
"Yak pelajaran hari ini selesai, bagi yang tadi lupa membawa tugas, bisa ikut saya ke ruangan saya."
Pak Handoko membereskan bukunya yang ada di meja lalu melangkahkan kakinya keluar dari kelas, diikuti beberapa laki-laki yang belum mengerjakan tugas darinya.
"Lo mau kemana nanti?" tanya Monic.
Ira menggeleng. "Nggak tahu, paling belajar lagi sama Kak Aldo. Lo nggak cemburu kan?"
Monic tertawa, kemudian ia menggenggam tangan Ira.
"Buat apa gue cemburu sama sahabat gue sendiri? Cukup lo nggak usah sakitin gue, gue selalu percaya sama lo. Lagian Aldo jelek kayak gitu mana ada sih yang naksir ke dia."
Ira kemudian tertawa diikuti Monic. Tak lama tawa mereka berdua mulai mereda, ada dua bayangan hitam masuk ke dalam kelas mereka. Dua ekspresi berbeda keluar dari keduanya. Yang satu, ekspresi dingin seperti biasanya. Dan yang satunya, ekspresi setengah emosi dan setengah kaget.
SiaPakah mereka? Ya, siapa lagi kalau bukan Aldan dan juga Aldo.
"Siapa tadi yang kamu bilang jelek?" ucap Aldo datar sambil duduk di atas meja dihadapan Monic.
Sedangkan Aldan menggenggam tangan Ira dan sedikit demi sedikit berjalan menjauh dari Aldo maupun Monic.
"Aku nggak bilang kok kalau kakak jelek, cuman kurang ganteng aja."
Aldan membawa Ira keluar dari kelas untuk menghindari dari perdebatan yang sangat tidak penting itu.
"Mau kemana kak?" tanya Ira sambil mengikuti Aldan.
"Taman."
Ira menatap ke arah pergelangan tangan Aldan yang sempat luka. Bahkan perban masih membungkus rapi pergelangan tangannya. Bagaimana bisa dia sudah bisa keluar dari rumah sakit itu. Aldan benar-benar serius membawa Ira ke taman sekolah.
"Duduk!" perintah Aldan kepada Ira.
Ira menuruti perintah Aldan, duduk di bangku di tengah taman.
"Ngapain di sini?" tanta Ira.
"Pacaran."
Aldan duduk di sebelah Ira lalu menggenggam tangan Ira.
"Buat apa sih kak pacaran di sini? Biar orang lain pada tahu kalau kita pacaran? Nanti kalau kayak cerita ******* yang sering aku baca itu gimana?"
Aldan menggeleng. "Emangnya nggak boleh pacaran di sini? Emangnya ada apa sama cerita yang kamu baca itu?"
Ira memajukan bibir bawahnya. "Fans nya si cowok nge-bully si cewek karena kecentilan sama si cowok."
Aldan tertawa. "Emangnya kamu centil?"
Ira menggeleng cepat. "Nggak!"
"Iya kamu nggak centil, kamu itu polos, saking polosnya sampai mau aja dibawa **** sama novel yang kamu baca."
Aldan mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya. Ira mengamati sebuah amplop yang Aldan keluarkan.
"Apa itu kak?"
Aldan memandang dalam ke kedua iris Ira. "Kita ngomong serius sekarang."
Ira mengangguk.
"Ini beasiswa."
"Beasiswa apa?" tanya Ira langsung.
Aldan memegang kedua tangan Ira. Menggenggamnya dan juga mengelus pungung tangan Ira menggunakan ibu jarinya.
"Aku dapet beasiswa ke jerman," ucap Aldan pelan.
Ira tersentak kaget. Ia tatap kedua mata Aldan dengan dalam. Ia balik memandang kedua mata Aldan.
"Apa kak?" tanya Ira memastikan lagi.
"Aku dapet beasiswa ke jerman."
Air mata Ira keluar begitu saja saat suara Aldan menggema di indera pendengarannya. Untuk pertama kalinya, Aldan pamit untuk kepergiannya.
"Tapi, kamu janji nggak bakal ... nggak bakal tinggalin aku lagi," ucap Ira sambil menyeka air matanya.
Aldan memeluk Ira dalam dekapannya. Iaa tidak ingin wanita yang ia sayangi menangisi kepergiannya.
"Maaf, aku sudah memikirkan ini beberapa hari ini. Aku bingung bagaimana caranya aku bisa ngomong ke kamu."
"Kak Aldan sayang sama Ira?" tanya Ira.
"Sayang."
"Kalau sayang kenapa kakak mau pergi ninggalin aku?"
"Iya aku sayang banget sama kamu. Sayang nggak berarti buta kan? Aku sayang sama kamu, mau aku disini atau dimanapun, selama aku masih ingat kamu jadi milikku, nggak ada yang bakal gantiin posisi kamu dihatiku."
"Tapi aku nggak mau Kak Aldan ninggalin aku."
"Terus kamu mau aku di sini terus? Sama kamu? Gimana nanti pendidikan aku? Kamu mau calon imam kamu ini pengangguran karena nggak punya ilmu sama sekali?"
Ira menggeleng.
Aldan mengangguk mantap. "Buat apa aku pacarin kamu kalau enggak nikahin kamu."
"Kan banyak tuh pacaran lama, ujungnya nikah sama yang lain. Dilan aja berujung pisah," balas Ira.
"Kamu maunya kita tetep kayak gini sampai nikah atau pisah?"
"Nikah lah!" jawab Ira sambil memajukan bibir bawahnya membentuk kerucut.
"Emang kamu mau nikah sama aku?" Aldan balik bertanya kepada Ira.
"Ya mau lah, orang cewek cuma bisa nunggu, kalau kelamaan dilamar, ya bisa aja lari sama yang lain."
Aldan memeluk erat Ira. "Yaudah aku lamar kamu sekarang."
Ira dapat mendengarkan detak jantung Aldan yang semakin cepat. Memacu setiap detiknya. Rasanya, sangat menenangkan.
"Emang kak Aldan mau lamar Pakai apa?" tanya Ira.
"Pakai cinta dulu deh."
"Emang cinta ngejamin bakal bahagia? Makan apa aku besok kalau cuma cinta yang kak Aldan kasih."
Aldan cemberut. "Tadi katanya aku nggak boleh keluar negeri buat sekolah. Katanya aku suruh tetep di sini buat temenin kamu. Kan tandanya aku nggak kerja, jadi cuma bisa ngasih kamu cinta."
"Makan cinta doang mah, mati."
"Yaudah makanya relain aku pergi. Aku janji komunikasi kita nggak akan pernah putus. Aku janji."
Ira menatap kedua mata Aldan. Ditatapnya kedua mata Aldan lekat, hanya ada rasa penyesalan di sana. Ira dapat merasakannya.
"Janji mulu nepatin kagak. Awas aja kalau kakak nggak tetep jaga komunikasi saat jauhan."
"Iya sayang. Makasih udah mau percaya sama aku. Aku sayang kamu, i love you, te amo, ich liebe dich, sarang heyo, lan aku tresno marang koe."
Ira memandang Aldan tak paham. "Artinya apaan kak? Aku cuma tau i love you doang."
"Apa yang kamu tahu?" tanya Aldan.
"I love you."
"Love you to."
Aldan mencium pipi Ira. Membuat Ira mematung sekilas dan juga membuat rona merah di pipi Ira muncul.
"Kak Aldan ngapain barusan?" tanya Ira masih dalam posisi diam.
"Cium calon istri."
"Terus calon imam aku siapa?" tanya Ira.
"Aku lah," balas Aldan mantap.
"Emang udah bisa ngucapin ijab?" tanya Ira meremehkan Aldan.
"Udah dong," balas Aldan.
"Yaudah coba kita praktekin."
Bisa kali cewek modus duluan. Ira tertawa dalam hati sambil memberikan tangannya kepada Aldan.
"Ngapain?" tanya Aldan menatap tangan Ira.
"Aku penghulunya."
Aldan menggelengkan kepalanya. "Dasar."
Aldan menjabat tangan Ira mantap. Mengimajinasikan bahwa Ira adalah penghulu yang akan menjadikan mereka berdua SAH. Keringat turun di leher Aldan. Membuat Ira sedikit tertawa melihat ketegangan Aldan.
"Yaudah mulai."
Aldan mengangguk. Kemudian ia menarik napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan.
"Saya terima."
Ira menatap kedua kata Aldan lama. Bibir Aldan masih membuka saat suaranya mulai mengantung di ujung kalimat.
"Terima apa? Lama!" protes Ira.
"Terima jadi aja deh."
Ira menggenggam tangan Aldan erat hingga membuat Aldan kesakitan. Lalu ia mencubit lengan Aldan lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Kak Aldan ****!"
"Tapi kamu suka kan?"
"Nggak, cuma dikit."
"Sama aja sayang!"
Aldan memeluk Ira lalu membawanya ke dalam dekapan. Bel masuk kelas mengganggu mereka. Akhirnya Aldan mengantarkan Ira ke dalam kelas dengan perut kosong karena sepanjang istirahat hanya mereka habiskan untuk pacaran di taman.
...***...