Aldan

Aldan
Part 24



Senyum Ira mengembang. Hari ini saatnya ia untuk kembali masuk ke sekolahnya. Libur yang menyiksanya. Namun, sepertinya bayangan tentang hari yang indah akan segera berakhir.


"Ira!" ucap Pak Handoko.


Ira berbalik badan dan menatap tajam ke arah Pak Handoko berdiri.


"Sini!" perintah Pak Handoko.


Ira dengan kesal berjalan ke arahnya.


Mood gue baru bagus Pak, kalau sampai lo hancurin, jangan harap itu rambut bakal kesisa.


"Kenapa Pak?" tanya Ira.


"Sebentar lagi ada olimpiade fisika, kemarin saya lihat nilai fisika kamu bagus-bagus. Kamu mau tidak ikut olimpiade itu mewakili sekolah?" tanya Pak Handoko.


Ira memelototkan matanya. Gue? Olimpiade? Ngarang nih guru! Gue aja nilai bagus hasil bawa kertas!


"Kenapa? Kamu menolak? Yasudah tidak apa-apa. Tapi besok nilai kamu saya potong setengah," ucap Pak Handoko lalu berbalik badan.


Ira memegang lengan Pak Handoko dan meminta maaf.


"Tapi Pak," ucap Ira.


"Tapi apa? Kamu bisa minta bantuan Aldo kalau untuk masalah fisika. Dia jago di fisika," balas Pak Handoko.


Gue harus sabar 3 tahun sama guru satu ini!


"Kapan olimpiadenya Pak?"


"Seminggu lagi," balas Pak Handoko lalu pergi meninggalkan Ira.


"Saya tunggu besok pagi di ruang guru. Saya berikan materi kepada kamu," ucap Pak Handoko lagi sebelum sepenuhnya pergi dari pandangan Ira.


Ira menghentakkan kakinya kuat. Ia merutuki sikapnya karena selalu saja membawa contekan saat ulangan.


"Kenapa?" tanya Aldan yang sudah berada di belakangnya.


"Gak mood!" ucap Ira.


"Iya gak mood kenapa?" tanya Aldan lagi.


Aldan berjalan dan berhenti di hadapan Ira. Ia membenarkan rambut Ira yang keluar dari kucirnya.


"Anak cantik nggak boleh bad mood pagi hari. Nanti cantiknya hilang," ucap Aldan lalu mencium kening Ira.


"Selamat pagi, sayang."


"Habisnya Pak Handoko nyebelin," ucap Ira.


Aldan menggenggam tangan Ira dan membawanya berjalan. Ia menggandeng dan membawa ke sebuah kursi di taman sekolah.


"Kenapa lagi dia?" ucap Aldan.


"Nyuruh aku buat olimpiade."


Ira menatap ke arah Aldan. Lalu ia mengerucutkan bibirnya. Aldan yang melihatnya hanya bisa tersenyum sambil enggelengkan kepalanya. Iranya memang sangat lucu.


"Terus kenapa emangnya kalau ikut olimpiade?" tanya Aldan.


"Nggak bisa," balas ira.


"Nggak bisanya kenapa sayang?"


"Aku nggak bisa fisika!" balas Ira sambil mengerucutkan bibirnya dan menyilangkan tangannya di depan dada.


Aldan tertawa lalu mengacak-acak rambut Ira.


"Kebiasaan deh! Rapihin lagi!" ucap Ira.


Aldan menggeleng. "Nggak mau, rapihin sendiri udah gede," balas Aldan.


"Apanya yang gede?"


"Itunya."


"Apa?" tanya Ira galak.


"Anu," balas Aldan.


"Anu apaan sih kak!" balas Ira.


"Ya anu itu!" kekeh Aldan.


Ira mendelik mengerti maksud Aldan. "Heh! Mesum!"


"Lha itu anu!"


"Anu itu satu kata berjuta makna sayang. Yang aku maksud itu umur kamu udah gede. Jadi bukan yang lainnya!" ucap Aldan lalu merapikan kembali rambut Ira.


Oh jadi gue yang mesum? tanya Ira dalam hati.


"Kirain apaan," ucap Ira lalu memukul lengan Aldan.


"Lagian kalau cuman fisika mah tenang, Aldo bisa bantuin kamu, dia juara satu dulu lomba olimpiade," balas Aldan.


Ira tersipu mendengar prestasi Aldan.


"Tingkat apa kak?" tanya Ira.


"Sekolah," balas Aldan.


Ira mengerucutkan bibirnya. "Ihhh nggak guna tau!" protes Ira.


Alda tertawa. Lo lebih bagus kalau ketawa kak, lebih ganteng.


"Jangan di manyunin bibirnya. Nanti aku khilaf," ucap Aldan.


"Khilaf kenapa?" tanya Ira.


"Khilaf pengen nyium kamu mulu."


Ira memukul lengan Aldan keras. "Serius kak!"


"Hahaha, iya nanti aku bilangin Aldo. Nggak usah cemberut gitu, cantiknya hilang."


Bel berbunyi mengganggu acara keduanya. Membuat Ira harus cepat-cepat masuk ke dalam kelas jika tidak ingin Pak Handoko menghukumnya lagi. Lain kali, gue bakal buat lo senyum, nggak cemberut terus kalau deket gue. Karena senyuman lo itu, obat buat hati gue.


...***...


"Ira ada titipan buat lo, nggak tahu dari siapa, lupa namanya," ucap Rima, teman sekelas Ira saat masuk ke dalam kelas sambil membawa sebuah kotak.


Rima memberikan kepada Ira, lalu Ira menerimanya dan membukanya.


Rembulan mungkin saja sembunyi di antara bintang-bintang


Namun, kamu tak akan pernah sembunyi, dari ribuan manusia yang hidup di dunia ini


-G


"Dari siapa, Ra?" tanya Monic.


Ira menggeleng. "Nggak tahu, ini namanya G doang."


"Cieee yang sekarang udah punya secret admirer!" ejek Monic.


Ira langsung menutup kotak itu dan memukul lengan Monic. Percakapan mereka terhenti saat Aldan masuk ke dalam kelas dengan muka datarnya dan langsung menghampiri Ira.


"Temenin aku," ucap Aldan.


Ira berdiri dan menatap Aldan. "Kemana kak?"


"Basket," balas Aldan.


Kemudian Aldan menggenggam tangan Ira dan membawa Ira berjalan bersamanya. Awalnya Ira sedikit menolak karena perlakuan Aldan. Namun, ia tidak akan pernah bisa melawan Aldan. Gedung indoor sekolah sudah terlihat, bahkan sangat ramai pikir Ira.


"Ada acara apa, kak?" tanya Ira.


"Tanding sama SMA sebelah," balas Aldan lalu membawa Ira masuk dan langsung berjalan ke arah lapangan.


"Kamu duduk aja di kursi tim, liatin aku bareng anak-anak cheers. Nggak usah di bangku penonton lagi. Aku pengen kamu semangatin aku di sini, sebagai pacar aku, bukan penggemar aku."


Aldan mencium kening Ira. Hal itu membuat beberapa siswi yang melihat ke arah mereka berteriak histeris.


Ahhh Aldan sweet banget sih! Gue aja sini yang di cium!


Ahh itu cewek beruntung banget sih bisa dapetin Kak Aldan


Ira menulikan pendengarannya. Ia tidak ingin menghapus mood nya hari ini. Kemudian Ira duduk dan menatap punggung Aldan yang mulai menjauh dan hilang di balik pintu ruang ganti.


"Lo Ira ya?" ucap salah satu anak anggota Cheers saat Ira sudah duduk di sebelah mereka.


"Iya kak," ucap Ira pelan.


"Gue bilangin aja sih sama lo, Aldan itu nggak bener-bener sayang sama lo. Lihat aja, dia pasti bentar lagi bakal balik sama Xerly."


Ira hanya dapat diam dan memendam semuanya. Hingga pertandingan itu berlangsung. Dan mood yang sudah ia bangun sejak pagi, hancur begitu saja. Kalau dia beneran cuman mempermainkan gue, lebih baik gue tetap seperti ini. Biarkan gue bahagia walau akhirnya nanti gue bakal menderita.


...***...