Aldan

Aldan
Part 20



"Aku nggak akan lama, serius," ucap Aldan.


Ira menggenggam tangan Aldan erat, melepaskan yang pernah pergi, sama saja menjadi hal bodoh untuk kesekiann kalinya. Ira tidak ingin kehilangan Aldan lagi, untuk kesekian kalinya.


"Aku cuma pergi bentar. Nggak akan lama. Aku juga nggak bakal pergi selamanya!" ucap Aldan.


"Mau kemana?"


"Nggak penting buat kamu, aku pernah bilang, cukup kamu di sini, jangan kemana-mana. Aku sayang kamu."


Ira meneteskan air matanya. Setelah pulang sekolah tadi, Aldan mengantarkannya pulang. Namun, tiba-tiba Aldan mendapatkan sms dan ia langsung menurunkan Ira.


"Kalau kakak kayak gini, gunanya aku jadi pacar kakak apa?!" ucap Ira mulai meninggi.


"Pacar nggak berarti tau semua privasi aku," ucap Aldan.


Ira mendesah keras. Ia sudah lelah berdebat dengan Aldan. Ia sudah tahu, pasti ia akan kembali di tinggal. Karena Ira mulai merasakan arti kesendirian kembali, dan ia mulai berdamai dengannya.


"Yaudah."


Ira melepaskan helm doraemonnya lalu pergi meningalkan Aldan. Aldan turun dari motor dengan cepat dan menyusul Ira. Ia mencekal tangan Ira dan memeluknya.


"Aku janji, ini bakal jadi yang terakhir aku pergi. Aku bakal usahain nggak bakal ninggalin kamu sendiri. Aku janji nggak bakal bikin kamu nangis lagi."


Ira memeluk tubuh Aldan erat. Ia semakin menangis.


Kalau lo mau pergi, nggak usah Pake ngomong kayak gini kak. Gue nggak mau denger janji lo yang sama sekali nggak berguna itu.


Buat apa gue percaya sana janji yang nggak mungkin lo tepatin.


"Kamu harus percaya sama aku. Aku beneran cuma pergi bentar. Jangan pernah tinggalin aku."


Aldan melepaskan pelukannya. Kemudian ia mengecup kening Ira. Aldan kembali ke motornya dan mulai meninggalkan Ira dalam kesendiriannya. Gue kembali sepi. Sepi di saat sekitar gue ramai.


...***...


"Jalan-jalan ke mall yok!" ucap Ira.


Tak ada jawaban di seberang sana. Ira mulai kesal karena Monic tak menjawab telponnya. Ira menggumam karena Monic tidak ada pada saat dirinya sedang ingin pergi dan meluPakan semuanya.


"Sorry, Ra. Gue lagi les matematika!" ucap Monic.


"Lo nggak lagi bohong kan?"


"Buat apa gue bohong. Sini ke bimbel gue, liatin gue les."


"Nggak ah, males gue berurusan sama matematika."


"Yaudah."


Ira mematikan panggilan itu. Kemudian ia membanting ponselnya ke kasur lalu ia mengerucutkan bibirnya.


"Lo kenapa dek?" ucap Regha.


Ira berganti posisi duduk menghadap Regha. Regha masuk ke dalam kamar Ira lalu duduk di sebelahnya.


"Gabut bang. Mall yok!" ajak Ira.


"Ngapain ke mall?"


"Jalan-jalan."


Ira tidak menunggu persetujuan Regha. Ia langsung menarik tangan Regha dan mengajaknya turun ke bawah. Kemudian Ira langsung membuka pintu mobil dan duduk dengan manis di kursinya. Regha hanya dapat menggelengkan kepalanya lalu menuruti permintaan adiknya.


"Ke mall mau ngapain?" tanya Regha lagi sanbil menjalankan mobilnya ke luar rumah.


Untungnya Regha bukan tipe laki-laki yang memakai kolor dan kaos seadanya jika berada di dalam rumah. Regha tipikal laki-laki dengan balutan jeans tiap hari dan juga kaos rapih. Entah itu jeans panjang atau pendek, yang penting itu jeans bagi Regha. Maka dari itu, saat Ira mengajaknya pergi, ia tinggal masuk ke dalam mobil dan berangkat. Tanpa harus dandan lagi.


"Beli novel yak, novel adek udah habis," ucap Ira.


"Habis?" ucap Regha sambil menatap Ira tak percaya.


Ira mengangguk.


"Lo makanin gitu, habis?"


Ira memukul lengan Regha. "Maksud gue itu habis gue baca bang! Ihh **** banget sih!"


"Gini-gini juga abang lo," cibir Regha.


Ira mendumel dalam hati. Pokoknya gue harus dapet novel yang gue pengen. Bodo amat mau mahal kek mau murah kek, yang penting lo bayarin gue, bang!


"Emang Aldan kemana? Kok tumben nggak jalan sama dia?" ucap Regha.


"Pergi dia," ucap Ira.


"Sama siapa?"


Ira menggeleng tak tahu. Memang kenyataannya ia tak tahu Aldan pergi kemana.


"Tiati, bisa aja dia selingkuh."


Ira kembali memukul lengan Regha. Kali ini agak kuat hingga membuat Regha kesakitan.


Regha menatap Ira kesal. "Abang sendiri di jelek-jelekin, giliran pacar sendiri di bagus-bagusin."


"Biarin!"


Regha memakirkan mobilnya lalu turun meninggalkan Ira. Ira langsung keluar dan mengejar Regha. "Kok adek di tinggal sih, bang!" protes Ira.


"Siapa suruh lama."


"Ish! Yaudah sih, bang."


Regha berhenti. Kemudian ia menggandeng tangan Ira.


"Apaan sih bang!"


Ira melihat ke arah tatapan Regha. Ohh jadi lo juga pengen dikira pacaran gitu? Hahahaha ****** siapa suruh jadi player!


"Biar lo nggak ilang," balas Regha.


"Biar gue nggak ilang atau biar dikira pacaran?" ledek Ira.


"Itu juga masuk option," jawab Regha.


Regha lalu membawa Ira ke toko buku. Sudah kebiasaan mereka jika ke mall pasti ke toko buku, kalau tidak ya pasti nonton. Tapi karena film Dilan sudah selesai mereka mengurungkan niatnya untuk menonton.


"Bang, ini ceritanya bagus deh."


Regha menatap novel yang di berikan Ira.


"Tentang apa?"


"Tentang seorang laki-laki yang nggak bisa ngungkapin perasaannya secara langsung. Dia cuma bisa ngungkapin perasaannya lewat tulisan, lewat puisi, dan juga lewat mural di pinggir jalan."


Regha membaca blurb bagian belakang novel itu.


Alexandro, laki-laki dengan beribu macam kata yang menyelimuti dirinya adalah satu dari seribu lelaki yang menyembunyikan perasaannya.


Dia sadar ketulusan cintanya pada Angela, akan membawanya pada sebuah jurang pemisah yang sangat dalam. Namun, apa jadinya jika Angela melihat semua perasaan Alexandro?


"Lewat puisi aku bernyanyi, lewat tulisan aku bercerita. APakah semuanya tak akan sia-sia?" Itulah sepenggal puisi milik Alexandro. Puisi yang melambangkan ketulusan cintanya pada Angela.


"Novel ******* kah?" tanya Regha.


"Iya bang, kayak hidup lo kan? Cerita ******* banget!" balas Ira.


"Yaudah ambil aja, ntar gue minjem."


Yes! Akhirnya berhasil ngebujuk.


Ira langsung memasukkan novel itu ke dalam keranjang. Kemudian Ira kembali mengubek-ubek jajaran novel yang sangat menyejukkan mata. Ira menatap Regha yang terlihat cemas. Entah mengapa Ira yakin ada sesuatu yang Regha sembunyikan.


Tapi Ira tak mau ambil pusing. Ia lebih baik mencari novel sebanyak mungkin. Selagi Regha masih mau membelikannya. Sedangkan Regha masih saja sibuk mengalihkan pandangannya pada kedua insan yang sedang tertawa di seberang sana.


...***...


"Kita langsung pulang aja, ya?" ucap Regha.


"Laper," ucap Ira.


"Lo udah beli novel banyak banget itu! Duit gue menipis, ntar bunda marah-marah kalau gue boros banget. Lagian kerjaan gue jadi pengganti ayah di perusahaan juga nggak selalu buat hidup gue. Kan masih ada buat keperluan bunda sama lo. Jadi jangan boros-boros."


Ayah Regha dan Ira adalah sebuah manajer di sebuah perusahaan ternama. Namun semenjak hobinya terbang, setelah menikah ia mencoba mendaftar untuk masuk ke dalam sekolah pilot. Dan bodohnya, ternyata ia diterima masuk. Saat itu Regha masih berumur 5 Tahun. Perusahaan di alih tugaskan oleh om mereka. Namun, setelah Regha mulai besar, jabatan itu di ambil lagi oleh Regha. Sedsngkan om nya di alih jabatkan menjadi CEO.


Perusahaan itu adalah perusahaan milik keluarga kakek Ira. Sebenarnya, tanpa ayah Ira menjadi pilot pun, kehidupan mereka bisa di bilang sempurna. Namun, hobi yang membutakan pikiran ayah mereka.


"Yaudah deh, tapi makan sekali ya," ucap Ira.


"Yaudah iya," ucap Regha final.


Kemudian Ira berjalan sambil menenteng tas belanjaan buku mereka sambil menggandeng tangan Regha. Namun, langkah Ira terhenti. Genggaman tangan Regha berubah menjadi cengkeraman. Sedangkan badan Ira mulai bergetar. Tas yang tadi ia pegang, sudah jatuh ke lantai.


Ira langsung mengambil ponselnya dan menekan nomor yang ia kenal. Tak ada jawaban dari nomor itu. Ira kembali mengulang panggilan itu. Dan hasilnya nihil. Di percobaan ketiga, akhirnya panggilan itu diangkat.


"Halo?" ucap seseorang dari seberang sana.


"Kak Aldan di mana?" ucap Ira.


"Dirumah sayang," balas Aldan.


"Sama siapa kak?"


"Sama bunda."


Ira meneteskan air matanya. Kemudian ia menggenggam tangan Regha dan berbalik badan.


"Oh yaudah kak, kalau gitu gue salah lihat orang. Kirain itu Kak Aldan."


Ira langsung mematikan panggilan itu dan menggeret Regha untuk bergegas pergi. Sedangkan Aldan hanya dapat mendesah frustasi sambil menatap kepergian Ira.


Iya, lo laki-laki pertama yang ada di hidup gue. Dan lo juga yang buat gue ngerasain sakit hati pertama kali juga. Makasih Kak Aldan.


...***...