Aldan

Aldan
Part 22



Regha masih saja terdiam menatap Ira yang masih saja membisu. Ira dari tadi hanya terdiam sambil menatap ke arah luar mobil. Hujan datang dengan seenaknya membuat suasana kota ini seakan senasib dengan Ira. Puluhan misscall dari Aldan diabaikan Ira. Bahkan ratusan pesan pun tak Ira pedulikan.


"Sampai kapan dek, lo kayak gini?" ucap Regha.


"Nggak tau bang, gue cuman kaget aja. Gue kira Kak Aldan nggak bakal bohong sama gue."


Regha mendesah pelan. Ia pinggirkan mobilnya menuju sebuah coffee shop. Kemudian Regha turun dari mobil sambil membawa payung. Kemudian ia menyuruh Ira turun. Lalu, keduanya masuk kedalam. Suara desingan mesin kopi terdengar di indera pendegaran Ira. Bercampur dengan alunan lagu sam smith yang mengalun merdu di sudut coffee shop ini.


Regha menuju ke kursi yang berada di pojok ruangan. Suasana coffee shop saat ini lumayan ramai. Mungkin karena diluar hujan, dan beberapa dari mereka berniat untuk menghangatkan diri atau sekedar menumpang berteduh. Setelah memesan 2 coffee, Regha kembali menatap Ira. Sedangkan Ira masih saja menundukkan kepalanya.


"Dia mungkin punya alasan buat ngelakuin itu."


Ira terdiam. Notifikasi panggilan dari Aldan kembali muncul di ponsel Ira. Namun, Ira masih saja mengabaikannya. Regha langsung mengambil ponsel itu dan mengangkatnya.


"Halo," ucap Regha setenang mungkin.


Belum ada balasan dari sana.


"Ada apa?" tanya Regha lagi.


"Eh ... Eh bang, Ira ada?"


Regha menatap ke arah Ira. Sebenarnya ia kasihan dengan Ira yang sedih seperti ini. Namun, setiap perbuatan pasti ada alasannya kan. Mungkin maksud Aldan berbeda dengan jalan pikiran Ira.


"Ini ada sama gue, kenapa?" tanya Regha.


"Boleh ngomong sama Ira bentar, bang?"


Ira langsung menolaknya. Ia sedang tidak dalam kondisi mood untuk mendengar alasan Aldan. Setidaknya ia hanya ingin sendiri untuk saat ini.


"Dia lagi nggak mau denger lo."


"Sebentar aja, bang," pinta Aldan.


"Gue nggak bisa maksa Ira. Gue cuman mau ngingetin ke lo, sekali lagi lo buat adek gue nangis gara-gara lo. Gue jamin lo nggak akan bisa tenang ngejalanin hidup," tegas Regha.


Regha langsung mematikan ponsel itu tanpa mendengar jawaban Aldan.


Perasaan Ira jauh lebih penting daripada Aldan sekarang.


Pesanan mereka datang. Kemudian Ira menyesap kopinya. Sama halnya dengan Regha.


"Gue gak akan biarin lo sakit hati karna laki-laki lain, dek."


"Makasih, bang."


...***...


Ira berjalan menuju kantin tanpa Monic kali ini. Monic masih mengerjakan tugas yang sama sekali belum ia kerjakan. Persetan dengan janjimu, Pak. Bilangnya nggak akan ngasih tugas buat di rumah. Taunya diganti tugas buat di sekolah.


Ira berjalan sambil mengoceh tak jelas. Tak sedikit orang yang melihatnya dan berpapasan dengannya bergidik ngeri dengan sikap Ira. Langkah Ira terhenti saat sebuah tangan mencekal lengannya. Ia berbalik badan dan menemukan Aldan di sana. Ira langsung menundukkan kepalanya.


"Aku jelasin semuanya," ucap Aldan.


"Nggak butuh penjelasan kok kak," balas Ira sambil menatap mata Aldan dan sambil tersenyum.


Ira melepaskan cekalan Aldan.


"Aku nggak akan biarin kamu berspekulasi tentang aku tanpa tahu yang sebenarnya. Aku nggak mau kamu malah salah ngartiin," balas Aldan.


Ira berhenti berjalan. Lalu ia berbalik badan dan menghadap Aldan.


"Kalau gitu, siapa wanita itu?" tanya Ira.


"Eumm ... Dia itu—"


"Mantan?" tanya Ira.


Aldan terdiam. Tangannya yang tadi mencekal lengan Ira sudah terlepas dan menggantung begitu saja di samping tubuhnya.


"Udah cukup kan kak, nggak usah di jelasin lagi. Hahaha," ucap Ira sambil tertawa lalu pergi meninggalkan Aldan.


***


"Serius lo?" ucap Monic tak percaya.


Ira hanya dapat mengangguk. Monic langsung memeluk tubuh Ira. Membuat banyak teman-teman kelasnya bingung ada apa yang menimpa Ira.


"Kok bisa sih gitu?" tanya Monic.


Ira menggeleng. "Kan gue cuma pemeran pengganti, Mon. Saat pemeran utama datang, peran gue bakal digantiin lagi sama pemeran utama, Mon."


Monic mengelus rambut Ira. "Bukan gitu, maksud gue tuh, kok bisa Aldan bikin sahabat gue sakit hati. Dia salah nyari urusan!" ucap Monic sambil menggebrak meja.


"Terus lo kenal mantannya gak?" ucap Monic lagi.


Teman-teman sekelas Ira masih saja menatap Monic. Kelakuan Monic membuat mereka semua terusik. Dan Monic hanya dapat nyengir sambil memberikan tanda peace kepada mereka.


"Nggak kenal, dan gue nggak peduli."


"Kok gitu? Kalau sayang ya buktiin lah, bukan karena dia balik sama mantannya, lo jadi ciut gini. Lo sayang gak sama Aldan? Lo cinta gak? Lo berjuang apa enggak? Kalau lo sayang ya pertahanin."


"Masalahnya it—"


"Apa? Lo nggak mau dikata pelakor? Atau lo ngerasa kalau lo itu ditikung sama mantannya? Ya kalau lo ditikung, lo tikung balik lah! Tikung dari depan, terus rem mendadak, biar dia jatuh, kecelakaan, terus mati!" ucap Monic meninggi.


Ira hanya menepuk lengan Monic dan langsung menyembunyikan wajahnya.


"Lo mau hibur gue atau ngajarin gue tikung menikung sih?!"


Monic kembali nyengir. "Sekalian lah Ra. Lagian lo sama cewek kayak gitu apa sih yang di takutin? Dia cantik?" tanya Monic.


Ira mengangguk.


"Tinggi?"


Ira mengangguk lagi.


"Badannya ideal?"


Lagi-lagi Ira mengangguk.


"Putih?"


"Banget."


"Lo kata mayat apa putih banget!"


"Ya intinya itu dia perfect!" ucap Ira sambil menghembuskan nafasnya keras.


"Ya kalau gitu lo nyerah aja. Secara lo aja udah kalah di badan."


Monic tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Ira hanya menatap Monic emosi lalu memukul lengannya. "Lama-lama lo yang gue mutilasi, Mon!" ucap Ira.


"Silahkan!" ucap Monic meninggi.


"Monic! Ira! Sedang apa kalian?"


Monic dan Ira langsung mematung. Tiba-tiba bulu kuduk mereka berdiri. Mereka melihat ke arah sumber suara. "Eh Pak Handoko," ucap keduanya sambil nyengir.


"Latihan drama, Pak," jawab Ira.


"Iya Pak, buat lomba tingkat RT," balas Monic.


"Yasudah, duduk. Dan ingat, hargai saya sebagai guru."


Monic dan Ira lalu mengangguk dan duduk dengan rapi.


Dosa apa gue punya wali kelas kayak dia!


...***    ...