Aldan

Aldan
Part 37



"Semangat kak ujiannya," ucap Ira saat Aldan sudah sampai di rumahnya sejak pukul empat subuh tadi.


Setelah melakukan sholat subuh, Aldan langsung berganti Pakaian lalu menemui Sena dan meminta doa dan restunya. Sedangkan Ira, dia sendiri masih mengantuk, baru saja ia ingin menikmati long weekend nya untuk marathon drama, namun saat baru beberapa jam tertidur, Sena membangunkannya karena Aldan tiba-tiba datang ke rumahnya.


"Kakak ujian dulu, jangan mikirin aku, ujian yang bener. Nanti aku ikutan seneng kalau nilai kakak bagus."


Aldan memeluk Ira lalu mencium keningnya. Saat ini ia berada di dalam kamar Ira. Jadi dirinya bebas untuk melakukan apa saja bersama Ira. Sena sudah merestui hubungan mereka berdua, jadi tak ada salahnya jika Aldan masuk ke dalam kamar Ira.


"Aku bakal kangen sama kamu empat hari ini."


Ira mengangguk. Kemudian ia mencium pipi Aldan. "Cuma pipi? Satunya belom."


Ira mengerucutkan bibirnya lalu mencium pipi satunya. Namun, Aldan menunjuk keningnya dengan jarinya. Ira yang tahu maksud kodean itu, langsung mencium kening Aldan agar Aldan tidak semakin menjadi-jadi.


Namun, tanpa Ira sadari, setelah ia mencium kening Aldan, Aldan memegang kedua bahunya lalu langsung mencium bibir Ira. Awalnya hanya sebuah ciuman, namun perlahan Aldan mulai ******* bibir Ira. Manis memang rasanya bagi mereka berdua. Bahkan Ira saja mulai merindukan ciuman Aldan.


Kak kalau kayak gini, aku bisa pecah perawan duluan kak!


Sial! Bibirnya candu! Bisa-bisa khilaf gue!


Aldan menyudahi ciumannya terhadap Ira. Ia mengelap bibirnya dengan tangannya lalu ia juga mengelap bibir Ira dengan ibu jarinya.


"Love you, sorry kalau aku jadi sering cium kamu. Aku cuman, cuman kecanduan aja. Tapi aku masih bisa kontrol kok, aku nggak mau perjaka aku hilang."


Ira masih memegang bibirnya, bekas ciuman Aldan masih membekas rasanya di bibir mungilnya.


"Em ... Emangnya kakak masih per ... perjaka?" tanya Ira pelan.


"Masih lah," ucap Aldan sambil memeluk tubuh Ira.


"Kirain udah hilang sama Dita."


Aldan melepas pelukannya langsung. Ia menatap Ira tajam. "Mana ada! Nggak pernah aku main sama Dita! Nggak punya kenalan Dita!" protes Aldan.


"Maksud aku tuh, Ditangan," ucap Ira sambil memeluk kembali Aldan.


"Sial!" ucap Aldan.


Aldan kembali melepaskan pelukan Ira lalu menatap Ira intens. "Kalau gitu ayo lagi."


Aldan langsung mencium bibir Ira lagi.


...***...


Empat hari berlalu setelah Aldan manjalankan Ujian Nasional itu. Sekolah kembali menjalankan jadwal pelajaran seperti biasa. Ira melangkahkan kakinya menyusuri koridor.


"Alnira," ucap Pak Handoko dari arah belakang.


Pagi-pagi ngehancurin mood, udah biasa ya Pak?


Ira menoleh ke arah Pak Handoko. Kemudian ia mendekatinya. "Ada apa ya Pak?" tanyanya.


"Begini. Belum lama ini kan kamu lomba olimpiade fisika kan?" ucap Pak Handoko. Sedangkan Ira hanya dapat mengangguk.


Pak Handoko mengarahkan tangannya lalu menyalami Ira. Hal itu membuat Ira kebingungan. "Kamu juara 1 Provinsi."


Ira ternganga. Bagaimana mungkin gue yang **** ini bisa jadi juara 1?


"Kamu memang bodoh, tapi semangat kamu nggak buat kamu patah belajar. Memang benar, usaha tidak akan menghianati hasil. Dan kamu, mendapatkan beasiswa untuk pertukaran pelajar ke Jerman, untuk mengikuti kelas Fisika. Di kelas dua yang akan datang."


Setelah itu Pak Handoko tidak mengatakan apapun. Ia langsung memberikan sebuah amplop kepada Ira dan pergi begitu saja tanpa berkata apapun kepada dirinya.


"Apa? Jerman? Gue nggak salah denger kan?" Ira masih shock dengan pemberitahuan dari Pak Handoko.


Gue bisa ketemu sama lo, kak. Gue bakal jadiin ini sebagai hadiah anniv kita, besok.


Setelah itu Ira mengembangkan senyumnya lalu memasukkan amplop cokelat itu ke dalam tas miliknya.


Mood gue nggak jadi hancur! Hari ini gue seneng banget!


...***...