Aldan

Aldan
Part 25



Aldan keluar dari ruang ganti bersama timnya. Sedangkan tim lawan juga keluar dari ruang ganti satunya. Tepuk tangan riuh mengiringi banyaknya cogan yang keluar dari ruang ganti hanya dengan menggunakan kaos basket dan juga celana pendek.


Aldan nggak termasuk ganteng, cela Ira dalam hati.


Dua tim itu bertemu di tengah lapangan. Bersama seorang wasit yang sudah siap memulai pertandingan ini. Awalnya Ira hanya menatap ke arah Aldan malas. Karena pertandingan ini, jam pelajaran di biarkan kosong. Sehingga banyak sekali siswa dan guru yang menonton acara ini.


Ahhh Abang Aldan gue main lagi! Gila, ini sih namanya dapet durian runtuh bisa lihat paha Abang Aldan!


Ira menulikan suaranya. Seorang perempuan baru saja berteriak histeris dari arah belakangnya. Ingin sekali dirinya berdiri lalu mendekati gadis itu dan menonjoknya. Tepat! Dibagian wajah!


Aldo gue juga main! Ah bahagianya gue bisa lihat cogan!


Ahh nikmat Tuhan mana lagi ini yang engkau dustakan! Cogan semua yang main!


Ira mulai memanas. Ia lalu menyumpal telinganya dengan headset yang mulai mengeluarkan lagu. Pertandingan di mulai, team cheers mulai berdiri dan mulai menyemangati tim Aldan. Sedangkan Ira masih saja duduk. Ia hanya ingin menunggu Aldan selesai bermain basket.


Ira mulai tertarik dengan pertandingan saat Aldan memasukkan poin ke ring lawan dari jarak 3 point. Ira maju kedepan untuk menyemangati Aldan lebih dekat. Namun sayang, yang twrjadi di luar perkiraannya.


Brugg!


"Ira!" ucap Aldan sambil berteriak.


Namun telat, pengelihatan Ira mulai melemah. Ia hanya dapat terbaring lemah di sisi lapangan.


...***...


Aldan masih saja menggenggam tangan Ira erat. Semua petugas PMR sama sekali tidak ia izinkan masuk ke dalam UKS. Bahkan guru pun. Gak ada yang boleh megang Ira gue! Cukup gue ada di sini buat nemenin dia.


Ia menciumi punggung tangan Ira. Aldan masih saja berdoa agar Ira cepat sadar dari pingsannya.


"Mau berapa lama kamu tidur, sayang."


Aldan mengelus rambut Ira. Merapikannya dan mencium keningnya.


"Aku kangen," ucap Aldan.


Mata Ira mengerjap pelan. Membuat Aldan langsung berdiri dan menatap Ira dalam. Ira masih menyesuaikan pandangannya dan juga intensitas cahaya yang masuk. Sedangkan kepalanya masih pusing akibat kejadian tadi.


Aldan memberikan air putih kepada Ira dan diminumnya.


"Aku dimana kak?" ucap Ira.


"Di UKS. Kamu tadi kena bola pas di lapangan. Pertandingannya aku tinggalin deh," ucap Aldan sambil duduk di sebelah Ira dan memeluk tubuhnya.


"Kok di tinggal kak?" ucap Ira masih dalam kondisi bingung.


"Buat apa aku main basket kalau kamu nggak ada di sana buat nyemangatin aku. Resep kemenangan aku itu kamu, dan bakal tetep kayak gitu."


Ira balik memeluk Aldan. "Masa sih kak? Tapi kan team lebih penting kak?" ucap Ira.


"Pacar aku sakit di sini, aku mau jadi pacar yang bertanggung jawab. Bukan cuman jadi pacar abal-abal. Kepercayaan kamu itu penting, makanya aku bakal jaga kepercayaan kamu ke aku. Aku nggak mau kamu sakit karna percuma ngasih aku kesempatan kedua."


Aldan memeluk tubuh Ira erat. Membuat Ira menenggelamkan wajahnya di dada Aldan. Ia mengelus lembut rambut Ira lalu mencium pucuk rambut Ira. "Aku sayang sama kamu," ucap Aldan.


"Maaf kalau aku dulu pernah bikin kamu kecewa. Maaf udah bikin kamu sakit hati karena permainan bodohku sama Aldo."


Ira mendongak, menatap kedua mata indah Aldan.


"Kakak nggak salah kok. Harusnya kita bersyukur. Karena taruhan itu, Kakak jadi kenal aku, dan kakak bisa suka sama aku. Karena aku udah mulai suka sama kakak."


Aldan mengangguk. Tarihan yang pernah ia mainkan, memberikannya pasangan hidup yang indah. Gue bakal berusaha buktiin kalau gue itu beneran sayang sama lo.


"Kamu udah enakan? Nanti pulang sekolah ke dokter dulu ya? Kita periksain, takutnya ada apa-apa."


Ira hanya dapat mengangguk pasrah. Bukan karena ia takut kepada Aldan. Hanya saja, ia malas untuk berdebat dengannya saat ini. Kepalanya masih pusing.


"Terus kenapa nggak ada orang di sini, kak?" ucap Ira.


Aldan sedikit tertawa lalu menutup tirai untuk menutup bilik yang mereka tempati.


"Aku nggak mau kamu di pegang sama orang lain," ucap Aldan lalu mencium kening Ira.


Ira bangkit beridir, namun sayang Aldan lebih cepat menariknya dan membuat Ira jatuh ke arah Aldan. Ira menindih Aldan. Kedua mata mereka bertatapan. Bahkan nafas mereka saling memburu. Ira berusaha untuk berdiri, namun Aldan masih saja mencekal tubuh Ira. Aldan memeluk Ira erat. Membuatnya berada di atas tubuhnya. Ira memeluk Aldan juga, ia memeluknya erat. Entah mengapa perasaan nyaman itu semakin besar.


"Aku sayang sama kamu, nggak peduli sama apapun itu."


"Me to, babe," ucap Ira.


Aldan tertawa, kemudian ia mengelus rambut Ira dan menyanyikannya sebuah lagu untuk Ira.


Kutuliskan kenangan tentang,


Caraku menemukan dirimu


Tentang apa yang membuatku mudah,


Berikan hatiku padamu


Takkan habis sejuta lagu,


Untuk menceritakan cantikmu


Kan teramat panjang puisi,


Tuk menyuratkan cinta ini.


Telah habis sudah cinta ini,


Tak lagi berpijak pada dunia


Telah aku habiskan,


Sisa cintaku hanya untukmu


Aldan mengelus punggung Ira. Ia menyanyikannya sambil terus memanjakan Ira. Cukup lo barengan sama gue kayak gini aja bisa bikin gue sayang sama lo. Aldan bermonolog dalam hati.


Coba lo itu beneran sayang kak sama gue. Gue berusaha buat jadi pacar yang lo mau, asal lo mau berubah demi gue, ucap Ira dalam hati.


...***...


"Lo di apain aja ***** di UKS sama Aldan?" ucap Monic sambil berteriak saat Aldan baru saja pergi dari mengantar Ira kembali ke kelasnya.


Ira langsung membekap mulu Monic. Membuat Monic kesulitan berbicara.


"Stop it! Lo bisa bikin gue malu!" ucap Ira.


Ira meninggalkan Monic dan berjalan menuju mejanya. Kemudian ia duduk dan mengeluarkan sebuah buku catatan.


"Lo harus cerita! Dugong!" ucap Monic sambil merayu Ira.


"Sekali enggak ya enggak."


Monic menyerah. Kemudian ia mengambil ponselnya lalu mengirimkan sms kepada orang lain.


Ira menatap ponsel Monic lalu menjerit histeris.


"Ah! Monic ****! Ngapain lo yanya ke Aldan langsung?" protes Ira.


"Biar dia cerita," ucap Monic lalu menyunggingkan senyumnya.


"Dasar temen *******!" ucap Ira sambil menatap pasrah ke sebuah layar ponsel Ira.


Monic


Kak, lo ngapain sama Ira di UKS?


^^^Aldan Mahendra^^^


^^^Gue cium, gue peluk, gue nyanyiin lagu, sama gue tidurin. ^^^


...***...