Aldan

Aldan
Part 35



Ira memasukkan buku dan juga alat tulisnya ke dalam tasnya. Begitu pula dengan Monic. Mereka berdua sedang sibuk merapikan mejanya.


"Habis ini lo mau kemana?" tanya Monic.


"Main sama Kak Aldan. Bentar lagi dia ke Jerman. Gue bakal kangen banget sama dia."


Ira menggantungkan tasnya di punggungnya, lalu mencium pipi Monic sekilas. "Selamat tinggal, tuan putri. Selamat bermain bersama Babang Aldo!"


Ira langsung berlari saat Monic hendak memberikan hadian buku kepada Ira.


"Untung lo kabur duluan, coba aja lo masih di sini, bukunya udah nyasar kali di muka lo itu." Monic mendumal tak jelas sambil memasukkan bukunya ke dalam tas miliknya.


Tiba-tiba sebuah pelukan mendarat mulus di pinggangya. Aroma mint tercium olehnya. Monic langsung mengetahui siapa yang memeluknya.


"Ini masih di sekolah, kak," ucap Monic lalu melepaskan pelukan Aldo.


"Emangnya kenapa? Kan udah pulang. Udah bebas dong. Lagian nggak ada cctv juga. Aku bebas dong ngapain aja sama kamu." Aldo kembali memeluk Monic. Kemudian, tanpa perlawanan Monic membiarkan Aldo memeluk dirinya.


"Ada apa kak?" tanya Monic.


"Siap-siap ya," ucap Aldo.


Monic menatap bingung Aldo. "Siap-siap kenapa, kak?"


"Siap-siap aja, bentar lagi aku lulus. Kalau aku mau lamar kamu, boleh enggak?"


Monic berhenti bernapas. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Aliran darahnya mulai memanas hingga udara sekitar mulai membuatnya sesak.


"Ap ... Apa kak?" Monic masih bingung dengan apa yang baru saja Aldo katakan.


"Iya, aku mau lamar kamu. Kita ketemu mama sama papa ya nanti pulang. Aku mau kenalin kamu ke orangtua aku."


Lagi-lagi Monic terkejut dengan ucapan Aldo. Air mata Monic perlahan turun. Bukan karena sedih, dirinya sangat senang. Bahkan untuk menikah pun dia masih belum memikirkannya. "Tapi kak?"


"Tapi apa?" tanya Aldo sambil membawa Monic duduk di kursi.


Aldo duduk di kursi milik Monic, sedangkan Monic berada di paha Aldo dan dipeluk oleh Aldo dari belakang.


"Ya kan cuma aku lamar dulu. Biar kamu sama aku, menjadi kita. Dan nggak ada yang boleh ngerubah status kita."


Aldo memeluk tubuh Monic erat. Andai lo itu orang yang dulu sempet gua suka. Tapi, nyatanya lo bisa buat gue lupain dia, bahkan relain dia sama sahabat gue sendiri. Thanks ya, Mon. Karena lo, gue bisa move on.


"Emangnya kak Aldo yakin sama aku?"


Monic masih meragukan ucapan Aldo. Bahkan saat ini ia sedang memainkan jarinya sendiri karena gugup.


"Yakin lah sayang. Aku itu udah beneran sayang sama kamu. Banyak masalah yang kita laluin bareng beberapa bulan ini. Banyak banget yang buat kita hampir putus. Tapi apa? Kita bisa lupain ego kita masing-masing. Kita bisa balik lagi jadi saling perhatian. Dari situ aku sadar, aku emang suka sama dia, tapi aku punya orang yang lebih sayang ke aku. Jadi, aku milih orang yang sayang sama aku, daripada aku sakitin hati aku sendiri, untuk suka sama orang yang nggak sayang sama aku."


Monic menangis. Ia tahu siapa orang yang Aldo sayang. Ia tahu jelas. "Tapi aku ngerasa kalau aku nggak pantes sam—"


Ucapan Monic terhenti tiba-tiba. Mulutnya membisu saat sebuah benda kenyal basah menyentuh permukaan kulit bibirnya. Aldo menyiumnya.


Aldo masih membiarkan bibirnya menempel pada bibir Monic. Setelah tidak ada perlakuan dari Monic, perlahan Aldo mulai **********. Mereka berdua sama-sama menutup mata mereka. Aldo mulai ******* bibir Monic, dalam.


Monic membuka matanya perlahan lalu mulai mendorong tubuh Aldo agar menghentikan ciuman itu. Aldo menurutinya lalu memeluk tubuh Monic.


"Maaf, aku kelepasan lagi. Tapi, kata Aldan, cuma itu cara buat bikin cewek berhenti ngomong."


Monic menyembunyikan wajahnya di dada Adlo.


"Kamu pantes buat aku. Aku yakin itu. Kamu itu anugerah yang Tuhan beri untuk aku. Dan aku, nggak akan nyia-nyiain orang kayak kamu. Jadi, will you marry me? Monica Falenciana?" ucap Aldan.


Monica kembali meneteskan air matanya. "Katanya kalau kakak udah lulus!"


Aldo tertawa. "Nggak papa, kata orang jaman dulu, kalau udah nggak tahan kawin, buru-buru nikah. Daripada bikin dosa. Nah aku udah nggak sabar kawin sama kamu, makanya aku lamar kamu sekarang aja. Itung-itung nyicil lamaran kita."


"Apaan coba kawin! Nikah dulu ish!"


"Iya-iya nggak papa kita kawin dulu, kalau kamu hamil kan enak, aku langsung dapet restu buat nikahin kamu."


"Kak Aldo!" ucap Monic sambil berteriak dan mencubit lengan Aldo hingga membuat dirinya kesakitan.


...***...