Aldan

Aldan
Part 14



...[Music of This Story]...


...Fourtwnty - Diam-diam Kubawa Satu...


...[]...


Ira kembali berjalan di atas trotoar siang ini. Ia pulang sekolah, biasanya ia akan bersama Aldan. Tapi, entah mengapa Aldan tiba-tiba menghilang. Ira sudah mencari Aldan ke penjuru sekolah. Kata temannya, Aldan sudah pulang terlebih dahulu.


Ira juga sudah mencari ke parkiran dan ternyata memang benar, motor Aldan sudah tidak ada di tempatnya. Jadi, di sinilah Ira berada. Berpanas-panasan seorang diri sambil berjalan kaki menenteng tas beratnya.


Sebuah mobil sedan hitam berjalan mendekatinya dan memperlambat jalannya. Ira mempercepat langkahnya. Seorang laki-laki berumur 30 an keluar dari dalam mobil lalu berjalan menyusul Ira.


"Hai adek cantik," ucap laki-laki yang memakai jaket levis sambil mendekati Ira.


Ira masih terdiam. Hatinya tak karuan. Ia kembali mempercepat langkahnya. Laki-laki itu mencekal lengan Ira. Menggenggamnya kerat dan membuat Ira tak dapat pergi darinya.


"Jual mahal banget, sih. Tinggal bilang sini sama om, lagi butuh uang berapa?" ucapnya.


Ira langsung menepis tangan orang itu dan kembali mempercepat langkahnya. Laki-laki itu mengejarnya, kemudian ia memeluk tubuh Ira. Ira memberontak, ia tak suka di sentuh orang lain. Apalagi laki-laki.


Terkecuali Papa sama Aldan. Eh Abang juga.


Ira menutup matanya sambil menangis. Ia juga mencoba berontak untuk terlepas dari pelukan laki-laki tadi. Tetapi, tiba-tiba ia merasakan pelukan itu melonggar. Bahkan tidak ada yang memeluknya. Ira beranikan diri untuk membuka matanya. Laki-laki tadi sudah terjatuh ke tanah. Ia melihat ke sekeliling dan mendapati seseorang membantunya.


"Kak Aldo?" ucap Ira.


Ira langsung memeluk lengan Aldo dan bersembunyi di belakangnya. Rasa takut mengalahkan dirinya, persetan siapapun orangnya, Ira hanya ingin berlindung.


"Hahaha anak kecil udah sok jagoan!"


"Jangan ganggu dia atau gue gak akan ampuni lo!" sergah Aldo.


Ira masih saja ketakutan melihat laki-laki itu mulai mendekat. Ditambah lagi dengan sikap Aldo yang mulai berubah. Tak pernah Ira melihat Aldan semarah ini. Aldo yang ia kenal adalah Aldo yang baik hati dan juga sopan.


"Anak kecil gak usah bacot!"


"Gue emang anak kecil! Tapi gue udah bisa bikin bocah, *****!"


Aldo melepaskan genggaman Ira pada lengannya kemudian ia memukul tepat di pelipis laki-laki itu. Laki-laki itu tidak terjatuh. Namun setelah itu laki-laki itu bangun dan langsung memukul perut Aldo. Aldo jatuh tersungkur. Namun, Aldo kembali bangun dan langsung berlari dan menendang bagian sensitif milik laki-laki itu.


"Anjing!" umpat laki-laki tadi.


Laki-laki itu jatuh sambil memegang alat vitalnya dan berguling-guling di atas tanah. Ira menutup katanya dengan kedua tangannya.


Tadi itu dia nendang apaan? Gue gak lihat gue make headset!


"Lain kali hati-hati kalau pulang sendirian."


Aldo menggenggam tangan Ira lalu membawanya meninggalkan orang tadi. Ira tak menolak Aldo hanya mengikutinya tanpa berfikir panjang.


"Sorry gue gak punya helm double. Jadi lo gak Pake helm ya?" tanyanya.


"I ... Iya kak," ucap Ira.


Aldo menaiki motornya dan disusul Ira, tak lama setelah itu Aldo mulai menghidupkan mesin dan mulai menjalankannya.


"Emangnya Aldan kemana?" tanya Aldo.


"Nggak tahu kak. Tadi dia tiba-tiba hilang. Nggak kasih kabar juga."


"Hati-hati, hilang tanpa kabar bisa jadi pertanda dia akan hilang selamanya."


Ira cemberut. Ia langsung memukul punggung Aldo. Membuat Aldo sedikit meringis karena pukulan Ira yang tak ada rasanya sama sekali.


"Kalau dia sampe ninggalin gue. Gua pastiin dia gak akan pernah lagi ngerasain apa itu yang namanya nikmat malam pertama!" ucap Ira.


"Kok lo udah tahu malam pertama?" tanya Aldo.


"Iya lah, anak SMA bebas! Pelajaran biologi aja ngebahas tentang reproduksi. Makanya gue tahu apa itu malam pertama."


"Kalau sama Aldan, udah malam pertama belum?"


Ira langsung memukul helm milik Aldo. Membuat Aldo terkekeh geli.


"Lagian sih Kak Aldo mesum tadi. Apa coba maksudnya anak kecil tapi bisa bikin bocah?" ucap Ira.


"Ternyata lo emang beneran polos," desah Aldo.


Ira cemberut. "Di tanya tuh jawab!"


"Ya itu tadi. Bikin bocahnya dari malam pertama," ucap Aldo ringan.


Ira langsung mengepalkan tangannya. Kemudian ia menyilangkan tangannya di depan dadanya.


"Lo mesum, Kak!" ucap Ira sedikit berteriak.


"Gue emang mesum," kekeh Aldo.


...***...