
Hari ini adalah jadwal Regha untuk berangkat ke Inggris. Ira dan Sena mengantarkan Regha ke bandara.
"Kamu beneran mau nurutin kegilaan ayah?" tanya Sena.
"Ya gimana lagi, bun. Namanya juga nggak ada yang ngurusin. Nanti kalau dibiarin malah bangkrut gimana? Kan kasihan ayah udah bangun bisnisnya lama."
"Abang naik pesawat apa?" tanya Ira mengalihkan topik pembicaraan yang sering kali di bicarakan ini.
"Singapore Airlines."
Ira mengangguk, "Sama kayak pesawat kak Aldan."
Ira mengamati ponselnya. Lockscreen yang memperlihatkan fotonya dengan Aldan saat mereka masih mesra dulu. Bahkan setelah beberapa minggu setelah Ujian Nasional, Aldan mulai berubah, sudah jarang sekali Ira bertemu Aldan.
"Jam berapa bang terbang?" tanya Sena.
"Bentar lagi, bun. Tapi nanti pesawatnya transit dulu ke Singapura. Baru deh ke Inggris."
"Transit berapa lama?" tanya Ira.
"Entah."
Ira mengangguk. Hari ini juga hubungannya dengan Aldan sedang diujung tanduk. Aldan menginginkan perpisahan, namun Ira masih ingin melanjutkan hubungannya. Ira hanyalah seorang wnaita. Dia hanya bisa menunggu dan menerima apapun yang terjadi. Jika sang pria menginginkan perpisahan, Ira harus bisa menerimanya.
"Aldan berangkat 2 jam lagi kan? Dia udah di bandara?" tanya Regha.
Ira mengangguk lemah. Air matanya menetes kembali saat menatap wallpaper ponselnya. Foto kemesraan mereka berdua. Foto yang mengingatkan dirinya akan kenangan yang membuatnya sempat bahagia. Foto ini adalah foto yang Monic ambil saat menemani Ira dan Aldan pergi ke sebuah gedung tertinggi di Jakarta.
Ira meneteskan air matanya. Kemudian ia membuka galleri. Banyak sekali folder tentang dirinya dan juga Aldan. Dilihatnya lagi deretan nama folder
-Photos
-Babeđź’•
-1st Month
-In The Beach
-Love You
-Album Lainnya
Ira membuka folder In the Beach. Nampak beberapa foto kenangan dirinya dan Aldan saat mereka berdua di pantai. Bahkan kenangan itu masih saja mengiang di kepalanya. Air matanya kembali menetes, Ira tidak kuat jika harus melepaskan Aldan begitu saja. Dirinya sudah terlalu sayang dengannya. Dirinya sudah jatuh terlalu dalam ke pelukan Aldan.
"Ira berasa nyesel jatuh cinta, bun."
Sena yang sedang menyetir menatap putrinya yang ada di belakang dari kaca.
"Kan abang udah pernah bilang. Jatuh itu sakit. Cinta itu bullshit. Kalau kamu jatuh cinta, sama aja kamu itu cuma jatuh ke dalam semua janji bullshit yang nantinya bakal nyakitin kamu saat salah satunya pergi."
"Nah tuh dengerin abang bersabda. Bunda dulu pernah juga jatuh cinta, bahkan cinta pertama bunda bukan ayah. Bunda ngerasain banyak banget yang namanya jatuh. Dan benar, jatuh itu memang benar sakit. Apalagi jatuh cinta, kalau kamu udah siap jatuh cinta, udah berani sayang sama orang, kamu harus siap, siap buat ngerasain yang namanya sakit hati. Dan sakit hati itu lama untuk hilang."
Ira mengusap ponsel miliknya. Menatap kenangan demi kenangan miliknya dan Aldan.
"Perlahan tapi pasti, kamu pasti bisa move on. Tunggu aja sampai kenangan kalian perlahan mulai memudar. Dan muncul kenangan baru, bersama orang baru," ucap Regha.
"Tapi, kenangan itu bang yang susah hilang."
Ira menundukkan wajahnya. "Iya itu yang dinamakan move on dek."
"Kalau move on itu mudah, nggak mungkin kamu sedih kayak gini. Putus aja belom, udah sedih duluan karena gagal move on," Regha menambahkan lagi.
"Tapi, udah bisa dipastiin bang. Waktu itu kak Aldan bilang kita bakal putus, dia pengen aku tetep bahagia. Dia nggak mau aku ngerasain LDR. Makanya aku udah tahu pasti hubungan ini bakal berakhir. Aku cuman ... cuman belom siap bang. Belom siap ngelepas semua kenangan sama kak Aldan."
Regha menggeleng. "Ini yang buat abang nggak mau pacaran dulu. Abang nggak mau baperin cewek, kalau ceweknya kayak kamu gini gimana? Pas abang putusin, dia gagal move on. Kan abang jadinya ngerasa bersalah."
Gue nggak akan biarin laki-laki lain bikin lo nangis lagi, dek. Sampai Aldan bikin lo nangis lagi, jangan harap gue bakal biarin dia tetep hidup.
...***...
Ira menatap punggung Regha yang mulai menjauhi dirinya. Kemudian tubuh Regha hilang di balik pintu masuk. Sena sudah pergi terlebih dahulu. Ira yang menyuruhnya. Karena setelah ini, ia harus bertemu Aldan dan membicarakan semuanya. Ira membalikkan badannya. Pandangannya terarah pada satu titik.
Aldan.
Suara pesawat membisukan mereka berdua. Informasi tentang keberangkatan Singapore Airlines yang menuju Singapura sudah tersiarkan, pesawat yang Regha naiki mulai melakukan climbing. Aldan yang berdiri jauh dari Ira hanya dapat memandangi Ira dari jauh sambil tersenyum miris. Ira menatap Aldan yang masih saja berdiri. Ia berlari mendekati Aldan, namun apa yang terjadi, Aldan mengarahkan tangannya kedepan dan memberitahu Ira untuk berhenti. Jarak mereka hanya tak lebih dari 2 meter.
"Kak," ucap Ira.
Air mata Ira menetes. Kaki Ira sudah mulai tak kuasa menahan beban tubuhnya sendiri. Semua kata-kata yang dari tadi ia siapkan, perlahan mulai menguap. Aldan masih tak bereaksi. Ia hanya tetap terdenyum kecil kepada Ira.
"Kenapa nangis?" tanya Aldan.
"Kakak yang buat aku nangis. Aku nggak bisa jauh dari kakak!"
Ira tidak peduli dengan kenyamanan orang lain di bandara itu. Yang pasti, ia hanya ingin Aldan mengetahui isi hatinya saat ini.
"Kita udah nggak ada apa-apa sekarang. Hari ini, semua hubungan kita berakhir. Nggak ada yang harus dijelasin lagi. Semua udah jelas malam it--"
"Tapi kenapa kak!" Ira menyela ucapan Aldan.
Ira berteriak keras. Membuat beberapa orang disekitarnya menoleh kearah mereka berdua. Kondisi Ira saat ini tak karuan. Tubuhnya mulai kurus, setiap malam dirinya selalu saja memikirkan Aldan. Bahkan makan saja pun jarang. Kantung matanya mulai membesar, bahkan sudah hitam di sekitar matanya.
Ira belum bisa menghapus air mata yang dari tadi keluar dari irisnya. Bedak tipis ya sudah luntur akibar tergerus air mata miliknya.
"Aku sayang sama kakak. Aku sayang kak! Nggak mau aku kehilangan kakak! Aku rela LDR kalau sama kakak!"
"Stop it! Kita udah omongin ini jauh-jauh hari. Dan kita udah sepakat. Kita sepakat untuk pisah. Aku pernah bikin kamu sayang sama aku. Tapi, aku juga pernah bikin kamu sakit hati. Hari ini, aku ingin kamu bahagia. Carilah seseorang yang membuatmu bahagia. Kalau misalkan jodoh kamu itu aku, kita akan bertemu lagi."
Ira jatuh tersungkur. Lututnya lemas. Perasaan ini tiba-tiba muncul. Ini lebih sakit saat pertama kali ia mengetahui Aldan berciuman bersama Xerly. Ira menatap lantai marmer bandara. Hatinya teriris, dingin, bahkan lebih dingin dari pendingin udara di bandara ini.
"Apa nggak bisa? Kita tetep berhubungan?"
Aldan menggeleng.
Aldan mendongak mencari sumber suara. Saat dirasa panggilan itu untuknya. Ia mengambil kopernya lalu mulai melangkahkan menjauhi Ira. Langkah Aldan terhenti. Sebuah tangan mungil memegang lengannya.
"Lepasin, lepasin semua kenangan kita."
Aldan melepaskan pegangan Ira itu perlahan, perlahan tapi pasti, Ira mulai melepaskan cengkeramannya. Air mata Ira kembali merembes turun. Bahkan jantungnya sudah mulai memompa lebih cepat.
"Lalu apa artinya semua yang kita laluin semuanya kak saat sebelum kakak pergi? Apa maksud kakak cium aku? Peluk aku? Baperin aku? Kalau emang akhirnya bikin harapan palsu, nggak usah bikin janji palsu! Sakit kak berharap yang nggak pasti!"
Ira masih terdiam di tempatnya. Aldan juga masih bersiri tegak. Tangan kanannya memegang koper dan satunya menggenggam erat. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Aldan.
"Apa kak maksud semuanya? Buat apa kakak bilang bakal nikahin aku? Kalau pada akhirnya kakak lepasin aku?! Kenapa semua cowok itu sama aja? Kenapa kak? Kasih aku alasannya!"
Aldan tak menghiraukan ucapan Ira. Ia melangkahkan kakinya perlahan sambil menyeret kopernya. Ira hanya dapat menangis dan terus menangis. Perlahan bayangan Aldan sama seperti Regha. Perlahan menghilang. Deru pesawat mulai terdengar kembali. Hari ini, dua orang yang Ira sayangi, pergi meninggalkannya. Bahkan sekaligus, dua sekaligus.
Ira jatuh tersungkur ke lantai marmer bandara. "Coba lo bisa peduli sama gue, kak!"
Dan hari ini juga, berakhirlah kisah cinta mereka berdua. Kisah Aldan yang mencintai Ira, begitu pula sebaliknya. Sebuah kisah yang menjadi awal segalanya untuk Ira membuka pengalaman di kebidupannya. Awal baginya untuk menjadikannya sebagai seseorsng yang rapuh. Tanpa Ira sadari, seseorang memeluknya dari depan, membiarkan bahunya untuk sandaran Ira.
Ira mendongak dan menatap ke arah wajah orang itu.
"Gilbran?" ucapnya lirih disela tangisannya.
...***...