Aldan

Aldan
Part 33



Ira berjalan menyusuri mall bersama Monic. Mereka berdua sama-sama gabut. Pasalnya hari ini Aldan dan juga Aldo sedang menjalani Ujian Sekolah. Jadi anak kelas 10 dan 11 diliburkan. Bukannya mengerjakan tugas, mereka malah asik pergi ke mall dan mencuci mata mereka.


"Beli es krim yok," ucap Ira.


Monic langsung mengangguk. Namun, langkah mereka terhenti karena seorang anak kecil berlari mendekati mereka.


"Kenapa sayang?" ucap Ira lalu berjongkok dan menatap anak kecil itu.


"Aku ada sesuatu buat kakak."


Ira kemudian menerima sebuah kotak dari anak kecil itu. "Nama kamu siapa?" tanya Ira.


"Sheila, kak. Aku pergi dulu ya, kakak aku nungguin aku."


"Tapi ini dari siapa?" ucap Ira sedikit berteriak.


Namun sayangnya Sheila sudah pergi terlebih dahulu. Ia berlari menjauhi Ira. Namun, Ira tidak dapat mengetahui ke arah mana Sheila pergi.


"Apaan isinya?" tanya Monic.


Mereka berdua kemudian berjalan kembali, melangkahkan kaki mereka ke arah McD. "Nggak tahu, tadi Sheila belom jawab."


Monic mengangguk. Setelah itu mereka memesan es krim lalu duduk di salah satu kursi kosong. "Coba deh buka, kali aja penting."


Ira mengangguk lalu menaruh es krimnya di meja dan membuka kotak yang diberikan Sheila tadi.


"Surat." Ira mengeluarkan sebuah surat dari dalam kota itu, kemudian terlihat sebuah boneka beruang kecil.


Teruntuk kamu, sang malaikat kecilku


Sebentar lagi, kita akan bertemu


Dan kamu akan menjadi


Milikku


-G


Ira langsung menatap Monic tak paham dengan surat yang ia pegang.


"Siapa sih yang kirim ginian?" ucap Monic lalu mengambil kotak isi boneka itu dan juga surat yang Ira bawa. Kemudian ia membuangnya ke tong sampah.


"Yaudah, lupain aja. Kita seneng-seneng lagi."


Ira hanya dapat mengangguk lalu mengikuti Monic.


...***...


"Bentar lagi Ujian Nasional, ya kak?" ucap Ira.


Aldan mengangguk dan mengeluarkan motornya. Kemudian ia memakai helmnya lalu menghidupkan mesinnya. "Naik."


Ira menaiki motor Aldan perlahan sambil memegang pundak Aldan. Setelah itu Aldan memacu kendaraannya membelah jalanan. Panas siang hari ini membuat Ira sedikit berkeringat. Namun, ia sangat gengsi untuk mengatakan kepada Aldan jika ia kepanasan.


"Kak langsung ke rumah aku aja ya," rengek Ira.


"Kenapa?" tanya Aldan sambil menatap Ira dari kaca spion.


"Panas. Aku mau ngadem aja."


Aldan mengalihkan kembali pandangannya. Ia kembali fokus pada jalanan di depannya. Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di rumah Ira. Setelah itu Aldan menggenggam tangan Ira dan mengajak Ira masuk ke dalam rumah Ira.


"Ada orang nggak?" tanya Aldan.


Ira menggeleng. "Abang lagi kuliah sampai malem, bunda sama ayah lagi liburan, katanya buat kangen-kangenan."


Aldan tersenyum kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumah Ira.


"Kakak belajar aja dulu, aku mau masak dulu. Buat makan nanti," ucap Ira.


Aldan mengangguk dan mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Sedangkan Ira langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengganti Pakaiannya. Setelah itu Ira berjalan ke dapur dan memasak nasi goreng.


"Kak Aldan pasti suka kalau aku masakin kesukaannya. Selera dia kan kampungan, lebih suka nasi goreng dari pada pisang goreng!"


Tiba-tiba sebuah tangan melingkar tepat di perut Ira. Untuk sepersekian detik, Ira sedikit kaget karena tiba-tiba Aldan memelukknya dari belakang.


"Ngapain sih kak Aldan!" protes Ira.


"Mau latihan buat jadi suami kamu. Kamu aja udah latihan jadi istri aku."


Pipi Ira bersemu merah, sedangkan pikirannya dan tangannya mulai tidak fokus. "Apasih kak!"


"Hahaha, aku cuma mau bikin kenangan saat aku masih sama kamu. Aku bakal kangen sama semua ini. Di Jerman nanti, aku nggak bisa lagi cium kamu, peluk kamu, gendong kamu, boncengin kamu, aku bakal kangen banget sama kamu."


Aldan menyenderkan dagunya di pundak Ira. "Aku sayang banget sama kamu."


...***...