Aldan

Aldan
Part 30



Tiga hari.


Tiga hari semenjak Aldan tak sadarkan diri, ia masih saja menutup matanya. Seakan-akan enggan untuk membukanya lagi. Xerly masih setia menunggu Aldan di rumah sakit, ayahnya telah pulang untuk menjemput ibu Aldan.


"Gue tahu, dan. Gue bukan orang yang lo sayang saat ini. Lo cuma belum bisa lupain kenangan kita. Bukan maksud gue ngerebut lo dari Ira juga. Tapi satu yang harus lo inget, oppa ingin kita barengan."


Xerly meneteskan air matanya. Ia menatap sendu mata Aldan yang masih menutup sempurna. Ia alihkan padangannya ke pergelangan tangan Aldan. Balutan perban rapi membungkus pergelangannya.


"Lo **** kalau lo harus sakitin diri lo sendiri kayak gini, dan. Lo nggak seharusnya ngelakuin itu."


Xerly mengelus perban itu pelan. "Kalau gue jadi lo, gue nggak tau bakal gimana. Tapi bukan berarti lo boleh dengan mudah ngelukain diri lo sendiri!"


"I ... Iraa," ucap Aldan dalam tidurnya.


Xerly menghembuskan nafasnya berat. "Di saat seperti ini aja, lo masih bisa inget Ira. Sorry, Dan, karena, lo sama Ira harus putus." Xerly melepaskan tangan Aldan lalu berbalik badan. Namun, tubuh Xerly tersentak karena melihat Ira berada di ambang pintu. Air mata masih mengalir di pipinya, sedanglan tangannya memegang knop pintu dengan erat.


"Sorry ganggu," ucap Ira.


Ira hendak menutup pintu dan melangkahkan kakinya pergi, namun Xerly terlebih dahulu menahannya.


"Kita perlu bicara, sesama perempuan."


Xerly memegang tangan Ira lalu membawanya keluar dari rumah sakit. Xerly membawa Ira ke sebuah taman di sebelah rumah sakit itu. Kemudian mereka duduk di bangku taman.


Hening.


"Gue jelasin semuanya dari awal. Lo dengerin dulu penjelasan gue."


Ira mengangguk pelan. Ia harus menyelesaikan masalah ini. Ia tidak mau berlarut-larut.


"Gue sama Aldan itu teman dari kecil. Bahkan kita dulu deket banget. You know lah, kalau persahabatan cowok sama cewek itu pasti salah satunya memendam rasa. Nah itu yang gue sama Aldan alamin."


"Lalu?"


"Aldan suka sama gue, gue kaget waktu dia nembak gue saat itu. Saat itu gue lagi suka sama cowok lain. Dan gue nggak mau ngerusak persahabatn gue. Gue udah nyaman temenan, kenapa harus pacaran?"


Xerly mengeluarkan sebuah surat dari tasnya. Ia memberikan kepada Ira.


"Ini apa?"


Xerly tersenyum. "Itu surat wasiat dari oppa. Kakeknya Aldan. Lo pasti tahu kalau beliau meninggal, Aldan udah cerita kan ke lo? Lo bacaaja biar lo nggak salah paham lagi sama gue."


Ira menerimanya lalu membuka surat putih itu. Awalnya biasa saja. Namun, ternyata maksud Aldan berbanding terbalik dengan apa yang ia pikirkan.


"Alasan gue sama Aldan bisa balik deket kayak gini, karena gue cuman mau menuhi wasiat almarhum Oppa. Jujur, dari awal gue kenal sama Aldan, gue sama sekali nggak naruh hati ke dia. Karena apa? Karena gue sadar, temen nggak bakal bisa jadi pacar. Gue nggak mau bikin status pertemanan gue hancur. Tapi apa yang terjadi, Aldan nembak gue. Awalnya gue kasihan, karena gue tahu, Aldan nggak pernah ngerasain jatuh cinta. Tapi, semakin hari gue semakin bimbang dengan keputusan gue nerima Aldan. Gue suka sama cowok lain."


Ira mendengarkan baik-baik penjelasan Xerly. "Lalu kenapa lo cium Aldan waktu itu?" Xerly tertawa lalu berdiri dan agak menjauh dari Ira.


"Itu karena gue udah lihat lo duluan. Gue awalnya cuma mau lihat, apa Aldan beneran udah mulai lupain gue atau belum. Karena sejujurnya, semenjak gue di luar negeri, gue udah hamil. Bentar lagi gue mau nikah sama pacar gue. Jadi awalnya gue cuma mau ngetes Aldan aja."


Ira mengikuti Xerly lalu mencengkeram tangan Xerly. "Tapi cara lo keterlaluan! Lo udah buat gue salah paham sama Kak Aldan."


"Iya gue emang salah, gue yang ngebuat kalian sampai putus. Tapi Aldan belum ngomong kata putus kan? Jadi masih keputusan kepihak, dan itupun lo ngambil keputusan karena lagi emosi. Gue harap kalau Aldan bangun nanti, lo bisa maafin Aldan."


Ira mengangguk walaupun Xerly tidak melihatnya. "Terus, kenapa Kak Aldan bisa sampai masuk rumah sakit?" tanya Ira.


Xerly menggeleng, "Gue nggak tahu."


Pasti ada yang Kak Aldan sembunyiin dari aku.


...***...


"Gue pamit dulu," ucap Xerly saat Ira baru saja duduk di samping tempat tidur Aldan.


Ira mengalihkan pandangannya kepada Aldan yang masih saja terbaring lemah. Matanya masih saja menutup, mengabaikan Ira yang masih menatap nanar Aldan.


"Lo besok masih ujian kan, kak? Bangun, buat aku."


Ira meneteskan air matanya, ia mengenggam tangan Aldan lalu mencium punggung tangannya. "Lo betah banget sih, kak. Bangun! Buka mata lo kak! Gue minta maaf karena udah ngomong putus seenaknya sama lo!"


Ira kembali menangis, ia sembunyikan wajahnya di antara tangan Aldan. "Lo jahat kak, saat gue udah mulai sayang sama lo, lo malah mulai ngilang. Kapan lo mau jujur semuanya ke gue? Kapan Kak lo mau ngomong jujur sama gue? Gue pengen dengerin semua penjelasan lo, bukan dari Xerly."


Ira masih saja menangis, namun perlahan ia menghentikan tangisannya. Ia merasakan tangan Aldan membalas genggamannya. Ira menatap ke arah mata Aldan yang kini telah membuka.


"Kenapa berhenti? Capek ngomongnya? Aku cuma tidur barusan, tau nggak suara kamu itu bikin tidur aku nggak nyenyak. Sekarang lanjutin lagi kamu ngomong apa tadi?"


Ira memajukan bibir bawahnya. "Nggak mau! Sebel!" protes Aldan.


"Lha kenapa kok berehnti?" ucap Aldan.


Tangan kiri Aldan menggapi rambut Ira dan mengelusnya. "Itu tangannya erat banget kayak nggak mau di lepasin aja," cibir Aldan lagi.


Ira makin memajukan bibirnya. "Bodo ah! Siapa suruh bikin khawatir tau nggak!"


Aldan tertawa, ia mengelus rambut Ira.


"Maaf," ucapnya.


"Buat apa?" tanya Ira.


Aldan mengelus rambut Ira perlahan, infus yang berada di tangannya membuatnya sedikit kesusahan.


"Maaf buat kamu khawatir, maaf udah bikin kamu ngomong putus ke aku. Kita nggak jadi putus kan?" tanya Aldan sambil memamerkan senyumannya.


Gila! Kalau kayak gini terus, gue beneran bisa lulus sama otak Aldan!


"Luluh juga nggak papa," ucap Aldan sambil tertawa.


"Gombal! Emang dengan maaf kakak bisa ngubah semuanya kembali lagi kayak dulu?"


"Buktinya kamu aja udah biasa lagi sama aku. Jadi pasti kamu udah maafin aku juga," ucap Aldan.


"Bodo ah!"


Aldan melepas usapannya pada rambut Ira. Jarum infusnya membuat nyeri di tangannya.


"Kenapa?" tanya Ira khawatir lalu menatap punggung tangan Aldan yang tertancap infus.


"Nggak papa sayang," balas Aldan.


"Nggak papa gimana, itu di kassa-nya ada darah! Bentar aku panggil dokter!"


Ira berdiri lalu berbalik badan. Namun langkahnya terhenti saat Aldan menggenggam lengan Ira dan menariknya. Ira mundur kebelakang, tepat di depan Aldan hingga ia dapat merasakan hembusan nafas Aldan di lehernya.


"Makasih, sayang."


"Bu ... Buat apa kak?"


"Semuanya. Makasih karena kamu udah ada di hidup aku."


Ira mengangguk. Dan kemudian Ira sama sekali tidak jadi memanggil Aldan. Nyatanya, saat ini Ira berbaring di sebelah Aldan sambil berpelukan dengan Aldan.


Makasih udah mau percaya lagi sama aku. Aku yakin, semua masalah yang kita lewati dari beberapa bulan yang lalu. Itu cuma penghalang di hubungan kita. Aku yakin, kita bakal tahan ngehadepin semuanya barengan. Karena ku juga yakin, aku ataupun kamu, sama-sama berjuang, ucap Aldan dalam hati sambil menatap Ira yang mulai terlelap.


...***...