
...[Music of This Story]...
...Ada Band - Manja...
...[]...
Ira berjalan sambil menundukkan kepalanya sepanjang koridor. Kejadian semalam membuatnya tidak dapat tidur, kejadian itu mengganggunya. Ia terus berjalan sambil menghadap bawah. Hingga akhirnya ia menabrak seseorang di depannya.
Ira dapat melihat sepasang sepatu sedang berdiri di hadapannya. Ia sepertinya mengenali sepatu siapa itu. Ia arahkan pandangannya dari ujung sepatu, mulai naik hingga sampai pada bagian perut dan ia mulai gugup. Ia urungkan untuk menatap siapa pemilik sepatu itu.
"Makanya kalau jalan jangan liatin bawah. Di bawah gak ada uang."
Ira masih saja menatap lantai.
"Iya, Kak."
Laki-laki itu mendekati Ira lalu memegang pundaknya. Sedikit cengkeraman membuat badan Ira kaku.
"Kalau ada apa-apa nanti lo sendiri yang repot. Jadi, jaga diri lo sendiri."
"Iya, Kak Aldo."
Aldo hanya tersenyum kemudian ia berjalan meninggalkan Ira. Ira menghela nafas lega. Ia akhirnya mulai berani untuk menatap lurus ke depan. Ia lanjutkan berjalan menuju kelasnya. Ia tidak ingin kembali telat, bahkan pelajaran saja belum mulai, bel juga belum berbunyi. Namun, ia sudah di cap telat hingga 30 menit. Ia cepatkan langkahnya hingga akhirnya langkahnya terhenti.
Brukk...
Ira dapat merasakan pantatnya dengan leluasa mencium lantai yang membuat dirinya meringis kesakitan. Tiba-tiba sebuah tangan terulur di depan matanya. Ia arahkan pandangannya menuju siapa pemilik tangan itu.
"Kak, Aldan?" ucapnya lirih.
Aldan hanya tersenyum tanpa mengucapkan kalimat apapun. Ira menggapai tangan Aldan lalu mulai bangun dengan bantuannya.
"Hati-hati."
Ira mengangguk. Lalu Aldan dengan seenaknya pergi meninggalkan Ira. Membuat Ira menghembuskan nafasnya berat. Ia kesal.
Lihat aja! Coba lo seromantis Kak Aldo tadi. Nasehatin gue!
Ira berjalan cepat menuju kelasnya. Ia masuk dengan terburu-buru saat melihat Pak Handoko mulai berjalan dari arah berlawanan. Ira langsung duduk dan melepas jaketnya. Kemudian ia rapikan rambutnya yang berantakan.
Tak berapa lama, Pak Handoko masuk dan langsung menatap tajam ke arah Ira. Hal itu membuat semua teman Ira mengikuti Pak Handoko menatap bingung kesalahan apa yang dibuat Ira.
"Hari ini kamu beruntung lagi! Berangkat lebih cepat!"
Ira hanya mengangguk menanggapi ucapan Pak Handoko. Dikeluarkannya nafas kasarnya karena berhasil masuk tanpa telat di pelajaran Pak Handoko saat ini.
"Padahal ini masih 20 menit sebelum bel!" kesal Ira.
"Udah biarin aja, bentar lagi juga mati," ucap Monic.
Ira menatap heran Monic. "Bisa-bisanya lo doain Pak Handoko mati," ucapnya.
Pak Handoko memukul keras papan tulis. "Siapa yang mati?" ucapnya tegas.
Ira dan Monic langsung membungkam. Mereka berdua menjadi pusat perhatian saat ini di kelas. Pak Handoko menatapnya kesal.
"Siapa yang mati, Ira?" ucapnya.
Ira menggeleng.
"Oke, biklah. Kalau begitu bisakah kamu menolong bapak untuk menutup pintu dari luar?" pinta Pak Handoko.
"Siapa yang menyuruh kamu masuk?" tanya Pak Handoko.
"Kan tadi saya di suruh tutup pintu dari luar, Pak. Dan saya sudah menutupnya. Kalau begitu saya sudah boleh masuk, kan?"
Ira bingung dengan perintah Pak Handoko.
"Iya, kamu tutup pintu dari luar. Dan gak usah ikutin pelajaran saya. Kamu sudah berani berbicara di belakang saya saat saya sedang menjelaskan materi."
Ira hanya melongo.
Jadi gue di usir dari kelas gitu? Maksudnya gitu? Hell siapapun jelasin ke gue!
"Tapi kan, Bapak belum jelasin materi sama sekali. Bapak baru masuk tanpa salam terus baru buka spidol. Belum juga nulis."
Ira tak mau kalah. Dipertahankannya harga dirinya da juga martabatnya.
"Jika saya sudah masuk ke dalam kelas. Itu tandanya saya sudah mengajarkan kalian pelajaran. Bagaimana jadinya penerus bangsa jika mau dihargai tetapi tidak menghargai orang lian. Jadi, selama saya ada di dalam kelas, selama itu pula waktu pelajaran saya."
"Dan ingat, di kelas saya, guru selalu benar!" ucap Pak Handoko lagi.
Ira kembali kesal. Kemudian ia kembali menutup pintunya dari luar dan berjalan menuju UKS. Pikirannya hanya satu, cepat lulus dari sekolah ini dan meninggalkan Pak Handoko itu.
"Tau gitu gue gak masuk sekalian! Udah tadi lari-larian biar gak telat. Ketabrak dua kali sampai pantat sakit. Masih di usir lagi dari kelas! Sialan, ini sih malu-maluin keluarga gue!" Ira berguman di sepanjang koridor.
"Kenapa di luar?" ucap Aldan mengagetkan Ira.
Ira berhenti berjalan. Dilihatnya Aldan yang berjalan mendekati dirinya. Jantungnya mulai berdetak kencang.
"Diusir sama Pak Handoko."
"Oh sama si Handuk," ucap Aldan sambil manggut-manggut.
Kemudian Aldan menggenggam tangan Ira dan membawanya berjalan. Ira sempat menolaknya, namun siaPakah Ira di mata Aldan? Hanya gadis lemah yang tidak dapat menolak kemauan Aldan. Mau sebesar apapun ia menolak, pasti Aldan tidak akan memberikannya kesempatan. Karena Aldan, selalu saja tidak menerima penolakan.
"Jangan kak, nanti ketahuan guru lagi. Aku males masuk ruang BK lagi, masa hukumannya aneh!"
"Oh jadi hukuman kemarin aneh? Berarti kamu nerima aku juga aneh dong?"
"Kalau itu enggak," ucap Ira sambil memalingkan wajahnya.
Pipi ira bersemu merah, ucapannya tadi membuatnya malu sekaligus terlihat bodoh. Genggaman tangan Aldan semakin kuat. Membuat Ira sedikit kesakitan.
"Maaf jika kamu banyak masalah karena aku. Aku cuma mau ngelindungi dan ngebahagiain kamu."
"Aku gak kenapa-kenapa kok, Kak. Kenapa ngomong gitu?" ucap Ira.
"Gak papa."
Aldan membawa Ira ke kantin. Ira urungkan niatnya untuk tidur di dalam UKS. Belum sampai mereka berdua menginjakkan kakinya di kantin, sebuah masalah datang.
"Aldan! Ira!" ucap seorang guru dari arah belakang.
Aldan dan Ira sama-sama berbalik badan.
"Eh, ada Pak Daniel," ucap mereka berdua bersamaan.
...***...