
"Apa yang mau kakak jelasin ke aku?" tanya Ira.
Aldan menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian ia hembuskan perlahan bersamaan dengan cerita yang akan ia sampaikan. Sedangkan Ira, air matanya sudah berada di ujung, matanya mulai buram karena terututp air mata.
"Tapi janji," ucap Aldan.
"Janji apa?" tanya Ira.
"Janji jangan pernah nyela dulu sebelum aku selesai cerita."
Ira mengangguk.
"Ya, Xerly itu mantan aku, mantan pertama aku. Bahkan dia itu pacar pertama aku. Aku juga tidak tahu apa yang pernah aku lakukan dengannya. Dia temanku, teman masa kecilku. Aku dengan Xerly bersahabat dari kecil."
Aldan mulai menceritakan kisah masa kecilnya. Berteman dengan Xerly seakan membawanya ke dalam kebahagiaan yang membuatnya meluPakan fakta bahwa dirinya bersedih.Aldan benar, ia menceritakan semuanya dari awal. Pertemuannya dengan Xerly dan juga masa-masa indah bersama Xerly.
"Dia meninggalkanku, bahkan mencamPakkanku. Saat itu aku belum tahu apa itu cinta. Karena dia, aku ngerti cinta itu apa. Dan yang aku bingungkan, sampai saat itu aku belum bisa ngelupain fakta kalau Xerly itu mantan aku."
Aldan mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Sebuah kalung.
"Kalung? Punya siapa?" tanya Ira.
"Ini milik oma. Kamu ingat saat pertama kali aku menghilang?"
Ira mengangguk.
"Oma aku meninggal. Aku matiin semua sosial media aku. Aku terpukul. Kamu tahu kenapa?" tanya Aldan.
Ira hanya mengeleng dan terdiam.
"Aku tingal sama dia. Dia yang ada di saat keluargaku yang lain pada pergi. Cuma dia yang peduli sama aku. Aku pikir tanpa dia, aku nggak akan pernah bisa bertahan."
"Oma kamu meninggal?" tanya Ira.
Aldan mengangguk.
"Terus maksudnya apa?" tanya Ira lagi.
"Keluarga aku berantakan. Papa workaholic, sedangkan Mama, dia sibuk sama urusan arisan teman-temannya. Semua pada sibuk. Dari kecil aku emang cuman tinggal sama Oma. Hingga Xerly datang ngerubah semuanya."
Aldan mengusap mukanya, membuatnya meluPakan kesedihan karena masa lalunya.
"Xerly datang ngasih aku titik cahaya, tentang apa itu sebuah harapan. Dia yang ngebuat aku masih bertahan. Dia juga yang ngebuat aku ngerasain jatuh cinta untuk pertama kali."
Ira mulai kesal. Seakan-akan dia bukanlah orang yang dapat membuat Aldan jatuh cinta lagi.
"Terus kalau Xerly bisa ngebuat lo jatuh cinta, gue nggak bisa gitu kak?"
"Tapi harapan itu sirna, Ra. Setelah dia dengan tanpa permisi tiba-tiba hilang. Dia pergi, smaa laki-laki lain. Dari situ aku mulai berubah. Aku jadi player. Gonta ganti pasangan. Sampai aku dapat karma, Papa sama Mama—"
"Kenapa?" ucap Ira memotong kalimat Aldan.
Ira menggenggam tangan Aldan. Mengelusnya pelan.
"Papa sama Mama pisah, bukan cerai, tapi pisah tempat tinggal. Di situ aku ngerasa kalau cinta itu kembali hilang. Cinta itu nggak ada. Dan semua tentang cinta itu bohong."
Aldan memeluk tubuh Ira. Merengkuhnya ke dalam pelukannya.
"Sampai pada akhirnya Aldo nyuruh gue berhenti jadi player. Awalnya gue tolak. Tapi tawaran dia awalnya menggiurkan. Aku disuruh cari cewek baru anak kelas 10. Dan nggak tahu kenapa kamu hadir saat taruhan itu baru saja aku sePakati. Aku cuman mau nunjukin kalau aku ini bisa ke Aldo."
Aldan mengelus punggung ira. Gerimis mulai jatuh ke bumi. "Hujan kak," ucap Ira.
"Nggak papa, awalnya aku ragu kalau kamu bisa ngerubah aku jadi lebih baik. Tapi buktinya apa? Perlahan taruhan itu sirna. Entah kenapa perasaan yang aku rasain ke Xerly itu kembali lagi. Entah kenapa aku bisa ngerasain kembali rasa itu. Dan itu ada pada diri kamu."
"Tapi aku nggak ngapa-ngapain, kak. Bahkan aku aja cuman asal bilang iya pas kakak ngajakin aku pacaran."
Aldan sedikit tertawa dengan ucapan Ira. Ia mengelus rambut Ira lalu merasakan hujan yang mulai deras.
"Nggak peduli kamu itu sayang enggak sama aku. Yang aku mau, kamu tetep jadi Ira yang aku kenal. Maaf kalau niat awal aku enggak bagus buat kamu. Aku nggak kuat kalau harus liat kamu marah-marah ke aku. Iya aku cuman cowok lemah yang nggak bisa apa-apa kayak cowok bad boy yang sering kamu baca itu. Tapi aku coba buat bikin kamu bahagia, walau nanti bahagiamu itu bukan sama aku. Karena tak selamanya cinta itu memiliki."
"Kok Kak Aldan ngomongnya gitu?" tanya Ira.
"Ya kan bisa aja aku bukan jodoh kamu," balas Aldan.
Ira melepas pelukan Aldan dan memasang tampang kesal. "Kalau enggak jodoh ya nggak usah di pacarin!" protes Ira.
"Emangnya aku nggak boleh pacarin kamu? Gini nih aku sukanya kamu, nggak bisa marah lama-lama dari aku."
"Siapa bilang aku nggak bisa marah," ucap Ira lalu melepaskan pelukan Aldan.
Ia berdiri dan merasakan hujan yang menyiram tubuhnya. Ia menyilangkan tangannya ke dada lalu mengerucutkan bibirnya.
"Yaudah aku marah lagi," ucap Ira.
Aldan bediri dan mendekati Ira. "Marah lagi aku cium," ucap Aldan sambil terus mendekat ke arah Ira.
"Cium aja kalau berani!" ucap Ira sambil sedikit demi sedikit menghindari Aldan.
Namun sayang, Aldan terlalu cepat hingga ia sudah memegang pundak Ira dan membuatnya terdiam.
"Kamu kira aku setakut itu? Aku emang bukan bad boy, tapi untuk hal itu, aku nggak bisa nolak," ucap Aldan lalu mencium bibir Ira.
Ira tersentak kaget dan menutup matanya. Ia membeku di tempat, ini bukan kali pertamanya Aldan emnciumnya, namun rasanya tetap sama saja. Ira membeku kembali.
Sial! Kenapa manis!
Ira hanya dapat mengumpat di dalam hati. Jantungnya memompa lebih cepat desiran darah yang di alirkan ke dalam tubuhnya. Sedangkan otaknya berusaha mencari cara untuk melepaskan ciuman ini. Aldan melepaskan ciuman itu saat ia menatap mata Ira yang terpejam rapat. "Makasih, dan maaf. Makasih udah mau maafin aku, dan maaf udah buat kamu cemburu."
Ira masih menetralkan jantungnya. "Ternyata kakak lebih bejat ya daripada Kak Aldo!"
"Kenapa Aldo? Dia cium kamu?" tanya Aldan.
Ira menggeleng.
"Enggak, Kak Aldo aja nggak bakal cium Monic sebelum mereka SAH."
"Biarin, lagian nungguin SAH kelamaan!" ucap Aldan.
Ira mencubit lengan Aldan dan membuatnya meringis kesakitan.
"Lulus dulu baru boleh cium!" ucap Ira.
"Yaudah berarti habis aku dapet ijasah, aku boleh dong cium kamu, kan aku udah dapet ijabsah!" balas Aldan lalu menggendong Ira.
"Emang siapa yang mau nerima kakak?"
"Kamu lah."
"Aku?"
Aldan mengangguk.
"Iya kamu," ucap Aldan.
"Jadi duta shampo lain? Upss! Hahahahaha," ucap Ira sambil menirukan gaya iklan merk sebuah shampo.
Aldan mengerucutkan bibirnya. "Udah berani ngeledek ya!" ucap Aldan lalu membawa Ira berjalan menuju tampat berteduh.
"Biarin, lagian aku emang nggak bisa lama-lama marah sama kakak. Buat apa aku marah-marah kalau pada akhirnya kakak selalu bisa ambil lagi hati aku. Nggak selamanya konflik di cerita kehidupan itu berat kak, buktinya kakak bisa dengan mudahnya bikin aku balik jadi kayak dulu. Walau sakitnya tetep ngebekas sih, tapi aku suka karna kakak udah mau jujur sama aku. Tapi kakak masih ada satu lagi yang harus di jelaskan," ucap Ira.
"Apa?" tanya Aldan sambil mencium pipi Ira.
"Nggak boleh cium-cium dulu ih! Kan harus dapet ijasah dulu!" balas Ira.
Aldan mengerucut kembali.
"Waktu itu, kenapa kakak jalan sama Xerly!" ucap Ira.
"Kapan-kapan aku jelasin, aku masih kangen kamu yang kayak gini. Masih kangen Ira yang petakilan."
"Aku juga kangen, Kak Aldan yang dingin!"
"Ok."
Baru juga dibilangin! Udah balik lagi kan! Singkat padat jelas! Jahat kau Aldan!
...***...