
Aldan terus saja menatap kaca didepannya. Pemandangan langit siang dari kamarnya membuatnya mengingat sosok Ira yang sempat membuatnya bangkit dari masa lalunya. Air mata Aldan turun dengan mudahnya, tanpa permisi dan meluncur begitu saja di pipi Aldan.
"Aden perlu sesuatu?" ucap Bi Inem.
Aldan menggeleng, Bi Inem mendekati Aldan sambil membawa nampan berisi air mineral untuk Ira yang belum sempat diminum. Dari tadi Bi Inem hanya bisa diam dan melihat kejadian yang membuatnya bungkam. Bukan haknya untuk ikut campur dalam masalah majikannya.
Biasanya saat adegan cerita yang beberapa kali Aldan baca, saat suasana tokohnya sedang sedih, maka langit akan ikut bersedih dengan menumpahkan rintik hujannya. Dari tadi Aldan menunggu hal itu datang. Namun, ini bukan seperti cerita yang Aldan baca.
Hari ini sangat cerah, bahkan sangat panas. Seakan bumipun ikut menertawakan kebodohan Aldan. Perbuatannya tadi menimbulkan damPak yang sangat besar untuk Ira, bukan hanya itu, namun untuk hatinya juga.
"Gue sayang sama lo, Ra. Maaf, gue hanya belum bisa berdamai dengan masa lalu gue. Maaf ngebuat lo salah paham karea gue cium Xerly dihadapan lo. Coba lo mau tadi mau dengerin penjelasan gue, tapi emang gue yang salah. Maaf, gue emang brengsek."
"Kamu kenapa lagi?"
Suara batiton terdengar di dalam kamar Aldan. Aldan tahu siapa pemilik suara itu. Sosok yang sama sekali tak pernah Aldan anggap ada.
"Buat apa anda perduli dengan saya? Sudah mengakui kesalahan anda?" balas Aldan tanpa menatapnya.
"Masih saja sama seperti terakhir kali."
Laki-laki itu mengangguk lalu masuk lebih dalam ke dalam kamar Aldan. Menatap ke sebuah foto yang terdapat diatas nakas disamping tempat tidur Aldan. Sebuah foto yang memperlihatkan seorang anak kecil bersama kedua orang tuanya. Sungguh bahagia.
"Siapa yang memperbolehkan anda masuk ke dalam kamar saya?"
"Untuk apa ayah mendapatkan izin darimu? Aku ini ayahmu, orang yang membuatmu ada sampai sekarang. Kamu pikir, uang darimana yang membuatmu masih bibsa bertahan hidup selama ini?"
"Miris, sejak kapan saya mempunyai seorang ayah?"
Aldan masih setia menatap ke arah luar jendela. Langit siang lebih menggodanya daripada laki-laki yang mengaku ayahnya. Sedangkan ayahnya, meletakkan kembali foto itu dan mendekati Aldan.
"Maafkan ayah. Mau sampai kapan kamu marah sama ayah?"
"Sudah saya katakan, saya tidak mempunyai seor—"
Plakkk...
Tamparan kembali yang diterima Aldan. Sangat kencang hingga suara benturan kulit itu terdengar ke telinga Bi Inem. Membuat bekas merah hingga seperti tergores benda tajam dipipi Aldan.
Air mata Aldan kembali menetes, tamparan Ira tadi belum dapat sembuh oleh penyesalannya, ditambah lagi dengan tamparan dari orang yang mengaku sebagai ayahnya itu. Hati Aldan kembali remuk. Sosok yang tidak pernah orang lain temukan, muncul dari dalam tubuh Aldan. Sosok yang remuk, sosok yang rapuh, sosok yang membuat siapapun meneteskan air matanya.
"Ayah membesarkan kamu bersama Bunda. Lalu, apa balasan kamu untuk ayah? Bahkan untuk menganggap ayah adapun kamu tidak dapat melakukannya," ucap laki-laki itu.
Namanya Wijaya, seorang laki-laki workaholic yang sangat terobsesi dengan jabatan dan kehormatan. Dialah orang yang membuat Aldan memiliki sifat dingin. Buah memang tak jauh dari pohonnya, sifat keras Wijaya menurun ke Aldan.
"Ayah mana yang tega menitipkan anaknya sendiri ke ibunya yang sudah tua? Pergi tanpa kabar bersama wanita lain di saat Bunda masih ada. Dan ayah mana yang pantas disebut ayah jika membiarkan istrinya bebas pergi kemanapun bersama laki-laki manapun tanpa ada larangan? Kalian bukan orang tua saya! Orang tua saya sudah tiada! Opa dan Oma sudah tiada!"
"Pergi, atau saya akan bunuh diri!"
Aldan menunjuk wajah Wijaya dengan telunjuknya. Persetan dengan rasa hormat dan sopan santun. Ia tidak mengenal Wijaya. Yang ia kenal hanyalah seorang laki-laki yang membuat hidupnya hancur berkeping-keping.
Aldan pergi meninggalkan kamarnya, melangkah menuju dapur. Dibukanya kulkas dan diambilnya sebotol anggur merah. Bukan untuk diminum, dipecahnya botol kaca itu ke lantai.
Praangg...
"Tuan! Aden Aldan!" teriak Bi Inem dari arah dapur.
Wijaya berjalan cepat menuju dapur, darah sudah dimana-mana. Bi Inem mengikatkan sebuah kain di pergelangan tangan Aldan berharap akan dapat menolongnya walau hanya sesaat.
"Maaf, karena ayah kamu jadi seperti ini."
Aldan pingsan dipelukan Bi Inem. Bi Inem adalah pembantu di rumah Opa dan Oma. Bi Inem juga adalah orang yang mengasuh Aldan sejak masih kecil. Tangis Bi Inem pecah saat melihat darah masih terus keluar dari tangan Aldan. Sedangkan Wijaya mendekati dan membopong Aldan lalu membawanya masuk ke dalam mobil sambil meneteskan air matanya.
Nggak ada ayah yang tega lihat anaknya kesulitan. Maaf, ayah hanya ingin kamu bahagia, Al. Semoga kamu masih mendapatkan harapan.
...***...
Ira berlari memasuki kamarnya, mengabaikan suara Ayahnya yang memanggilnya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah sendiri, berdamai dengan kesunyian dan meratapi kesedihan.
Albert adalah ayah Ira, sosok pahlawan yang menurut Ira adalah sosok laki-laki sempurna.
"Ira lagi kepengen sendiran, yah."
"Nggak akan ada masalah yang selesai dengan kamu diam. Sini cerita sama ayah. Siapa tahu ayah bisa bantuin masalah kamu."
Ira menyingkirkan bantal yang menjadi pelukannya, digesernya tubuhnya mendekai Albert lalu memeluknya. Begitu pula dengan Alber, drengkuhnya tubuh putri kecilnya.
"Cerita sama ayah, jarang kan ayah bisa denggerin kamu cerita? Ayahkan sering dapet jadwal terbang."
Albert mengelus rambut Ira, membuatnya nyaman sebisa mungkin.
"Ira habis putus, yah."
Ingatan Ira jatuh pada kejadian saat Xerly mencium bibir Aldan tepat dihadapannya. Membuat dadanya kembali sesak.
"Siapa yang mutusin?"
"Ira, yah."
Albert tersenyum lalu menatap putrinya. "Kamu tahu kan konsekuensinya kalau kamu mengakhiri sebuah hubungan?"
"Kalau kamu berani untuk memutuskan sebuah huubungan, harusnya kamu nggak bolek menyesal. Kamu harus siap menanggung resikonya. Kalau masih belum bisa melepaskan kenangannya, kenapa harus ada putus?"
"Itu karena kak Aldan masih sayang sama mantannya!"
"Oh jadi namanya Aldan. Banyak banget ya yang ayah lewatkan tentang pertumbuhan kamu. Kayaknya ayah bakal kurangin jadwal terbang, biar bisa dengerin putri ayah ini cerita."
"Iya namanya Aldan. Dia itu kakak kelas Ira disekolah, yah."
Albert mengangguk, ia ingin selalu seperti ini, mengetahui perkembangan putrinya. Menjadi teman saat putrinya mendapatkan masalah. Dan menjadi sosok ayah yang menjaganya saat Ira membutuhkan bantuan.
"Sekarang ayah mau nanya, kalau dia belum bisa lupain mantannya, kenapa Ira terima Aldan?"
"Ira bingung mau cerita dari mana. Yang pasti Ira cuma dijadiin bahan taruhan, setelah itu kak Aldan bilang dia beneran sayang sama Ira. Ira udah kasih kesempatan kedua sama dia, tapi tetap saja kak Aldan nggak bisa lupain mantannya!"
"Terus?"
"Ya Ira cemburu lihat kak Aldan masih belom bisa move on. Ira berasa jadi pelampiasan."
Albert tertawa mendengar ucapan kesal Ira, pasalnya sudah lama sekali Ira tidak manja terhadap Albert.
"Aldan mungkin punya maksud sendiri."
"Kok ayah jadi belain kak Aldan sih?" protes Ira.
"Ayah nggak belain siapa-siapa. Pikir dua kali sebelum kamu bertindak. Ayah marah saat tahu kamu pacaran dibelakang ayah. Ayah nggak pernah ngajarin kamu untuk pacaran sebelum waktunya. Apalagi kamu nangis hanya karena laki-laki yang permainin kamu. Ayah yang ngebesarin kamu aja mencoba sebaik mungkin untuk nggak bikin kmau nangis. Masa dia yang baru kenal kamu aja bisa bikin kamu nangis.
"Ayah kecewa, tapi ayah nggak mau kamu cepa ngambil keputusan sepihak kayak gini. Ada kalanya kita harus mencoba untuk tetap tenang dan menahan emosi hanya untuk mencoba mengurangi konflik yang ada. Ayah nggak pernah ngajarin kamu untuk memikirkan sesuatu saat sedang emosi.
"Kamu pikirin lagi dua kali, kamu coba dengerin penjelasan dari Aldan. Kalau yang ayah lihat, Aldan punya alasan sendiri ngelakuin itu. Kamu dengerin penjelasan Aldan, supaya kamu nggak berprasangka buruk sama orang lain. Apalagi orang yang kamu sayang."
Ira tersenyum lalu memeluk tubuh Albert erat. "Makasih yah. Ayah emang laki-laki yang baik banget. Kapan Ira punya pacar kayak ayah?"
Albert tertawa. "Ayah cuman mencoba bertanggung jawab. Dulu ayah juga nakal, tanya aja sama bunda. Tapi karena ayah udah punya bunda, udah punya abang, sama udah punya kamu. Hidup ayah udah lengkap, tinggal nunggu momongan dari kalian. Jadi ayah nggak mau aneh-aneh, ayah cuma mau melihat kalian bahagia."
Ira mengangguk kemudian ia mencium pipi Albert.
"Kalau gitu, besok coba temuin Aldan, ajak dia ngomong. Obrolin masalah kalian. Jangan pernah ngambil tindakan saat hati lagi marah. Ambil saat kamu sama Aldan sama-sama kepala dingin, jangan emosi. Oke?"
Ira kembali mengangguk.
Tak ada laki-laki lain yang lebih baik dari ayah, makasih ayah.
...... ...