk dalam pelukan Aldan. Ia dapat mendegar detak jantung Alda yang semakin kencang.


Andai lo tahu semuanya. Apa lo bakal tetep sekhawatir ini sama gue? ucap Aldan dalam hati.


Andai lo dengan mudah ngomong apa alasan lo kak. Mungkin gue bakal jadi orang pertama yang ngehapus air mata lo.


Aldan dan Ira tenggelem dalam pikirannya masing-masing. Aldan masih saja betah memeluk Ira. Nyaman saat berada di posisi seperti ini.


"Ekhem, maaf tante ganggu. Tapi kalian bisa sarapan dulu sekarang."


Aldan langsung melepaskan pelukan Ira.


"Iya bun, makasih."


Andai gue ngerasain hangatnya kehidupan seperti ini.


Aldan menggandeng tangan Ira dan membawanya turun. Kemudian ia duduk di meja makan bersama Regha dan Sena. Mereka berempat makan dalam diam. Semuanya larut dalam pikirannya masing-masing.


"Aldan ada acara gak?" tanya Sena.


Aldan menghentikan makannya lalu menatap Sena.


"Nggak ada, bun."


Sena menggangguk. "Bisa anterin Ira buat les piano? Regha mau main sama pacarnya katanya."


Ira langsung menginjak kaki Regha, hal itu membuat Regha mengumpat pelan lalu menatap tajam Ira.


"Bisa kok, tan."


"Jagain yang bener adek gue. Jangan di apa-apain."


Aldan mengangguk. "Iya, bang."


"Jangan di buat nangis juga adek gue. Lihat aja kalau sampai Ira nangis gara-gara lo."


"Ish apaan sih bang!" protes Ira.


"Iya bang," Aldan membalas ucapan Regha.


...***...


Sebuah alunan melodi bergema di ruang studio besar di salah satu sudut kota ini. Aldan masih setia duduk di dalam studio mendengarkan Ira bermain piano dan juga mempraktikkan apa yang telah ia pelajari.


Andai gue bisa tetep bersama bareng lo.


Aldan menatap Ira dalam diam. Air matanya menetes. Ia menghapusnya cepat. Ira yang merasa sedang diperhatikan langsung menatap Aldan dan tersenyum. Alunan lagu Perfect mengingatkan Aldan tentang peristiwa MOS waktu itu. Aldan sesekali mengikuti nada yang Ira mainkan. Sama dengan Ira yang ikut bernyanyi mengikuti irama yang ia buat. Hingga akhirnya Ira menyelesaikan lagu itu dan beristirahat.


"Pianonya bagus," ucap Aldan.


Ira cemberut. "Jadi, pianonya yang bagus?" tanya Ira.


Aldan mengangguk. Ira langsung menyulangkan tangan di depan dada lalu mengerucutkan bibirnya.


"Apa?" tanya Aldan.


Ira masih saja terdiam.


"Kenapa sayang?" ucap Aldan menatap lekat Ira.


Ira tak menjawabnya.


"Jawab atau aku cium?" Paksa Aldan.


"Jadi yang bagus pianonya? Bukan aku?" ucap Ira.


Aldan langsung tertawa mendengar ucapan Ira. Baru kali ini Ira melihat Aldan dapat tertawa selepas ini. Ada rasa hangat melihatnya. Ada juga rasa khawatir di dalam hatinya. Kedua rasa itu sama-sama kuat di dalam hatinya. Bahkan terkadang saat ia mulai menyukai Aldan, rasa khawatir pun menghampirinya.


Andai lo kayak gini terus, Kak.


Aldan langsung menurunkan tingkat volume ketawanya dan mulai berhenti. Ia menggelengkan kepalanya pelan.


"Jadi kamu cemburu karena aku bilang kalau pianonya yang bagus? Bukan kamunya?" tanya Aldan.


"Nggak cemburu! Siapa yang bilang cemburu!" sanggah Ira.


"Lha tadi?" tanya Aldan.


Ira kembali mengerucutkan bibirnya.


"Dasar cewek," ucap Aldan.


Ira langsung menatap mata Aldan tajam. "Terus kenapa kalau aku cewek?"


Aldan bingung. Ia kemudian tamPak berfikir. Lalu dirinya mengacak-acak rambut Ira.


"Ya itu alesannya aku suka kamu. Karna kamu cewek!" ucap Aldan.


"Terus kalau aku cowok?"


"Gue tinggalin."


Ira langsung tertawa keras. Mengisi kesepian di dalam studio musik ini.


"Jadi kakak nggak suka nih kalau aku cowok?" goda Ira.


"Padahal aku punya anu," tambah Ira.


"Anu apa?" tanya Aldan.


Ira memperlihatkan tangannya ke depan Aldan. Lalu ia menggerakkan tangannya membentuk sebuah gambar yang membuat Aldan langsung berubah masam.


"Mana mungkin kamu berbatang, itu dada kamu aja mengembang!" protes Aldan.


Bukannya membuat Ira tertawa, hal itu membuat Ira langsung melihat ke arah dadanya dan langsung menutupinya dengan tangannya.


"Dasar Aldan mesum!" ucap Ira.


"Nggak papa lah, cuma ke pacar," balas Aldan.


"Iya, tapi pacar kamu banyak kan?" balas Ira.


Aldan mengangguk.


"Ihhhh!" Ira kesal dan memukul lengan Aldan.


"Iya pacar aku itu cuma kamu, yang banyak itu rasa cinta aku ke kamu."


Ira langsung berhenti memukul lengan Aldan.


"Apa kak? Ulangin," pinta Ira.


"Nggak ada pengulangan."


Aldan langsung mengacak-acak rambut Ira dan memeluknya.


Gue beneran sayang sama lo. Alnira.


...***...