Aldan

Aldan
Part 5



...[Music of This Story]...


...Hivi! - Satu-satunya...


...[]...


Suara motor Aldan membuat Ira bangun dari tidurnya, dilihatnya jam bergambar doraemon yang terpampang di dinding kamarnya.


"Jam empat?" ucap Ira bingung.


Ira bergegas bangun dan turun ke bawah. Aldan sudah duduk di sofa bersama Sena. Ira sedikit terkejut saat melihat wajah Aldan yang penuh luka lebam.


"Astaga! Kakak kenapa?" tanya Ira.


Sena melihat Ira dan menyingkir. Kemudian Sena pergi ke kamarnya, meninggalkan Ira dan Aldan sendirian. Ira langsung berlari mendekati Aldan dan melihat wajah Aldan dari dekat. Ira memperhatikan banyaknya bekas lebam, sangat dekat hingga ia dapat merasakan sapuan napas Aldan di wajahnya.


"Nggak kenapa-napa. Gak usah khawatir."


Ira menjauhkan wajahnya lalu berjalan menuju dapur. Ia mengambil baskom dan juga kain. Setelah itu dirinya kembali ke Aldan.


"Buat apa?" tanya Aldan.


"Diobatin dulu," ucap Ira.


Ira duduk dan mencelupkan kain itu ke air hangat lalu mulai mengompres luka Aldan. Sesekali Aldan meringis kesakitan saat Ira menempelkan kainnya terlalu kuat.


"Pelan-pelan, sakit," ucap Aldan.


"Iya-iya, Kak. Emangnya kenapa sih kok bisa gitu?"


"Tadi berantem sama Pandu."


"Kok bisa sih?!" ucap Ira sambil menekan kuat luka Aldan.


"Awhh! Pelan-pelan, Sayang!" pekik Aldan.


Bukannya meminta maaf atau apa, Ira malah terdiam, ucapan Aldan membuatnya membisu, terdiam bagaikan sebuah patung yang bernapas.


"Kenapa diem?" tanya Aldan.


"Eh ... nggak kenapa-napa kok," ucap Ira sambil melepaskan kain itu dan menaruhnya.


"Itu kenapa pipi kamu merah?" tanya Aldan.


"Nggak kenapa-napa!" sanggah Ira.


"Kalau baper itu nggak usah disembunyiin. Baru juga aku panggil sayang."


"Bodo!"


"Kok kasar?"


"Biarin!"


"Ini kenapa jadi kamu yang dingin?"


"Udah bosen sama Kak Aldan yang dingin!"


"Kok manggil aku masih Pakai 'Kak'?"


"Terus apa?"


"Sayang, lah," ucap Aldan sambil tersenyum.


Hal itu sontak membuat Ira terdiam dan mulai meresponnya dengan rona merah yang dengan seenaknya keluar tanpa ia suruh pada pipinya.


"Kan enak kalau diem," ucap Aldan.Senyum terukir di sudut bibir Aldan saat melihat Ira masih membeku di tempat.


...***...


"Dek! Buruan turun, ini teh nak Aldan udah di bawah. Buruan atuh turun!" ucap Sena dari bawah.


"Iya bunda, sabar."


Ira turun melewati tangga dan berjalan menuju ruang makan. Aldan sudah duduk disana bersama Sena dan juga Regha. Makanan sudah berada di depan mereka. Hanya Ira yang baru saja turun dan membuat acara makanan itu baru akan dimulai.


"Nanti hati-hati ya, Nak. Jangan ngebut, Ira takut kalau ngebut," ucap Sena.


Aldan mengangguk kemudian kembali fokus pada makanannya, setelah itu dipegangnya tangan Ira lalu diajaknya berdiri.


"Pamit ya, Bun."


"Kak," ucap Ira.


Ira menghentikan langkahnya saat sebelum naik ke atas motor Aldan. "Kenapa?"


"Kenapa bisa berantem sama Pandu?"


Aldan membenarkan beberapa helai rambut Ira yang keluar dari kucirannya, menyelinapkan ke sela-sela telinga dan merapikannya. "Nggak ada pertanyaan lain?"


Ira menggeleng.


"Dari tadi malem kok nanya ke aku kayak gitu terus. Karena aku nggak rela, kalau pacar aku di bentak kayak kemarin, lagian cuman Pandu, nggak ada rasanya sama sekali. Udah buruan naik, bentar lagi telat, nanti kamu tampil kan?"


Ira mengangguk dan memakai helmnya, setelah itu dirinya naik ke atas motor dan memegang bahunya.


"Aku bukan tukang ojek, jangan megang bahu, pegang pinggang aku, peluk sekalian."


Ira mencibirkan bibirnya di belakang Aldan, kemudian dengan malas dirinya melingkarkan tangannya melewati samping dan memeluk pinggang Aldan, membuat sedikit senyum Aldan namPak di sana.


"Kalau kakak senyum, lebih ganteng," gumam Ira.


"Apa? Tadi ngomong apa?"


"Nggak, buruan berangkat! Nanti Ira telat!"


Aldan hanya mengangguk lalu menghidupkan mesin motornya, lalu mengendarainya dan keluar dari kompleks perumahan Ira, membelah jalanan Jakarta yang padat.


"Kamu udah siapin lagu buat nanti?"


"Belom, Kak."


"Terus nanti mau nyanyi lagu apa?"


"Nggak tahu juga, Kak."


"Kalau duet sama aku, mau?"


Jantung Ira seakan berdetak semakin kencang, membuat pompaan aliran darah didalam tubuhnya mulai cepat seiring bertambahkan waktu.


"Mau enggak?" tanya Aldan lagi.


"Kakak bisa nyanyi?"


"Seenggaknya suara aku nggak bikin perut mules," ucap Aldan.


"Mau lagunya siapa?"


"Kamu maunya lagunya siapa?"


"Nggak tahu, Kak."


"Sekarang kata-kata legendaris cewek bertambah ya, setelah 'nggak kenapa-napa' sekarang bertambah 'nggak tahu' kalau gitu, gimana aku mau tahu apa yang kamu mau."


Ira mengumam tak jelas di balik tubuh Aldan, pasalnya memang dirinya tidak dapat bernyanyi. Terakhir saja ujian praktek seni musik saat SMP, dirinya mendapatkan nilai empat, itupun hasil dari kerja keras dalam waktu seminggu.


"You are the reason."


Ira menoleh, pipinya bersemu merah akibat perkataan Aldan barusan. "Gombal!"


Aldan mengerutkan dahinya, "Kok gombal sih?"


"Itu, kakak bilang you're the reason!"


Aldan tertawa, baru kali ini Ira dapat melihat tawa lepas Aldan.


"Orang itu judul lagu, ngarep banget digombalin sama cogan!"


Ira malu, pipinya semakin merah.


"Siapa cogan?"


"Aku, lah!"


"Ngimpi!"


Perasaan hangat mengalir di dada Ira, hanya satu yang ia harapkan saat ini, semoga Aldan tidak mempermainkannya dan menyakiti dirinya. Jika salah satu dari keduanya tidak merasakan cinta, lalu bagaimana lagi cerita ini akan menarik?


...***...