Aldan

Aldan
Part 27



"Bunda bakal balik kapan?" ucap Ira.


Sena masih sibuk memasukkan bajunya ke dalam koper. "Paling seminggu sampai dua minggu." Ira duduk di samping Sena lalu membantunya melipat Pakaian.


"Emang mau ngapain sih, bun?" tanya Ira.


"Tante Dini mau nikah, bunda di suruh kesana buat bantuin persiapan."


"Iya, karena bunda nggak bisa sendiri, jadinya bunda ngajak abang," ucap Regha yang baru saja masuk ke kamar Sena sambil menenteng satu koper ukuran sedang.


Ira mengerucutkan bibirnya. "Terus Ira sama siapa di rumah?" kesal ira.


"Kan ada Aldan kan? Tapi inget jangan macam-macam, awas sampai macam-macam, bunda gantung kalian!" ucap Sena lalu menutup kopernya.


Kemudian mereka bertiga berjalan keluar rumah. Lalu Ira hanya dapat berpamitan lalu melihat mobil Regha pergi dari halaman rumah.


Satu detik....


Dua detik....


Tiga detik....


"Yes gue bebas seminggu! Yes gue bisa kemana-mana sebebas mungkin!" Ira sangat bahagia. Ia tertawa terbahak-bahak lalu berteriak dan mulai menggila. Ia menutup pintu lalu masuk ke dalam rumah. Dapur, tujuan utamanya saat ini. Ia membuka kulkas dan terdiam tiba-tiba.


"Kalau gini caranya, mending nggak usah di tinggal deh," ucap Ira datar.


Isi kulkas sama sekali kosong. Hanya botol-botol air mineral dan beberapa telur. Tidak ada cemilan ataupun bahan makanan untuk ia buat. Ia membuka ponselnya dan menekan panggilan.


"Bunda!" ucap Ira sambil berteriak.


"Apasih sayang, nggak usah teriak-teriak. Telinga bunda masih pengen normal," balas Sena.


Ira mengerucutkan bibirnya lalu berjalan menuju sofa dan duduk.


"Kenapa nggak ada makanan sama sekali?" protes Ira.


Beberapa detik selanjutnya, Ira dapat mendengar gelak tawa dari Sena. Bahkan Regha juga ikut tertawa terbahak-bahak.


"Bunda lupa sayang, nanti kamu beli aja sendiri ya, bunda udh transfer kok buat kamu bertahan hidup seminggu kedepan," balas Sena.


Ira kesal. Ia mematikan panggilan itu lalu berjalan menuju kamar.


Laper!


Ia rebahkan tubuhnya di atas kasur. Kemudian ia membuka ponselnya lalu membuka pesan dari Aldan.


Terakhir dilihat 15.30


Yah, alamat nggak online deh, kesal Ira dalam hati.


^^^Alnira^^^


^^^Kak^^^


Alnira meletakkan ponselnya. Usahanya untuk mengecek aPakah Aldan online atau tidak membuatnya bosan menunggu balasan Aldan. Kemudian sebuah notifikasi terlihat di layar ponsel Ira.


Monyet dingin!


Kenapa?


^^^Alnira^^^


^^^Kangen^^^


Monyet dingin!


Terus kenapa?


^^^Alnira ^^^


^^^Rumah aku kosong^^^


Monyet dingin!


Otw


Mendapat balasan seperti itu dari Aldan membuat dirinya semakin tertawa terbahak-bahak. Dasar cowok! Rumah pacarjya kosong aja langsung tancap gas! Untung sayang.


Ira kemudian meletakkan ponselnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Namun, baru saja ia hendak melepas Pakaiannya, bel rumahnya berbunyi.


"Siapa?" ucap Ira sambil membuka pintu.


"Loh, kak Aldan?" ucap Ira sambil tersentak kaget.


Aldan tersenyum sebentar lalu masuk ke dalam rumah Ira. Ira masih terdiam di tempat, terPaku karena tidak seperti dugaannya, Aldan datang begitu cepatnya.


"Ngapain di depan pintu terus?" ucap Aldan yang kini sudah duduk di sofa.


"Ehh--ehh enggak kak, cuman kaget aja," ucap Ira lalu menutup pintu dan menyusul Aldan untuk duduk.


"Kaget kenapa? Emangnya aku setan?" ucap Aldan.


"Iya, setan bencong," ucap Ira sambil menahan tawanya.


Aldan memukul kecil dengan jarinya tepat di dahi Ira. Membuat Ira meringia kesakitan. "Masih aja bahas soal bencong," ucapnya.


Ira tertawa lalu bangkit berdiri. Ira hendak melangkah namun tiba-tiba labgkahnya terhenti saat Aldan menariknya dan membuat Ira jatuh dengan posisi duduk di paha Aldan. Wajah mereka saling beradu pandang. Semburat merah muda mulai terlihat di pipi Ira.


"Mau kemana?" ucap Aldan.


"Ambil minum kak," ucap Ira sambil gugup.


Aldan menganggukkan kepalanya. "Aku maunya minum dari sumbernya langsung," ucap Aldan lalu merapikan rambut Ira yang agak berantakan.


"Dari sumbernya langsung?" ucap Ira.


Aldan mengangguk.


"Dispenser kak?" ucap Ira polos.


Aldan kembali memasang raut datarnya. Kekecewaan namPak di sana.


"Kenapa kak? Sumber air di sini yang bisa di minum itu ada di dispenser kak. Kalau enggak di sumur, mau?" tawar Ira.


Aldan menggeleng.


"Ambilin aja air putih," ucap Aldan.


Ira mengangguk kemudian bangun dari duduknya lalu berjalan ke arah dapur. Setelah mengambil air putih, Ira kembali lagi ke ruang tamu. "Kak Aldan kok bisa sampai cepet banget tadi?" tanya Ira sambil duduk dan menuangkan air ke gelas Aldan.


"Tadi sebenernya bunda udah kasih tau, bunda suruh aku jagain kamu, tadi sih mau surprize, tapi karna kamu yang kabarin aku duluan, yaudah nggak jadi deh. Lagain tadi itu aku baru di kang martabak depan komplek. Makanya cepet," ucap Aldan.


Ira mengangguk paham. Dasar bunda! Ngegagalin acara godain kak Aldan kan jadinya kalau gini. Aldan membuka bungusan plastik yang ia bawa tadi. Sebungkus kotak martabak kesukaan Ira.


"Emangnya kak Aldan nggak belajar? Besok ada simulasi UNBK kan?" ucap Ira.


Aldan menggeleng. "Aku cuman belajar satu," balas Aldan.


Aldan mengambil martabak itu lalu menyuapi Ira. "Apa kak?" ucap Ira sebelum memakan martabak dari suapan Aldan.


"Belajar, untuk mencintai kamu setulus mungkin," balas Aldan.


"Uhukh!"


Ira tersedak martabak, Aldan langsung mengambilkan air lalu memberikannya pada Ira. Setelah dirasa enakan, Aldan mengelus punggung Ira dan memijitnya pelan.


"Hati-hati kalau makan," ucap Aldan.


"Kakak sih gombal!"


"Kok aku?"


"Iya kakak," balas Ira.


Tanpa Ira sadari, tangan Aldan sudah berada di sudut bibirnya. Membersihan sisa martabak yang berceceran di mulutnya.


"Kak Aldan pulang sana, besok itu ulangan, jadi harus belajar."


Aldan mengangguk. Kemudian ia bangkit berdiri, Ira juga mengikutinya. Kemudian Aldan memeluk erat tubuh Ira.


"Aku kangen juga sama kamu. Makasih udah kangenin aku," ucapnya lalu mencium kening Ira.


"Iya kak sama-sama," balas Ira.


...***...