
Tiga bulan berlalu...
"Kak," ucap Ira masih memeluk lengan Aldan. Aldan menoleh ke arah Ira sambil terus berjalan di pesisir pantai.
"Udah berapa lama kita pacaran?" tanya Ira tiba-tiba.
Aldan menggeleng. "Perlu banget ya aku inget udah berapa lama?"
Ira membalas tatapan Aldan lalu mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Aldan menatap wajah Ira dalam.
"Kakak nggak romantis banget sih!" protes Ira.
Aldan kembali melangkahkan kakinya menyusuri pantai, dibawah sinar matahari yang mulai naik. Ini hari-hari tenang sebelum Aldan dan teman-teman lainnya mulai mengikuti serangkaian ujian di semester 2 yang sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional.
Hitung aja berapa lama mereka pacaran. Mereka mulai pacaran itu pas awal masuk MOS, dan sekarang sudah bulan Januari.
"Kalau aku enggak romantis, mana mau kamu sama aku. Lagian yang aku inget itu semua tentang kamu, bukan tanggal jadian kita."
"Ya kan aku juga mau kakak inget tanggal sekalian sama berapa lama kita pacaran."
"Aku nggak mau ngitung!" protes Aldan.
Ira menatap Aldan bingung.
"Aku takut, jika aku hitung, aku nggak bakal bisa berhenti."
Sekarang gantian Ira yang mulai marah. "Oh jadi kakak berniat buat putusin aku?"
Aldan berhenti berjalan lalu menatap kedua mata Ira. "Iya, besok pas aku berangkat ke Jerman."
Ira tersentak, perkataan Aldan menusuk hatinya. "Buat apa kakak minta balikan ke aku dulu, kalau akhirnya kakak mau putusin lagi?"
Aldan memeluk Ira. Suasana pantai saat ini lumayan sepi. Mungkin ini termasuk hari kerja dan juga sedikit yang tertarik ke pantai sepi di pinggir kota.
"Bukan maksudnya aku mau putusin kamu, aku sadar, LDR itu susah. Aku nggak mau buat kamu terbebani sama LDR. Aku nggak sanggup lihat kamu harus nahan rindu ke aku."
"Terus kalau misalkan saat Kak Aldan pergi, dan kita udah putus, ada orang yang tiba-tiba deketin aku dan nembak aku?"
Aldan mencium pucuk kepala Ira. "Terima dia. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaanmu sendiri."
"Berarti Kak Aldan nggak sayang aku!" Ira melapaskan pelukan Aldan lalu berlari menjauhi Aldan. Aldan langsung mengejar Ira dan meraih lengannya. Membuat Ira berhenti dan berusaha melepaskan tangan Aldan.
"Sayang nggak mesti barengan!"
Ira terdiam tiba-tiba. Ya! Sayang nggak harus barengan kak! Tapi aku nggak bisa sayang kalau aku nggak barengan sama orang itu!
"Tatap aku dulu." Aldan membalikkan tubuh Ira dan menatap kedua mata Ira.
"Aku sayang, sayang banget sama kamu. Kalau aku nggak sayang sama kamu, aku nggak mungkin minta balikan ke kamu waktu itu. Tanggal jadian kita, tanggal 12 Juli, hari senin, jam delapan lebih sebelas menit. Aku nembak kamu di lapangan basket. Waktu itu gara-gara kamu ngasih minum ke aku. Terus sekarang kita udah jalan enam bulan besok minggu. Makanya aku mau berduaan sama kamu. Aku mau ngasih apa yang aku punya, di hari-hari terakhir kita."
Ira menatap kecewa mata Aldan. Tapi ada semburat kebahagiaan saat dirinya mengetahui Aldan mengingat semuanya dengan lengkap. Bahkan ia saja tidak dapat mengingatnya sejauh itu.
"Terus kenapa harus saat kak Aldan pergi kita putus?"
"Aku masih pengen habisin sisa hari kebersamaan kita. Aku pengen, kita bikin kenangan yang indah sebelum akhirnya aku pergi ke Jerman. Dan aku harap, aku bakal pulang untuk jemput kenangan aku lagi di Indonesia. Karena bagi aku, kamu kenangan terakhir yang bakal aku perjuangin."
Ira menangis. Air matanya lolos begitu saja di pipinya dan mengalir menjauhi iris matanya. "Tapi, aku nggak bisa tanpa kakak."
Aldan kembali memeluk Ira. "Masih ada Bang Regha, masih ada ayah sama bunda. Masih ada Monic yang bakal nemenin kamu."
"Tapi mereka itu beda!"
Aldan mengusap rambut Ira halus. "Apanya yang beda? Aku cuma satu dari sekian banyaknya bintang di langit, Ra. Aku cuma satu dari sekian banyak kasih sayang yang mereka beri ke kamu. Dan aku cuma pelengkap kebahagiaan kamu."
Ira memeluk Aldan erat. Membuatnya merasakan sisa-sisa kepergian Aldan. Aku pasti bakal kangen banget sama pelukan ini.
"Aku mau kamu janji satu hal sama aku."
Ira merenggangkan pelukannya lalu menatap ke kedua mata Aldan yang indah. "Apa kak?"
"Janji, kamu harus bahagia. Kamu berhak dapetin kebahagiaan kamu sendiri. Mau dengan aku, atau tanpa aku. Karena aku yakin, cinta bakal kembali ke rumahnya. Kalau aku emang jodohnya kamu, aku yakin kita besok bakal ketemu lagi, entah di mana, dengan kondisi apa, atau bahkan, dengan siapa kita bertemu. Aku yakin, suatu saat nanti aku bakal ketemu lagi sama kamu. Kamu pegang janjiku ini. Aku sayang sama kamu."
Aldan mengucapkan semua itu tanpa mengalihkan padangannya dari kedua mata Ira. Ia tidak ingin Ira berpikir kalau dirinya berbohong.
"Aku, janji. Dan kebahagiaanku itu, kak Aldan."
...***...
"Kak."
Aldan menoleh ke arah Ira yang menyederkan kepalanya di paha miliknya. Aldan. Aldan mengelus rambut Ira pelan, menyisirnya dengan jemarinya. "Kenapa?"
Aldan memalingkan wajahnya dari Ira. Ia menatap gumparan ombak yang terus terbentuk siang itu. Dibawah pohon kelapa, Aldan duduk bersama Ira.
"Sakit. Pasti aku ngerasain sakit hati. Tapi, kalau itu buat kamu bahagia, kenapa enggak?"
Ira menegakkan tubuhnya dan duduk di samping Aldan. Kemudian ia memeluknya erat, membuarkan kepalanya bertumpu pada pundak Aldan.
"Kalau gitu, aku juga akan berjuang sama kakak. Aku bakal jaga hati aku, sampai kita ketemu lagi."
"Terus kamu mau nunggu aku gitu?" tanya Aldan.
Ira mengangguk antusias.
"Kamu mau jadi perawan tua?"
Ira mencubit perut Aldan. "Kok perawan tua sih! Kan aku sayang sama kakak! Makanya aku mau nunggu kakak. Kan waktu itu kakak janji habis kakak lulus dapet ijazah, kakak mau nemuin aku buat bikin ijabsah!"
Aldan menatap kedua mata Ira. "Emang aku pernah ngomong gitu?"
Ira memajukan bibir bawahnya dan menyilangkan kedua tangannya di dadanya. "Dasar pelupa!"
"Tapi aku nggak pernah lupain kamu dan juga cinta kamu." Aldan merangkul pundak Ira lalu menyatukan kedua kepala mereka.
"Kak Aldan gombal terus, belajar dari mana sih!" protes Ira.
Aldan menggeleng. "Nggak tahu, tapi kan kamu suka aku gombalin. Buktinya pipi kamu aja bisa merah gitu kalau aku gombalin."
"Tapi aku kangen kak Aldan yang dingin."
"Yaudah." Ira langsung menoleh ke arah Aldan. Tetapi, Aldan mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.
"Ya enggak dingin banget ish!"
"Heem."
Ira mencubit lengan Aldan. Namun tak ada respon apapun dari Aldan.
"Ish kak! Sebel sih! Jangan dingin ish! Kakak Aldan ku sayang!"
Ira mulai mendumal tak jelas. Ia sudah menarik-narik lengan baju Aldan. Membuat Aldan kembali normal seperti sebelumnya.
"Katanya kangen aku dingin."
"Nggak jadi! Pengennya kakak yang apa adanya!"
"Aku kan mau nurutin apapun yang kamu minta. Jadi ya aku lakuin."
Aldan masih saja mengacuhkan Ira yang sudah menggelendoti lengannya. Aldan masih menatap burung-burung yang terbang di langit sana.
"Kak," ucap Ira lemah.
"Apa?"
"Aku mau mati." Seketika Aldan langsung menengok menatap Ira dan langsung memegang kedua bahunya.
"Hahaha, nah gitu dong, kalau diajak ngomong itu tatap matanya. Masa iya burungnya lebih asik daripada aku. Padahal kak Aldan udah punya burung."
Aldan langsung membekap bibir Ira dengan bibirnya. Ira terdiam di tempat. Ia kehabisan kata-kata. Barusan gue di cium? Kurang lama!
Aldan tersenyum menatap wajah Ira yang sedikit kaget. Aldan kembali mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Ira kembali. Perlahan ciuman itu berubah menjadi *******. Ira sudah menyilangkan tangannya di leher Aldan. Sedangkan Aldan sudah merangkul pinggang Ira.
"Mas, mau kelapa nggak?"
Aldan langsung melepaskan ciumannya pada Ira. Sedangkan Ira langsung memeluk tubuh Aldan dan menyembunyikan wajahnya yang merah.
"Enggak, bu. Saya tidak haus."
Sang penjual hanya dapat tersenyum menahan ketawanya. Wajah penjualnya sudah merah. Setelah itu ia pergi meninggalkan Aldan dan juga Ira.
"Sial! Ganggu aja!" Aldan menyesal dan mengumpat.
"Kak Aldan juga ish! Masih di sini juga! Malu dilihatin orang!"
Kemudian Aldan bangun dan menarik lengan Ira. Kemudian ia menggendong Ira dan melangkahkan kakinya menjauhi bibir pantai.
"Kalau gitu kita ke hotel sekarang."
Sial! Bangsul!
...***...